Buntara Rindu

Buntara Rindu
Bagian 12



Malam itu Saka di bawa ke pendopo untuk dimintai keterangan perihal ucapannya tadi—yang berkelakar akan menikahi Rindu, gadis malang yang tidak pernah mendapat kasih sayang dari kedua orangtuanya. Sedangkan dia sudah dipondokkan sejak usia dia tiga belas tahun, dan menjadikan dia santri kesayangan Nyai Ima. Maka dari itu dia tampak disidang di sana. Reyhan terus menatap Saka dengan mata yang menakutkan memendam amarahnya sejak tadi pada mahasiswa yang ia anggap playboy itu.


Sementara Rindu dia tidak mau Saka menikahinya. Karena menurut gadis itu jalannya masih panjang dan tentu saja dia masih ingin menikmati masa muda, umurnya juga hampir menginjak dua puluh tahun sebentar lagi.


"Apa yang membuat nak Saka mau menikahi Rindu?" tanya Kiai Ma'ruf yang tampak teduh dan berkharisma.


"Karena Rindu cantik?" Reyhan menimpali dengan nada penuh penekanan.


"Han... Meneng o. Biar Abah yang tanya sama Nak Saka." Nyai Ima tampak menenangkan anaknya. Sementara Rindu masih tertunduk. Kali ini Saka sepertinya tidak Main-main. Dia tampak begitu serius dengan Rindu. Ingin membahagiakan gadis itu bagaimana pun caranya.


"Saya mencintai Rindu dengan tulus, dan ingin menjaganya Kiai." Saka tampak tidak ragu mengatakan cintanya meski suaranya terdengar lirih.


"Alah playboy koyo kowe iki ngerti apa soal cinta?!" Reyhan begitu emosi mendengar pengakuan Saka yang menurutnya adalah omongan buaya darat saja.


"Kamu nggak tahu, kan? Rindu itu sejak kecil sudah diabaikan kedua orangtuanya. Karena mereka memiliki keluarga Sendiri-sendiri, hingga melupakan Rindu, dan menitipkan gadis ini di sini. Dan kami menganggap Rindu sudah seperti anak kami sendiri." Saka terkejut, dia baru tahu jika liku-liku perjalanan hidup Rindu begitu berat di mana dia diabaikan oleh kedua orangtuanya yang seharusnya sangat menyayangi dirinya. Pergolakan batin memang, tapi untuk Saka yang seperti sudah siap melabuhkan cintanya untuk Rindu. Semua itu malah semakin menguatkan tekatnya untuk menjaga gadis malang ini.


"Saya siap, Kiai... Saya siap membahagiakan Rindu, saya siap membuat Rindu aman, dan mengayomi Rindu." Kini Saka seperti memiliki kekuatan setelah mendengar kisah hidup gadis pujaan hatinya ini.


"Jangan takabur dulu. Semua Allah yang berkehendak. Kamu memang bisa merencanakan, tapi takdir tetap Allah yang mengatur, Le." Kiai Ma'ruf menimpali ucapan Saka yang begitu percaya diri.


"Nggih, Kiai." Suara Saka berubah lirih, tapi tidak mengubah tekat-nya untuk membahagiakan Rindu dengan mempersunting gadis itu.


"Rin... Gimana, kamu mau?" Kiai Ma'ruf menoleh ke arah gadis yang masih tetap menundukkan pandangan sejak tadi.


"Nduk... Inilah jalan untuk kamu bisa menikah. Ada lelaki yang mau jagain kamu. Lagi pula sekarang Reyhan sudah nggak mungkin awasi kamu terus, kan? Reyhan juga sudah akan menikah." Nyai Ima yang sejak tadi menyimak, dan melihat Saka, seperti memiliki firasat jika pria yang ingin mempersunting anak santri kesayangannya ini benar-benar baik hati.


"Kalau buat jaga Rindu, yo... Aku iso Umi, meski udah nikah kelak." Reyhan masih bersikukuh tidak mau Saka menikahi Rindu.


"Jangan begitu, Le. Kasihan Adiba. Mungkin kamu mikirnya Rindu kaya adik kamu sendiri, tapi gimana pikiran dia, kan?" Nyai Ima menimpali.


Pikiran Rindu kacau balau, sedih, kecewa, cemburu campur aduk menjadi satu, dan ditambah bom kejutan, seorang Saka ingin menikahinya yang selama ini ia tidak tahu jika kakak tingkatnya ini menaruh hati pada dirinya.


"Aku mau nikah secara sah, Mas Saka. Aku bersedia."


"Rin—" Reyhan tampak ingin menghentikan ucapan Rindu, padahal dia sudah mewanti-wanti dan berkata pada gadis itu jika Saka bukanlah orang yang baik, dan bisa dijadikan imam yang sempurna untuk gadis itu.


Tapi bagi Rindu, rasa sedih dan kecewa dengan pernikahan Reyhan akan sirna jika dia menikah juga dengan Saka meski tidak ada rasa cinta diantara dirinya.


Saka sadar dan tahu betul, jika cinta Rindu hanya untuk Reyhan. Namun, dia yakin meraba hati Rindu dengan perlahan akan melunakkan hati gadis itu.


