Blank

Blank
Episode 5



Pagi pun tiba di Kapal Induk Velrakis, membangunkan Tika dari tidurnya yang lelap.


Dari panduan yang dibacanya sebelum tidur, Tika mendapati bahwa Kapal Induk Velrakis memiliki waktu standar yang tidak bergantung dengan rotasi planet maupun revolusi planet mengelilingi matahari. Ini memudahkan mereka saat mereka bergerak dari satu tata surya ke tata surya lainnya yang tentunya memiliki waktu standar masing-masing.


Waktu standar di Kapal Induk Velrakis memiliki empat puluh jam dalam satu harinya, empat puluh menit setiap jamnya, dan empat puluh detik setiap menitnya. Dalam setiap minggu terdapat lima hari, setiap bulan dua puluh hari, dan setiap tahun dua puluh bulan.


Dari panduan yang sama, Tika pun tahu bahwa anggota kontingensi Bumi diberikan waktu lima belas jam (sekitar enam jam waktu Bumi) untuk tidur dan beristirahat, lima belas jam untuk berkeliling mempelajari Kapal Induk Velrakis, dan sepuluh jam (sekitar empat jam waktu Bumi) untuk melakukan aktivitas lainnya. Jadwal yang padat ini diharapkan dapat membantu Tika dan rekan-rekannya untuk dapat mempelajari Kapal Induk Velrakis seefisien mungkin.


Tika penasaran dari mana para penghuni Velrakis ini tahu soal ritme sirkadian manusia, sebelum akhirnya teringat bahwa ia dan rekan-rekannya bukanlah manusia pertama yang mereka temui. Bagaimanapun juga, Indira Candrakirana telah tinggal di dalam Kapal Induk Velrakis selama beberapa tahun. Mungkin mereka telah mempelajari bagaimana caranya agar mereka dapat memenuhi kebutuhan biologis Indira, seperti nutrisi dalam makanan dan waktu istirahat yang dibutuhkan.


Memikirkan tentang Indira membuat Tika berpikir tentang Varka—Varka, yang seorang setengah manusia, anak Indira dan pemimpin para penghuni Velrakis yang seorang makhluk luar angkasa. Entah kenapa Tika tidak dapat berhenti memikirkannya; Varka merupakan sebuah enigma, sebuah misteri yang ingin Tika pelajari lebih dalam…


… tentunya bukan karena wajahnya yang tampan ataupun fisiknya yang sangat indah dipandang mata. Pun bukan karena caranya membawa dirinya yang penuh dengan rasa percaya diri. Tentu saja bukan!


Ya ampun… pikir Tika. Ia terdengar seperti remaja yang sedang jatuh cinta.


Tika menghela napas, sebelum pada akhirnya turun dari tempat tidurnya dan berjalan menuju ke kamar mandi yang telah disediakan, sembari berusaha merasionalisasikan perasaannya. Mungkin ia penasaran terhadap Varka karena ia ingin mengenalnya lebih dekat—hanya sebagai seorang teman. Tidak lebih.


Ia merasa lebih segar setelah mandi dan pikirannya pun tidak lagi melantur kemana-mana. Setelah berdandan rapi dan mengenakan seragam Lembaga Antariksa Bumi, ia pun berjalan keluar dari kamarnya---


— dan seketika menabrak Varka yang berdiri di depan pintunya.


“Ya ampun, maaf!” Tika membungkuk malu seraya mengusap-usap wajahnya—wajah yang secara tidak sengaja mencium dada Varka yang bidang.


Rasanya seperti menabrak sebuah pintu.


“Saya yang harusnya minta maaf. Saya tidak seharusnya berdiri persis di depan pintu”, Varka berkata—bergumam, lebih tepatnya. Wajahnya yang biru merona keunguan. “Uh. Saya hanya ingin memberitahu, anggota kontingen yang lain sudah siap.”


Benar saja, rekan-rekan Tika sudah menunggu di sofa di tengah-tengah ruangan. Indah dan Bayu sedang menjelaskan tentang bayi kembar kepada Avamar, yang terlihat serius mendengarkan penjelasan mereka.


“Jadi, begitulah. Kami berdua lahir pada saat yang hampir bersamaan”, pungkas Bayu. “Bagaimana dengan Anur Arta? Apakah kalian juga bisa melahirkan bayi kembar?”


“Setiap pasangan Anur Arta hanya boleh menetaskan satu telur saja, untuk mengurangi populasi di dalam Kapal Induk”, Avamar menjelaskan, setelah si kembar selesai. “Jika ada kelebihan telur, maka akan dihibahkan kepada pasangan yang tidak dapat memproduksi telur.”


