Blank

Blank
Episode 12



Musim hujan telah tiba di Kota Palangka Raya, dan Tika lupa membawa payung.


Sambil menggerutu, Tika pun memutuskan untuk berdiri di depan lobi markas besar Lembaga Antariksa Bumi, berharap hujan cepat berhenti. Bukannya apa-apa, tapi ia lelah sekali setelah seharian berada di ruang sidang, dan ia ingin cepat-cepat pulang supaya ia bisa beristirahat.


Sebulan telah berlalu sejak Tika dan rekan-rekannya kabur dari Kapal Induk Velrakis. Setelah Tika dan rekan-rekannya melaporkan segala hal yang terjadi, termasuk rencana Maharaja Velandar untuk menginvasi Bumi, Lembaga Antariksa Bumi pun membatalkan segala hubungan diplomatik dengan Kapal Induk Velrakis. Lembaga Antariksa Bumi bahkan mengancam akan menyerang Velrakis jika mereka berani memasuki lingkup Planet Dalam.


Kendati demikian, setiap pagi, Tika terbangun dari mimpi buruk yang menghantuinya—Kapal Induk Velrakis melayang di atas cakrawala Kota Palangka Raya dan barisan tentara Velrakis-Aran datang untuk menginvasi mereka.


Tika bergidik, sebelum ia mengusir bayangan-bayangan mengerikan tersebut dari pikirannya. Ia tidak mau membayangkan tentang hal-hal yang belum pasti akan terjadi. Lebih baik ia memikirkan tentang hasil sidang yang baru saja berlangsung.


Sidang tersebut adalah untuk menentukan nasib Komandan Jonathan, yang dinilai telah membahayakan anggota kontingensi Bumi. Apapun niatnya, Komandan Jonathan telah mencoba untuk mencelakai Tika dan rekan-rekannya. Beliau pun dicopot dari jabatannya dan akan dikirim ke penjara di Planet Mars. Meskipun demikian, Tika tidak dapat tidak merasa kasihan kepada sang komandan. Bagaimanapun, ia berniat baik, walaupun caranya salah…


“Lupa bawa payung?” sebuah suara yang familier menyapanya. Tika menoleh, dan mendapati Varka berjalan ke arahnya. Ia mengenakan seragam Lembaga Antariksa Bumi, dan menggenggam sebuah payung hitam di tangannya.


“Kamu penyelamat jiwaku”, goda Tika sembari merapat ke arah Varka. Bersama-sama, mereka pun berjalan ke kompleks hunian yang berada di dekat bangunan milik Lembaga Antariksa Bumi.


Varka, tidak disangka-sangka, dapat menyesuaikan diri dengan cukup baik hidup di Bumi. Sejak tinggal di Bumi, Varka mengajukan diri sebagai seorang konsultan untuk Lembaga Antariksa Bumi, untuk menangani masalah hubungan antar-makhluk luar angkasa, terutama yang bersangkutan dengan Kapal Induk Velrakis. Ia pun diberikan berbagai macam fasilitas yang diperoleh masing-masing anggota Lembaga Antariksa Bumi, seperti tempat tinggal dan berbagai akomodasi.


Memang, banyak orang yang curiga padanya, namun ia selalu bersikap baik dan sopan terhadap mereka. Ia bahkan menurut saja diperiksa untuk membuktikan bahwa ia memang bukanlah seorang ancaman bagi Bumi selama berjam-jam, nyaris setiap hari selama seminggu.


Tika memberanikan diri untuk melirik ke arah Varka, dan mendapati bahwa ia sedang memandang ke arah langit yang kelabu. Sebuah ekspresi yang aneh tergurat di wajahnya.


“Secara teori, saya tahu bagaimana hujan terjadi. Tapi untuk merasakannya sendiri… Sungguh aneh sekali, air jatuh dari langit”, katanya sembari memiringkan kepalanya.


“Di Velrakis tidak ada hujan, ya?” tanya Tika.


“Kalau tidak salah, beberapa generasi yang lalu, seorang pemimpin Velrakis mencoba untuk membuat hujan buatan di dalam kapal induk. Hasilnya… yah, bisa dibilang ada alasan kenapa kami tidak memiliki hujan”, jawab Varka.


