Blank

Blank
Episode 3



Tika membiarkan Profesor Arga dan Komandan Jonathan melakukan diplomasi, dan memilih untuk mengamati sekitarnya.


Avamar merupakan seorang Anur Arta, seperti Varka. Tubuhnya langsing dan kulitnya biru gelap seperti lautan yang dalam. Rambutnya yang hitam keunguan dihiasi oleh batu-batu gemerlap yang membuatnya terlihat seperti langit malam bertabur bintang. Ia mengenakan gaun putih panjang yang anggun.


Di sisi Tika, si kembar Bayu dan Indah berdiri. Namun sementara Indah terlihat bosan dengan basa-basi yang berlangsung, Bayu memandang Avamar dengan mulut setengah ternganga. Pada akhirnya, Indah menyikut Bayu dan Bayu pun menunduk malu.


Varka berdiri di sisi lain Tika. Posturnya sigap, seperti seorang tentara, dan Tika berusaha keras untuk tidak memandangi lengannya yang berotot. Namun tampaknya Varka menyadari pandangan Tika. Ia pun menoleh ke arahnya dan memberikan senyuman yang membuat jantung Tika berdebar-debar. Tika membalas senyumannya dengan gugup sebelum mengalihkan perhatiannya kembali ke arah Komandan Jonathan dan Profesor Arga. Kendati demikian, ia dapat merasakan wajahnya menjadi merah merona.


Basa-basi pun selesai tidak lama kemudian. Avamar membawa mereka menuju ke ruangan sebelah, dimana sebuah gerbong kereta berbentuk kapsul telah menunggu mereka. Tika dan rekan-rekannya memasuki gerbong tersebut, disusul oleh Avamar, Varka, dan para Anur Arta lainnya. Setelah mereka semua duduk, gerbong kereta itu pun mulai melaju cepat.


Sama seperti pesawat yang membawa mereka ke Velrakis, dinding gerbong kereta mendadak menjadi transparan. Kali ini, Tika dan rekan-rekannya telah siap oleh perubahan ini dan mereka menggunakan kesempatan ini untuk menikmati pemandangan di luar gerbong.


Di luar, Tika dapat melihat padang bersalju yang luar biasa luasnya, ia hampir tidak percaya semua ini berada di dalam sebuah kapal induk.


“Ini adalah Tlaki’i Pata’li, padang bersalju luas yang dirancang sedemikian rupa agar mirip dengan biosfer planet es bersalju, yang merupakan tempat tinggal kaum Jotnar dan kaum Loria”, Avamar menjelaskan. “Di sebelah kiri, Anda sekalian dapat melihat kota tempat tinggal kaum Loria, yang telah kehilangan planet mereka sembilan ribu tahun yang lalu.”


Kota tempat tinggal kaum Loria sangatlah indah, dengan menara-menara transparan yang menjulang tinggi, seperti diukir dari es murni. Jembatan-jembatan melengkung yang sama transparannya menghubungkan menara-menara tersebut, dan bangunan-bangunan seperti kristal berderet di kaki-kaki menara. Pesawat-pesawat kecil terbang berseliweran seperti lebah yang sibuk di antaranya. Di jalan-jalannya, Tika dapat melihat kaum Loria berjalan lalu-lalang.


Kaum Loria tampak mirip seperti kucing berwarna putih bersih bagaikan bola salju dan berbulu tebal. Beberapa dari mereka memiliki corak merah yang menghiasi dahi, telinga, atau ekor mereka. Mereka mengenakan ponco warna-warni berhiaskan manik-manik yang membentuk pola-pola geometris indah. Beberapa dari mereka, khususnya anak-anak, menoleh ke arah kereta yang melaju dan melambaikan tangan mereka sambil tersenyum ceria.


Sulit rasanya membayangkan kaum ini telah kehilangan planet mereka sembilan ribu tahun yang lalu. Pun sulit membayangkan bagaimana rasanya tinggal di dalam pesawat luar angkasa bergenerasi-generasi lamanya. Sembilan ribu tahun yang lalu, umat manusia bahkan belum memiliki moda transportasi modern, apalagi yang dapat membawa mereka melintasi galaksi-galaksi.


Kota kaum Loria pun berakhir dan mereka menuju ke daerah pegunungan dimana rumah-rumah seperti diukir di permukaan tebingnya yang terjal.


“Kota tempat tinggal kaum Jotnar”, Avamar berkata. “Mereka kehilangan planet mereka seratus tahun yang lalu akibat perang nuklir. Sangat disayangkan, kami hanya dapat menyelamatkan lima puluh dari kaum mereka.”


