
"Gue harus jawab sekarang?"
"Kalau bisa sih iya. Tapi kalau nggak bisa, terserah lo. Gue nggak akan maksa."
Cinta tidak sembarangan berlabuh. Dia akan menemukan tuannya sendiri. Cinta adalah perasaan sakral yang muncul dari dalam diri, dan tentunya tidak dapat dipaksakan.
"Tapi gue belum mau pacaran."
Penolakan Saka membuat Rosi terkekeh. Lalu sedetik kemudian berubah serius.
"Naif...." gumam Rosi. "Gue bisa kasih lo kehangatan kalau lo mau. Atau apa pun itu." Rosi memindai tubuh Saka yang memang terbilang atletis dengan tinggi sekitaran seratus delapan puluh sentimeter, hidung mancung, dengan bulu mata yang terlalu lentik untuk ukuran laki-laki. "Sejak pertama kali masuk kuliah, gue udah ngincer lo," sembur gadis itu, setengah mencibir.
"Gue cabut dulu!" Saka menyambar arloji dan telepon pintarnya dari atas meja nakas, dan bergegas akan pergi.
"Tunggu!" Seruan Rosi membuat Saka terhenti. Sedetik kemudian pria itu menoleh. "Lo udah nidurin gue! Lo harus tanggung jawab!"
Bak tersabar petir. Pikiran Saka melayang. Apakah wanita ini sedang bercanda dengan meminta Saka tanggung jawab. Dia meminta Saka menikahinya?
"Nikah?" Saka masih bingung menghadapi Rosi yang dianggap wanita yang memang bisa diajak having fun tanpa menggunakan perasaan.
"Bukan... Tapi gue mau lo pikirin lagi penawaran gue. Gue serius!"
Rosi memang cantik, luar biasa cantik malahan. Tentu dia idaman semua pria. Tapi tidak dengan Saka. Dia sengaja enggan berkomitmen sebelum dia benar-benar jatuh cinta dengan seorang wanita.
"Oke." Saka pergi keluar dari kamar hotel meninggalkan Rosi begitu saja.
Pria keturunan Tionghoa itu berdecak lega, saat ia akhirnya berhasil terlepas dari Rosi. Untuk terakhir kalinya dia menatap pintu kamar tadi yang memiliki nomor dua satu satu. Saka berjalan cepat. Pasti mobilnya masih ada di kelab malam karena bisa dipastikan Saka meninggalkannya di sana.
Namun, langkahnya terhenti saat ponselnya bergetar, dia baru sadar jika semalam dia men-silent gawai-nya tersebut. Saat dia membukanya, pria itu terkejut saat tahu ada lebih dari dua puluh panggilan tidak terjawab.
"Hallo, Sak! Lo ke mana aja?" Terdengar suara lega dari Oki saat setelah mendengar suara Saka.
"Gue ada di hotel, tapi gue nggak tahu ini hotel apaan." Saka masih berjalan diantara lorong kamar menuju lift.
"Syukur deh elo selamat. Lo cepetan balik! Mobil lo udah kita bawa."
"Emang ada apa, sih?" Saka merasa heran, mengapa dia bisa terpisah dari dua sahabatnya. Padahal jelas-jelas di antara Oki dan Dika, bisa dipastikan Saka minum paling sedikit. Tapi kenapa dia yang malah berakhir tidur dengan wanita di dalam hotel.
"Lo pergi dibawa sama Rosi. Katanya, saat kita mau ajak lo balik, dan sejak saat itu kita kehilangan jejak lo."
Saka terdiam, lalu menutup teleponnya.
Pria itu memesan sebuah taksi online untuk pulang ke rumah kontrakannya yang berada tak jauh dari kampusnya di Jakarta Barat.
Saat di dalam mobil, Saka masih terserang rasa kantuk yang luar biasa sehingga tanpa sadar dia kembali terlelap.
"Mas... sudah sampai sesuai titik." Suara si sopir taksi online itu membuat mata Saka mengerjap dan terbangun.
"Eh... Sudah sampai, pak? Saya nggak sadar sampai tidur."
"Nggak papa, Mas. Kelihatan kalau Mas memang capek," jawab si Sopir yang terlihat seperti pria paruh baya itu.
Setelah menyerahkan ongkos taksi online, Saka turun tepat di gerbang pintu rumah kontrakannya. Dia melihat SUV yang ia miliki sudah terparkir di sana.
"Bagus... Oki dan Dika memang pintar!" gumam Saka sembari menyeret gerbang kontrakannya untuk masuk. Namun, tiba-tiba pergerakan Saka terhenti ketika mendengar alunan lembut suara wanita yang berseru menyebut nama 'kue'.
"Kue... Kue.... "
Saka menoleh, dia melihat wanita memakai kerudung berwarna cokelat tengah menjajakan jajanan pasar, tangan kanannya memegang nampan bulat berukuran sedang, sementara tangan kirinya menenteng tas kecil.
Untuk sementara Saka mematung memerhatikan gadis cantik dengan kulit putih langsat tinggi badan sekitar seratus enam puluh sentimeter itu mendekat ke arahnya.
