
Sekujur tubuh Tika sakit luar biasa.
Ia tidak tahu berapa lama ia pingsan, dan bagaimana caranya ia selamat setelah terjatuh dari ketinggian. Yang ia tahu, tubuhnya sakit luar biasa, dan permukaan dimana ia terbaring sangatlah tidak nyaman. Rasanya seperti tidur di atas serpihan-serpihan kaca. Sayup-sayup, ia dapat mendengar seseorang memanggil-manggil namanya. Ia tidak tahu siapa, namun ia berharap orang tersebut berhenti, karena suaranya membuat kepalanya semakin sakit saja.
Tika membuka matanya dengan berat, dan seketika berteriak kaget saat sebuah wajah yang asing berada persis di atas wajahnya—bukan, bukan wajah yang asing. Wajah itu milik Varka, yang terlihat sangat khawatir.
“Vihtrizi, kau masih hidup!” seru Varka, sembari membantu Tika duduk. Tika mengerang kesakitan; kepalanya masih berdenyut-denyut seakan mau pecah. Namun ia memaksakan diri untuk kembali membuka matanya dan melihat ke sekelilingnya.
Tempat dimana mereka berada merupakan sebuah gundukan sampah kering, di antara gundukan-gundukan sampah lainnya. Minimnya penerangan membuat tempat tersebut nyaris gelap. Saat Tika mendongak ke arah menara-menara Velrakaris yang menjulang tinggi, ia mendapati menara-menara tersebut sangat menyilaukan mata.
“Dimana kita sekarang?” tanya Tika.
“Sebuah tempat bernama Larkis”, jawab Varka. “Artinya ‘Bawah’, dalam bahasa Anur Arta. Daerah kumuh.”
“Kalian juga punya daerah kumuh?” tanya Tika lagi.
Varka mengangguk. “Kami menggunakannya sebagai tempat penampungan sampah sementara sebelum didaur ulang. Tapi orang-orang yang… yah, boleh dibilang kurang beradab… menjadikannya tempat tinggal.”
Oh. Tentu saja utopia seperti Kapal Induk Velrakis masih memiliki sisi gelap. Tidak ada yang sempurna di alam semesta ini.
“Sebaiknya kita tidak berlama-lama di sini. Penghuni Bawah tidak suka orang-orang dari Atas”, kata Varka seraya menarik tangan Tika.
Mereka pun mulai berjalan menuruni gundukan sampah tersebut dengan hati-hati. Sesekali, Varka menoleh ke arah Tika, seakan untuk mengecek kondisinya. Ingin rasanya Tika memberitahu Varka bahwa ia tidak apa-apa dan semuanya baik-baik saja, namun kepalanya masih berdenyut-denyut sakit. Ia pun urung melakukannya, dan mereka pun berjalan dalam diam.
Jika dibandingkan dengan Velrakaris yang sangat ramai oleh kehidupan, Larkis sungguh luar biasa sunyi. Ia dapat mendengar angin yang berdesir dan percikan air yang menetes, namun Larkis seakan tidak memiliki tanda-tanda kehidupan. Kendati demikian, Tika sesekali melihat sesuatu bergerak-gerak di sudut matanya, namun menghilang saat ia menoleh untuk melihat lebih seksama. Merinding ngeri, Tika pun mendekatkan dirinya kepada Varka.
“Bagaimana caranya kita selamat? Sepertinya kita jatuh dari ketinggian yang luar biasa”, tanya Tika untuk mengisi keheningan.
“Sepatu terbang”, jawab Varka. “Tapi sepertinya mereka rusak karena ledakan. Untungnya saya masih dapat menggunakannya untuk memperlambat jatuhnya kita berdua.”
“Oh…” gumam Tika, dan ia pun tersenyum ke arah Varka. “Terima kasih sudah menyelamatkan nyawa saya lagi.”
“Kau selalu saja berada dalam bahaya”, goda Varka. “Bagaimana caramu bertahan hidup sebelum bertemu dengan saya?”
“Mukjizat Tuhan”, jawab Tika setengah bercanda.
“Tuhan-mu pastilah sangat sibuk”, Varka berdecak, dan Tika pun tertawa geli.
Saat itulah, ekspresi wajah Varka berubah serius. Ia mengangkat tangannya, dan mereka pun berhenti berjalan. Tika terdiam. Rasa takut kembali memenuhi dirinya, terutama saat Varka menghunuskan pedangnya.
Tika baru saja akan bertanya apa yang terjadi, saat ia melihat titik-titik cahaya ungu berkedip dari segala penjuru. Titik-titik bercahaya tersebut menerangi wajah-wajah asing, dan saat itulah Tika tersadar bahwa cahaya tersebut berasal dari pistol yang mereka pegang. Tika pun mencengkram lengan Varka erat-erat.
