
Hatinya sudah hancur, dan dipaksa untuk mendengarkan sang pujaan hati mengucapkan janji sucinya atas wanita lain. Susah payah Rindu meredam tangis yang sudah membuncah ingin menguar di pelupuk matanya. Meskipun berat, tapi dia bisa melakukannya dengan baik, bersandiwara seolah ikut bahagia, pada kenyataannya dalam dirinya terluka.
Nyai Imah mengantarkan mempelai wanita ke hadapan sang suaminya. Untuk pertama kalinya Adiba menyentuh tangan lelaki yang sangat Rindu inginkan, mencium tangan seorang Gus Reyhan. Karena tidak tahan, gadis itu berlari menjauh hanya untuk menghindar, karena tangisnya hampir pecah. Ia tidak ingin semua orang bingung melihat air mata yang berlimpah melewati kedua pipinya di hari bahagia ini.
Rindu duduk di sebuah gazebo taman tak jauh dari pelataran masjid tempat di mana semua orang berteriak sah atas ucapan janji Reyhan atas Adiba.
“Nggak, Rin. Harusnya kamu seneng, Gus Reyhan sudah ada wanita yang ia jaga.” Rindu bergumam sendiri, lalu mengusap air matanya, menarik napas dalam-dalam seolah mempersiapkan diri dan memantapkan hati semuanya baik-baik saja.
Setali tiga uang dengan Rindu, Reyhan sendiri kerasan risih dan tentunya tidak nyaman. Bagaimana pun menyentuh wanita yang sama sekali tidak ia cintai bagaikan sebuah siksaan maha dahsyat untuk dirinya. Bola mata Reyhan bahkan mencari-cari keberadaan paras ayu Rindu. Namun, ia sama sekali tidak menemukan gadis itu di mana-mana.
Sementara Rindu pun tidak berniat kembali ke sana, dan memilih pulang ke rumah kakek dan neneknya setelah sempat berpamitan dengan Nyai Imah tadi.
Ia membawa luka hatinya pulang, berharap kakek dan neneknya bisa mengobati luka-lukanya. Sekaligus memberitahu jika ada seorang pemuda yang berniat melamar Rindu, walau sebenarnya dia sendiri tidak yakin—jika Saka akan benar-benar kembali dengan syarat lengkap besok.
“Wes siap kamu, Nduk? Makasih, ya. Sudah bujuk Reyhan buat pulang.” Nyai Imah tampak menunggu Rindu mengemasi barangnya di dalam kamar.
“Njih, Nyai. Rindu wangsul rumiyin.” Rindu meraih tangan wanita yang telah melahirkan Reyhan, dan mengecup, diikuti usapan lembut di kepala Rindu.
“Ati-ati, pulang sendiri dulu, Reyhan biar bisa berduaan sama istrinya.” Seperti tidak berdosa, wanita paruh baya itu tersenyum kecil. Tanpa memahami perasaan Rindu, dan meski getir, Rindu memilih ikut tertawa membunuh dan menutupi kehancuran hatinya.
Kakinya gamang, melangkah keluar dari pondok pesantren menuju jalanan besar, berharap ada langsung bus yang bisa mengantarkan dirinya sampai rumah. Namun, tiba-tiba sebuah mobil pajero putih berhenti tepat di depan Rindu yang memasang wajah melasnya. Perlahan kaca mobil itu terbuka, memerlihatkan wajah tampan dari seorang pria keturunan tionghoa yang tak asing untuk gadis itu.
“Mau ke mana, Rin?” ucapnya terdengar sangat khawatir.
“Pulang, Mas. Loh, mas Saka kok ke sini?” Rindu balik bertanya, dengan raut wajah diubahnya seolah tangisnya yang sedari tak terbendung sirna.
“Aku mau ke nikahannya gus-mu,”jawabnya sambil cengar-cengir tanpa alasan.
“Oh, ya udah, monggo masuk. Aku tak pulang sek, nunggu bus. ”
“Tak anter aja, Rin. Aku nggak jadi ke nikahan pak Reyhan.”
Rindu menatap lekat sosok lelaki di dalam mobil yang tengah mengenakan baju batik, terlihat tampan rupawan layaknya artis korea yang sering dielu-elukan para wanita.
