Blank

Blank
Episode 4



Hal pertama yang Tika lihat saat memasuki ruangan adalah pemandangan perkotaan Velrakaris yang luar biasa yang terpampang di jendela.


Malam telah tiba di Kapal Induk Velrakis, dan Kota Velrakaris tampak lebih menakjubkan di malam hari. Lampu-lampu berwarna-warni berpendar-pendar, mengingatkan Tika akan pemandangan malam di Kota Palangka Raya di Bumi. Namun tidak seperti Kota Palangka Raya, pemandangan malam Velrakaris dihiasi oleh pemandangan luar angkasa, dengan Planet Pluto yang dingin membeku melayang-layang di ruang hampa udara. Tika ingin tahu bagaimana caranya pemandangan tersebut dapat tampil di ‘langit’ Velrakaris, sedangkan mereka berada di dalam sebuah kapal induk.


Hal kedua yang Tika perhatikan merupakan sebuah kolam berbentuk cincin yang mendominasi ruangan, dan di tengahnya terdapat sebuah panggung dimana satu set sofa dan meja berkaki rendah tertata rapi. Barang-barang bawaan mereka telah terkumpul di kaki-kaki sofa. Sebuah jembatan sederhana menghubungkan pintu dengan panggung tersebut.


Tika dapat melihat ikan-ikan kecil berseliweran di antara tanaman-tanaman air berwarna-warni yang menghiasi tepi-tepi kolam. Air terjun bergemericik mengalir dari dinding di sisi kanan-kiri ruangan. Di antara air terjun tersebut terdapat pintu-pintu yang menghubungkan ruang tengah dengan kamar-kamar tidur yang mewah.


“Wow”, gumam Tika saat ia mengecek salah satu kamar. Di kamar ini pun sebuah kolam mendominasi ruangan, dan sebuah panggung dimana sebuah ranjang berdiri di tengah-tengahnya.


“Alat replikator tersedia di masing-masing kamar”, Varka berkata. “Mari saya tunjukkan bagaimana cara menggunakannya.”


Varka pun berjalan menuju ke arah sebuah mesin yang tertempel di dinding kamar. Tika memperhatikan dengan seksama saat Varka menekan tombol-tombol yang tersedia. Beberapa detik kemudian, mesin tersebut berdenting dan Varka mengambil sesuatu dari dasarnya.


Sebuah baju. Mesin tersebut dapat membuat baju.


“Keren!” seru Indah penuh semangat. “Bagaimana cara kerjanya?”


“Partikel-partikel yang dikumpulkan oleh alat replikator ditata sedemikian rupa untuk membentuk apa saja yang Anda inginkan”, jawab Varka. “Dalam hal ini, pakaian.”


“Berarti bisa dong dipakai untuk membuat benda-benda lainnya?” tanya Indah.


“Tentu saja, jika anda hafal urutan tombol yang harus ditekan”, jawab Varka.


Oh, tidak, pikir Tika, saat ia melihat ekspresi wajah Indah.


“Tidak boleh”, kata Profesor Ratri tiba-tiba.


“Tapi, Ma!” rengek Indah.


“Nanti kalau kamu tidak bisa memasangnya lagi, bagaimana?” tanya Profesor Ratri.


“Um”, kata Varka, menyela percakapan ibu dan anak tersebut. “Memangnya apa yang mau Anda lakukan?”


“Tidak ada!” jawab Profesor Ratri, bersamaan dengan Indah yang menjawab, “Saya mau membongkarnya!”


“Oh”, Varka tertawa, suaranya merdu. “Tentu saja Anda boleh membongkarnya. Saya sendiri sering melakukannya waktu saya kecil.”


Indah menoleh ke arah Varka, matanya berbinar-binar seakan ingin menciumnya. Profesor Ratri menghela napas panjang.


Seusai berdebat, Bayu mengambil kamar di sebelah kamar Indah—alasannya, ia tidak ingin terganggu oleh eksperimen yang dilakukan oleh adiknya tersebut. Profesor Arga dan Profesor Ratri pun beranjak menuju kamar tidur bersama mereka, menyisakan dua kamar kosong untuk Tika dan Komandan Jonathan.


Alih-alih memasuki kamar, Komandan Jonathan memilih untuk duduk di salah satu sofa dan mulai melonggarkan dasi yang dikenakannya. Melihat atasannya mulai bersantai, Tika pun memilih untuk ikut duduk dan melepaskan sepatu hak tinggi yang ia kenakan. Ia sedang meregangkan jari-jemari kakinya saat seorang Anur Arta berpakaian sederhana mendatangi mereka sambil mendorong troli berisi makanan dan minuman ringan yang berbentuk asing dan berwarna-warni untuk mereka semua.


