
Sekembalinya mereka dari Kebun Raya Velrakaris, fajar telah menyingsing, dan Tika mendapati Profesor Arga, Komandan Jonathan, dan Avamar sedang duduk-duduk di ruang tengah, seperti sedang membicarakan sesuatu. Mereka mendongak saat Tika dan Varka masuk, dan seketika, Avamar berdiri untuk menyambut mereka.
“Dari mana saja kalian?” tanya Avamar, suaranya bergetar.
“Kami dari Kebun Raya”, jawab Tika. “Maaf, ini salah saya. Saya bilang ke Varka kalau saya ingin mengunjungi Museum Agung lagi, namun di tengah jalan saya berubah pikiran.”
Varka menoleh ke arahnya, alisnya terangkat, namun Tika menggelengkan kepalanya. Tika tidak tahu apakah ia dan rekan-rekannya boleh keluar dari Istana Kerajaan di malam hari, namun ia tidak ingin Varka kena masalah.
Avamar menghela napas. “Akan lebih baik jika lain kali Anda tinggalkan pesan”, katanya. “Velrakaris memang relatif aman, namun ada bahaya yang bersembunyi di malam hari.”
“Itu sebabnya Varka mengawal saya”, sahut Tika. “Dia melakukan pekerjaannya dengan sempurna.”
Mulut Avamar berkedut, seperti ingin mengatakan sesuatu, namun pada akhirnya ia hanya menghela napas. “Baiklah kalau begitu”, katanya. Ia pun kembali duduk.
“Seperti yang saya katakan sebelum interupsi”, Profesor Arga berkata. “Akan lebih baik jika kita berpencar. Profesor Ratri, Letnan Kartika, dan Komandan Jonathan dapat mengunjungi bagian lain dari Kapal Induk Velrakis, selagi saya, Indah, dan Bayu menghadiri simposium di Akademi Sains Velrakaris. Dengan demikian, waktu yang kita gunakan tidak terbuang percuma.”
“Berpencar bukanlah suatu pilihan yang bijak, Profesor”, sahut Komandan Jonathan. “Kekhawatiran Avamar ada benarnya, kita tidak tahu bahaya apa yang bersembunyi di kapal induk ini.”
“Apakah Velrakis-Aran tidak bisa menugaskan beberapa anggotanya untuk menjaga masing-masing kelompok?” tanya Profesor Arga kepada Avamar.
“Hal itu harus didiskusikan dulu dengan pemimpin Velrakis-Aran”, jawab Avamar.
“Izinkan saya menghubungi Ketua”, usul Varka, namun Avamar mengangkat tangannya.
“Tidak perlu”, sela Avamar. “Kita semua akan pergi ke Akademi Sains Velrakaris. Saya yakin Anda sekalian akan menyukainya.”
Seusai bersiap-siap, Tika dan rekan-rekannya pun berangkat menuju ke stasiun yang biasa mereka gunakan. Dari sana, mereka menggunakan sebuah gerbong kereta untuk menuju ke Akademi Sains Velrakaris—sebuah bangunan indah berbentuk piramida terbalik. Sesampainya mereka di sana, mereka pun turun satu persatu dari gerbong kereta.
“Akademi Sains Velrakaris merupakan salah satu bangunan tertua di Velrakaris. Usianya mencapai lebih dari sepuluh ribu tahun”, Avamar menjelaskan seraya memandu mereka menuju ke lobi. Di sana, orang-orang tampak sedang mengerumuni seseorang.
Seseorang itu adalah Maharaja Velandar.
Beliau dikelilingi oleh beberapa anggota Velrakis-Aran—Tika dapat melihat seragam mereka yang hitam dan dilengkapi dengan helm berkaca pelindung gelap—serta beberapa ilmuwan dan wartawan. Kendatipun demikian, beliau menoleh saat melihat Tika dan rekan-rekannya.
“Selamat datang di Akademi Sains Velrakaris, anggota kontingen Bumi sekalian”, sapa Sang Maharaja ramah. Seketika, para ilmuwan dan wartawan pun mengerumuni mereka.
“Apakah Anda datang untuk menghadiri simposium, Yang Mulia?” tanya Profesor Arga.
“Begitulah, Profesor”, jawab Maharaja Velandar. “Saya harap Anda sekalian dapat menikmati tur yang direncanakan oleh Avamar.”
Avamar tertawa singkat dan menempelkan telapak tangannya pada telapak tangan Sang Maharaja. Dari sudut matanya, Tika dapat melihat Varka berdecak kesal, namun tidak mengatakan apa-apa.
