Blank

Blank
Episode 15



Hujan turun rintik-rintik di Kota Malang dan kabut pun menggantung di udara, membuat semuanya menjadi semakin dingin. Di kejauhan, Tika tidak dapat melihat pemandangan gunung yang biasanya menghiasi cakrawala di balik pepohonan. Semuanya berselimut kabut putih. Tika menarik napas dalam-dalam, membiarkan udara yang dingin menggigit mengisi paru-parunya, sebelum menyesap teh panas menyengat di gelas yang dipegangnya.


“Saya tidak paham bagaimana kamu bisa duduk-duduk di luar di cuaca sedingin ini”, kata Varka, sebelum menduduki kursi rotan di sebelah Tika. Ia mengenakan jaket tebal, sarung tangan, dan syal. Ujung hidungnya berwarna keunguan akibat udara yang dingin. Ia menguap dan merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.


“Dibandingkan suhu di negara-negara subtropis di musim dingin, segini sih belum ada apa-apanya”, balas Tika.


Ia teringat saat terakhir kali pergi ke Houston, Texas, untuk menjalani pelatihan astronot di sana. Memang sih, musim dingin di Texas tidak sedingin di Alaska, misalnya. Namun tetap saja, musim dingin di sana jauh lebih dingin daripada musim hujan di Kota Malang.


“Saya masih tidak paham bagaimana manusia bisa memilih untuk bertahan di cuaca ekstrim. Sepertinya buang-buang tenaga saja”, Varka menggerutu. “Tapi kemampuan beradaptasi itulah yang membuat manusia menjadi unik.”


“Menurutmu kami unik?” tanya Tika, setengah tidak percaya. Begitu banyak jenis makhluk luar angkasa yang hidup di luar sana, dan Varka berkata umat manusia itu unik?


“Tidak banyak makhluk hidup yang bisa hidup di rentang suhu yang luar biasa besar seperti kaum manusia”, jawab Varka. “Dengan peralatan yang memadai, umat manusia bisa hidup dengan nyaman dari suhu minus empat puluh derajat Celcius sampai empat puluh derajat Celcius. Itu belum termasuk suhu ekstrem seperti di planet lain. Itu sungguh luar biasa.”


“Bagaimana dengan kaum Anur Arta?” tanya Tika. “Bukankah kalian makhluk berdarah dingin? Seharusnya kalian bisa beradaptasi lebih baik daripada kaum manusia, bukan?”


“Hmm… metabolisme kami menurun drastis di suhu dingin, jadi yah… kami tidak bisa tinggal di tempat dingin”, jawabnya, lalu menguap lagi. “Maaf. Tempat ini membuat saya mengantuk terus-terusan.”


“Ya ampun”, gumam Tika, seraya menggelengkan kepalanya dan memberikan jaket yang dikenakannya kepada Varka. Varka pun menggunakannya seperti sebuah selimut.


Varka menarik napas dalam-dalam, sebelum melirik ke arah gelas yang dipegang Tika. “Itu teh, ya? Boleh minta?” tanyanya.


Tika pun memberikan gelas yang dipegangnya kepada Varka, yang menyesapnya perlahan. Tika menyandarkan kepalanya di bahu Varka yang kokoh, dan keheningan yang nyaman pun menggantung di antara mereka. Untuk sesaat, ia mengira Varka telah ketiduran di kursi rotan yang mereka duduki, namun saat Tika melirik ke arahnya, ia melihat bahwa Varka sedang memandang kosong ke kejauhan.


Tika penasaran apa yang sedang dipikirkannya, namun ia tidak mau terlalu mempermasalahkannya. Apapun yang ia pikirkan, Tika sudah merasa nyaman hanya dengan berbagi kebersamaan dengan Varka seperti ini.


Setelah selesai semua urusan dengan Lembaga Antariksa Bumi, Tika dan Varka mengambil cuti selama sebulan untuk pulang ke kampung halaman Tika di Kota Malang. Mereka naik pesawat terbang kecil yang langsung menuju ke Bandara Abdul Rachman Saleh, dan dari sana naik taksi elektronik menuju ke rumah orangtua Tika di sebuah kompleks perumahan di Kota Malang.


