
Tika tidak bisa tidur.
Sering ia mendapati dirinya kesulitan tidur, terutama jika ada hal-hal yang dipikirkannya—dan saat ini, ia sedang memikirkan tentang kehidupannya di Kapal Induk Velrakis.
Dua minggu telah berlalu sejak Tika dan rekan-rekannya tiba di Kapal Induk Velrakis, dan Tika sungguh menikmati semua hal yang dialaminya. Banyak hal menarik yang dilihat dan dipelajarinya selama berada di Kapal Induk Velrakis. Ia bahkan mendapatkan kesempatan untuk mencoba simulasi pesawat luar angkasa yang biasanya digunakan oleh pilot-pilot Velrakis-Aran berlatih. Awalnya ia kesulitan karena belum terbiasa dengan alat-alat pengendali yang rumit, namun pada akhirnya ia bisa menerbangkan pesawat simulasi tersebut tanpa menabrak asteroid sekali pun.
Tika berguling di ranjangnya, matanya berkedip-kedip menatap langit-langit kamarnya. Pada akhirnya, ia pun menyerah untuk mencoba tidur dan memutuskan untuk keluar dari kamar tidurnya.
Di ruang tengah, ia mendapati Varka duduk seorang diri. Ia sedang membaca sesuatu di tablet di tangannya. Varka menoleh ke arah Tika, tatapannya intens, dan Tika dapat merasakan wajahnya merona merah. Namun Tika memberanikan dirinya dan berjalan mendekati Varka, sebelum akhirnya duduk di sofa di seberangnya.
“Tidak bisa tidur?” tanya Varka.
Tika menggeleng pelan, sebelum menoleh ke arah pemandangan malam Velrakaris yang menakjubkan di jendela. Lampu-lampu sorot menyinari bangunan-bangunan, dan pesawat-pesawat kecil terbang lalu-lalang. Di kejauhan, lampu-lampu berkelap-kelip seperti bintang berwarna-warni.
Kota yang tidak pernah tidur, pikir Tika. Seperti kota-kota megapolitan di Bumi, Velrakaris pun tidak pernah mati.
“Waktu berjalan cepat sekali di Velrakis”, cetus Tika, memecah keheningan. “Banyak sekali yang bisa dilihat dan dipelajari. Rasanya sayang kalau waktu dipakai tidur.”
“Anda butuh istirahat”, sahut Varka.
“Iya sih…”
Keheningan yang nyaman kembali menyelimuti mereka berdua. Tidak masalah; Tika menikmati keheningan yang ia bagi bersama Varka.
“Jika Anda tidak bisa tidur”, cetus Varka tiba-tiba. “Maukah Anda melihat-lihat Velrakaris di malam hari?”
“Sekarang?” tanya Tika, menoleh ke arah Varka.
Varka mengangguk.
“Saya pakai sepatu dulu”, kata Tika penuh semangat. Ia pun beranjak dari sofa dan menuju ke kamarnya, mengambil sepatu kets yang tersimpan di dalam tas yang dibawanya, dan memakainya, sebelum kembali ke ruang tengah, dimana Varka sudah menunggu di dekat pintu. “Yuk.”
Alih-alih berjalan menuju ke stasiun yang biasa mereka gunakan, Varka memandu Tika melalui sebuah lorong yang belum pernah dilihatnya sebelumnya. Lorong itu membawa mereka menuju sebuah pintu gerbang kecil yang mengarah ke sebuah taman yang indah. Aneka pohon berdaun putih dan semak-semak beraneka warna tumbuh di kanan-kiri jalan setapak. Tika berjalan mengikuti Varka, sebelum akhirnya mereka tiba di tepi taman. Sebuah dinding yang kokoh menghalangi jalan mereka.
“Jalan buntu?” tanya Tika.
Alih-alih menjawab, Varka mengetukkan tangannya ke dinding dalam pola ritmik yang rumit, sebelum akhirnya sebuah lubang terbentuk di dinding. Seketika, angin kencang menyapu rambut Tika, membuatnya memekik kaget.
Tika lupa bahwa Istana Kerajaan melayang di atas Velrakaris.
“Yuk”, kata Varka, seraya menyodorkan tangannya. Tika memandangnya seakan ia sudah gila.
“Gimana caranya kita turun?! Tingginya berpuluh-puluh meter!” pekik Tika.
“Apakah Anda percaya pada saya?” tanya Varka sembari tersenyum lebar.
“Aku percaya, tapi—” kalimat Tika terputus saat Varka menariknya melompat.
Seketika, gaya gravitasi menarik mereka jatuh dari ketinggian. Tika memekik dan mencengkram bahu Varka erat-erat, namun ia masih dapat merasakan kedua lengan Varka yang kokoh melingkar di pinggangnya, seakan menolak melepaskannya.
Saat itulah Tika merasakan sesuatu yang berbeda. Ia pun memberanikan diri membuka matanya yang menutup—kapan ia menutupnya, ia juga tidak tahu—dan ia pun menyadari bahwa mereka tidak lagi jatuh ke bawah. Alih-alih, mereka berdua melaju di udara, mengitari bangunan-bangunan pencakar langit yang menjulang tinggi.