“Kami sangat menikmatinya, Yang Mulia”, jawab Komandan Jonathan, matanya terpaku pada Sang Maharaja. Sang Maharaja pun mengedikkan kepalanya dengan anggun.
“Kalau begitu saya tidak akan mengganggu Anda sekalian”, kata beliau. “Semoga Anda sekalian menikmati simposium ini. Salam damai.”
Beliau pun beranjak menaiki eskalator menuju ke atas, diiringi oleh para pengawal, ilmuwan, serta wartawan yang mengelilingi beliau.
Avamar pun memandu Tika dan rekan-rekannya menuju ke eskalator yang sama, beberapa meter di belakang Sang Maharaja, sembari menjelaskan singkat tentang topik yang akan diangkat pada simposium tersebut. Rupanya, sebuah teknologi propulsi baru yang dapat membawa kapal induk mereka jauh lebih cepat. Indah, Bayu, dan Profesor Arga berceloteh tentang teknologi propulsi yang dimiliki oleh Kapal Induk Velrakis dengan penuh semangat. Bahkan Tika tidak bisa menyangkal bahwa ia pun penasaran dengan teknologi baru ini.
Akan tetapi, Varka mendekatinya sebelum Tika dan rekan-rekannya memasuki ruangan simposium. “Boleh kita bicara sejenak?” tanyanya.
Tika melirik ke arah rekan-rekannya, sebelum kembali memandang Varka. Alisnya terangkat, kebingungan.
“Simposium ini dijaga ketat oleh Velrakis-Aran, termasuk mereka yang tidak bisa kau lihat”, kata Varka. “Akan lebih baik kalau kita pergi sekarang, sebelum simposium dimulai. Kecuali kau ingin mendengarkan tentang teknologi propulsi selama delapan jam?”
Tika penasaran kenapa Varka mengeyel untuk meninggalkan simposium. Memang sih, Tika sendiri tidak mau duduk selama empat jam mendengarkan tentang subjek yang jauh di luar wawasannya, tapi Avamar dan Komandan Jonathan bersikeras mereka tidak berpencar. Bagaimana kalau mereka kena masalah?
“Kalau kita sampai kena masalah dengan Avamar, kau yang tanggung jawab, ya”, goda Tika seraya mengikuti Varka melalui lorong yang terang.
Alih-alih tersenyum, Varka justru merengut. Ia pun berhenti berjalan.
“Itu yang ingin saya bahas”, katanya. “Kenapa tadi Anda berbohong pada Avamar? Sayalah yang mengajak Anda keluar dari istana. Kalau ada yang kena masalah, itu seharusnya saya.”
Oh. Yah, Tika dapat mengerti kenapa hal ini sangat mengganggu Varka. Varka adalah seseorang yang berpendirian teguh dan jujur. Tika mungkin tidak seharusnya berbohong kepada Avamar, tapi ia tidak dapat membiarkan Varka menanggung kesalahan mereka, sementara Tika-lah alasan mengapa Varka mengajaknya keluar tadi malam.
“Maafkan aku, tapi aku tidak bisa membiarkanmu kena masalah dengan Avamar”, Tika berkata. “Kau mengajakku keluar tadi malam karena aku ingin mengunjungi Museum Agung lagi. Aku tidak bisa membiarkanmu kena masalah karena keegoisanku.”
“Keegoisan—” Varka menarik napas panjang. “Tentu saja itu bukanlah sesuatu yang egois. Kalau memang Anda egois, tentunya saya tidak—” Varka pun berhenti bicara, wajahnya berubah keunguan.
“Tidak…?” Tika mendesak Varka untuk melanjutkan kalimatnya.
“L-lupakan perkataan saya”, Varka berkata dengan gagap. Ia mengusap wajahnya dengan gusar, sebelum menoleh kembali ke arah Tika, semburat ungu masih mewarnai wajahnya. “Omong-omong, apa yang ingin Anda lakukan sekarang?”
“Hmmm…” Tika berpikir keras. Karena ia tidak ingin Varka kena masalah lagi, mungkin ada baiknya jika mereka tidak keluar dari bangunan Akademi Sains Velrakaris. “Bagaimana kalau kita jalan-jalan saja? Bangunan sebesar ini tentunya banyak yang bisa dilihat, bukan?”
Maka dimulailah perjalanan mereka melihat-lihat bagian dalam Akademi Sains Velrakaris. Sama seperti bangunan khas Anur Arta lainnya, bangunan tersebut dipenuhi oleh kolam-kolam yang bergemericik. Taman-taman kecil tersebar di antara kelas-kelas, dimana para mahasiswa dapat belajar atau beristirahat.
