
Setidaknya Saka bisa membuat Rindu kembali tersenyum merekah. Lelaki itu sangat humoris yang selalu mengeluarkan jokes lucu, meski kadang leluconnya seperti khas bapak-bapak komplek. Namun, Rindu tetap bisa merasa jika Saka adalah kakak tingkat yang lucu dan baik.
Suara deru motor terdengar di indera pendengaran keduanya saat Saka dan Rindu tengah berjalan pulang ke kos.
Rindu tahu betul, suara motor siapa itu, hingga gadis itu harus repot-repot menoleh ke arah sumber suara. Benar saja Reyhan sudah berjalan mendekat dengan motor gedenya mendekati keduanya.
"Nduk... kok jalan sendiri." Reyhan berhenti tepat di sebelah Rindu. Padahal di sebelah gadis itu ada seorang pemuda, yang Rindu yakini jika Reyhan kenal dengan Saka.
"Pak Dosen." Saka mulai basa-basi, dan merasa tidak enak.
"Kamu ngapain jalan sama Rindu?" Terlihat sekali nada bicara Reyhan penuh penekanan, bisa dipastikan jika Reyhan sedang diliputi rasa cemburu pada kedekatan mereka berdua.
"Iya, Gus. Kebetulan kami ketemu di jalan, kita juga sampun kenalan. Mas Saka ini juga asli Semarang lo, Gus." Rindu menjelaskan mengapa ia bisa dekat dan mengenal kakak tingkatnya itu.
"Aku nggak urus dia siapa, Rin. Yang jelas kamu nggak usah deket-deket sama playboy kampus kaya Saka ini!" dengus Reyhan.
Jantung Saka seolah berhenti berdetak ketika Reyhan berkata pada gadis incarannya jika ia adalah playboy kampus.
"Wes... Ayo tak anter ke kos-an. Nggak usah reken dia lagi!" Reyhan memaksa Rindu untuk ikut dengannya. Meski gadis itu merasa tidak enak. Padahal baru saja Saka mentraktir Rindu nasi goreng untuk pertama kalinya.
"Mas... Aku duluan, ya?" Terpaksa Rindu mengikuti kemauan Reyhan, dan naik ke motor pria itu.
Motor Reyhan berjalan menjauh dari Saka, sebenarnya Saka sendiri sedikit kesal, karena Reyhan sudah membunuh karakter Saka di depan gadis yang dirinya taksir.
"O... Dosen edan!" umpat Saka kesal. Dia mulai berbelok arah pulang ke rumah kontrakannya.
o0o
Rindu turun dari motor Reyhan, lalu berdiri tepat di sebelah pria itu.
"Kamu jangan deket-deket dia lagi, yo! Aku nggak suka."
"Memang ada apa, Gus? Mas Saka baik." Rindu membela Saka, karena secara kasat mata pria itu memang terlihat baik, dan tidak menunjukan sikap kurang ajar yang mungkin bisa membahayakan Rindu.
"Wes to! Manut o karo aku!" Reyhan tidak terima jika Rindu mulai memuji pria lain di depannya. Entah ada rasa cemburu dan memiliki, meski keduanya tidak memiliki ikatan yang jelas.
"Oh... Gus. Tadi sore Nyai telepon kulo."
"Ngomong apa umiku?" tanya Reyhan cemas. Dia takut jika Uminya mengatakan tentang perjodohannya dengan Adiba anak dari sahabat Abahnya.
"Mbak Adiba sampun wangsul, dan orang tuanya minta untuk segera dikhitbah."
Reyhan menarik napas dalam-dalam. "Wes tak duga, pasti Umiku bilang gitu. Terus kamu jawab apa?"
"Aku diminta bujuk Gus Reyhan untuk pulang."
"Aku ki emoh dijodohke, Rin. Aku nggak suka. Tapi Abah sama Umi itu kok pengen banget aku nikah." Keresahan terdengar jelas di kalimat Reyhan.
"Mungkin Nyai sama Kiai pengen cepet nimang cucu." Rindu menimpali ucapan pria itu.
"Andai aku nggak dijodohin, Rin. Awakmu udah tak lamar."
Mendengar ucapan Reyhan membuat Rindu terdiam. Pipinya seketika memanas karena malu.
"Sudah malam, Gus. Kulo masuk riyin. "
"Iya... Ingat, Rin! Jangan deket-deket sama Saka!"
"Njih, Gus." Rindu membuka pagar dan masuk ke dalam kos.
