
Rindu langsung masuk ke dalam barisan di mana para mahasiswa baru sedang apel pagi. Merasa ada seorang gadis yang tiba-tiba masuk ke dalam barisan. Seorang Kakak tingkat laki-laki menggunakan Toa langsung teriak ke arah depan.
"Siapa yang barusan main nyelonong masuk barisan?!"
Semua hening, tampak para Mahasiswa baru saling bertatap-tatapan. Rindu yang memang merasa melakukan kesalahan langsung keluar dari barisan dan mengacungkan jari telunjuk.
"Sa... Saya, Kak, " ucapnya terbata.
"Sini, lo!"
Rindu berjalan pasrah menuju ke depan. Dia tidak tahu apa yang akan dilakukan kakak tingkatnya pada dirinya. Mungkin terlambat adalah kesalahan paling fatal ketika masuk masa orientasi seperti ini. Padahal Rindu terlambat karena sejak subuh dia menjajakan kue di sekitar komplek kosnya.
"Siapa nama lo?" tanyanya, kakak tingkat tersebut menurunkan Toa-nya, karena Rindu sudah berada di hadapannya dalam posisi berdiri sembari menunduk.
"Rindu, Kak."
"Yang keras dong! Gue nggak dengar! Coba lo tatap wajah gue!" dengus Kakak tingkat Rindu yang terlihat tengah memakai celana jeans panjang ada beberapa robekan di bagian dengkulnya. Sementara itu dia juga memakai jas almamater berwarna biru dongker bertuliskan nama kampus.
"Rindu, kak!" Kini terpaksa, Rindu harus mendobrak prinsipnya sendiri, di mana wanita tidak boleh tertawa kencang atau bersuara tinggi, karena bukan marwah wanita jawa pada umumnya yang terkenal halus dan lembut. Begitulah Nyai Ima, Umi dari Reyhan berkata ketika mengajar di kelas ketika Rindu mondok dulu.
"Nah... gitu dong! Ngapain lo masuk ke barisan? Lo telat, kan?" tanyanya dengan nada penuh penekanan.
"Iya, Kak."
Namun, ketika Rindu masih tertunduk menjaga pandangannya untuk kakak tingkatnya itu. Suara yang tidak asing menyapa mereka.
"Tala... Jangan keras-keras sama adik tingkatmu. Dia itu Rindu, salah satu mahasiswa saya yang mendapat beasiswa dari pondok pesantren Al-Ma'ruf. "
Rindu langsung mendongakkan kepala. Dadanya berdegup dua kali lebih cepat, dan dia tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya karena melihat Gus Reyhan berada di tengah-tengah mereka.
"Baik, Pak." Kakak tingkat itu langsung memerintahkan Rindu untuk masuk ke dalam barisan.
"Lo boleh masuk barisan! Tapi inget jangan terlambat lagi!" dengusnya.
Rindu berjalan masuk ke barisan, lalu melebur bersama Mahasiswa yang lain. Setidaknya Rindu bisa bernapas lega, tatkala mengetahui jika Reyhan menunaikan amanat dari Nyai Ima yang memang sengaja menitipkan Rindu yang merupakan santri kesayangannya, karena sudah dianggap anak sendiri oleh Nyai Ima dan Kiai Ma'ruf.
"Lo kenal sama Pak Dosen muda ganteng itu?" Tiba-tiba salah seorang bertanya pada gadis itu.
Rindu menoleh mencari sumber suara yang baru saja mempertanyakan perihal Gus Reyhan padanya. "Iya... dia adalah anak dari Kiai yang dulu pernah aku mondok di sana."
"Ih... Lo. Formal banget, sih." Gadis tadi melirik ke arah temannya yang tidak memakai jilbab itu. Rambutnya hitam dan lurus, cantik sekali, membuat Rindu tidak bosan memandangnya.
"Kenalin, gue Sofia." Gadis tanpa kerudung menyodorkan tangan pada Rindu.
"Aku Rindu asli Semarang."
"Lo orang Semarang?! Kenalin gue Raya."
Rindu kembali meraih jabatan tangan Raya. Sofia dan Raya adalah teman pertama Rindu di kota yang sering disebut hutan beton tersebut. Entah mengapa Jakarta juga mendapat julukan seperti itu. Mungkin karena banyak gedung-gedung pencakar langit di Ibukota Indonesia ini.
"Eh... Lawang Sewu emang bener, ya? Pintunya ada seribu?"
Mendengar celotehan Raya membuat Rindu tersenyum. "Aku nggak pernah ngitungin jumlah pintunya. Tapi isinya sih bagus. Kalau ke Semarang jangan lupa ke sana, ya."
Setidaknya sekarang Rindu tidak sendiri, karena dia sudah memiliki teman yang mungkin saja bisa menemani Rindu kala Reyhan tidak bisa bersamanya.
o0o
Saka, Oki, dan Dika ketiganya yang sudah sepakat untuk pergi ke sebuah kelab malah di mana tempat ulang tahun Rosi teman seangkatan Saka yang sering dijuluki primadona kampus karena wajah dan bodinya mirip sekali dengan artis Ariel Tatum.
Di sana mereka tertawa dan berjoget-joget ria bersama gadis-gadis cantik. Saka yang tidak begitu antusias malam ini hanya duduk di bar dengan menenggak cocktail yang ia pesan sebelumnya. Tiba-tiba Rosi yang mengenakan pakaian yang super seksi seperti kekurangan bahan mendekat ke arahnya. Wanita itu mengenakan Backless tank top warna merah yang memiliki potongan lebih lebar di bagian belakang sehingga menonjolkan bentuk punggung, dipadu dengan rok span hitam polos setinggi pahanya, dengan hells setinggi lima sentimeter yang membuatnya benar-benar seksi.
