Blank

Blank
Episode 7



Kaki Tika terasa seperti melepuh.


Sembari berendam di bak mandi, Tika memijit-mijit kakinya. Berjalan berkeliling menggunakan sepatu hak tinggi selama berjam-jam memang sungguh menyiksa! Andai saja seragamnya dilengkapi dengan sepatu pantofel biasa sebagai alternatif. Ya, bahkan di abad kedua puluh dua yang katanya sudah maju ini, wanita-wanita pekerja masih diharuskan untuk tampil feminin dengan hak tinggi dan make-up meskipun itu menyiksa dan membuat mereka tidak nyaman.


Selama lebih dari sepuluh menit, Tika berendam sambil menggerutu sendiri, sampai akhirnya kakinya tidak lagi terasa seperti melepuh. Ia pun keluar dari bak mandi. Ia memilih untuk menggunakan kaos bra yang nyaman, celana panjang selutut, dan sandal jepit yang dibawanya. Setelah memakai bedak tipis-tipis, Tika pun keluar dari kamarnya, dan mendapati Indah sedang membongkar tablet holografik yang mereka dapatkan dari Museum Agung siang tadi.


“Mana yang lain?” tanya Tika.


“Mama sama Papa lagi di kamar. Bayu, di kamar juga, nggak tau ngapain”, jawab Indah, setengah terdistraksi. “Komandan barusan pergi, katanya mau ketemuan sama Avamar.”


“Ketemuan sama Avamar? Ngapain?” tanya Tika lagi.


Indah mengangkat bahunya, namun ia menjawab, “Mau tau rencana besok kali. Kata Papa, besok aku, Bayu, dan Papa mau dibawa ke lab gitu. Yang jadwalnya masih belum jelas cuma Komandan, Mama, ama kamu.”


“Oh”, gumam Tika pelan seraya duduk di sofa di seberang Indah. “Kalau boleh sih, besok aku mau ke museum lagi.”


“Masih belum puas, ya?” goda Indah. Tika pun membalasnya dengan cengiran.


Percakapan mereka terputus saat Varka berjalan masuk sambil membawa troli makanan. Sesampainya di tengah-tengah ruangan, ia menoleh ke kanan-kiri, seperti mencari sesuatu.


“Dimanakah anggota kontingensi yang lain?” tanya Varka.


“Mama-Papa di kamar. Bayu juga di kamar. Komandan sedang ketemuan ama Avamar”, jawab Indah tanpa menoleh ke arah Varka. Ia sedang berkutat dengan tablet yang dibongkarnya.


Varka berkedip pelan sembari memiringkan kepalanya, seperti kebingungan oleh cerocosan Indah yang cepat itu.


“Oh”, katanya pelan. Ia menghela napas panjang sebelum akhirnya duduk di salah satu sofa. “Maaf, saya… tidak terbiasa berbicara dalam Bahasa Indonesia, terutama sejak ibunda meninggal.”


“Anda lumayan fasih, kok, untuk ukuran makhluk luar angkasa”, hibur Tika. “Cuma, yah, bahasa yang Anda gunakan agak…”


“… Berantakan?” tanya Varka.


“Baku”, ralat Tika.


“Anda sekalian merupakan tamu kehormatan kami. Ayahanda saya bisa murka jika saya tidak memperlakukan Anda sekalian dengan penuh hormat”, desah Varka.


“Tunggu dulu, kamu bicara dalam Bahasa Indonesia?” tanya Indah. Ia mengangkat kepalanya dari tablet holografik yang terburai berantakan dan akhirnya memperhatikan Varka dengan ekspresi penuh keingintahuan yang luar biasa. “Bagaimana dengan yang lainnya? Avamar dan Maharaja Velandar, misalnya?”


“Mereka tidak benar-benar berbicara dalam Bahasa Indonesia”, jawab Varka. “Mereka menggunakan alat penerjemah universal. Untuk saya, mereka terdengar seperti berbicara dalam Bahasa Anur Arta.”


“Bagaimana cara kerjanya?” tanya Indah penuh semangat.


Maka, dimulailah kuliah tentang alat penerjemah selama lebih dari tiga puluh menit lamanya. Tika merasa dia tidak bodoh-bodoh amat, namun percakapan antara Indah dan Varka membuat kepalanya berputar pusing. Pada akhirnya, ia memilih untuk mendengarkan keduanya bercakap-cakap saja.


