
Seminggu setelah Tika dan Varka ‘jadian’, Varka akhirnya memperoleh Kartu Tanda Penduduk miliknya sendiri.
Secara teknis, Varka memang merupakan seorang warga negara Indonesia karena keturunan, jadi Lembaga Antariksa Bumi membantunya memperoleh kewarganegaraannya melalui berbagai tes, termasuk tes DNA untuk membuktikan bahwa ia memang benar anak Indira Candrakirana. Setelah melalui prosedur yang berbelit, dimana Varka diharuskan untuk bolak-balik mengunjungi kantor kecamatan terdekat, Varka pun akhirnya memperoleh KTP miliknya. Lucunya, Varka terlihat senang dengan kartu kecil seukuran setengah telapak tangannya itu, membuat Tika geli sendiri. Bayangkan, seorang makhluk luar angkasa setengah-manusia, mempunyai sebuah KTP!
Selama ini, Lembaga Antariksa Bumi memang masih melindungi Varka dari khalayak publik dan terutama para wartawan yang ingin tahu lebih banyak tentang dirinya. Selama Varka tidak keluar dari kompleks hunian milik Lembaga Antariksa Bumi, maka semuanya akan baik-baik saja. Namun Tika tahu bahwa Varka merasa terkurung. Wajar saja—Varka yang biasa bepergian antar-tata surya, sekarang terkungkung di sebuah kota yang tentunya tidak sebesar luasnya alam semesta.
“Kamu bisa bepergian sekarang”, kata Tika.
“Pergi? Kemana?” tanya Varka. Matanya mengerjap bingung.
“Kemana saja yang kamu mau!” seru Tika. “Kita bisa naik kereta ke Kalimantan Barat dan melihat pemandangan pegunungan yang indah. Atau naik pesawat ke Pulau Jawa. Kamu bakal suka deh di Jawa. Kalau kamu mau, kita bisa ambil cuti sebulan dan melakukan tur keliling Jawa. Atau kamu bisa mengunjungi keluarga ibumu.”
Varka terdiam membeku. Tika pun mengerjap bingung.
“Varka, ada apa?” tanyanya, khawatir.
“Keluarga ibunda… Kata orang di Lembaga Antariksa Bumi, mereka setuju memberikan darah mereka untuk tes DNA, dengan syarat mereka dapat bertemu dengan saya, jika memang benar saya anak ibunda saya”, jawab Varka. Wajahnya terlihat muram.
“Oh”, gumam Tika. Ia masih tidak mengerti kenapa Varka terlihat muram. Bukankah harusnya ia terlihat bahagia bisa bertemu dengan anggota keluarganya? “Bukankah itu hal yang bagus?”
“Bagaimana kalau mereka tidak menyukai saya?” Varka balas bertanya sembari merengut. Tika mengerjap bingung, namun ia dapat memahami kecemasan Varka.
“Varka, kamu akan baik-baik saja. Kamu orang yang luar biasa, mereka pasti bakal menyukaimu”, balas Tika sembari melingkarkan lengannya di leher Varka dan menariknya mendekat.
Semburat ungu pun menghiasi wajah Varka. “Ah… terima kasih, Kartika”, katanya tersipu malu. “Tapi saya rasa kamu bias.”
“Memangnya kenapa? Boleh dong aku membanggakan pacarku yang hebat”, kata Tika seraya tersenyum dan mengecup pipi Varka.
“Dasar perayu”, gumam Varka, wajahnya menjadi semakin ungu. “Saya sedang cemas, tahu.”
“Dilarang cemas”, balas Tika. Ia menangkupkan tangannya di pipi Varka dengan lembut, dan Varka menyandarkan wajahnya di telapak tangan Tika. Matanya terpejam dan segurat garis menghiasi dahinya di antara kedua alisnya. Ia masih saja cemas.
“Hei, semuanya akan baik-baik saja”, hibur Tika. “Kalau mereka memang sayang dengan ibumu, mereka pasti bakal menyukaimu apa adanya. Percaya, deh. Semuanya pasti akan baik-baik saja. Kalau tidak, mereka bakal berurusan denganku.”
Varka pun tersenyum dan mendaratkan sebuah kecupan di dahi Tika.
Ya, semuanya akan baik-baik saja.