Seorang makhluk luar angkasa berkulit hijau pucat melangkah maju dan menggeramkan sesuatu kepada Varka, yang membalasnya dengan geraman serupa. Tika tidak dapat memahami yang mereka berdua katakan, namun ia tahu bahwa mereka berdua tidak sedang berbasa-basi. Sesekali ia dapat mendengar kata-kata yang terdengar familier, seperti ‘Velandar’ dan ‘Velrakis-Aran’, namun apapun konteksnya tidak dapat Tika mengerti.
Tika tidak tahu apa yang harus dilakukan di situasi seperti ini, ditodong oleh makhluk-makhluk luar angkasa yang tidak bersahabat. Ia tidak bersenjata; kalaupun iya, ia tidak bisa bela diri, dan kemampuan menembaknya pun biasa-biasa saja. Saat ini, bisa dibilang nyawanya bergantung sepenuhnya kepada Varka.
Saat itulah Tika merasakan sesuatu menyentuh punggungnya, dibarengi dengan suara desir seperti sesuatu yang diaktifkan.
Secepat kilat, Varka berputar balik sambil menggeram, dan pedangnya menyabet sebuah tangan yang memegang pistol. Darah kehijauan memancar, makhluk luar angkasa yang kini kehilangan salah satu tangannya memekik, dan Varka menendangnya menjauhi Tika. Menggunakan pedangnya, ia mengambil pistol yang terjatuh ke tanah.
Peluru-peluru laser berdesing dari berbagai penjuru. Tika memekik dan bersembunyi di balik gundukan sampah secara refleks. Ia mendapati Varka sedang bertarung dengan lima orang-orang Bawah sekaligus—pertarungan yang tidak berlangsung lama, karena Varka menembaki kelima orang-orang Bawah tersebut dengan kesigapan yang mengerikan.
Saat itulah Tika mendengar seseorang berseru. Ia berputar arah dan melihat salah satu orang Bawah bertubuh besar dengan tanduk runcing berlari ke arahnya. Tika berguling ke samping tepat pada waktunya, dan orang Bawah tersebut menyeruduk gundukan sampah yang tadinya Tika gunakan untuk bersembunyi. Gundukan sampah tersebut pun menjatuhi orang Bawah tersebut. Tika mengesot menjauh, jantungnya masih berdebar-debar di dadanya.
Tika melihat sebuah pistol tergeletak di tanah. Ia mengambilnya dan menembakkannya ke arah salah satu orang Bawah yang bertarung dengan Varka. Orang Bawah tersebut tumbang dan Varka menoleh ke arahnya, melempar senyuman singkat, sebelum kembali ke pertarungan.
Merasa lebih percaya diri, Tika lanjut menembakkan pistolnya. Beberapa kali ia salah sasaran, tapi ia berhasil menjatuhkan beberapa orang Bawah—ia berusaha untuk tidak memikirkan bahwa ia telah membunuh, atau minimal melukai beberapa orang.
Orang-orang Bawah pun berkerumun di sekitarnya, dan di tengah kekacauan itu, Tika tersadar bahwa mereka sedang berusaha memisahkannya dari Varka.
Kalau ia memang harus mati di sini, ia lebih memilih mati setelah melawan sampai ke tetes darah terakhir.
Namun Varka punya rencana lain. Ia menjatuhkan dirinya dari sebuah gundukan sampah di sisi kanan Tika dan mendarat di antara Tika dan orang-orang Bawah yang mengerumuninya. Bajunya terkoyak di sana-sini, dan rambutnya tidak lagi terkepang dengan rapi. Di pipinya terdapat sebuah torehan, dimana darah keunguan mengucur.
“Tembak dinding di belakangmu!” perintahnya.
Tika mengerjap, bingung. “Apa?”
“Lakukan sekarang!”
Tika melakukan sesuai yang diperintahkan dan menembaki dinding besi yang kokoh tersebut. Butuh beberapa kali tembakan sebelum akhirnya besi yang kokoh tersebut meleleh, dan sebuah lorong gelap pun muncul di hadapannya. Tanpa basa-basi, Tika memasuki lorong tersebut.
Varka pun menyusul Tika, sembari masih menembakkan pistolnya ke arah orang-orang Bawah. Orang-orang Bawah tersebut berusaha mengikuti mereka ke dalam lorong, namun Tika bertindak cepat dan menembak langit-langit di atas mereka. Langit-langit tersebut pun runtuh, menutupi lorong, dan Tika menghela napas saat akhirnya mereka menjauh dari bahaya.
Varka terlihat terkejut untuk sesaat, namun ia menarik Tika untuk memeriksanya. “Apa kau tidak apa-apa? Tidak terluka?” tanyanya.