“A-apa—? Gimana—?” Tika tergagap, masih belum dapat mempercayai matanya.
“Sepatu terbang”, jawab Varka santai. Tika pun melirik ke bawah dan melihat sinar keunguan menyala dari sepatu yang Varka gunakan. Namun saat ia menyadari betapa tingginya mereka dari permukaan tanah, Tika kembali menyembunyikan wajahnya di leher Varka.
Pada akhirnya, mereka mendarat di sebuah taman, tidak jauh dari Istana Kerajaan. Seketika, Tika pun melepaskan cengkramannya yang erat dari bahu Varka. Kakinya yang masih lemas dan gemetar tidak dapat menyangga tubuhnya, dan Tika pun jatuh terduduk di tanah yang berumput.
“Kamu tuh—! Dasar—!” Tika tidak tahu bagaimana harus menyelesaikan kalimatnya.
“Maafkan saya. Saya pikir Anda akan menyukainya”, kata Varka, walaupun ia tidak terdengar sepenuhnya menyesal.
Ingin rasanya TIka mendampratnya, namun pada akhirnya ia tidak bisa melakukannya. Apapun alasannya, ia tahu Varka tidak bermaksud buruk. Memang sih, Tika bakal lebih menyukainya, kalau saja seandainya Varka memperingatkannya lebih dulu. Yang dilakukan Varka tidak ada bedanya dengan olahraga ekstrem yang memicu adrenalin, sesuatu yang Tika sendiri sukai.
Ia pun menarik napas panjang, sebelum pada akhirnya berkata, “Lain kali, peringatkan dulu. Jangan asal begitu. Kukira kita bakal jatuh menghantam tanah. Jantungku hampir copot rasanya.”
“Lain kali?” goda Varka sambil tersenyum, membuat wajah Tika memerah. Alih-alih menjawab, ia memilih untuk mendorong Varka, yang justru membuat Varka makin tertawa geli.
Varka mulai berjalan, dan Tika pun mengikutinya. Saluran air yang bergemericik mengalir di kanan-kiri jalan setapak yang mereka lalu, dan tanaman-tanaman air yang beraneka warna tumbuh di tepi-tepinya. Semak-semak bunga dan pepohonan menghiasi taman, dan lampu-lampu gemerlap menggantung dari ranting-ranting pohon, menerangi jalan.
“Dimana kita sekarang?” tanyanya, berusaha mengalihkan perhatiannya dari pengalamannya nyaris mati.
“Sebuah taman, di dekat Kebun Raya dan Museum Agung”, jawab Varka, menunjuk ke arah bangunan yang familier. “Saya dengar Anda ingin kembali lagi ke Museum Agung, jadi… yah…”
Tika tidak tahu harus berkata apa; alih-alih, ia pun bertanya, “Memangnya malam begini, museumnya tidak tutup?”
“Tentu saja tidak! Bagaimana kalau ada orang yang ingin belajar malam-malam?” balas Varka. “Memangnya museum di Bumi tutup kalau malam?”
Tika mengangguk, kebingungan.
“Sungguh aneh sekali”, gumam Varka, sama bingungnya.
“Tunggu sebentar, di sini juga ada Kebun Raya?” tanya Tika, saat mereka melewati sebuah jembatan yang melengkung.
“Oh, ya. Kebun Raya Velrakaris”, jawab Varka, seraya menunjuk ke arah sebuah bangunan berbentuk kubah yang berada di seberang Museum Agung. “Kebun Raya paling cocok dikunjungi malam hari.”
“Kenapa begitu?” tanya Tika.
“Saya tidak bisa menjelaskannya…” Varka berkata sambil menggelengkan kepalanya. “Bagaimana kalau Anda melihatnya sendiri?”
Tika pun terdiam. Di satu sisi, ia ingin mengunjungi Museum Agung lagi untuk mempelajari hal-hal yang belum sempat dipelajarinya, saat pertama kali Tika mengunjunginya; namun di sisi lain, ia penasaran dengan ucapan Varka. Tika belum pernah pergi ke kebun raya seumur hidupnya, karena ia tidak terlalu tertarik dengan tanaman. Tanaman ya tanaman… tidak ada menarik-menariknya dibandingkan dengan luar angkasa yang luas. Tapi ini bukan tanaman Bumi, dan dari apa yang ia lihat sekilas, tanaman-tanaman di Kapal Induk Velrakis terlihat berbeda dari tanaman yang ada di Bumi.
“Oke, saya jadi penasaran”, kata Tika. “Apa boleh kita pergi ke Kebun Raya sekarang?”
“Tentu saja”, jawab Varka. “Mari ikuti saya.”
Mereka pun berjalan melalui taman. Mereka bukan satu-satunya pengunjung di sana; beraneka ragam makhluk luar angkasa berjalan-jalan di sekitar mereka. Mereka tidak menghiraukan Varka dan Tika sedikitpun, melainkan sibuk dengan apa yang mereka lakukan masing-masing.