“Ndak usah, Mas,” tolak Rindu halus.
“Loh... kok nggak usah ki lo. Aku ke sini buat kamu. Kok ndak usah.”
Rindu terdiam mendengar ucapan lelaki itu. Apa benar lelaki ini mencintai dirinya hingga seperti ini? Padahal mereka baru saja kenal beberapa minggu. Di dalam benak gadis itu, Saka seperti layaknya laki-laki di luar sana, yang hanya berjuang saat ingin mengejar, lalu akan hilang rasa saat telah merenggut hati si wanita. Meski belum memiliki bukti kuat, tapi gosip bagaimana Saka di kampus, sedikit banyak sampai ke telinga Rindu.
“Ayo to, naik!” pinta lelaki itu lagi, Rindu masih diam saja tidak bergerak seolah tengah memikirkan sesuatu. “Rin!” ucap Saka lagi, membuyarkan lamunan Rindu, yang sontak membuatnya mendongakkan kepala. “Ayo to, malah ngalamun.”
“Nah, gini kan enak. Di luar panas, nunggu bus nggak dateng-dateng.”
Rindu hanya menanggapi ucapan pria itu dengan senyum tipis lalu membuang muka saat mobil Saka mulai berjalan.
“Pedurunganmu mana, Rin?”
“Deket Toko Ada, Mas. Nanti kalau mau sampai aku ngomong.”
“Loh, apa kamu mau selama perjalanan diem-dieman sama aku?”
Rindu kembali bergeming, membuat Saka pasrah dengan perlakuan Rindu pada dirinya. Pria itu sadar betul jika Rindu memang sedang bersuasana hati suram.
“Sedih nggak? Kalau kamu mau nangis. Kamu bisa nangis sekarang... di mobil ini.” Suara lembut lelaki itu kembali menyapa indera pendengaran Rindu. Gadis berhijab coklat susu itu menoleh sebentar, sedetik kemudian kembali membuang muka. Ya, dia mulai merasakan kembali air yang seolah akan kembali menguar di pelupuk matanya.
Benar-benar Rindu tidak bisa membendung, dan kembali menangis tanpa suara. Sementara Saka hanya bisa diam tak bisa berbuat apa-apa. Ingin rasanya dia memeluk sang gadis, tapi tentu saja Rindu akan menolak mentah-mentah dekapan, karena benteng maha tinggi yang Rindu buat.
'Sesedih itukah kamu, Rin? Hingga tangismu kembali pecah untuk lelaki yang tidak bisa memperjuangkanmu?' Batin saka bergolak, ia marah melihat sang pujaan merasakan kesakitan seperti ini. Melihat air mata Rindu adalah penderitaan untuk dirinya.
oOo
Sampailah mereka di seberang toko yang Rindu maksud. Saka berhenti, tanpa ingin mengatakan apa pun. Hingga Rindu menyadarinya sendiri, jika mereka telah hampir sampai rumah.
Rindu tersentak, lalu mengusap air matanya. “Sudah sampai?” Rindu seolah memberi pertanyaan retorika, karena sebenarnya ia sendiri tahu jawaban dari pertanyaannya. “Masuk gang itu, Mas.” Tangan Rindu menunjuk ke arah gang persis di sebelah toko yang memiliki dua lantai tersebut. Saka pun kembali memutar stir mobilnya dan masuk ke gang yang Rindu maksud.
Setelah melewati dua gang lagi, barulah Rindu berkata dengan lembut, “Rumah pagar coklat ya, Mas.”
Saka memutar bola matanya mencari rumah yang Rindu maksud, hingga korneanya menangkap rumah kecil di ujung gang dan Saka berhenti di sana.
Rindu menyeka air matanya, dan tersenyum sendiri, seolah ingin membunuh kesedihannya. Ia tidak mau terlihat hancur di depan kakek dan neneknya.
“Mampir, Mas?” tanya Rindu.
“Ya, aku mau mampir. Mau ngomong sama walimu.”
Rindu terdiam saat akan membuka pintu mobil, dan kembali berbalik badan menatap pria tampan yang masih duduk di balik setir kemudinya itu.
“Untuk?”
“Halalin kamu, besok lusa.”