“Aku yang harusnya tanya begitu”, balas Tika. “Kamu berdarah.”
Varka menyentuh pipinya yang berdarah dan mengusapnya dengan punggung tangannya.
“Saya tidak apa-apa”, katanya. Ia pun mulai berjalan, dan Tika mengikuti di belakangnya. Lorong tersebut hampir gelap, namun Tika masih dapat melihat Varka bergerak di depannya.
“Kita ada di mana sekarang?” tanya Tika penasaran.
“Saluran perbaikan”, jawab Varka. “Saluran ini menghubungkan kota-kota di dalam Velrakis. Yang ini menuju ke Dorvak, kalau tidak salah.”
Ah… kota ketiga di dalam Kapal Induk Velrakis. Tika hanya tahu namanya sepintas dari membaca-baca panduan tentang Kapal Induk Velrakis. Yang ia tahu, Dorvak merupakan sebuah kota yang selalu berada dalam keadaan gelap, untuk mengakomodasi makhluk-makhluk yang sensitif dengan cahaya yang terang.
“Setelah mencapai Dorvak, kita bisa menghubungi Istana Kerajaan dan Velrakis-Aran untuk mengirim seseorang untuk menjemput Anda”, kata Varka. “Rekan-rekan Anda pastilah sangat khawatir.”
Kembali lagi ke ‘Anda’, pikir Tika muram. “Saya juga khawatir dengan yang lain. Mudah-mudahan mereka tidak apa-apa”, balasnya.
Tika juga khawatir bagaimana serangan ini dapat mempengaruhi misi pertukaran dengan Kapal Induk Velrakis. Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa, namun Tika tidak bisa menyangkal bahwa kemungkinan besar Komandan Jonathan bakal memerintahkan untuk membatalkan misi pertukaran ini dengan alasan misi ini terlalu berbahaya bagi mereka semua; padahal masih banyak hal yang bisa dipelajari dari Kapal Induk Velrakis.
Dan kemungkinan besar, Tika tidak bisa bertemu dengan Varka lagi.
Pikiran-pikiran tersebut terus menghantuinya hingga mereka keluar dari saluran perbaikan dan menuju ke sebuah kota yang remang-remang. Jika dibandingkan dengan Velrakaris yang gemerlap bahkan di malam hari, Dorvak terlihat suram. Meskipun demikian, Tika masih dapat melihat bangunan berwarna-warni yang saling susun satu sama lain, di kanan-kiri jalan yang menanjak.
Varka akhirnya berhenti di sebuah toko—setidaknya, Tika mengira itu sebuah toko. Sebuah papan berwarna cerah menggantung di dinding depannya, walaupun Tika tidak bisa membaca tulisan yang tertera di sana. Seorang kaum Ndalu sedang membersihkan bagian depan toko, dan ia berceloteh ramah saat melihat Varka.
“Mohon tunggu di sini”, perintah Varka, sebelum ia dan si Ndalu masuk ke dalam toko.
Tika bersandar pada dinding depan toko sembari memperhatikan makhluk-makhluk luar angkasa beraneka bentuk dan warna berjalan lalu-lalang. Mereka bercakap-cakap dalam bahasa asing yang Tika tidak mengerti.
Varka keluar dari dalam toko tidak lama kemudian, dan Tika mendapati ekspresi ganjil di wajahnya.
“Ada apa?” tanya Tika, memberanikan diri. Ekspresi Varka berubah sedih.
“Rekan-rekanmu… tidak ada yang selamat”, ujarnya penuh duka. Tika mengerjap, sebelum akhirnya berusaha mengulangi kata-kata Varka di dalam kepalanya. Ia tidak mengerti… Ia pasti salah dengar, karena— karena tidak mungkin rekan-rekannya—
“Entah bagaimana caranya ataupun apa alasannya, orang-orang Bawah naik ke Atas dan menyerang mereka semua. Avamar tidak apa-apa, orang-orang Bawah tidak menyerangnya. Tapi yang lain…” suara Varka tercekat. “Aku ikut berduka, Kartika…”
Itu adalah pertama kalinya Varka menyebut namanya, namun Tika tidak bisa mendengarnya— tidak mau mendengarnya. Karena kalau ia mendengarnya… itu artinya ucapan Varka benar adanya. Profesor Arga, Profesor Ratri, Indah, dan Bayu… bahkan Komandan Jonathan juga…
Tika nyaris tidak menyadari ketika bulir-bulir air mata pertama bergulir di pipinya, namun ia dapat merasakan ketika Varka merengkuhnya dan memeluknya dengan sangat berhati-hati, seakan-akan Tika terbuat dari kaca yang rapuh. Tangis Tika pun pecah dan ia menangis tersedu-sedu.
“Maafkan saya”, Tika dapat mendengar Varka bergumam.