
Mereka telah berjalan cukup lama, dan Tika dapat merasakan kelelahan menggelayuti dirinya. Ia ingin berhenti dan beristirahat, kakinya letih setelah bertarung dan berjalan menaiki tangga Dorvak yang seperti tidak ada ujungnya. Namun Varka berkata bahwa anggota Velrakis-Aran akan menjemput mereka di tempat yang telah ditentukan, untuk membawa Tika kembali ke istana. Dari sana, Tika akan kembali ke Bumi untuk mengabarkan tentang misi pertukaran yang gagal.
Setelah itu… setelah itu, Tika tidak tahu apa yang akan terjadi. Kapal Induk Velrakis mungkin akan pergi, dan tidak akan kembali lagi. Ia mungkin tidak dapat bertemu dengan Varka lagi.
Tika tidak ingin hal itu terjadi. Ia tidak ingin berpisah dari Varka.
Ia tahu perasaannya kepada Varka sangat tidak profesional, jika bukan mustahil untuk menjadi sebuah kenyataan. Varka adalah seorang pengembara luar angkasa, seorang pangeran meski ia tidak pernah membanggakan identitasnya, dan ia hanyalah… Tika, seorang pilot dari Bumi. Ia bukan siapa-siapa.
Tika merasa bodoh sekali, meratapi kemungkinan bahwa ia tidak akan pernah bertemu dengan Varka lagi, sementara rekan-rekannya telah tiada. Tika tidak dapat percaya bahwa Profesor Arga dan keluarganya telah tiada dan Tika tidak mau mempercayainya. Karena itu berarti luar angkasa yang telah diimpi-impikannya sejak kecil merupakan tempat yang berbahaya yang telah merenggut nyawa rekan-rekannya.
“Maafkan saya, Kartika”, kata Varka tiba-tiba, selagi mereka mendaki anak tangga Dorvak yang sepertinya tak berujung.
Tika menghela napasnya. “Ini bukan salahmu, Varka.”
“Bukan salah— argh!” Varka mengusap wajahnya dengan frustasi. “Saya adalah anggota Velrakis-Aran. Saya ditunjuk untuk melindungi kamu dan rekan-rekanmu. Seharusnya saya tahu tentang serangan yang direncanakan oleh orang-orang Bawah sebelum itu terjadi. Tapi saya gagal, dan rekan-rekanmu yang menerima akibatnya”, ia mengakhiri kata-katanya dengan muram.
Tika tidak tahu harus menjawab apa, namun yang jelas ia tahu bahwa semuanya bukanlah salah Varka. Mungkin Varka memang seharusnya tahu tentang apa yang direncanakan oleh orang-orang Bawah, mungkin Varka memang seharusnya bisa mencegahnya. Namun semuanya sudah terjadi, dan itu semua adalah salah—
“Ini salahku…” gumam Tika muram. Air matanya kembali menitik. “Kamu tidak bisa melindungi yang lain karena aku terlempar keluar dari kereta. Andai saja itu tidak terjadi, kamu bisa melindungi yang lain…”
“Apa?! Itu bukan salahmu, Kartika!” seru Varka. Kemudian ia terdiam. “Saya terdengar seperti itu, ya…?”
“Sedikit”, jawab Tika seraya menghapus air matanya. “Kalau kamu bisa menerima ini semua bukan salahku, harusnya kamu juga bisa menerima ini semua bukan salahmu.”
Varka pun mengangguk. “Ini semua salah orang-orang Bawah”, katanya. “Tapi kenapa ya, mereka menyerangmu dan rekan-rekanmu? Apa untungnya buat mereka?”
“Yah…” gumam Tika. “Kamu yang lebih tahu tentang mereka. Menurutmu bagaimana?”
Varka mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya ke dagunya, seperti sedang berpikir. Mereka berdua telah berhenti menaiki anak-anak tangga Dorvak yang sepertinya tidak ada ujungnya. Varka menoleh ke arah Tika dan membuka mulutnya., seperti hendak mengatakan sesuatu
Tiba-tiba, terdengar desing peluru laser, dan Varka terlempar mundur. Tika memekik dan Varka secara refleks mencabut pedangnya kembali. Saat itulah, terdengar suara yang familier berkata, “Angkat tanganmu!”
Tika berputar dan matanya seketika membelalak saat ia melihat—
“Tante Ratri?!” pekiknya tidak percaya. Ia tidak bisa mempercayai matanya, karena itu adalah Profesor Ratri yang berdiri seraya membawa sebuah pistol laser—dan bukankah Varka berkata Profesor Ratri telah tiada?
Tika tidak mengerti; apa yang sebenarnya telah terjadi? Kenapa Profesor Ratri membidikkan pistolnya ke arah Tika dan Varka?
Bukan— Profesor Ratri hanya membidikkannya ke arah Varka.