“Sebentar, sebentar. Bangsa kalian bertelur dan bukannya melahirkan?” tanya Profesor Ratri. “Lalu bagaimana dengan—”


Pertanyaan Profesor Ratri berakhir saat beliau melihat Varka, yang berjalan mengiringi Tika ke tengah ruangan. Varka memiringkan kepalanya dengan anggun, sebelum menjawab pertanyaan Profesor Ratri.


“Rekayasa genetik”, ujarnya tanpa menunggu Profesor Ratri menyelesaikan kalimatnya. “Prosesnya sangatlah sulit dan rumit, namun setelah beberapa tahun, ibunda saya dapat mengandung secara normal… untuk ukuran manusia.”


Bayu dan Profesor Ratri tampak penasaran, namun Avamar berdiri dan menyambut kedatangan Tika dengan senyum sopan.


“Berhubung kita semua telah berkumpul, marilah kita bersama-sama berangkat menuju ke Faset Keluarga Kerajaan. Yang Terluhur Maharaja Velandar telah menunggu”, katanya.


Avamar dan Varka pun memandu Tika dan rekan-rekannya menuju ke stasiun yang sama dengan kemarin. Namun kali ini, gerbong kereta yang telah menunggu mereka tampak jauh lebih mewah, dengan dekorasi pola-pola geometris yang rumit. Dua anggota Velrakis-Aran dan empat robot penjaga mengikuti mereka masuk ke dalam gerbong kereta.


Setibanya di Faset Keluarga Kerajaan, mata Tika seketika membelalak.


Seperti berada di Sea World, mereka berjalan melalui sebuah lorong yang menembus sebuah akuarium raksasa. Aneka hewan laut berwarna-warni berenang-renang bebas, dan beberapa dari mereka berpendar seperti lampu-lampu berbentuk aneh yang hidup. Seekor hewan berukuran raksasa melintas di atas kepala mereka, sirip-siripnya yang lebar membuatnya terlihat seperti sebuah pesawat terbang. Tika dan rekan-rekannya hanya dapat berdecak kagum melihat hewan-hewan laut tersebut.


Seorang Anur Arta berpakaian jubah berkerah tinggi dan berambut putih seperti sinar bulan duduk di salah satu kursinya. Beliau pastilah Maharaja Velandar, ayah Varka, sekaligus pemimpin Kapal Induk Velrakis. Ini merupakan kedua kalinya Tika bertemu dengannya.


Empat belas bulan yang lalu, Tika dan rekan-rekannya dibawa untuk bertemu dengan Maharaja Velandar. Tidak banyak yang mereka bicarakan, namun sang maharaja sangatlah antusias untuk dapat mempelajari umat manusia. Sekarang, setelah Tika tahu bahwa ia pernah menjalin hubungan romantis dengan Indira, yang merupakan seorang manusia, antusiasmenya menjadi masuk akal.


Avamar melangkah mendekati Sang Maharaja, namun alih-alih memberi salut seperti yang Tika lihat sebelum-sebelumnya, ia menempelkan telapak tangannya ke telapak tangan Sang Maharaja. Gestur itu tampak intim, seperti sebuah ciuman. Sang Maharaja pun tersenyum.


“Ayahanda”, Varka berkata, memecah kesunyian dengan canggung.


Alih-alih menjawab, Sang Maharaja berdecak dan mengedikkan kepalanya. Varka merengut dan mengurai kepangan rambutnya, sebelum kemudian duduk di sebelah kiri Sang Maharaja dengan bersungut-sungut. Sang Maharaja pun tersenyum puas dan membelai rambut anaknya dengan lembut.


Pada akhirnya Sang Maharaja mengarahkan perhatiannya kepada Tika dan rekan-rekannya.


“Selamat datang kembali di Kapal Induk Velrakis, tamu-tamu sekalian yang terhormat, dan silahkan duduk”, katanya. Suaranya lebih berat ketimbang Varka dan ia terdengar seperti orang yang sudah sangat berumur.


Tika dan rekan-rekannya pun duduk sesuai dengan tempat duduk yang telah disediakan.


Komandan Jonathan duduk persis di seberang Maharaja Velandar, dengan Profesor Arga duduk di sebelah kanannya dan Profesor Ratri di sebelah kirinya. Bayu duduk di sebelah Profesor Arga, sedangkan Indah duduk di sebelah Profesor Ratri. Tika menarik napas dengan gugup, sebelum kemudian duduk di satu-satunya tempat duduk yang tersisa, di sebelah kiri Varka.


“Anda tentunya telah bertemu dengan istri saya, Avamar, dan buah hati saya satu-satunya, Varka”, kata Sang Maharaja. Avamar tersenyum dan sekali lagi menempelkan telapak tangannya ke tangan Sang Maharaja.