Maka, hari yang ditentukan pun tiba, dimana kedua orangtua Indira mendatangi kompleks hunian milik Lembaga Antariksa Bumi. Lembaga Antariksa Bumi rupanya telah menyediakan segala akomodasi untuk keluarga Indira, termasuk menyediakan sebuah ruangan konferensi untuk mereka bertemu dengan Varka.
Tika memutuskan untuk tidak ikut dengan Varka. Menurutnya, Varka harus melalui pertemuan ini secara pribadi. Lagipula, ini masalah keluarga, dan Tika tidak ingin mencampuri urusan keluarga orang, sekalipun itu merupakan keluarga Varka, pacarnya sendiri.
Maka, Tika pun menyibukkan dirinya dengan membersihkan kamar apartemennya. Setelah ditinggal lebih dari dua minggu saat Tika berada di Kapal Induk Velrakis serta nyaris sebulan sibuk dengan laporan dan persidangan, kamar apartemennya menjadi sarang makhluk-makhluk menjijikkan. Tika bahkan mendapati sebuah sarang penuh berisi kecoa di antara tumpukan sampah yang menggunung di salah satu sudut kamar apartemennya.
“Tika, bagaimana kamu bisa hidup seperti ini”, gumam Tika pada dirinya sendiri, sembari mengumpulkan kotak-kotak bekas makanan cepat saji yang entah bagaimana caranya tersebar di seluruh penjuru apartemen yang kecil tersebut.
Setelah sampah-sampah terkumpul, Tika pun memutuskan untuk menata ulang buku-buku miliknya di rak buku, namun ia urung melakukannya setelah melihat betapa tebalnya debu yang mengumpul di sana. Pada akhirnya, ia memutuskan untuk memvakum kamar apartemennya secara menyeluruh sebelum akhirnya ia bisa menata semuanya dengan tenang. Sementara itu, di kamar mandi, sebuah mesin cuci miliknya sedang menggiling pakaian-pakaian kotor yang sudah menumpuk selama sebulan.
Tika sedang mengumpulkan bahan-bahan makanan basi dari kulkas mungil miliknya, saat ia mendengar ketukan di pintu apartemennya.
“Siapa?” tanya Tika bahkan saat ia mengintip melalui lubang pintu, dan mendapati Bayu berdiri di depan pintu. Tika pun membuka pintu apartemennya dan mengerjap bingung. “Bayu? Ada apa ya?”
“Cuma mau menyampaikan— eh, mana Varka?” tanya Bayu tiba-tiba.
“Varka sedang bertemu dengan keluarga ibunya di gedung Lembaga Antariksa Bumi”, jawab Tika bingung. Kenapa Bayu tiba-tiba bertanya soal Varka?
“Maksudku, kalian berdua kan nempel terus kayak sepasang sumpit”, balas Bayu sambil terkekeh. “Oke, gak masalah. Mama nyuruh ngundang kamu ama Varka makan malam. Datang ya!”
Dan Bayu pun mengeluyur pergi, meninggalkan Tika yang masih kebingungan. Tika pun kembali masuk ke kamar apartemennya dan memutuskan untuk meneruskan pekerjaannya. Di meja kerjanya, sebuah alat pemutar musik melantunkan lagu yang syahdu. Di luar jendela, langit Palangka Raya berubah kelabu.
“Bagaimana pertemuannya?” tanya Tika, sembari duduk di sebelah Varka.
“Saya punya kakek-nenek”, jawab Varka, suaranya terdengar setengah tidak percaya. “Juga paman-bibi dan saudara sepupu. Mereka banyak cerita tentang ibunda saya. Bagaimana beliau sewaktu kecil dan remaja.”
Tika pun tersenyum. Bagi Varka, sepertinya segala sesuatu yang berkaitan dengan ibunya merupakan sesuatu yang sangat berharga. Memang, Varka tidak pernah mengatakannya secara langsung, namun Tika dapat mengira-ngira bahwa kenangan akan kematian ibunya merupakan alasan sebenarnya Varka bergabung dengan Velrakis-Aran.
“Kata kakek dan nenek saya, masih ada keluarga saya yang tidak bisa hadir” kata Varka. “Saya tidak pernah punya keluarga sebesar ini sebelumnya…”
“Bagaimana dengan keluarga ayahmu?” tanya Tika, dan sesuatu yang menyakitkan melintas di mata Varka, membuat Tika menyesal sudah menanyakannya.
“Orangtua ayahanda sudah tiada… dan Anur Arta umumnya hanya memiliki satu orang anak”, jawab Varka.
