Buntara Rindu

Buntara Rindu
Bagian 4



Awan hitam seketika muncul entah sejak kapan. Jarang sekali kota Jakarta mendung di pagi hari seperti ini, padahal seharusnya belum masuk musim penghujan yang mesti terjadi bulan Oktober hingga April. Tapi ini masih bulan Juli. Seharusnya masih musim panas, bukan? Tapi entah karena pemanasan global, bahkan cuaca pun kadang bisa mempermainkan manusia dengan kadang turun hujan, atau bahkan bisa tiba-tiba panas. Seolah bulan tidak akan mempengaruhi musim di era sekarang ini.


Suara gerimis terdengar di luar. Saka berjalan menuju jendela kamarnya di lantai dua. Benar saja, kali ini hujan turun di pagi hari yang seharusnya cerah. Ia melirik plastik jajan pasar yang tadi ia beli. Sekelebat ingatan tentang Rindu menguasai hati Saka. Senyuman wanita itu bagai menghipnotis Saka yang biasanya memang selalu skeptis tentang cinta pada pandangan pertama. Karena menurut dirinya, cinta itu adalah sebuah proses kimia. Di mana hati bermain dengan sebuah rasa yang diakibatkan intensitas sepasang anak manusia yang saling bertemu setiap hari. Tapi kini semua pemikiran itu terpatahkan saat dirinya bertemu Rindu, wanita penjaja jajan pasar yang baru saja pagi ini ia temui.


Dari dalam alam bawah sadarnya, Saka berjalan turun melewati tangga kayu yang tampak mengkilat karena pernis yang mewarnainya. Ia mendekat ke arah samping bufet, dan mengambil dua payung. Entah mengapa, dirinya sangat yakin jika pasti Rindu tengah kehujanan. Tanpa berganti pakaian terlebih dahulu, Saka keluar rumah, menyusuri arah ke mana Rindu sempat berjalan pelan dan berangsur menghilang dari pandangannya tadi.


Tangan kirinya masih memegang payung sementara tangan kanannya menggenggam payung yang lain, untuk dirinya sendiri. Saka sendiri tidak tahu mengapa dia bisa senekat ini, menghampiri wanita yang baru saja ia temui.


Akhirnya langkahnya terhenti ketika ia melihat Rindu tengah berteduh di sebuah pos kampling yang tak jauh dari rumahnya. Saka mempercepat langkahnya saat melihat Rindu yang tampak memeluk tubuhnya sendiri karena mungkin saja dirinya tengah kedinginan.


Rindu yang menyadari kedatangan Saka memilih bergeming, dia tidak tahu apa yang akan di lakukan Saka padanya, hingga ia tidak ingin berpikir apa pun tentang lelaki itu.


"Mbak." Saka mengulurkan tangan memberi payung pada Rindu.


"Ndak usah repot-repot, Mas." Rindu menolak halus niat baik Saka.


"Nggak, Mbak. Aku nggak merasa repot, kok. Aku cuma nggak bisa lihat Mbak kehujanan." Saka setengah memaksa dan kembali menyodorkan payung pada Rindu. "Aku mau nolong orang yang berasal dari satu daerah sama aku, Mbak. Aku pengen berteman."


Tidak ada pilihan lain, Rindu sudah kepalang basah. Lagipula dia juga kedinginan.


"Makasih, Mas. Aku bisa cepet-cepet pulang. Soalnya sebentar lagi aku juga mau ke kampus."


"Iya, Mbak. Silakan. Kos kamu nggak jauh dari sini, kan, Mbak?" tanyanya lagi, seolah ingin memastikan jika Rindu baik-baik saja.


"Iya... Deket kok. Aku permisi, Mas. Besok aku kembalikan payungnya saat aku jualan dan lewat depan rumah Mas Saka."


Wajah Rindu terus saja menguasai pikiran Saka. Hampir saja ia berpikir apakah di dalam jajan pasar yang Rindu jajakan ada guna-gunanya? Tapi buru-buru ia tepis. Mungkin benar, jika Saka tertarik padanya karena pembawaannya yang ayu, lembut, dan teduh. Lagi pula Saka juga belum memakan satu pun dagangan Rindu tadi.


o0o


Rindu sudah siap untuk berangkat. Beruntung jarak dari kos ke kampusnya tidak jauh, sehingga rindu bisa berhemat ongkos, dan mengalokasi dana transportasinya untuk biaya makan sehari-hari. Tak lupa ia memasukan sisa kue jualannya pagi ini ke dalam totebag-nya. Mungkin saja nanti Raya dan Sofia mau mencicipi jajanan rakyat jelata seperti yang sering disebut jajan pasar.