Tika tidak tahu bagaimana harus menjawab ucapan Varka. Setelah melihat melampaui segala kemewahan yang tersedia di dalamnya, hidup di dalam Velrakis sepertinya sangatlah menyedihkan. Tika tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya hidup di dalam sebuah kapal induk yang tertutup rapat, tanpa adanya elemen cuaca ataupun pemandangan langit alamiah yang bertabur bintang. Tapi Tika tidak tahu harus berkata apa, tanpa menyinggung perasaan Varka.


“Tidak apa-apa”, kata Varka tiba-tiba. “Saya paham sekarang, kenapa ayahanda berniat untuk membuat koloni di sebuah planet. Hidup di Velrakis memang aman dari serangan musuh, namun populasi kami tidak bisa berkembang karena dibatasi oleh dinding-dinding Velrakis yang kaku. Pada akhirnya, kami pun terpenjara oleh dinding yang seharusnya melindungi kami.”


“Itu berarti…” Tika berhenti, ragu-ragu. “Apa kamu setuju dengan rencana ayahmu?”


“Tentu saja tidak!” balas Varka ngeri. “Saya tidak—” ia mengusap wajahnya dengan frustasi. “Ugh, menjajah makhluk hidup lain seperti yang dipikirkan oleh ayahanda saya adalah sebuah hal yang sangat, sangat keji. Saya mungkin tidak akan pernah memaafkan beliau jika beliau meneruskan rencana untuk menjajah sebuah planet yang sudah berpenghuni, terlebih lagi jika planet tersebut merupakan tempat di mana ibunda saya berasal.”


“Kamu sangat idealis…” ucap Tika, kagum.


Varka menghela napas. “Terkadang, saya berpikir ideologi yang saya miliki adalah satu-satunya hal yang membuat saya terus berjuang”, katanya.


“Tidak ada yang salah dengan berpegang teguh pada sebuah ideologi”, balas Tika.


“Dan kau tahu, apa yang membuat saya sangat mual dan ngeri dengan rencana ayahanda saya? Selain fakta bahwa Bumi adalah tempat di mana ibunda saya berasal?” tanya Varka. “Itu adalah kau, Kartika. Saya… sama sekali tidak bisa membayangkan orang yang berhati lembut sepertimu terkungkung oleh sebuah rezim penjajahan.”


“Oh…” Tika tidak tahu harus berkata apa. Wajahnya merona merah. “Orang yang berhati lembut?”


“Pernahkah saya mengatakan betapa luar biasanya dirimu?” Varka bertanya. “Kau  mengubah hidupku, Kartika.”


“Apa benar begitu?” Tika bertanya. “Sepertinya yang kulakukan adalah merampasmu dari rumahmu dan keluargamu demi memenuhi keegoisanku.”


Varka pun tersenyum lembut. “Kau lihat? Kau membuat diriku melihat bahwa hidup ini lebih dari sekedar ideologi, dan kau masih saja mengkhawatirkan diriku”, katanya.


“Yah… Kamu juga mengubah hidupku, Varka”, balas Tika sembari membalas senyuman Varka. “Sejak bertemu denganmu, kamu memutarbalikkan semua fakta yang kuketahui tentang alam semesta ini.”


Hujan masih turun, rintik-rintik


“Mau mampir ke tempatku?” tanya Tika setibanya mereka di lobi apartemen mereka.


“Bisakah kamu membuatkan teh seperti yang kapan itu?” Varka balas bertanya.


“Kamu suka teh vanila?” Tika mengerjap. Ia tidak menduga Varka bakal menyukai rasa teh aneh yang biasanya Tika gemari.


Wajah Varka berubah keunguan. “Aromanya khas. Seperti dirimu”, jawabnya, dan Tika pun dapat merasakan wajahnya sendiri berubah kemerahan.


Setibanya di kamar apartemen Tika yang mungil, Tika membuatkan teh untuk mereka berdua. Varka memilih untuk duduk di sebuah bangku tinggi yang ada di dapur yang menyatu dengan ruang makan tersebut, sembari melihat-lihat koleksi kaktus milik Tika yang berderet di jendela. Memang ini bukan pertama kalinya Varka datang berkunjung, tapi rasanya aneh, bahwa Tika sama sekali tidak merasa aneh ataupun canggung dengan keberadaan Varka di dalam kamar apartemennya.


“Ini”, kata Tika seraya menyerahkan sebuah mug lucu bergambar kucing kepada Varka. Varka menerimanya dengan senyuman, dan menyesapnya sejenak. Tika mengambil mug miliknya sendiri yang bergambar matahari yang tersenyum dan menggenggamnya di tangannya, membiarkan kehangatan dari teh di dalamnya meresap ke kulitnya.