Kaum Jotnar berkulit biru, sama seperti kaum Anur Arta, namun mereka tidak bisa lebih berbeda dari kaum Anur Arta. Tidak seperti kaum Anur Arta, kaum Jotnar sangatlah besar, kira-kira lima meter tingginya, dengan mata merah menyala seperti lava. Kulit mereka ditandai oleh pola geometris yang rumit dan berwarna biru muda, dan kepala mereka dihiasi tanduk spiral mirip kambing gunung. Beberapa dari mereka memiliki tanduk yang luar biasa besar sehingga kelihatannya kepala mereka tiga kali lebih besar dari ukuran normal.


Sama seperti kaum Loria, beberapa kaum Jotnar menoleh dan melambaikan tangan mereka ke arah kereta yang melaju.


“Apa semua kaum yang tinggal di Velrakis telah kehilangan planet mereka?” tanya Profesor Ratri ketika kereta yang membawa mereka melesat memasuki sebuah terowongan.


“Kebanyakan memang seperti itu”, Avamar menjawab. “Pada mulanya, Kapal Induk Velrakis memang dibangun sebagai kapal evakuasi milik kami, kaum Anur Arta, setelah planet kami dihancurkan oleh kaum Ursii lebih dari sepuluh ribu tahun yang lalu.”


“Kaum Anur Arta dan kaum Ursii dulunya berperang?” tanya Tika, penasaran.


“Itu cerita yang lama sekali. Lebih dari delapan ribu tahun yang lalu, kaum penyerbu datang dan menghancurkan planet Ursa-9J, planet tempat tinggal kaum Ursii. Kami membantu mereka, dengan syarat mereka mau hidup damai berdampingan dengan kami”, Avamar menjelaskan. “Siklus seperti itu selalu berulang setiap beberapa abad sekali, penjajah menjadi terjajah, perang meletus, dan planet-planet dihancurkan sebagai hasilnya. Kami hanya bisa membantu mereka yang membutuhkan.”


“Suram…” Bayu berkomentar.


“Begitulah”, kata Avamar. “Walaupun demikian, beberapa dari kami bangkit dari tragedi dan membangun hidup baru di luar Kapal Induk Velrakis. Seperti kaum Ursii, misalnya—mereka telah membangun beberapa koloni di luar sana, seperti koloni penambangan, koloni militer, dan koloni tempat tinggal. Kaum Veloxis pun saat ini telah memiliki beberapa kapal yang berfungsi sebagai perpustakaan agung yang tersebar di segala penjuru alam semesta. Kendati demikian, beberapa dari mereka masih tinggal di sini karena berbagai alasan.”


“Berapa banyak penghuni Velrakis saat ini?” Profesor Arga bertanya.


“Lima puluh juta penghuni, dari tujuh ratus spesies, kurang lebih”, Avamar menjawab. “Kami memiliki… masalah ledakan populasi, akhir-akhir ini. Terlalu banyak penghuni dari yang kita bisa tampung.”


“Itu sebabnya Anda sekalian mencari planet baru yang dapat dihuni?” Tika bertanya.


“Begitulah”, jawab Avamar sambil tersenyum tipis. Ekspresi ganjil yang misterius tergurat di wajahnya.


Sebuah kota megapolitan dibangun di atas menara-menara yang menjulang, dimana semua bangunan tampak mustahil secara arsitektur. Bangunan-bangunan pencakar langit dengan struktur pipih yang tampak mustahil dapat menyangga beban keseluruhannya berdiri dengan tegak. Jembatan-jembatan yang kelihatannya seperti melayang tanpa satupun penyangga menghubungkan tiap-tiap menara. Struktur-struktur melengkung dimana pohon-pohon beraneka warna ditanam menyelisip di antara bangunan-bangunan. Kemanapun Tika memandang, semuanya tampak seperti latar belakang film fiksi ilmiah, dan ia menyesal tidak membawa kamera untuk mendokumentasi semuanya.


Dan penghuninya… makhluk hidup berbagai macam bentuk, ukuran, dan warna berjalan lalu lalang, masing-masing sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri. Mereka berkulit ungu, hijau, merah, bahkan beberapa dari mereka memiliki berbagai macam warna yang cerah meriah seperti burung-burung tropis. Di antara mereka, Tika dapat melihat makhluk bersayap, makhluk bertangan empat, dan makhluk bertanduk.  Bahkan pakaian yang mereka kenakan pun beraneka macam dan warna.


“Selamat datang di Velrakaris, kota terbesar di dalam Kapal Induk Velrakis”, Avamar berkata.