“Terima kasih telah bersedia menerima kami ke dalam kapal induk anda, Yang Mulia”, Komandan Jonathan membalas. “Mudah-mudahan, pertukaran ini dapat berarti banyak untuk kita semua.”


“Tidak masalah, Komandan. Kami sungguh bahagia dapat menerima Anda sekalian”, kata Maharaja Velandar.


“Mudah-mudahan akomodasi yang kami sediakan dapat mencukupi kebutuhan-kebutuhan Anda sekalian”, Avamar turut berkata.


“Akomodasi yang Anda sediakan lebih dari cukup, Yang Mulia”, balas Komandan Jonathan, membuat Avamar dan Sang Maharaja tersenyum puas. Mereka pun kembali saling menyentuhkan telapak tangan mereka.


Tika dan rekan-rekannya tidak tahu harus berkata apa melihat Sang Maharaja dan Avamar saling bermesra-mesraan. Sementara itu, Varka mendengus dan mengerlingkan matanya; ia jelas-jelas terlihat tidak nyaman. Ingin rasanya Tika meraih tangannya untuk menenangkannya. Namun melihat cara kedua Anur Arta di hadapannya bermesraan, sepertinya itu bukanlah hal yang baik untuk dilakukan. Bisa-bisa Varka salah tangkap…


Untungnya Tika dapat mengalihkan perhatiannya pada makanan yang menggunung di hadapannya. Semua makanan yang disajikan terlihat mengagumkan sekaligus aneh luar biasa. Seekor hewan bercangkang spiral yang berukuran lebih besar dari seekor ayam terhidang di tengah-tengah meja, dikelilingi oleh roti (?) berbagai bentuk dan berwarna-warni, serta dedaunan lebar berwarna putih. Di sekelilingnya, piring-piring tertata rapi membentuk sebuah lingkaran, masing-masing berisikan makanan yang belum pernah Tika lihat sebelumnya. Baunya pun sangat menggoda selera, membuat Tika ingin segera meraih salah satu makanan yang dihidangkan di hadapannya.


Pelayan yang membantu mereka menggunakan sebuah tusuk metalik berbentuk spiral untuk mengambil daging hewan bercangkang tersebut dan menyajikannya di piring mereka masing-masing. Saat itulah Tika menyadari bahwa mereka tidak diberikan peralatan makan satu pun. Bingung, Tika akhirnya memilih untuk mengamati Varka, bagaimana cara ia makan, dan berharap untuk menirunya.


Varka menggunakan tangannya untuk menggulung sepotong daging dengan selembar daun putih di hadapannya, sebelum akhirnya menggigitnya. Akhirnya paham apa yang harus dilakukan, Tika pun menirunya tindakannya, langkah demi langkah.


Seketika, rasa asin-manis-gurih meledak di mulutnya. Tekstur daging hewan bercangkang yang lembut terasa seperti lumer di lidahnya, membuatnya ingin memakannya lagi dan lagi.


“Ripika merupakan salah satu makanan tradisional kaum Anur Arta yang pernah nyaris punah karena langkanya bahan-bahan utama pembuatnya”, Avamar menjelaskan. “Namun tidak lagi, setelah kami mulai membudidayakan kvell dan daun vloja di dalam kapal induk.”


Percakapan tentang aneka kuliner di Kapal Induk Velrakis pun mengalir sembari mereka makan. Tika mendengarkan dengan seksama penjelasan Avamar dan Maharaja Velandar tentang makanan favorit mereka masing-masing, dan bagaimana cara membuatnya. Walaupun Tika tidak terlalu mengerti tentang proses masak-memasak, sungguh menarik sekali mendengarkan tentang kuliner luar angkasa!


Kendatipun demikian, Tika tidak bisa tidak memperhatikan bahwa Varka terlihat murung selama percakapan berlangsung. Sesekali, ia memandang ke arah Sang Maharaja, sembari mengernyit aneh. Ia terlihat seperti ingin berkata sesuatu, namun entah mengapa memutuskan untuk tidak melakukannya.


Pada akhirnya, santap pagi tersebut pun selesai, dan Varka terlihat bersemangat untuk melanjutkan tugasnya mengawal Tika dan rekan-rekannya. Ia melompat bangkit dari tempat duduknya seraya kembali mengepang rambutnya, sementara Profesor Arga dan Komandan Jonathan berbasa-basi untuk yang terakhir kalinya dengan Maharaja Velandar.


Setelah semuanya selesai, Avamar pun memandu Tika dan rekan-rekannya kembali ke stasiun.