“Malam ini, Anda sekalian dipersilahkan untuk beristirahat sambil mengkonsumsi makanan dan minuman yang telah disediakan”, Varka berkata sambil menangkupkan tangannya. “Tenang saja, semua makanan ini telah didesain sedemikian rupa sehingga dapat memenuhi asupan nutrisi Anda sekalian.”


Tika memandangi makanan dan minuman yang tersedia. Minuman-minuman beraneka warna berjejer, bersandingan dengan piring-piring yang berisi makanan-makanan berbentuk aneh. Salah satu piring berisi makanan berbentuk kubus dan berwarna hijau muda, dengan olesan krim kekuningan di atasnya. Melihat kuliner luar angkasa yang tersaji di hadapannya membuat Tika penasaran, dan ia pun memberanikan untuk mencomot salah satunya. Seketika, rasa asam yang luar biasa meledak di dalam mulutnya, membuatnya mengepak-ngepakkan tangannya.


“Makanannya tidak enak?” tanya Varka sambil mengedipkan matanya, bingung.


Tika menggelengkan kepalanya, sambil berusaha menelan makanan yang sudah berada di dalam mulutnya. “Terlalu asam…” gumamnya.


“Cobalah yang ini, kalau begitu”, Varka menunjuk ke arah piring lain yang berisikan bola-bola kecil berwarna biru muda dengan taburan serbuk ungu di atasnya. Tika memandangnya sesaat, sebelum mencomot salah satunya dan menggigitnya dengan lebih berhati-hati.


Kali ini, makanan yang ia coba terasa seperti kue lapis legit kesukaannya, dan serbuk ungu di atasnya pun terasa manis, seperti gula halus.


“Yang ini lezat”, pujinya.


“Menarik sekali”, kata Varka. “Apakah semua manusia lebih menyukai rasa manis ketimbang asam?”


“Kebanyakan sih begitu”, jawab Tika, sembari mengambil lagi kue bola biru muda.


“Aku tahu seseorang yang lebih suka makanan asam”, Komandan Jonathan berkata tiba-tiba.


“Siapa?” tanya Tika penasaran.


“Aku”, jawab Komandan Jonathan, seraya mencomot salah satu kubus hijau muda dan memakannya bulat-bulat. Mata Tika membelalak seketika, namun sang komandan mengunyah makanan yang luar biasa asamnya tersebut seperti bukan apa-apa.


“Lumayan juga”, kata sang komandan tidak lama kemudian. Beliau mengambil salah satu gelas yang berisikan cairan biru bening yang disediakan, mengendus-endusnya sejenak, sebelum kemudian meminumnya.


“Bagaimana minumannya?” tanya Tika, penasaran.


“Seperti air putih yang berkarbonasi”, jawab sang komandan. Tika mengangguk, lantas mengambil gelas yang berisikan cairan serupa dan meminumnya. Seperti kata sang komandan, cairan biru bening tersebut memang terasa seperti air putih yang berkarbonasi.


Aneh sekali, pikir Tika. Sulit dijelaskan, namun makanan dan minuman luar angkasa ini terasa familiar walaupun bentuknya asing. Ditambah lagi perkataan Varka  tentang makanan dan minuman yang disajikan dapat memenuhi kebutuhan nutrisi manusia… apa maksudnya, ya?


“Kalau saya boleh tanya… dari mana Anda tahu tentang nutrisi yang dibutuhkan oleh manusia?” tanya Tika.


Anehnya, Varka terdiam membeku.


“Maksudnya?” tanya Tika lagi.


“Mungkin Anda sekalian tidak memperhatikan, tapi Varka jelas-jelas tidak terlihat seperti Anur Arta pada umumnya”, Thu’ada terkekeh. “Itu karena dia setengah manusia.”


“Setengah manusia?” ulang Tika sambil menoleh ke arah Varka. “Tapi bukannya kami merupakan manusia-manusia pertama yang Anda sekalian temui? Anda sendiri yang bilang begitu, kan, Varka?”


Varka menghela napas panjang.


“Maafkan kebohongan saya”, katanya. “Anda memang bukan manusia pertama yang kami temui.”


“Kok bisa? Apa kalian pernah menculik manusia sebelumnya?” tuduh Komandan Jonathan.


“Bukan begitu”, Varka menggelengkan kepalanya. “Beberapa tahun silam, ayahanda saya menyelamatkan sebuah pesawat manusia yang terdampar di salah satu bulan milik planet keenam dari tata surya Anda. Hanya satu manusia yang selamat.”