Tidak lama kemudian, mereka pun sampai di depan Kebun Raya Velrakaris… yang lebih mirip dengan sebuah hutan. Bangunan berbentuk kubah yang Tika lihat tadi rupanya hanyalah salah satu bagian dari kebun raya. Tanaman-tanaman berbentuk botol menjulang tinggi di sekitar bangunan berbentuk kubah itu, membuat Tika harus mendongak untuk melihat pucuk-pucuknya.
“Mari”, kata Varka, seraya menuntun Tika melalui sebuah jalan setapak yang lebar. Di sini pun kolam-kolam dan saluran air bergemericik riuh, membuat Tika merasa lebih rileks.
Pada mulanya, tanaman-tanaman yang menghiasi kanan-kiri jalan setapak terlihat biasa-biasa saja. Memang, tanaman-tanaman tersebut memiliki daun yang berwarna-warni, bukan hanya hijau seperti tanaman Bumi. Namun Tika masih belum mengerti kenapa Varka bisa berkata bahwa Kebun Raya Velrakaris lebih cocok dikunjungi di malam hari.
Namun semakin dalam mereka berjalan, serangga-serangga seperti kunang-kunang terbang berseliweran, berkelap-kelip beraneka warna, menciptakan sebuah pemandangan seperti dunia fantasi. Biru bertemu dengan merah jambu, dan hijau bertemu dengan ungu.
Salah satu serangga mendarat di tangan Varka yang terjulur, dan ia menunjukkannya kepada Tika. “Lihat.”
Serangga tersebut sama sekali tidak terlihat seperti seekor kunang-kunang; justru lebih mirip dengan seekor kupu-kupu. Tidak seperti kunang-kunang, cahaya hijau toska yang dikeluarkannya berasal dari sayapnya yang lebar.
“Ah!” seru Tika, saat serangga tersebut kembali terbang.
“Mari”, kata Varka lagi, dan mereka pun melanjutkan perjalanan mereka.
Semakin dalam mereka berjalan, tanaman-tanaman yang tumbuh semakin terlihat aneh. Pepohonan dengan tonjolan-tonjolan aneh di batangnya, dimana sulur-sulur berdaun lebar dengan bercak-bercak berpendar tumbuh menggantung. Tanaman-tanaman berbentuk spiral yang mengeluarkan cahaya. Tanaman-tanaman berbentuk bintang raksasa yang bernyanyi. Semuanya sungguh luar biasa, dan Tika sama sekali tidak menyesal mereka pergi ke Kebun Raya malam-malam begini.
“Bolehkah saya bertanya sesuatu?” Varka bertanya tiba-tiba. Tika menoleh dari tanaman-tanaman yang bercahaya ke arah Varka. “Saya ingin— Bolehkah saya tahu lebih banyak tentang Anda?”
“O-oh? Kenapa?” Tika tersipu dan bertanya, tidak dapat menahan rasa keingintahuannya.
“Yah…” Varka menghela napas. “Anda merupakan salah satu manusia pertama yang saya temui. Saya bisa membaca Profesor Arga dan Komandan Jonathan, tapi tidak halnya dengan Anda.”
Ah, hanya sebatas rasa penasaran, rupanya. Entah kenapa Tika merasa agak kecewa.
“Hmm… saya tidak tahu apa yang membuatmu tertarik. Saya hanya… seorang pilot, itu saja”, kata Tika.
“Seorang pilot yang membawa kaumnya menuju ke ujung tata surya Anda untuk yang pertama kalinya. Sebuah pencapaian yang luar biasa”, balas Varka, dan Tika pun kembali tersipu. Memang sih, kalau seperti itu, apa yang telah dicapainya kedengarannya cukup hebat.
“Baiklah kalau begitu…” kata Tika. “Apa yang ingin kamu ketahui?”
“Hmmm… bagaimana tentang masa kecil Anda?” tanya Varka.
“Masa kecil saya biasa-biasa saja. Ayah saya memiliki bisnis ladang kopi, dan ibu saya mempunyai gerai kafe yang cukup laris, jadi masa kecil saya jauh lebih baik dari kebanyakan orang”, jawab Tika. “Sejak kecil, saya sudah bercita-cita untuk menjadi seorang astronot. Dan, ini agak memalukan, tapi saya sangat mengidolakan ibumu. Letnan Indira merupakan… sebuah sosok yang memberikan pengaruh besar dalam hidup saya. Bertemu dengan anaknya, rasanya seperti…”
“Takdir?” tanya Varka.
“Begitulah”, jawab Tika, wajahnya merona.
Varka tersenyum lembut dan tangannya meraih jemari Tika. Tika dapat melihat semburat ungu menyebar di wajah Varka.
“Saya pikir ibunda saya akan sangat tersanjung untuk dapat menginspirasi seseorang yang luar biasa seperti Anda”, kata Varka.
“Terima kasih”, balas Tika. Ia pun berjinjit dan memberikan kecupan singkat di pipi Varka yang merona. “Terima kasih sudah berkata demikian. Itu sangat berarti buat saya.”
Wajah Varka pun menjadi semakin ungu, namun ia berkata, “Sama-sama.”