Buntara Rindu

Buntara Rindu
Bagian 11



Saka tak pernah menyangka, jika nama Reyhan benar-benar tertancap kuat dalam hati Rindu. Awalnya dia menganggap hubungan mereka layaknya seorang dosen dan mahasiswinya saja. Tapi tidak, ketika Saka mengetahui kebenarannya. Hati Saka remuk redam, tapi ia tepis. Mungkin saja kini harapan Rindu untuk mencintai Reyhan pupus dan patah, lebih menyakitkan dari pada hatinya, yang baru seumur jagung mencintai gadis itu.


"Tak anter, yo? Aku sekalian mau balik ke Semarang."


Tangis Rindu masih terisak. Saka tahu gadis itu mencoba setengah mati untuk meredam tangisnya yang terus menggerogoti dirinya.


"Ndak usah, Mas. Aku bisa naik kereta," tolak Rindu secara halus, dia hanya tak ingin merepotkan Saka yang tentu saja memiliki segudang kesibukan. Apalagi dia juga memiliki kafe di Jakarta yang tentu sangat membutuhkan dirinya.


"Nggak papa. Aku juga udah lama nggak pulang. Kasihan papa mamaku, pagi tadi mereka minta aku pulang, katanya kangen."


Rindu bergeming, dia tidak mengiyakan ataupun menolak permintaan Saka.


"Ya, Rin... Tak anter, ya?" paksanya. Saka hanya khawatir, Rindu pulang seorang diri dalam keadaan seperti ini. Dan akhirnya gadis itu luluh juga, mengangguk setuju dengan tawaran Saka.


Hari itu selepas azan Zuhur, keduanya bergegas pulang menuju kota kelahiran mereka berdua. Mata Rindu masih terlihat sembab, padahal berita perihal pernikahan Reyhan dan wanita lain itu sudah pagi tadi ia dengar. Namun, atmosfir kesedihan masih terlihat jelas di wajah hadis itu.


"Rindu, kamu udah siap?" tanya Saka saat melihat Rindu sudah duduk di sampingnya sembari memeluk bantal bulat berwarna merah muda di tangannya.


"Sudah, Mas." Begitu lirihnya suara Rindu, hingga hampir saja indera pendengaran Saka tidak mendengarkannya.


Sepanjang perjalanan Rindu hanya diam, dia seolah tengah menikmati kesedihannya. Terlihat jelas kadang air mata masih mengalir membasahi pipinya, dan cepat-cepat dia mengusapnya.


"Rin... Memang pondok pesantren Pak Reyhan di mana?"


"Di Demak, Mas."


"Loh, nggak di Semarang to?"


Rindu menjawab dengan gelengan kepala, seolah tidak mampu mengeluarkan suara.


"Rin...."


Gadis itu kembali menoleh ke arah Saka yang masih memecah konsentrasi antara Rindu dan Jalan tol yang panjang.


"Aku boleh ikut nggak ke pesta pernikahan Pak Reyhan?"


"Untuk apa, Mas?"


"Untuk melihat apakah kamu baik-baik saja. Aku nggak bisa lihat kamu terluka sendirian. "


"Memang menurut Mas Saka, aku sedih karena Gus Reyhan mau nikah?" tanya Rindu.


"Ya, aku pikir begitu, tapi kalau dugaanku salah. Aku minta maaf."


Rindu tidak menanggapi apa pun yang keluar dari mulut Saka setelahnya. Ia memilih membuang muka ke arah jendela memperhatikan mobil yang lalu lalang.


Jarak Semarang—Jakarta 446 kilometer, dengan waktu tempuh kurang lebih enam sampai tujuh jam, jika melewati jalan tol.


Setelah sepanjang jalan mereka terdiam, terbunuh oleh keadaan dan pikiran mereka masing-masing. Mobil Saka memasuki area tol Kali kangkung. Hal ini menandakan sebentar lagi mereka berdua sudah akan masuk ke area Semarang.


"Rin... Mau aku anter ke rumah sekalian po pie?"


Rindu tidak mau membuat kakek neneknya merasa khawatir karena dirinya yang tiba-tiba pulang bahkan dengan seorang lelaki dari Jakarta.


"Ya wes tak anter sekalian ke Demak." Saka kembali menawarkan, lagipula dia merasa khawatir dan bertanggung jawab dengan keselamatan Rindu tentunya.


"Ndak usah, Mas. Mas Saka bisa turunin aku di terminal Mangkang aja, nanti aku naik bus sendiri."