“Kubilang, angkat tanganmu, alien *******!” Profesor Ratri menyumpah. Siapapun yang mengira sang profesor adalah seorang wanita yang lemah lembut tentunya belum pernah melihatnya seperti sekarang, saat ia menantang seorang makhluk luar angkasa yang tingginya hampir dua kali lipat darinya.
Varka mengangkat tangannya. Ia terlihat kesakitan, walaupun tidak terluka setelah ditembak oleh Profesor Ratri. Tika merengut dan membuka mulutnya, namun Varka menggelengkan kepalanya dengan singkat. Kendatipun demikian, Tika masih tidak terima.
“Ada apa ini sebenarnya, Profesor? Memangnya apa salah Varka?” tanyanya sembari menempatkan dirinya di antara Varka dan ujung pistol yang dipegang oleh sang profesor.
“Kenapa kamu tidak tanya ke ******** keparat itu?” Profesor Ratri balas bertanya.
“Saya tidak tahu apa yang Anda bicarakan”, sahut Varka. Suaranya agak bergetar seperti mengusahakan diri agar tetap tenang.
“Kau kongkalingkong dengan para ******* seperti Avamar dan Jonathan itu!” hardik Profesor Ratri. “Kau bikin keluargaku celaka!”
Satu persatu, keluarga Profesor Ratri berjalan keluar dari sudut gelap dimana mereka bersembunyi. Kepala Profesor Arga dibebat oleh kain perca, namun Indah dan Bayu terlihat tidak apa-apa, meski Bayu berjalan agak pincang. Mereka semua terlihat agak terguncang.
“Kalian semua masih hidup?” Varka terdengar tidak percaya. “Tapi— Tapi kata Avamar— Tunggu, kau bilang Avamar dan Jonathan—”
Sebelum Tika dapat meneruskan kalimatnya, seberkas sinar putih menyelimuti mereka semua. Tika mendongak dan melihat sebuah pesawat kecil berwarna hitam terbang di atas mereka. Dari pesawat itu, Avamar, Komandan Jonathan, dan beberapa orang yang berpakaian seperti orang Bawah melompat turun.
Perhatian Tika terpecah antara ingin melindungi yang lain dan ingin tahu sebenarnya apa yang sedang terjadi. Kenapa Komandan Jonathan menyerang mereka? Kenapa Avamar melakukan hal ini? Tika sama sekali tidak dapat memahaminya.
Sementara itu, Profesor Ratri berhasil menjatuhkan beberapa orang Bawah, sebelum akhirnya bertarung satu lawan satu dengan Komandan Jonathan, yang dengan cepat melucuti pistol yang dipegang oleh Profesor Ratri. Komandan Jonathan pun memiting Profesor Ratri ke tanah. Bersamaan dengan itu, orang-orang Bawah mencengkram erat-erat Profesor Arga, Indah, Bayu, dan Tika. Yang tersisa hanyalah Varka.
“Kau tidak bisa menyakitiku”, jawab Varka. Pedangnya terhunus ke arah Avamar.
“Aku tidak perlu menyakitimu”, kata Avamar, seraya mengarahkan pistolnya ke pelipis Tika. “Kau sama saja seperti ayahmu. Perasaanmu yang konyol pada manusia membuat kalian berdua gelap mata.”
“Dasar pengkhianat”, geram Varka, namun ia membiarkan orang-orang Bawah mengambil pedangnya dan menahan kedua tangannya.
“Jangan begitu. Aku melakukan ini demi kebaikan kita semua. Untuk kebaikan umat manusia dan Velrakis”, kata Avamar. Ia menjentikkan jarinya, dan Tika dan rekan-rekannya pun digiring masuk ke dalam pesawat.
“Dasar sialan! Kau menjebak kami semua dengan alasan misi pertukaran, dan untuk apa? Untuk menyatakan perang dengan umat manusia yang teknologinya jauh di bawah kalian?” geram Profesor Ratri, sesampainya mereka di dalam pesawat. Ia pun menoleh ke arah Komandan Jonathan. “Dan kau! Kenapa kau mengkhianati umatmu sendiri?”
“Kau tidak tahu apa-apa, Ratri”, geram Komandan Jonathan.
“Berani-beraninya kau mengkhianati ayahku!” seru Varka kepada Avamar.
“Ayahmu tidak sesuci yang kau bayangkan, dasar bocah naif!” balas Avamar. “Menurutmu kenapa ia setuju melakukan pertukaran dengan bangsa yang peradabannya jauh di bawah kita? Itu karena ia ingin menguasai Bumi untuk dijadikan tempat tinggal baru kita!”
“A-apa…?” suara Varka bergetar.