Orangtua Tika sangat terkejut saat mereka mendapati bahwa putri mereka satu-satunya berpacaran dengan seorang makhluk luar angkasa, tapi mereka dapat dengan cepat menyesuaikan diri. Mereka pun mengizinkan Varka untuk tinggal di rumah mereka yang mungil. Lebih baik begitu daripada Tika dan Varka menginap bersama di sebuah hotel, demikian alasan ayah Tika. Tika pun bersyukur kedua orangtuanya mau menerima Varka apa adanya.


Tika sangat lega dapat bertemu kembali dengan orangtuanya. Lebih dari tiga tahun telah berlalu sejak terakhir kali Tika pulang ke rumah orangtuanya. Tika sama sekali tidak bisa pulang ke kampung halamannya saat sedang mempersiapkan dirinya untuk berangkat ke Planet Pluto, dan sebelum itu, ia sibuk dengan berbagai misi untuk memenuhi jam terbangnya. Kendatipun, ia merasa sangat beruntung karena masih dapat mengunjungi kedua orangtuanya, tidak seperti Varka yang telah kehilangan ibunya dan memiliki hubungan yang rumit dengan ayahnya.


Tika masih belum dapat melupakan pertemuan terakhir mereka dengan Maharaja Velandar, yang merupakan sosok yang sangat mengintimidasi. Ia tahu bahwa Sang Maharaja sudah tidak lagi berkeinginan untuk menjajah Bumi, namun Tika tidak tahu apakah Sang Maharaja berkata jujur.


Tika masih terus saja bermimpi buruk tentang Bumi diserang bukan hanya oleh Kapal Induk Velrakis, tetapi juga makhluk luar angkasa lainnya. Bahkan terakhir kali ia bermimpi ia tidak dapat menyelamatkan kedua orangtuanya saat makhluk luar angkasa berwujud aneh menyerang Bumi.


Yah… mungkin salah satu alasan kenapa Tika bersikeras untuk pulang ke rumah orangtuanya adalah untuk memastikan bahwa mereka baik-baik saja, bahwa mimpi buruknya hanyalah mimpi konyol yang tidak mungkin terjadi.


“Kartika”, Varka berkata tiba-tiba, memecah keheningan.


“Hmmm?” gumam Tika.


“Akhir-akhir ini, saya berpikir… mungkin, jika memungkinkan, saya ingin bergabung kembali dengan Velrakis-Aran”, kata Varka. Ibu jarinya mengusap-usap punggung tangan Tika dengan lembut.


“Kamu mau pergi?” Tika menegakkan dirinya dan menatap ke arah Varka. Rasa takut bercampur sedih berpusar di dadanya. “Bagaimana denganku? Dengan kita?”


“Itulah yang masih membuat saya ragu-ragu”, jawab Varka. “Saya tidak ingin meninggalkanmu.”


“Oh…” Tika tidak tahu harus berkata apa. Ia pun merasa tidak enak karena sudah membuat Varka ragu-ragu, tapi ia juga tidak ingin kehilangan Varka.


“Saya tidak ingin meninggalkan Bumi. Saya… saya suka di sini”, kata Varka sembari memandang ke arah pegunungan yang terselimuti kabut putih. “Tapi saya memiliki tugas sebagai seorang Velrakis-Aran. Saya… saya bingung…”


Tidak… itu tidak benar. Tika tahu ia harus berbuat apa. Ada satu cara agar mereka bisa tetap bersama. Namun rasa takut mencengkram di dadanya—rasa takut akan luar angkasa yang penuh dengan marabahaya. Tika tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya, bahkan di saat ia menjalani Misi Eksplorasi Jupiter yang penuh dengan bahaya, dan itu membuatnya takut.


Mungkin karena ia tahu sekarang bahwa luar angkasa dipenuhi dengan kehidupan—kehidupan yang tidak semuanya ramah. Tidak semua makhluk luar angkasa ingin hidup damai berdampingan dengan umat manusia, dan itu bukanlah sebuah masalah yang besar. Umat manusia bahkan belum dapat keluar dari Tata Surya mereka sendiri. Jadi, kemungkinan mereka bertemu dengan makhluk luar angkasa lainnya sangatlah tipis.


Namun cepat atau lambat, itu semua akan berubah. Tika tahu Indah dan rekan-rekannya di bagian astromekanika milik Lembaga Antariksa Bumi sedang berusaha untuk menciptakan pesawat yang dapat melintasi alam semesta jauh lebih cepat daripada pesawat yang mereka miliki selama ini, dengan meneliti pesawat milik Varka.