Lobi tiap-tiap fakultas dihiasi oleh hologram tiga dimensi; fakultas astrofisika misalnya dihiasi oleh model lubang hitam yang memancarkan berkas-berkas cahaya, sedangkan fakultas astromekanika dihiasi oleh model tiga dimensi Kapal Induk Velrakis. Tika sangat terkagum-kagum dengan hiasan-hiasan tersebut, dan ia pun tidak dapat tidak berangan-angan membayangkan bagaimana kalau dirinya menjadi salah satu mahasiswa Akademi Sains Velrakaris.
Pada akhirnya, mereka mendapati sebuah kafetaria yang terkesan nyaman, dengan kursi-kursi santai tertata rapi. Mungkin karena jam kuliah sedang berlangsung, kafetaria tersebut terlihat sepi pengunjung. Varka pun mengajak Tika untuk mencoba makanan dan minuman dari gerai-gerai yang ada; dan setelah memperkenalkan Tika pada pemilik gerai, mereka pun menjadi sangat antusias menawarkan makanan atau minuman yang mereka jual.
Pada akhirnya, Tika memilih makanan yang mirip sosis bakar, dengan saus warna hitam pekat mirip kecap manis dan sayur-mayur berwarna warni.
“Verkat terbuat dari daging v’krell”, kata Varka. Ia sendiri membawa segelas minuman hijau pekat yang mengingatkan Tika akan jus bayam.
“Apa itu v’krell?” tanya Tika, berharap ia tidak salah mengucapkan kata bahasa asing tersebut.
“Entahlah!” jawab Varka sambil tertawa. “Banyak hewan dari planet kami yang sudah punah, namun dagingnya masih digunakan untuk membuat masakan-masakan tradisional kami.”
Oh ya, pikir Tika. Kekurangan bahan pangan akibat punahnya satu spesies binatang bukanlah masalah bagi para penduduk Velrakis yang sangat bergantung oleh teknologi replikator makanan. Rasanya sungguh disayangkan bahwa Varka dan Anur Arta lainnya tidak tahu bagaimana rupa hewan-hewan dari planet mereka, karena hewan-hewan tersebut telah sepenuhnya punah.
Mereka duduk-duduk cukup lama di kafetaria tersebut. Varka mentraktir Tika untuk mencoba berbagai makanan dan minuman khas Anur Arta. Seusainya, mereka pun kembali ke ruangan dimana simposium digelar untuk menemui yang lain, dimana Avamar telah menunggu mereka dengan wajah murka luar biasa.
“Dari mana saja kalian?” Bayu bertanya mendahului Avamar.
“Dari kafetaria”, jawab Tika santai sembari mengangkat bahunya.
“Di sini ada kafetaria?” tanya Bayu lagi. “Kenapa kamu gak ajak-ajak?! Simposiumnya membosankan sekali!”
“Kukira kau bakal menyukainya?” Tika mengerjap bingung.
“Aku ahli biologi dan matematika!” seru Bayu sembari mengusap rambutnya. “Kalau aku mendengar kata ‘propulsi’ satu kali lagi, kepalaku bakalan meledak!”
“Propulsi”, goda Tika, dan Bayu pun menjatuhkan dirinya ke arah Indah dengan dramatis.
Karena hari sudah hampir gelap, Tika dan rekan-rekannya pun kembali naik gerbong kereta yang akan membawa mereka menuju ke Istana Kerajaan Velrakis. Profesor Arga dan Indah masih membicarakan tentang hasil simposium tadi, sementara Bayu menanyai Tika tentang apa saja yang dilakukannya di kafetaria.
Tiba-tiba, dunia seakan seperti berguncang sangat keras, dengan ledakan yang memekakkan telinga. Sebelum Tika dapat memproses apa yang telah terjadi, gerbong kereta yang mereka tumpangi terguling terbalik, dan ia dapat mendengar rekan-rekannya berteriak bersahut-sahutan—Komandan Jonathan, Profesor Arga, Profesor Ratri, si Kembar.
Tika tidak tahu harus bereaksi seperti apa, saat gerbong kereta mereka terkoyak terbuka. Ia tidak tahu apa yang menyebabkannya—apakah karena ledakan ataukah karena gesekan. Yang ia tahu, ia duduk paling dekat dengan dinding yang terkoyak tersebut. Detik berikutnya, ia pun terlempar keluar dari kereta dan menuju ke jurang yang menganga di antara menara-menara Velrakaris.
Kemudian, seakan tubuhnya mengingat akan adanya gaya tarik gravitasi, ia pun terjatuh ke kedalaman yang gelap.