Avamar menghela napas panjang. “Akibat ledakan populasi di dalam Velrakis, ayahmu, Maharaja Velandar, telah menimbang-nimbang untuk menguasai planet lain, planet yang berpenghuni. Bumi menjadi salah satu kandidat, terutama setelah kedatangan ibumu di Velrakis. Beliau percaya bahwa menguasai Bumi adalah satu-satunya cara kaum Anur Arta dapat hidup berdampingan dengan kaum manusia.”
“Ibunda tidak mungkin setuju—” Varka berhenti, matanya membelalak seakan-akan ia menyadari sesuatu. “Itu sebabnya ia membunuh ibunda…?”
“Itu adalah sebuah kecelakaan yang tragis”, kata Avamar sembari menggelengkan kepalanya. “Fisik ibumu sudah amat lemah sejak melahirkan kamu, belum lagi ditambah dengan stres akibat menikahi ayahmu— tidak semua orang Velrakis setuju dengan pernikahan mereka. Kami bertiga berdebat sampai larut malam. Dan… yah, ada alasannya mengapa Sang Maharaja tidak pernah pulih setelah kematian ibumu. Beliau berpikir itu adalah salahnya.”
Tika bakal merasa kasihan kepada Varka, jika saja pikirannya tidak dipenuhi oleh bayangan-bayangan menakutkan tentang Kapal Induk Velrakis melayang di orbit Bumi, dan tentara-tentara Velrakis-Aran berbaris untuk menguasai kota-kota terbesar di Bumi—Tika tidak bisa membayangkan kekacauan yang akan timbul.
“Tapi itu tidak mengurungkan niatnya untuk menguasai Bumi, bukan begitu?” tanya Profesor Ratri.
“Tentu saja tidak. Velrakis sudah tidak lagi dapat menampung lebih banyak penghuni”, jawab Avamar. “Bagi beliau, membangun kehidupan baru di Bumi merupakan satu-satunya cara untuk dapat menyelamatkan spesies kami sembari mempertahankan kenangan tentang Indira. Beliau percaya beliau dapat menjadi pemimpin yang baik bagi umat manusia.”
“Itu gila! Penduduk Bumi tidak akan setuju!” seru Tika.
“Saya tidak pernah bilang itu merupakan ide yang bagus”, sahut Avamar. “Menjajah bangsa lain bukanlah cara kami. Saat saya mengetahui bahwa Sang Maharaja berniat untuk mengambil alih Bumi melalui misi pertukaran, saya tahu saya harus berbuat sesuatu.”
“Dengan cara membunuh anggota kontingensi Bumi”, sambung Profesor Arga tiba-tiba. “Dengan begitu, orang-orang di Bumi akan mencurigai kalian, dan misi diplomatik akan dibatalkan.”
“Tepat sekali”, jawab Komandan Jonathan.
Tiba-tiba, pesawat yang mereka tumpangi berguncang dengan keras. Tika menggunakan kesempatan itu untuk menarik dirinya lepas dari cengkraman orang-orang Bawah yang menahannya.
“Apa yang terjadi?!” tanya Avamar di tengah kericuhan.
“Para anggota Velrakis-Aran— mereka menarik pesawat kita!” salah satu kru pesawat berseru.
“Velrakis-Aran tidak akan mengampunimu karena sudah berkonspirasi melawan ayahanda”, sahut Varka tiba-tiba.
“Dan Velandar tidak akan membiarkan anggota kontingensi Bumi lolos dari cengkramannya, tidak setelah kalian mengetahui rencananya untuk menguasai Bumi”, Avamar berkata, sebelum akhirnya menoleh ke arah Tika dan rekan-rekannya. “Kalian harus kabur. Pesawat ini dilengkapi dengan pesawat darurat. Gunakan itu untuk mencapai Bumi dan beritahu semua umat manusia untuk tidak menerima bantuan apapun dari Velrakis!”
Tanpa basa-basi, Tika dan rekan-rekannya pun menuju ke pesawat darurat yang berada di dekat hanggar. Saat Tika menoleh ke arah Avamar, ia dapat melihat Varka. Ia dapat melihat semua fakta yang baru saja diketahuinya sangat mengguncangnya, dan Tika tidak dapat melihatnya seperti ini terus.
“Varka! Ayo ikut ke Bumi!” seru Tika sembari mengulurkan tangannya.
Mata Varka membelalak. Ia menoleh ke arah Avamar, seakan-akan ingin bertanya sesuatu.
“Mungkin akan lebih baik jika kau tidak berada di tengah semua kekacauan ini”, Avamar berkata lembut.
Varka pun memeluk Avamar erat-erat, dan Avamar terlihat terkejut untuk sesaat, sebelum akhirnya mendorong Varka masuk ke dalam pesawat. Sebelum pintu kokpit sepenuhnya menutup, mereka dapat melihat wajah Avamar dipenuhi dengan rasa penyesalan.