
Saka berdecak, kejadian malam itu bukanlah kehendaknya. Rosi sengaja menjebak Saka hanya untuk ditiduri.
Dari jauh Saka melihat samar Rindu tengah duduk seorang diri di taman, seperti memerhatikan sesuatu.
"Gue sibuk! Gue cabut dulu, ya?" Saka menghindari wanita itu. Meski terbilang cantik dan idola kampus, kepopuleran Rosi tidak cukup bisa menggoyahkan hati Saka. Pria itu terlalu tinggi untuk ditaklukan
"Sak... Saka! Gue butuh jawaban lo!" Rosi terus merengek. Namun, Saka hanya menjawab dengan lambaian tangan saja.
Gadis itu melihat Saka tengah menghampiri seorang gadis berjilbab yang duduk seorang diri, sedang memandang lurus ke depan.
Rosi menipiskan mata memerhatikan pergerakan Saka dari jauh. Rasa cemburu menguap di dadanya. Dia ingin tahu siapa gadis itu, adik tingkat yang sekarang diincar oleh Saka. Pastilah dia akan menjadi korban keganasan Saka yang hobi mempermainkan mahasiswi di kampus ini.
"Rin... Liatin apa?" Spontan Rindu menoleh saat Saka memanggilnya. "Kamu ini jalan, kok udah sampai sini aja," imbuhnya lagi, lalu duduk di sebelah gadis itu meski berjarak beberapa sentimeter.
"Kenapa ya, Mas? Kok orang tua orang-orang itu bisa sayang sama anaknya?" Tanpa Rindu sadari, dia seperti mencurahkan kegundahannya pada Saka.
"Ya memang gitu, Rin. Harusnya orang tua sayang sama anaknya." Saka merasa heran dengan pertanyaan yang terlontar dari gadis ayu ini.
"Tapi kenapa bapak sama ibuku nggak, ya." Rindu terdiam sesaat, tapi beberapa detik kemudian dia sadar, tidak seharusnya dia cerita masalah keluarganya pada Saka yang baru saja dia kenal beberapa hari. "Eh... Kok malah curhat," elaknya tersipu malu dengan menutup mulutnya dengan tangan.
Sementara Saka sendiri memilih menolak berkomentar, mungkin memang mereka berdua tidak cukup dekat sehingga Rindu tidak nyaman menceritakan apa pun yang ia rasakan. Meski Saka ingin tahu semua tentang Rindu.
"Mas... Aku masuk dulu, ya? Kayanya udah pada mulai."
"Iya, tapi nanti pulangnya bareng, yo?"
Rindu hanya tersenyum tidak menjawab, lalu pergi begitu saja hingga hilang di balik baliho selamat datang untuk mahasiswa baru.
o0o
Hari ini adalah hari terakhir ospek, Rindu bisa menarik napas lega. Setidaknya sudah bebas tidak harus memakai atribut nyeleneh seperti ini yang tentunya membuat kurang percaya diri.
Ia, Raya, dan Sofia untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di kantin kampus. Entah mengapa sejak kemarin ketiganya enggan ke sana. Mungkin karena tidak percaya diri dengan atribut yang mereka kenakan, Sofia memakai dua kuncir rambut, kalung permen, dan papan nama samaran plus nama asli yang harus disematkan dengan huruf ekstra kecil.
"Lo Rindu, kan?" Seorang wanita cantik tiba-tiba muncul di hadapan mereka bertiga. Bisa ditebak dia adalah kakak tingkat, dari dandanannya yang luar biasa cantik memesona.
"Iya, Kak." Suara Rindu tampak parau, gadis itu menelan ludahnya sendiri karena tidak menyangka ada kakak tingkat yang entah mengapa menghampirinya. Setahu Rindu dia tidak pernah berbuat kesalahan apa pun.
Kakak tingkat itu mengajak Rindu menjauh dari Raya dan Sofia. Dia hanya ingin bicara empat mata saja dengan wanita berjilbab putih itu.
"Lo kenal Saka?"
Rindu sedikit tersentak mendengar nama Saka. Rupanya nama itu cukup harum di fakultasnya hingga kedekatannya dengan kakak tingkat lelakinya itu membuat garis di hadapannya ini terganggu.
"Iya, kak. Nggak deket, sih. Cuma kontrakan Mas Saka itu deket kos aku. Kita juga satu daerah."
"Gue cuma mau bilang. Saka itu milik gue. Jadi please! Lo jangan deket-deket sama dia. Gue nggak suka."