Indah memaksa untuk membongkar alat penerjemah milik Varka, namun urung melakukannya setelah Varka memberitahunya bahwa alat penerjemah yang ia gunakan merupakan implan yang sudah tertanam sejak ia kecil. Ini membuat Tika agak terkejut; ia mengira tidak ada yang dapat menghentikan Indah untuk membongkar suatu alat. Ia masih teringat insiden saat mereka SMA, dimana Indah memaksa untuk membongkar layar majalah dinding holografik yang masih baru.


“Walaupun begitu, saya tidak terlalu bergantung pada alat penerjemah saya”, demikian Varka menjelaskan. “Sebagai seorang anggota Velrakis-Aran, saya diwajibkan untuk menguasai xenolinguistik dan fasih berbicara dalam berbagai macam bahasa.”


“Kenapa begitu?” tanya Tika.


“Karena kami sering ditugaskan dalam misi kontak pertama dengan makhluk-makhluk asing”, jawab Varka. “Tugas kami salah satunya adalah menjembatani komunikasi antara para diplomat Velrakis dan makhluk asing. Seringkali kami harus dapat menerjemahkan bahasa-bahasa yang belum pernah kami dengar sebelumnya pada saat itu juga.”


“Wow, kedengarannya sulit”, kata Tika. Rasa kagumnya terhadap Varka pun bertambah.


“Begitulah”, jawab Varka. “Saya beruntung dapat berbicara dalam Bahasa Indonesia. Oh, dan Bahasa Inggris juga.”


“Oh, really?” tanya Tika.


“Yes, my mother said English is one of the universal languages on Earth, so she made me learn it”, jawab Varka dengan fasih. “Beliau juga bilang, Bahasa Inggris akan sangat berguna jika suatu saat saya melakukan kontak dengan umat manusia.”


“Kenyataannya Anda justru melakukan kontak dengan kami, Bangsa Indonesia”, kata Tika,


Tidak lama kemudian, Profesor Arga, Profesor Ratri, dan Bayu bergabung dengan mereka. Mereka masih terlihat mengantuk, dan rambut Bayu terutama masih acak-acakan seperti baru saja bangun tidur.


“Enak saja, kalian bicara teknologi kok tidak ajak-ajak”, kata Profesor Arga bersungut-sungut, sembari duduk di sebelah Indah. Indah memekik kaget, berusaha untuk menyelamatkan tablet miliknya yang masih terburai berantakan.


Mereka pun melanjutkan percakapan tentang teknologi yang sehari-hari digunakan oleh para penduduk Velrakis, sembari memakan makanan yang Varka bawa. Rupanya, selain dapat digunakan untuk membuat baju, alat replikator yang tersedia di masing-masing kamar mereka juga bisa digunakan untuk membuat makanan, minuman, alat-alat tulis, dan lain sebagainya. Penghuni Velrakis sangat bergantung oleh alat replikator untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari.


“Jadi orang-orang Velrakis tidak perlu belanja?” tanya Profesor Ratri.


“Tidak juga”, jawab Varka. “Segala sesuatu yang diciptakan oleh alat replikator tergantung oleh kode yang menentukan kombinasi kimiawi sebuah benda. Anda harus tahu kode untuk menciptakan… misalnya saja, minuman ini”, Varka mengangkat sebuah gelas berisi cairan merah muda bening. “Jika Anda tidak tahu, ya, Anda tidak bisa menciptakan minuman ini.”


“Jadi… yang diperjualbelikan adalah kode untuk menciptakan sesuatu”, gumam Profesor Ratri. “Lalu bagaimana kalau semua orang sudah tahu kodenya?”


“Kode-kode baru diciptakan setiap hari”, jawab Varka. “Dan tidak semua orang mau menjual kode yang mereka ciptakan. Beberapa orang menolak untuk membagikan kode yang mereka ciptakan, sehingga mereka bisa menjual produk original mereka. Tentu saja, kode-kode serupa bisa muncul di pasaran, tapi selama mereka tidak tahu kode yang sesungguhnya, tidak ada yang seratus persen mirip.”


“Bagaimana dengan orang-orang yang lebih suka untuk membuat sesuatu secara manual? Apakah mereka bisa menjual produk mereka?” tanya Profesor Ratri penuh semangat.


“Tentu saja”, jawab Varka. “Tentunya tidak ada yang sepenuhnya dibuat tanpa bantuan alat replikator. Namun barang-barang yang dibuat semi-manual merupakan barang-barang eksklusif, terutama barang-barang kerajinan tangan.”


“Dan karena banyak penghuni Velrakis yang nyaris punah setelah kehilangan planet mereka, barang-barang kerajinan tangan yang mereka buat pun menjadi sebuah komoditi yang tidak ternilai harganya. Betul begitu?” tanya Profesor Ratri.