“Oh…” gumam Tika. Ia tidak tahu harus berkata apa.
“Terima kasih karena sudah mendorong saya untuk bertemu mereka, Kartika”, Varka berkata sembari menempelkan telapak tangannya ke telapak tangan Tika. Senyum lebar terulas di wajahnya.
“Aku ikut bahagia, Varka. Kamu layak mendapatkan sebuah keluarga besar yang menyayangimu”, balas Tika. “Lalu, apa saja yang kalian bicarakan? Kalau boleh tahu, tentunya.”
“Tentu saja”, jawab Varka sembari mengangguk. “Kakek-nenek banyak cerita tentang ibunda sewaktu beliau muda. Katanya, beliau merupakan seorang gadis yang… tomboy?” Varka terdengar tidak yakin. “Saya tidak yakin saya mengerti apa artinya tomboy. Alat penerjemah universal saya tidak dapat menemukan arti katanya yang sepadan.”
“Tomboy itu…” Tika mengerutkan dahinya. “Bagaimana caranya menjelaskan, ya? Tomboy itu, anak perempuan yang kelaki-lakian.”
“Oh”, Varka mengangguk perlahan, walaupun ia masih terlihat bingung.
“Lalu apa lagi?” tanya Tika.
“Oh ya, mereka tinggal di Pulau Jawa, di sebuah kota bernama… Jombang?” tanya Varka.
“Oh, Jombang dan Malang lumayan dekat”, sahut Tika. “Keluargaku tinggal di Malang. Kalau kamu mau, kapan-kapan kita liburan ke Pulau Jawa. Ayah dan ibuku pasti bakal suka denganmu.”
“Kau mau saya bertemu dengan orangtuamu?” tanya Varka.
“Tentu saja! Tenang saja, orangtuaku bukan tipe orang yang suka mengintimidasi pacarku, kok”, hibur Tika. “Sekali waktu, pernah nih aku bawa pacarku jaman sekolah, Deska. Eh, ayahku malah keterusan ngobrol soal jenis-jenis kopi sama dia!”
“Oh, begitu…” Varka terdengar kebingungan. “Deska ini… dimana dia sekarang?”
Tika pun terkikik geli. “Cemburu ya? Jangan khawatir, kami putus sudah lama”, katanya, sembari mengusap-usap ibu jarinya ke punggung tangan Varka. “Dia gak bisa terima aku pergi ke luar angkasa. Dan… yah, kami putus bukan dengan baik-baik.”
Tika masih teringat pertengkaran mereka yang hebat. Deska tidak terima Tika akan pergi meninggalkan kampung halamannya selama bertahun-tahun untuk dapat bergabung dengan Lembaga Antariksa Bumi dan menjadi seorang pilot pesawat luar angkasa. Di saat Tika terpuruk karena sulitnya ujian yang harus dilaluinya, terkadang Tika berpikir mungkin Deska ada benarnya—bahwa Tika tidak seharusnya pergi ke luar angkasa.
Kalau dipikir-pikir sekarang, kekhawatiran Deska ada benarnya. Bumi berada dalam bahaya oleh Kapal Induk Velrakis.
Walaupun demikian, Tika tidak menyesali telah pergi ke luar angkasa. Ia malah bersyukur ia telah meninggalkan kampung halamannya untuk bergabung dengan Lembaga Antariksa Bumi dan menjadi seorang pilot pesawat luar angkasa. Kalau ia tidak pergi ke luar angkasa, ia tidak akan pernah bertemu dengan Varka. Varka yang menakjubkan, baik hati, dan berjiwa bebas sama dengan dirinya.
“Orang seperti itu tidak bisa menghargai jiwamu yang bebas”, dengus Varka. “Luar angkasa ini sedemikian luasnya, dan dia berpikir bisa merantaimu ke Bumi?”
“Yah… kupikir dia ada benarnya, sih”, kata Tika. “Bisa saja aku pergi ke luar angkasa dan bertemu dengan makhluk luar angkasa baik hati yang membuatku jatuh cinta kepadanya.”
Wajah Varka pun berubah keunguan. Tika tertawa.
“Oh ya, omong-omong, Tante Ratri mengundang kita makan malam. Kamu mau ikut?” tanya Tika.
“Beliau sudah mengundang kita. Akan tidak sopan jika kita tidak datang”, jawab Varka.
“Oke, aku ganti baju dulu”, kata Tika, sembari beranjak dari sofa.