
Rindu tidak ada daya untuk menolak ajakan Saka, kesedihan telah menguasai dirinya, kenyataan tentang pria yang dia cintai harus menikah dengan wanita lain, ini adalah pukulan telak untuk dirinya.
Sepanjang perjalanan ke kampus, Rindu terus menitikan air mata, dan itu cukup membuat Saka yang tidak tahu apa pun merasa bingung. Entah apa yang terjadi dengan Rindu semalam, hingga dia terlihat berantakan dan hancur.
"Rin... Kamu nggak papa to?" Konsentrasi Saka terpecah belah, dia harus memerhatikan jalanan yang sedikit macet, dan gadis yang tengah bermuram durja di sampingnya ini.
"Maaf, Mas. Aku cengeng. Maaf, ya jadi buat kamu bingung." Rindu mengusap air matanya dengan tisu yang dia ambil dari dalam tasnya.
"Nggak papa, Rin. Kalau kamu mau cerita aku bisa dengerin keluh kesah kamu. Itu pun kalau kamu mau."
Gadis itu menoleh, menatap Saka lekat-lekat. "Mas... Rasanya aku pengen libur ke kampus. Tapi aku nggak tau mau ke mana."
"Ke kafe aja gimana?"
"Kafe?" Sejak saat datang ke Jakarta, jujur saja Rindu tidak pernah menginjakan kaki di kafe atau semacamnya. Hidupnya hanya dia habiskan untuk ke Kampus atau berjualan kue, di luar itu mungkin dia hanya pergi mencari makanan untuk di makan kadang bersama Reyhan saja. Mungkin saja jika dia ke kafe bersama Saka, Rindu bisa membunuh rasa sakit hatinya karena Reyhan.
"Ya, Kafe. Aku ada tempat asik buat ngopi jika kamu mau."
Rindu mengangguk setuju, untuk saat ini dia hanya ingin melupakan kesedihannya tentang Reyhan.
Saka membelokkan mobilnya memutar arah berlawanan dengan jalan kampus. Dan sepanjang perjalanan Rindu hanya diam mengunci bibirnya tanpa mengeluarkan sepatah kata apa pun. Demi mengurai kebekuan diantara mereka, Saka memutar musik yang ada di dalam mobilnya. Lagu Mahalini—Melawan Restu, suara melow dari gadis asal bali itu membuat Rindu semakin sedih. Lagu ini related sekali dengan kisah cintanya dengan Reyhan yang saling mencintai. Namun, tak pernah dimulai.
Rindu menghela napas. Ia tidak nyaman, tapi dia juga tidak bisa mencegah Saka untuk mematikan musiknya. Meski sebelumnya Rindu sangat suka dengan lagu-lagu dari finalis pencarian bakat tersebut.
Mobil Saka berbelok ke sebuah kafe dengan nuansa alam yang sangat asri. Kafe itu bisa dibilang tidak jauh dari kampus. Meski berada di tengah kota. Tapi kafe itu bisa menciptakan atmosfir yang sangat berbeda.
Saka turun dari mobil, diikuti Rindu yang juga turun. Gadis itu ragu apakah dia akan masuk, di depan kafe itu terdapat gapura selamat datang yang seolah menyambut kehadirannya.
"Rin... Ayok!" Ajak Saka, pria itu sama sekali tidak pernah bertindak kurang ajar, seperti sengaja melakukan kontak fisik dengan Rindu, karena dia menghormati gadis pujaan hatinya yang memang terlihat dari kalangan santri.
Saat Rindu masuk melewati gapura, suara gending jawa terasa nyaman menyentuh indera pendengaran Rindu. Di sana memang terlihat ramai. Namun, terkesan tenang. Ia seperti sedang berada di desa tapi ini benar-benar di tengah kota.
Seorang pria muda menghampiri keduanya. Dia terlihat ramah, dengan pakaian batik coklat yang sepertinya seragam dari kafe ini.
"Mas... Pagi gini udah buka?" tanya Rindu.
"Ya iya. Kita ini buka jam delapan pagi sampai jam satu malam, Rin." Saka menjelaskan pada Rindu. Sementara mata Rindu terus mengedar memindai seluruh kafe. Pikirannya buyar saat mendengar pria tadi berkata.
"Siapa, Mas? Anyar maneh to?"
"Hus... Ini adek tingkatku," dengus Saka pada lelaki itu.