Tiba-tiba terdengar suara 'bip' dari ponsel Rindu, dan dia tahu betul itu adalah nada pesan whatsapp masuk. Cepat-cepat Rindu merogoh isi tasnya mencari-cari keberadaan telepon pintarnya itu.


Nama Reyhan terlihat di layar gawainya. Cepat-cepat Rindu membuka isi pesan tersebut. Entah mengapa ketika ia membayangkan tentang Reyhan jantungnya tidak berhenti berdetak. Pria yang sering si sapa Gus Reyhan itu, adalah hafiz Al-Qur'an, dan tentu saja soleh. Serta pendidikan yang tinggi mengantarkannya sukses menjadi tenaga pendidik di kampus ini. Dan sengaja menolak dalam waktu dekat untuk meneruskan pengurusan pondok pesantren Kiai Ma'ruf.


(Udah berangkat? Jangan sampai telat lagi, Rin!)


Isi pesan singkat itu sebenarnya sangat sederhana. Namun, perhatian kecil itu tentu saja membuat hati Rindu bak melayang terbang tinggi.


(Njih, Gus.)


Saat Rindu tengah berjalan. Suara mobil mendekat ke arahnya. Pajero putih, tentu kendaraan yang tidak asing untuk Rindu. Tak lama kaca mobil dibuka, perlahan wajah Saka terlihat di pandangan Rindu.


"Mau ke kampus, Mbak?" tanya Saka dari balik kemudi mobilnya.


"Njih, Mas."


"Bareng sama saya aja, Mbak. Saya juga mau ke kampus."


"Ndak usah, Mas. Ngerepotin ntar. Di dalam mobil Saka, Rindu melihat dua teman pria itu. Tentu saja nalurinya sebagai wanita untuk mengantisipasi bahaya apa pun yang akan mengancamnya. Lagi pula Rindu tidak kenal siapa Saka, dan dia tidak mau mengambil risiko, apalagi dia tinggal di ibukota dimana tingkat kejahatannya lumayan tinggi.


Saka tahu jika dia hanya sendirian, pasti Rindu mau diantar olehnya. Tapi karena ada dua bocah pengganggu yang tidak mau membawa mobil mereka masing-masing inilah yang membuat Rindu takut. Dengan terpaksa Saka melepaskan Rindu untuk wanita itu jalan sendiri.


"Monggo, Mas." Rindu kembali berjalan, menenteng tas tote bag putih yang ia bawa sejak tadi.


Saka sengaja mendahului Rindu. Namun, ia sengaja memelankan mobilnya.


"Itu kaya cewek yang kemarin lo tabrak, kan, Sak?" tanya Dika, masih melihat ke belakang.


"Iya, dia ngekos juga di daerah sini."


"Weh... Ada motor yang berhenti di depan dia tuh. " Oki nyeletuk dan berhasil membuat dua sahabatnya itu menoleh ke belakang.


Secara mengejutkan Rindu mau dibonceng si pemotor yang menggunakan motor sport dengan helm fullface itu.


"Wah... Kalah cepat lo, Sak!" seloroh Dika, yang tahu jika Saka tertarik dengan gadis cantik tadi.


"Sialan lo! Saka itu nggak mudah jatuh cinta! Masa iya gue jatuh cinta sama pacar orang."


Bohong, Saka berbohong ketika motor yang membonceng Rindu melewati mobilnya. Di sana Memang Rindu tidak memperlihatkan kemesraan. Namun, melihat gadis itu bersama pria lain, membuat hati Saka sedikit mengganjal.


o0o


"Matur suwun, Gus. Sudah mengantarkan saya ke Kampus." Rindu turun dari motor Reyhan, sementara pria itu melepas helm fullface-nya.


"Sengaja tadi lewat ke kos kamu. Tapi kata ibu kos kamu. Kamu udah berangkat. Beruntung ketemu setidaknya kamu nggak telat. Sudah sana ikut ospek!" jawab Reyhan.


"Njih." Rindu menundukan kepala, lalu pergi dari Reyhan.


Bisa dibilang Reyhan begitu baik dengan gadis itu. Namun, di balik itu semua, Reyhan memiliki perasaan untuk Rindu. Alih-alih ingin mengungkapkan perasaannya untuk gadis itu. Reyhan memang memungkirinya, karena sejak kecil dia sudah dijodohkan oleh kedua orangtuannya. Dia hanya tidak ingin mengikat perasaan Rindu, dan melepaskannya kala dirinya akan naik ke pelaminan, dan akan menyakiti wanita yang sejak dulu ia cintai itu.