"Kembali lagi ke sini dalam waktu tiga hari dengan surat-surat lengkap, ya, cah bagus!" Kiai Ma'ruf menantang Saka, jika dia serius dengan Rindu dia akan kembali ke pesantren ini dalam waktu tiga hari, dan membawa kedua orang tua dan keluarganya.


"Njih Kiai. Saya siap." Saka meyakinkan semuanya untuk kembali lagi. Namun, Reyhan skeptis dengan ucapan Saka perihal keseriusannya melamar Rindu.


"Nduk kamu ndak dalam keadaan tertekan, to?" Nyai Ima mengelus punggung Rindu. Gadis itu menggelengkan kepala lemah dan menoleh ke arah wanita paruh baya itu.


Saka menatap Rindu, tekatnya telah bulat, dia ingin menjaga Rindu, mencintai gadis itu dengan tulus, walau dia tahu jika cinta dari Rindu untuk dirinya sangatlah mustahil.


o0o


“Wong ngendi arek iku?” sahut sang ibu yang duduk di depan pemuda yang telah sampai di rumah dan berkata ingin menikahi seorang gadis yang entah siapa.


Meski Saka keturunan tionghoa yang beragama muslim. Beruntung kedua orang tuanya tidak pernah membatasi pilihan sang buah hati perihal jodoh. Karena mereka tahu bagaimana watak Saka, semakin dia dilarang maka semakin dia ingin mendobrak norma yang ayah dan ibunya ciptakan.


“Orang semarang, dan gadis baik-baik lulusan pondok.”


“Lulusan pondok? Lha kamu kenal dia di mana?” cecar sang ibu tampak ingin tahu.


“Dia kuliah di kampus yang sama dengan Saka, Mi.”


“Kamu pacaran ta sama dia? Sudah berapa tahun?” Ayah Saka menimpali jawaban anaknya itu.


“Sama sekali nggak ada pacaran, Pi, Mi. Gadis itu adalah gadis yang hanya bisa disentuh ketika sudah halal.”


Ayah dan ibu Saka tampak saling pandang. Seolah merasa aneh dengan sang anak yang mereka tahu tidak pernah serius dengan seorang wanita.


“Opo alasanmu pengen nikah sama gadis ini?” tanya sang ibu lagi.


“Karena dia berbeda, dia terlihat mahal, dan tak tersentuh. Dia hanya bisa dimiliki dengan cara dibeli. Bukan dengan cara gratisan. Pasti mami tahu apa yang Saka maksud.”


Sang ibu mengangguk seraya mengerti.


“Tapi Mami juga pengen ketemu sama dia, Sak.”


Saka menarik napas lega karena dia sadar jika sang ibu sudah mulai membuka restu untuk dirinya. “Tiga hari lagi, Saka diminta untuk datang membawa surat-surat lengkap sebagai syarat menikahi Rindu.”


“Yo wes, besok Papi urus ke kelurahan dan kecamatan, biar kamu bisa cepet halalin gadis itu.” Kini sanh ayah yang menjawab, hal itu membuat Saka tersenyum karena kedua orang tuanya begitu mendukung dirinya menikah dengan sang gadis pujaan hatinya.


o0o


Esok paginya, semua tamu telah hadir di kawasan pondok pesantren. Para Kiai-kiai yang seolah ingin menjadi saksi pernikahan Reyhan dan Adiba tampak sudah berada di dalam masjid. Sementara Rindu yang sudah siap mengenakan gamis rapi berwarna putih senada dengan warna pakaian mempelai wanita tampak begitu anggun dan cantik.


Gadis itu berjalan seorang diri, menuju kamar rias pengantin wanita, karena suruhan nyai Imah yang memintanya menemani Adiba, agar sang calon menantu tidak merasa sendiri dan gugup.


Perlahan Rindu membuka pintu kamar bercat putih itu, dan mengintip sedikit. Dia melihat Adiba begitu cantik di depan cermin membuat dirinya merasa rendah diri. Gadis itu memang sangat cocok untuk Reyhan, cantik, anggun, terpandang, dan pintar, serta status mereka setara. Rindu menarik napas dalam-dalam mencoba berdamai dengan hatinya yang sudah luluh lantah.


“Assalammualaikum, Mbak Adiba. ” Suara lembut itu menyapa telinga Adiba yang masih fokus menatap bayang dirinya di depan cermin. Spontan gadis itu menoleh, dan tersenyum.


“Waalaikumsalam," jawabnya singkat. ”Eh... Mbak Rindu, sini duduk temenin aku. Aku gugup banget soalnya.“ Terlihat sekali wajah ayu Adiba sangat tidak santai.


”Kenapa Mbak Adiba? Bukannya ini hari bahagianya mbak Adiba?“ tanya Rindu.


”Mbak Rindu udah lama kenal Mas Reyhan. Gimana si sifat Mas Reyhan?“


Bak disambar petir. Mengapa Adiba bertanya soal Reyhan pada dirinya seolah gadis itu tahu jika Reyhan dekat dengan Rindu.


”Eh... Ya, seperti halnya laki-laki biasa, Gus Reyhan baik.“ Jawaban yang klise tapi tetap paling aman. Karena dia hanya ingin terlihat tidak dekat dengan Reyhan sebelum menikah, karena menjaga hati seorang Adiba.