“Kehidupan di Bumi sungguh aneh dan menawan”, Varka berkata tiba-tiba. “Kuno, tapi menawan. Saya suka sekali.”


“Yah, kami tidak punya teknologi replikator atau apalah itu, jadi kami ya harus membuat sendiri makanan kami”, balas Tika. “Walaupun aku yakin tidak lama lagi kita bakal punya alat replikator buatan kami sendiri. Indah berhasil membongkar dan memasang ulang salah satu alat replikator di kamarnya di Velrakis, kamu ingat? Saat ini, pasti dia sedang berusaha untuk membuatnya.”


Varka pun tertawa lepas. “Jika ada yang bisa menciptakan alat replikator dari nol, itu adalah Indah”, katanya.


Tika tersenyum dan menyesap teh miliknya. Rasa hangat pun memenuhi sekujur tubuhnya. Keheningan yang nyaman menggantung di antara mereka berdua, dilatarbelakangi dengan rintikan hujan yang masih saja turun.


Saat itu, Tika menyadari mengapa ia merasa nyaman saat bersama Varka, menghabiskan waktu berdua dalam keheningan. Namun Tika pun menyadari bahwa terkadang, ada kata-kata yang harus diucapkan untuk membuatnya menjadi nyata.


Dan kata-kata itu adalah—


“Varka…” Tika memanggil nama Varka, memecah keheningan di antara mereka. “Aku sayang kamu.”


Varka tersenyum dan menarik tangan Tika, menautkan jari-jemarinya dengan jemari Tika. Kulit Varka dingin dan bertekstur aneh, namun Tika tidak mempermasalahkannya. Ini adalah Varka, dan Tika menyayanginya seutuhnya.


“Saya tahu”, jawab Varka. “Saya juga sayang kamu, Kartika.”


Tika tersenyum lebar, dan ia tidak dapat menahan tawa keluar dari dadanya. Ia pun mengayun-ayunkan tangannya dan tangan Varka, saat rasa bahagia berdenyut-denyut di dadanya. Saat itu, seakan-akan hanya ada dirinya dan Varka, berdua, di alam semesta ini.


“Apa kau tahu”, kata Varka tiba-tiba. “Saat ini kita melakukan hal yang… boleh dibilang melanggar norma kesopanan Anur Arta.”


“Oh”, Tika mengerjap, dan ia pun kembali teringat akan gestur intim yang dilakukan oleh Maharaja Velandar dan Avamar—dan dari situ, segala fantasi Tika pun runtuh. Rencana Maharaja Velandar menginvasi Bumi. Percobaan pembunuhan oleh Avamar dan Komandan Jonathan. Fakta bahwa Bumi masih belum aman dari ancaman invasi. Mimpi buruknya tentang Kapal Induk Velrakis yang melayang-layang di atas cakrawala Kota Palangka Raya dan barisan tentara Velrakis-Aran datang untuk menginvasi mereka.


“Tika. Kartika”, suara Varka yang lembut menarik Tika dari sudut tergelap pikirannya. “Hei, tidak apa-apa. Semuanya baik-baik saja.”


“Apa betul?” tanya Tika, suaranya lirih. “Saat ini sepertinya kita menghitung hari akan datangnya invasi.”


Varka mengedikkan kepalanya. “Jika hari itu akan datang”, katanya. “Jika Velrakis jadi menginvasi Bumi, maka kita berdua akan menghadapinya, bersama-sama dengan siapa saja yang akan bangkit untuk melawan musuh kita.”


“Mereka kaummu sendiri”, Tika mengingatkan.


“Jika mereka mematuhi perintah ayahanda saya dan menyerang Bumi, maka mereka adalah orang-orang yang sesat, yang lebih mematuhi kekuasaan yang korup daripada berpegang pada ajaran kunci kaum kami”, kata Varka tegas.


Tika menghela napas, dan menempelkan dahinya di dahi Varka, matanya terpejam. Entah mengapa, perkataan Varka menentramkan hatinya. Mungkin itu karena Varka sama sekali tidak berubah; ia masihlah memegang teguh ideologinya, walaupun itu berarti ia harus melawan kaumnya sendiri.


Dan yang Tika bisa lakukan hanyalah berada di sisinya, untuk menjadi sebuah tumpuan baginya.