Apakah larangan Reyhan adalah sebuah kecemburuan? Tapi sebenarnya dia dan anak Kiai itu benar-benar tidak ada hubungan sama sekali. Jadi Rindu sendiri bingung, apakah dia harus menuruti Reyhan ataukah tetap berteman dengan Saka yang notabennya kakak tingkat yang baik.
o0o
Waktu menunjukan pukul enam pagi, Rindu sudah bersiap menjajakan kue jualannya. Gadis itu mulai berkeliling di komplek kosnya. Tak lupa ia membawa payung yang tempo hari Saka pinjamkan untuknya. Saat dia sudah hampir sampai di kontrakan Saka. Ternyata pria itu sudah berdiri di depan gerbang seolah tengah menunggu seseorang.
Wajahnya sumringah saat melihat Rindu yang muncul dari ujung gang. Saka melambaikan tangan, seolah mempertegas niatnya berdiri di depan gerbang adalah untuk menunggu Rindu.
"Mas... Kue?" Rindu tersenyum.
"Iya, buat sarapan sama minum kopi enak, Rin."
Rindu menyodorkan payung yang tempo hari sempat ia pinjam.
"Mas... Ini payungnya. Makasih, ya."
"Sami-sami, Nduk cah ayu, " jawabnya, menirukan cara Reyhan memanggil Rindu, membuat gadis itu tersenyum geli.
"Pak Dosen kayanya suka kamu, ya, Rin?" tanya Saka, ia hanya ingin memastikan dari sudut pandang Rindu tentang perhatian yang tercurah dari Dosennya yang tak lazim itu.
"Nggak, Mas. Gus Reyhan sudah nganggap aku kaya adeknya sendiri," ungkap Rindu, sembari masukan jajanan yang dipilih Saka ke dalam plastik bening.
"Mosok, sih? Kelihatan banget lo, Rin. Kalau dia suka kamu."
"Udah, nggak usah dibahas, Mas." Rindu menghitung jajanan yang diambil Saka. "Totalnya dua belas ribu."
Saka mengeluarkan uang dua puluh ribuan dari dalam dompetnya.
"Nanti berangkat kuliah aku anter, ya, Rin?"
"Ndak usah, Mas. Wong aku bisa jalan. Dari kos ke kampus itu deket, kenapa harus dianter segala."
Mendapat penolakan seperti itu, membuat hati Saka sedih, tapi bukan Aji Saka namanya jika dia menyerah sebelum perang.
"Ya... Wes. Kalau ndak mau. Nanti pulangnya bareng, yo. Sambil makan... Tak traktir lagi wes."
"Ndak, Mas. Takutnya aku tuman, minta ditraktir terus, nanti uang kiriman dari orangtua Mas Saka habis."
"Kamu emang orangnya lempeng begini, ya, Rin?" tanya Saka penasaran.
"Maksud Mas Saka?"
"Jangan jawab pertanyaanku dengan kalimat tanya lagi dong, Rin."
Rindu tersenyum. "Lempeng gimana, wong aku ini cuma manusia, lempeng itu jalan, tiang listrik itu lempeng."
"Ngomong sama kamu memang nggak pernah dijawab serius, Rin."
Rindu tersenyum lagi. "Kalau gitu aku keliling dulu, ya, Mas. Biar bisa cepet pulang."
"Iya... Ati-ati ya, Nduk."
Rindu berjalan menjauh, sementara Saka tetap memerhatikan gadis itu hingga benar-benar menghilang di ujung gang, baru dia masuk ke dalam rumahnya.
o0o
"Sak...." Wanita cantik dengan rambut tergerai indah, mengenakan rok mini jeans selutut, yang dipadu dengan tropical shirt yang membuat tampilannya tampak fresh. Menghampiri Saka yang baru saja keluar dari mobilnya.
"Rosi? Ada apa?"
"Lu lupa sama tawaran gue? Saat lu nidurin gue waktu itu?" Rosi menagih janji Saka perihal cinta yang sempat gadis itu nyatakan untuk Saka.
"Hah... Gimana-gimana?" Saka mengerutkan keningnya.
"Lu harus jadi pacar gue, Sak! Lu tanggung jawab dong!"
"Siapa yang ngejebak gue? Gue mabuk, Ros!"
"Tapi lu ngelakuin itu ke gue, Sak!" Rosi masih bersikukuh. Dia sudah mengincar Saka sejak lama, hingga akhirnya dia bisa benar-benar merasakan dekapan Saka malam itu.
"Jadi gue harus nerima elu?"
"Ya!" jawab Rosi memaksa.