"Kok lo sendiri, sih, Sak?" Rosi tampak bergelayut manja di dada Saka. Dia memang selalu sengaja membujuk Saka, karena dia sangat menyukai pria itu. Saka sang Idola kampus yang tinggi dan gagah, wajahnya oriental bak artis dari negeri ginseng yang seolah melompat ke dunia nyata dalam bentuk seorang pria seperti Saka.
"Sabar, ya. Sak!" ucapnya manja. Rosi memang mengenakan riasan cukup tebal, dengan Eyeshadow smoky eyes yang membuat netranya tajam, bulu matanya terlihat lentik, dan paling penting bibirnya memakai lipstik berwana merah menyala yang pas sekali dengan karakternya yang seperti wanita penggoda.
"Saka... Minum sama kita di table sana, yuk!" ajaknya.
Saka pikir itu ide yang bagus. Setidaknya dia bisa melepas penat minum-minum dengan wanita seksi teman-teman Rosi.
Saka benar-benar tenggelam dalan rayuan Rosi, hingga dirinya benar-benar mabuk. Awalnya dia yang ingin menjaga Oki dan Dika, agar tetap sadar dan bisa menyeret dua sahabatnya itu pulang ke kontrakan mereka. Namun, nyatanya berbanding terbalik. Justeru Saka-lah yang akhirnya tak sadarkan diri.
o0o
Matahari pagi, menyorotkan cahayanya hingga tanpa sengaja mengenai wajah Saka yang tengah didekap oleh mimpi. Hal itu pulalah yang berhasil membuat Saka mengerjapkan mata. Perlahan dia membuka netranya, dan sadar jika ia tidak berada di dalam kamar kontrakannya. Dia melihat dinding berwarna putih, dengan nuansa kamar yang sangat berbeda dengan tempat peraduannya yang bercat abu-abu serba monocrom.
Saka terkesiap, lalu dia mengedarkan pandangannya ke segala arah, matanya berhenti ketika ia melihat punggung wanita dengan tato kupu-kupu kecil di pundaknya.
Saka mengingat-ingat kejadian semalam, setelah dia berusaha mengaisnya, dia sadar dan menepuk jidatnya sendiri. Dia sudah tidur dengan Rosi.
Saka memeriksa tubuhnya yang tertutup di balik selimut, ternyata dia sudah polos seperti bayi, mereka berdua telah bersenggama memadu kasih semalaman, dan melepas segala nafsu birahi yang sudah tak tertahan.
Saat Saka bergerak, wanita itu memutar badan dan melihat ke arah Saka.
"Lo udah bangun? Gila... lo perkasa banget!" selorohnya.
Saka terdiam, dia tidak sadar telah melakukan itu semalam. Ia hanya bisa menjawab wanita cantik itu dengan senyum simpul saja.
Saka berjalan ke arah kamar mandi tidak lupa dirinya mengais baju-bajunya yang sudah berserakan di lantai marmer.
Lima belas menit Saka membasahi tubuhnya dengan air, ketika ia pikir ini semua cukup, Saka keluar dari sana. Saat Saka melangkahkan kaki keluar, dia sudah disuguhi pemandangan pagi yang indah. Wanita itu berdiri membelakangi Saka dengan tubuh yang polos memperlihatkan punggung yang begitu seksi. Ia seperti sedang mengamati sesuatu di luar jendela.
Mendengar pergerakan Saka dia berbalik badan, dan Saka semakin terbelalak dan hampir saja mimisan. Tidak percaya semalam dia menikmati tubuh cantik itu.
"Lo mau balik?" tanya Rosi, wanita itu sangat senang. Akhirnya Saka bisa ia taklukkan. Karena selama ini dia ingin sekali tidur dengan Saka, dan berharap pria itu bisa menjadi kekasihnya.
"Seksi...." gumam Saka masih terpaku melihat wanita itu.
"Apa?" Wanita itu tidak mendengar dengan jelas ucapan Saka.
"Hah... lo bilang apa barusan?" tanya Saka, mencoba sekuat tenaga untuk konsentrasi di bawah gempuran pemandangan gunung indah dan hutan yang rimbun di hadapannya.
"Lo mau pulang?" Rosi mengulangi pertanyaannya lagi.
Saka hanya mengangguk dan masih berdiri mematung.
"Gue mau lo jadi pacar gue!"
"Hah... Apa maksud lo?" Saka terkejut mendengar ucapan Rosi, hanya dengan tidur sekali bersamanya. Kini dia sudah ditawari untuk berkencan.
"Iya... Gue udah suka sama lo dari dulu."
Seperti kejatuhan bintang dari langit. Bukannya dia tidak mau. Wanita ini memang cantik dan memesona dengan tubuh yang luar biasa seksi seperti model dalam majalah fashion, tapi bukan wanita seperti Rosi yang Saka cari.
"Gue nggak bisa."
"Lo nggak mau?"
Wanita itu bergerak dan mulai berjalan kemudian duduk di atas sofa, meraih rokok yang terletak di atas meja nakas, menyalakan api dan membakar ujungnya. Ia menghisap rokok itu dan mengeluarkan asap putih dari dalam mulutnya.
"Gue suka sama lo! Lo ganteng, lo perkasa, gue suka bercinta sama lo."
Saka menelan ludah, baru kali ini dia melihat wanita yang begitu percaya diri.