Baru tahu. Rupanya gadis ini adalah kekasih Saka. Tentunya Rindu merasa tidak enak hati, padahal dia dan Saka memang bisa dibilang tidak memiliki hubungan spesial. Rindu pun tidak menaruh perasaan apa pun dengan pria itu.
"Oh... Kalau begitu aku minta maaf, Kak. Aku akan menjaga jarak dengan Mas Saka mulai sekarang."
"Rin... Aku mau pulang ke Semarang."
Rindu menatap Reyhan dengan ekspresi khawatir. Sementara gadis tadi menyingkir begitu dia melihat dosennya menghampiri Rindu.
"Ada apa, Gus?"
"Abah... Abahku drop. Aku pulang dulu, kamu jaga diri baik-baik, saat aku nggak ada! Aku nggak mau kamu deket sama Saka, lo, ya."
Tiba-tiba geleyar perasaan aneh melingkupi hati Rindu. Apakah ini hanya alasan Kiai Ma'ruf hanya untuk menyuruh Reyhan pulang dan mengkhitbahkannya dengan Adiba. Rasa panas di hatinya membuat Rindu seketika tidak enak badan.
"Hati-hati, Gus." Seperti melepas suami pergi jauh. Namun, memang kenyataannya begitu, perasaan aneh itu muncul. Dia sangat takut jika kembalinya Reyhan akan membuat jarak antara dirinya dan dosennya itu menjadi semakin jauh, karena pria yang ia sukai ini sudah memiliki ikatan dengan wanita lain.
"Wes yo. Assalamualaikum."
"Walaikumussalam." Rindu memandang kepergian Reyhan dengan perasaan getir. Punggung kokoh itu semakin menjauh dan hilang di balik tembok kantin kampus. Bagaimana jika setelah ini Rindu tidak bisa melihat wajah Reyhan lagi. Membayangkannya saja dirinya tidak bisa. Selama ini Reyhan lah yang sudah mengisi kekosongan hari-hari Rindu. Yang membuat gadis itu lupa akan mimpi buruknya tentang kedua orang tua yang tidak pernah menerima bahkan menyayangi Rindu. Tanpa terasa air mata gadis itu menguar, cepat-cepat ia mengusap air matanya yang muncul membasahi netranya, dan kembali berkumpul dengan Sofi dan Raya.
"Kenapa itu kating? Kayanya dia ada dendam kesumat sama lo." Raya membuka suara.
"Ah... Nggak kok. Cuma ngobrol biasa aja." Begitulah Rindu, dia memilih menutup apa pun yang mengganggu pikirannya.
"Terus wajah lo kusut, karena pak Dosen itu, ya?" timpal Sofi.
Rindu mengangguk pelan. "Gus Reyhan akan pulang ke Semarang."
"Dia mau nikah?" Mata Raya melotot.
Rindu menggeleng pelan, hatinya getir dan gundah karena ketakutan. "Entahlah aku juga nggak tahu."
Sofi mengelus punggung Rindu dengan pelan. "Udah... Nggak ada pak dosen, gue yakin lo bisa dapat pacar di sini. Lo cantik."
"Aku belum mikir ke sana, Sof."
"Lo pikir cewek alim macam Rindu mau pacaran?" sembur Raya ketika melihat Sofi berkata seperti tadi.
o0o
Setelah selesai makan siang bersama dua temannya, Rindu memilih pulang. Dia berjalan seorang diri menuju gerbang kampus.
"Rin.... " Suara yang tidak asing menyapa indera pendengaran gadis itu. Membuat Rindu secara impulsif menoleh.
"Eh... Mas Saka." Teringat perkataan kakak tingkat tadi. Jika pria ini sudah memiliki kekasih dan dia harus menjauh dan menjaga jarak darinya.
"Mas... Maaf, tadi ada kating yang datangi aku. Katanya dia pacarnya Mas Saka. Dia merasa terganggu dengan kedekatan kita." Rindu mulai ingin menjaga jarak dengan Saka. Tentunya hal itu ditolak mentah-mentah oleh Saka yang notanenya tidak menjalin komitmen dengan wanita manapun.
"Sopo jenenge?"
"Aku nggak tanya, tapi dia cantik. Sudah, ya, Mas. Assalamualaikum."
Rindu memilih pergi dengan meninggalkan rasa mengganjal di hati Saka. Pria itu ingin mengejar Rindu, tapi dia mengurungkannya. Karena dia yakin Rindu akan semakin hilang respect jika Saka berbuat demikian.