Cepat atau lambat, manusia akan dapat menempuh alam semesta dan bertemu makhluk-makhluk luar angkasa, yang mungkin saja tidak bersahabat. Bagaimana kalau mereka terlibat dengan perang antarbintang yang tidak mereka ketahui? Bagaimana kalau Bumi dihancurkan oleh makhluk luar angkasa? Lalu mereka akan berakhir seperti penghuni Kapal Induk Velrakis.


“Kartika…?” suara Varka menarik Tika keluar dari pemikirannya yang berbelit-belit.


“Aku tidak akan menghalangimu jika itu memang yang kamu mau, Varka”, Tika berkata sembari memeluk dirinya sendiri. “Aku hanya ingin kamu bahagia.”


“Sebenarnya… saya berpikir untuk mengajakmu”, balas Varka. “Dengan begitu, kita tidak perlu berpisah.”


“Luar angkasa bukan untukku”, Tika mengakui pada akhirnya. Berat sekali untuk dapat mengakuinya secara terbuka, namun Tika merasa lebih lega setelah mengucapkannya. Seperti memuntahkan racun yang telah tersimpan lama di dalam dirinya.


“Kau takut dengan luar angkasa”, tebak Varka, suaranya terdengar cemas. Tika merengut. “Hei, tidak apa-apa. Apakah rasa takut ini terlahir dari insiden di Velrakis?”


Tika mengangguk, namun ia tidak berkata apa-apa. Ia tidak tahu harus berkata apa.


“Tidak apa-apa, Kartika”, kata Varka lembut. Ia pun memegang kedua tangan Tika dan mengeluskan ibu jarinya dengan lembut di punggung tangan Tika. “Jika kau tidak ingin ikut, tidak apa-apa. Aku tidak akan meninggalkanmu. Tapi, pikirkanlah baik-baik, Kartika. Apakah rasa takut itu sepadan dengan kepuasan setelah melihat alam semesta yang maha luas ini?”


“Aku tidak tahu…” jawab Tika jujur.


“Satu perjalanan”, kata Varka. “Ijinkan aku mengajakmu dalam satu perjalanan ke luar angkasa. Tidak usah jauh-jauh, ke tata surya yang dekat-dekat saja. Ijinkan aku menunjukkan padamu bahwa tidak semua hal di alam semesta ini jahat. Ada hal-hal baik yang tersembunyi di antara bintang-bintang di luar sana. Hal-hal yang tidak akan pernah kau lupakan.”


Tika masih tidak percaya, walaupun ia sungguh-sungguh ingin percaya.


“Apakah kau percaya padaku?” tanya Varka pada akhirnya.


Tika teringat ucapan Varka yang serupa saat ia membawa Tika keluar dari Istana Kerajaan Velrakis malam-malam. Ia teringat, saat itulah mereka menjadi lebih dekat.


“Aku percaya padamu”, jawab Tika. “Apa kamu benar-benar ingin aku pergi bersamamu?”


“Tentu saja”, jawab Varka. “Kalau kau tidak menyukainya… yah, mungkin kita berdua bisa tinggal di Bumi, sambil mengurus ladang kopi milik ayahmu.”


Tika tertawa mendengar candaan Varka. Namun kemudian ia sadar bahwa Varka sepenuhnya serius. Ia rela meninggalkan tugasnya sebagai seorang Velrakis-Aran, jika itu memang yang ingin Tika inginkan.


Ia ingin mempercayai Varka. Ia memang percaya pada Varka. Lagipula, Varka ada benarnya juga. Mungkin ia tidak harus takut terhadap apa yang ada di luar sana. Mungkin ia dapat melihat sesuatu yang lebih menakjubkan ketimbang sebuah kapal luar angkasa berukuran raksasa di atas cakrawala Pluto yang membeku. Mungkin ia dapat melihat apa yang sesungguhnya ada di luar sana, di luar Tata Surya mereka.


Dan mungkin, mungkin semuanya akan baik-baik saja.


“Baiklah kalau begitu…” jawab Tika dengan penuh keyakinan.


“Kau tidak akan menyesalinya”, balas Varka.


Tika pun tersenyum. Ya, semuanya akan baik-baik saja.