“Anda benar sekali”, jawab Varka. “Produk kerajinan tangan kami terkenal di segala penjuru Galaksi Bimasakti dan Galaksi Andromeda. Setidaknya sekali dalam setiap dekade, kami mengadakan pameran di planet-planet strategis untuk menjual produk-produk kerajinan tangan kami.


“Bagaimana dengan teknologi lainnya? Selain alat replikator, apakah ada alat lainnya yang para penghuni Velrakis tidak bisa hidup tanpanya?” tanya Profesor Arga.


“Wah, apa ya…” gumam Varka seraya mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya ke dagunya. “Kalau saya sih punya komputer rumah, koneksi antarbintang, alat komunikasi dan alat bantu dengar implan…”


“Sebentar, sebentar. Koneksi antarbintang? Seperti internet?” tanya Indah.


“Apa itu internet?” tanya Varka, sembari mengerjapkan matanya.


Bayu dan Indah pun bersahut-sahutan berusaha menjelaskan tentang internet kepada Varka, yang terlihat kebingungan dengan penjelasan mereka, terutama setelah Indah memperkenalkan konsep ‘meme’. Indah dan Bayu pun menunjukkan meme-meme lucu yang tersimpan di ponsel yang mereka bawa.


“Hmm… konsepnya sama dengan… internet”, jawab Varka pada akhirnya. “Hanya saja, koneksi antarbintang mencakup ruang lingkup yang lebih luas.”


“Bagaimana cara kerjanya?” tanya Profesor Arga penasaran. “Alam semesta sangatlah luas, bagaimana caranya koneksi antarbintang bisa menghubungkan semuanya?”


“Tidak semuanya, sebenarnya. Kami hanya menghubungkan tempat-tempat yang sudah pernah kami jelajahi, dengan seizin penghuninya jika ada”, jawab Varka. “Alat pemancar sinyal dipasang di setiap tata surya atau beberapa log—satuan jarak, sekitar seratus tahun cahaya kalau saya tidak salah mengartikan.”


“Sungguh menakjubkan”, gumam Profesor Arga. “Sinyal yang digunakan pastilah dapat bergerak lebih cepat daripada cahaya.”


“Wow, kamu tahu banyak soal ini”, kata Tika kagum.


“Waktu kecil saya tertarik untuk menjadi seorang penemu”, balas Varka sembari mengangkat bahunya. “Avamar ada benarnya. Kalau tidak bergabung dengan Velrakis-Aran, saya bakalan diterima oleh Akademi Sains Velrakaris.”


“Apa yang membuatmu berubah pikiran?” tanya Tika. Varka mengerjapkan matanya, dan saat itulah Tika menyadari bahwa pertanyaannya terlalu personal. “Maaf, saya hanya… penasaran. Lupakan pertanyaan saya.”


“Tidak apa-apa”, kata Varka. “Saya sudah ingin menjadi anggota Velrakis-Aran sejak remaja. Waktu itu saya berpikir, tidak ada yang lebih mulia dibanding mengabdikan diri untuk melindungi Velrakis dan seisinya. Sewaktu saya lulus sekolah, saya pun mendaftarkan diri ke Akademi Militer Velrakis-Aran. Ayahanda saya sangat kecewa saat saya diterima.”


“Kenapa begitu?” tanya Tika lagi.


“Karena anggota Velrakis-Aran tidak boleh berpartisipasi dalam Var Javalan—proses pemilihan pemimpin Velrakis”, jawab Varka. “Beliau ingin saya meneruskan kepemimpinan beliau, tapi saya tidak tertarik dengan politik.”


“Oh”, Tika dapat mengerti. Ayah Tika sendiri ingin Tika meneruskan bisnis ladang kopi miliknya, namun Tika hanya ingin menjadi astronot sejak kecil. Terkadang ia dihantui oleh pikiran-pikiran buruk, bahwa ia membuat ayahnya kecewa dengan menjadi astronot, bahkan setelah ia meraih beberapa penghargaan.


Percakapan mereka pun berlangsung hingga larut malam. Mereka semua bergantian menanyai Varka seputar teknologi sehari-hari yang digunakan oleh penduduk Velrakis, dan Varka menjawab semuanya dengan sabar. Tika merasa Varka bisa saja menjadi seorang penemu hebat, namun sisi egois Tika bersyukur Varka menjadi seorang Velrakis-Aran.


Karena, pikirnya. Kalau Varka bukan seorang anggota Velrakis-Aran, dia tidak mungkin bertemu dengan Tika.