Gerbong kereta yang mereka tumpangi membawa mereka ke menara yang paling tengah, dimana sebuah polihedron melayang-layang di atasnya, seperti sebuah bintang kerdil. Ini pastilah bangunan dimana para pemimpin Velrakis tinggal, karena tidak ada bangunan yang lebih mengesankan daripada bangunan ini. Permukaannya berkilauan, seperti terbuat dari sepotong berlian berukuran raksasa.


“Stasi ketujuh belas icosahedron”, Indah berbisik kagum.


“Maksudnya?” tanya Tika kebingungan.


“Maksudnya, para makhluk luar angkasa ini sinting”, Bayu menimpali, sama kagumnya. “Para arsitek dan ahli matematika di Bumi bakal terkencing-kencing melihat bangunan ini.”


“Bukannya kamu ahli matematika, ya?” tanya Tika.


“Tepat sekali”, jawab Bayu.


Tika mengernyit. Dasar kutu buku, pikirnya.


Pada akhirnya, gerbong kereta yang mereka tumpangi berhenti di sebuah stasiun di dalam bangunan polihedron tersebut, dan mereka pun keluar dari gerbong satu persatu. Avamar berjalan di depan, memandu anggota rombongan mereka melalui sebuah lorong yang diterangi garis-garis bersinar di dinding dan langit-langitnya.


“Istana Kerajaan bukan hanya merupakan tempat tinggal keluarga Maharaja, namun juga merupakan tempat dimana urusan diplomatik dan administratif dilakukan”, Avamar menjelaskan. “Setiap faset memiliki fungsi yang berbeda-beda. Faset ini dibangun untuk mengakomodasi utusan diplomatik dari luar Kapal Induk.”


Mereka pun keluar dari lorong tersebut, menuju sebuah ruangan yang luas. Lampu-lampu kristal berpendar di langit-langitnya dan dindingnya dihiasi oleh lukisan yang bergerak-gerak, seperti animasi. Salah satu lukisan menggambarkan sosok Anur Arta berpakaian mewah, berkulit biru berbercak-bercak putih berkilauan, dan berambut putih panjang yang dihiasi batu-batu hitam.


“Maharatu Valaris”, Avamar berkata. “Ratu keempat puluh lima Anur Arta sekaligus laksamana agung Kapal Induk Velrakis pertama. Beliau memimpin eksodus kaum Anur Arta setelah kehancuran planet kami lebih dari sepuluh ribu tahun yang lalu.”


Lukisan berikutnya menggambarkan Maharatu Valaris yang berdiri diatas sebuah podium, dengan Kapal Induk Velrakis melayang terbang di atas kepalanya dan planet biru yang hancur berkeping-keping di bawah kakinya. Ia mengenakan jubah sewarna nebula yang berdenyut-denyut, seperti jantung berbentuk abstrak.


Tika terlalu terpana oleh lukisan-lukisan yang bergerak-gerak tersebut, sehingga ia tidak menyadari bahwa rekan-rekannya telah berhenti berjalan. Ia pun menabrak punggung Profesor Ratri.


“Maaf”, katanya kepada Profesor Ratri, sebelum ia melihat Komandan Jonathan dan Avamar sedang beradu-tatap. “Kenapa ini? Apa yang terjadi?”


“Avamar mau memeriksa kita semua luar-dalam dan melakukan proses dekontaminasi. Prosedur standar, katanya. Komandan Jonathan gak setuju”, jawab Indah.


“Kalau itu memang prosedur standar, mereka berhak memeriksa kita. Bisa saja kan, kita membawa virus-virus penyakit yang berbahaya buat mereka?” Tika berkata.


“Terima kasih atas masukan Anda, Letnan Kartika”, sahut Komandan Jonathan geram. Tika pun menunduk, malu.


Untungnya Komandan Jonathan mengerti maksud perkataan Tika, dan pada akhirnya menyetujui proses dekontaminasi dan pemeriksaan fisik untuk mereka semua. Avamar menunjukkan lokasi ruang kesehatan yang biasanya digunakan untuk pemeriksaan fisik, sebelum akhirnya berpisah dengan anggota kontingensi mereka. Hanya Thu’ada dan Varka yang tersisa untuk menemani mereka.


Seorang anggota Velrakis-Aran bernama Laivani menyambut mereka dengan ramah dan menjelaskan satu persatu tentang proses dekontaminasi dan pemeriksaan fisik standar yang harus mereka lalui. Dengan sabar, ia memandu mereka melalui proses pemeriksaan fisik dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mereka tanyakan.


Setelah semuanya selesai, Varka dan Thu’ada memandu mereka menuju ke tempat dimana mereka akan tinggal selama mereka berada di Kapal Induk Velrakis.