"Rin... Ini udah malam, dan kamu cewek. Aku nggak bisa tinggalin kamu sendiri, ayolah... Manuto karo aku!" Wajah saka tampak memelas. Ia benar-benar ingin menjaga Rindu dari mara bahaya dunia malam kota Semarang.


Rindu tak ada pilihan lain, lagi pula apa yang dikatakan Saka memang ada benarnya. Dia sendiri, di jam malam seperti ini tentu akan sangat berisiko untuknya.


o0o


Butuh satu jam lamanya mereka sampai dan memasuki kota Demak, yang berjarak tak jauh dari kota Semarang. Rindu terus diam setelah menyetujui Saka ikut hingga sampai di Pondok Pesantren Al-Ma'Ruf.


"Mas... Itu gerbang Pondoknya." Rindu menunjuk salah satu gerbang hitam besar, di mana sudah ada janur kuning yang melengkung menandakan tempat itu akan diadakan sebuah pernikahan. Saka membelokkan mobilnya masuk ke pelajaran Pondok pesantren yang cukup luas itu. Bisa dibilang ini sangat luas, dan Saka sendiri tidak pernah membayangkan jika sebuah Pondok bisa sebesar ini.


Pas sekali adzan Isya' berkumandang ketika Rindu membuka pintu dan keluar dari mobil Saka. Pemuda itu tidak ikut turun, dan Rindu sedikit melongok ke dalam.


"Mas... Tadi kita udah solat magrib di Rest Area. Mas Saka nggak mau sekalian solat di sini?" tanya Rindu.


Saka yang sebenarnya sejak tadi hanya ikut-ikutan saja solat, padahal selama ini dia tidak pernah mengerjakan ibadah wajib umat muslim tersebut. Bahkan dia menginjakan kakinya di masjid bisa dibilang satu tahun sekali, untuk solat idul fitri saja.


Meski sedikit Ragu, Saka turun dari mobil demi menuruti gadis yang telah membuat dirinya mabuk kepayang itu.


Keduanya berjalan masuk ke dalam dengan menjaga jarak. Tapi tiba-tiba keduanya dikagetkan dengan kedatangan Reyhan yang muncul secara tiba-tiba membuat keributan.


"Nopo kue rene!" Tubuh Saka didorong dengan kuat ke belakang. Sementara orang-orang yang melihat kejadian itu tampak ingin melerai kedua pria itu. "Kamu cari kesempatan buat deketin Rindu, hah?!" teriak Reyhan seperti akan melayangkan bogem mentah untuk mahasiswanya itu.


"Mboten, Gus... Mas Saka itu cuma ngantarkan kulo pulang aja ke sini!" seru Rindu histeris, karena dia tidak pernah melihat Reyhan sekasar ini.


"Aku ngerti gimana kamu, siapa kamu, dan bagaimana kamu memperlakukan wanita! Jadi jangan coba-coba deketin Rindu!" desak Reyhan mencoba mengintimidasi Saka agar menjauh dari gadis itu.


"Saya tidak akan menjauh dari Rindu! Kalau bisa saya akan menikahinya dan menjaganya!" seloroh Saka, yang membuat Reyhan naik pitam dan meninjunya hingga roboh. Rindu yang melihat itu langsung histeris. Bagaimana bisa Reyhan berbuat sejauh itu dengan orang yang baik seperti Saka.


"Wani kowe ngomong nikah buat Rindu! Memangnya kamu siapa!?"


Saka berdiri dengan segera, lalu merapikan bajunya dan mengusap darah yang keluar dari pinggir bibirnya.


"Aku Aji Saka Santoso! Aku akan melamar Rindu sekarang juga."


Semua orang yang melihat kejadian itu tampak terkejut, apalagi Rindu yang dijadikan obyek alasan mereka berdua bertengkar, meski tidak imbang karena Saka sama sekali tidak membalas perbuatan Reyhan.


"Wes... Cukup! Reyhan, kamu ndak pantas gebukin anak orang di sini, di pondok pesantren abahmu yang terkenal ramah dengan santrinya!" Kiai Ma'ruf yang baru datang akan menuju masjid melerai pertengkaran keduanya.


"Tapi, Bah dia mau—"


"Wes... Kamu itu besok mau nikah, kamu kudu siap-siap, bukan malah menganggu urusan orang. Lagian pemuda ini sudah berkata dengan lantang jika dia akan melamar dan menikahi Rindu. Kamu sebagai orang yang sudah menganggap Rindu sebagai adik. Harusnya menerima dengan lapang dada."


Saka mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Dia tidak akan pernah terima jika Rindu akan menjadi milik Saka nantinya.