"Uayu, Mas." Pria itu tersenyum pada Rindu dan Rindu membalas dengan senyuman yang sama.
"Ini Sapto, Rin. Dia ini asli Semarang, memang kerja di sini, makanya bisa bahasa jawa."
"Iya, Mbak. Ini Mas Saka bos saya," celetuk Sapto membuka penyamaran Saka yang ingin menyembunyikan diri, tidak memperlihatkan pada Rindu dialah pemilik tempat ini.
Saka hanya mengangguk canggung. Dia dari kecil memang diajarkan berdagang oleh bapak dan ibunya. Ketika ia memutuskan untuk membuka usaha kafe ini, ayahnya lah yang menjadi investor utama.
"Mas Saka keren." Mendengar pujian dari Rindu membuat Saka seolah terbang ke awang-awang. Jantungnya pun tak berhenti berdetak dengan cepat. Baru kali ini dia merasa seperti ini. Seolah dia sudah benar-benar menemukan tambatan hatinya.
"Duduk, Rin. Mau pesen apa aja monggo. Hari ini aku yang traktir."
"Loh... Nanti Mas Saka rugi."
"Ya tetep bayar pake uangku, Rin. Semua udah ada hitungannya."
Rindu tersenyum. Setidaknya Saka bisa menarik napas lega karena bisa melihat bibir merah jambu Rindu mengembang begitu sempurna. Sebenarnya sejak tadi ia ingin memeluk Rindu. Namun, apa daya dirinya tidak mungkin bisa. Rindu seperti langit yang begitu susah digapai.
Rindu memesan sayur asem dan ayam goreng lengkuas. Dia sangat rindu dengan sayur itu. Di mana si mbahnya yang selalu memasak itu untuknya, kala dirinya pulang ke rumah. Ingin rasanya ia memeluk wanita renta itu ketika perasaannya tengah kacau seperti ini.
Rindu lupa, sejak semalam dia sengaja mematikan ponselnya, gadis itu merogoh benda itu dari dalam tasnya. Menghidupkan benda itu. Sementara Saka tengah asik bernyanyi di depan panggung dengan alunan gitar yang ia bawa. Lagu milik Budi Doremi dengan judul Mesin waktu ia nyanyikan khusus untuk Rindu meski tidak dia sampaikan secara gamblang.
Fokus Rindu mengarah kepada benda kecil di dalam genggamannya. Saat ponselnya mulai menyala, puluhan pesan masuk dan semuanya dari Reyhan yang merasa khawatir dengan gadis itu. Saat ia ingin membuka satu persatu, tiba-tiba ada panggilan masuk. Nama Nyai Ima terpampang jelas di sana. Dan membuat Rindu dengan sigap mengangkat panggilan itu.
"Assalamualaikum, Nyai."
"Wa'alaikumussalam, Rin. Kamu ke mana aja? Nyai takut kamu kenapa-kenapa?" tanya wanita paruh baya itu dari balik telepon dengan nada khawatir.
"Iya, Nyai. Rindu itu belajar semalam."
"Oh... Tak kira ada apa." Nyai Ima menarik napas lega. "Rin... Kamu bisa balik nggak? Besok Reyhan mau nikah. Bantu-bantu Umi, ya?"
Tangan Rindu seketika gemetar, jantungnya seolah berhenti berdetak. Berita ini bagaikan sambaran petir untuk dirinya. Rindu patah hati, benar-benar patah hati. Ia ditinggal menikah seolah ini benar-benar mimpi buruk, dia dia ingin segera mengakhirinya dengan bangun dari tidurnya.
"Rin... Kok meneng?" tanya Nyai Ima lagi.
"Oh... Iya, Nyai. Rindu akan pulang ke Semarang segera." Susah payah Rindu menjawab dengan menyembunyikan kegetiran dalam hatinya.
Dengan perasaan sakit Rindu mengakhiri telepon itu dengan ucapan salam. Setelahnya dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Mengusap air mata yang ia sendiri tidak bisa mengontrol air itu.
"Rin... Kenapa?" Saka tahu, baru saja Rindu mendapat telepon. Tapi dia sendiri tidak tahu siapa yang menghubungi gadis ini hingga dia tampak menangis dan hancur.
"Kayanya aku harus pulang ke Semarang, Mas."
"Kenapa?"
"Gus Reyhan mau nikah."
Barulah Saka sadar, jika sumber tangisan Rindu adalah ketika dia mendengar Saka akan mengakhiri masa lajangnya.