Tika menarik napas. Salah satu bulan milik planet keenam—Planet Saturnus. Mungkinkah itu berhubungan dengan Misi Eksplorasi Titan tiga puluh tahun yang lalu? Tidak ada yang tahu bagaimana nasib para anggota kru misi tersebut, setelah komunikasi mereka dengan Lembaga Antariksa Bumi terputus.


“Siapa?” tanya Komandan Jonathan dengan suara tercekat. “Siapa yang selamat?”


“Namanya… Indira Candrakirana”, jawab Varka dengan pelan. “Beliau adalah ibunda saya.”


“Dira…” bisik Komandan Jonathan. “Kenapa kalian tidak mengembalikan Indira ke Bumi?”


“Ayahanda memang ingin mengembalikan ibunda saya ke Bumi, namun kondisi Kapal Induk saat itu sedang tidak kondusif. Musuh asing menyerang kami, dan kami harus menjauhkan mereka dari tata surya Anda”, balas Varka.


“Dimana Dira sekarang? Apakah dia masih tinggal di kapal induk ini? Bisakah kami bertemu dengannya?” cecar Komandan Jonathan.


“Tidak bisa…” jawab Varka sambil menggelengkan kepalanya.


“Kenapa?”


“Karena Yang Mulia Indira dibunuh”, sahut Thu’ada.


“Thu’ada…”, desis Varka.


“Apa? Memang benar kan? Kasusnya ramai dibicarakan sampai bertahun-tahun kemudian”, Thu’ada mengangkat bahunya. “Skandal luar biasa besar, istri Maharaja Velandar terbunuh, dan pembunuhnya belum tertangkap sampai sekarang. Anak mereka yang masih kecil pun kehilangan ibundanya. Cerita yang tragis, bukan?”


Mata Tika terbelalak. “Anda anak Maharaja Velandar?!” tanyanya kepada Varka, setengah tidak percaya.


“Thu’ada!” geram Varka.


“Maaf, Yang Mulia”, Thu’ada mengerjapkan matanya dan tersenyum seolah-olah tidak bersalah. “Tapi bukankah mereka lebih tahu sekarang sebelum makan pagi besok di Faset Kerajaan?”


Varka menghela napasnya sekali lagi. “Kau benar…”


“Tunggu dulu, tunggu”, Tika mengangkat tangannya. “Anda adalah seorang setengah-manusia. Kenapa menyembunyikan hal ini dari kami? Kenapa tidak berkata jujur dari awal?”


“Apakah Anda akan percaya? Bagaimanapun juga, saya tidak terlihat seperti manusia pada umumnya, dan kami tidak memiliki bukti bahwa kami pernah melakukan kontak dengan manusia”, kata Varka seraya tersenyum masam.


“Memangnya Anda tidak punya foto, rekaman, atau semacamnya?” tanya Tika. “Tidak satu pun?”


Varka membuka mulutnya, lalu menutupnya. Ia menarik napas panjang dan membuka mulutnya sekali lagi. “Kami tidak pernah berpikir untuk menunjukkan rekaman pribadi milik kami sebelumnya.”


Tika mengerjapkan matanya.


“Anak Dira… Sungguh sulit dipercaya”, Komandan Jonathan bergumam dan menggosok wajahnya dengan tangannya. “Dira merupakan senior saya di akademi. Anda bilang ia dibunuh?”


Varka mengangguk dalam diam.


“Dan besok kita dijadwalkan untuk bertemu dengan Maharaja Velandar…” kata Komandan Jonathan. “Suami Dira. Sial!”


“Tolong jangan sebut soal ibunda di depan ayahanda. Beliau masih… sangat kehilangan ibunda”, ia memohon.


“Kami berjanji”, kata Tika. “Saya turut berduka cita, Varka.”


“Yang sudah terjadi, sudah terjadi”, kata Varka dengan lembut, sebelum akhirnya ia dan Thu’ada beranjak dari ruangan.


“Kukira aku sudah mengikhlaskan kepergian Dira”, kata Komandan Jonathan sembari menundukkan kepalanya. Beliau terlihat sangat terpukul oleh hal ini.


Tika tidak tahu harus menjawab apa.


Tidak lama kemudian, sang komandan pun beranjak pergi menuju salah satu kamar yang telah disediakan, meninggalkan Tika seorang diri di ruang tengah, hanya ditemani oleh ikan-ikan yang berenang-renang di dalam kolam dan pikirannya yang menari-nari.


Varka merupakan seorang setengah manusia.


Dengan kata lain, bukannya tidak mungkin seorang manusia seperti dirinya jatuh cinta kepada seorang makhluk luar angkasa seperti Varka, kan?


Ah, pikir Tika muram. Aku ini mikir apa sih.