"Kue-nya, Mas." Wanita itu menawarkan dagangannya pada Saka. Tapi pria itu hanya terdiam dan masih menatap wanita berjilbab cokelat itu terus berjalan hingga melewatinya.
"Mbak! Kue!" teriak Saka.
Wanita itu berhenti dan menolehkan wajahnya ke arah Saka, dan berjalan kembali untuk mendekat menuju pria itu berdiri.
"Masuk dulu, Mbak!" Saka membuka pintu pagar rumahnya. Sementara wanita itu tampak malu dan ragu mengikuti Saka ke dalam teras rumahnya.
"Taruh di meja itu Mbak, saya mau milih-milih." Wanita itu menuruti perkataan Saka, dan meletakkan dagangannya di atas meja bulat di teras rumah Saka.
Benar saja Saka memilih beberapa jajanan pasar itu, diantaranya lemper, kue lumpur, ada juga lumpia khas kota kelahirannya Semarang, yang bisa membangkitkan rasa rindunya dengan kota yang sudah beberapa kali mendapat piagam penghargaan sebagai kota terbersih, tak heran memang karena Semarang berhasil mendapatkan penghargaan sebagai salah satu kota wisata terbersih di ASEAN oleh ASEAN Clean Tourist City pada periode 2020 – 2022. Semarang juga menjadi satu-satunya kota di Indonesia yang berhasil mendapatkan penghargaan Adipura 6 kali berturut-turut sejak tahun 2012.
"Wah ... Ada lumpia. Saya jadi kangen sama kota saya."
Wanita itu tampak sumringan yang tadinya tampaknya tidak antusias dan tidak nyaman dengan Saka, malah dia pula membuka percakapannya dengan Saka ketika pria itu menyebutkan nama ibu kota Jawa tengah tersebut.
"Mas orang Semarang?" Suara lembut mengayun menyapa telinga Saka.
"Iya, Mbak. Mbak anak Trisakti, ya?" tanya Saka.
"Kok Mas tahu?" Wanita itu mengerutkan kening karena heran. Bisa dipastikan gadis itu belum kenal banyak orang di daerah kosnya. Dan kebetulan ibu kosnya juga berjualan kue di pasar, sehingga ia menawarkan diri untuk ikut menjajakan kue buatan sang ibu kos hanya untuk mendapat tambahan uang.
"Kemarin mobil saya nabrak Mbak."
Wanita itu tersenyum. Sungguh Saka tidak pernah menatap senyuman secantik dan semanis itu dari perempuan manapun. Wajah wanita di hadapan Saka ini terlampau teduh, hingga membuatnya nyaman berada dekat dengannya.
"Pajero putih itu. Mas rupanya." gadis itu melirik ke arah mobil yang terparkir di depan rumah.
"Ngomong-ngomong Mbak orang Semarang juga?" tanyanya lagi.
"Iya... Baru satu minggu merantau, Mas. Buat kuliah."
Saka merasa sangat antusias. Karena wanita ini juga berasal dari kota yang sama dengan dirinya.
"Semarang e ngendi, Mbak?" Suara logat jawa pun keluar dari mulut Saka, padahal selama ini dia selalu mengubur dalam-dalam logat dan bahasa jawa, selama di Jakarta karena ia merasa itu sangat kampungan.
"Pedurungan, Mas."
"Wah... Deket, Mbak. Saya daerah Tembalang."
"Oh... Deket sama UNDIP itu, ya, Mas?" tanya wanita itu lagi.
Saka mengangguk, matanya tak lepas dari wajah wanita cantik di hadapannya itu.
"Namine sinten, Mbak?" tanyanya lagi.
"Saya Rindu."
"Rindu... pantes.... " Saka berguman pelan, tapi masih bisa terdengar oleh Rindu.
"Pantes kenapa, Mas?"
"Wajahnya bikin kangen." Saka mencoba melempar jokes bapak-bapak yang tentu saja membuat Rindu tersenyum.
"Namaku Saka, Mbak. Mbak bisa lo setiap jualan manggil nama saya di depan gerbang. Nanti pasti saya beli."
Rindu hanya mengangguk, tangannya mengulur bergerak membuka tas, mengambil plastik kresek putih, dan memasukkan jajanan yang Saka pilih tadi.
"Sebelas ribu, Mas."
Rindu mengulurkan tangannya menyerahkan plastik itu pada Saka.
Saka mengeluarkan dompetnya dan mengambil uang dua puluh ribuan dan menyerahkan uang itu pada Rindu.
Saat Rindu akan membuka dompet, dan mengambil kembalian sembilan ribu untuk Saka, pria itu menolak kembaliannya.
"Nggak usah, Mbak. Biar aja kembaliannya buat Embak Rindu."
"Eh... Nggak bisa, Mas. Saya takut jadi kebiasaan." Rindu pun tetap mengambil kembalian dan menyerahkannya pada Saka. Wanita berkerudung coklat itu pamit pada Saka dan pergi dari teras kontrakan Saka.
Untuk beberapa saat Saka terpekur, hingga Rindu benar-benar hilang dari pandangannya.