
Adzan Maghrib sayup-sayup terdengar, saat Tika dan Varka tiba di depan pintu apartemen yang dihuni oleh Profesor Arga dan keluarganya. Karena beliau sudah berkeluarga, kamar apartemen beliau lebih luas ketimbang apartemen studio yang Tika tempati.
“Eh, kalian. Ayo masuk”, ajak Profesor Ratri saat beliau membukakan pintu. Tika dan Varka pun masuk ke dalam apartemen yang nyaman tersebut.
Kumis, kucing milik Indah, menyambut mereka. Ia mencium-cium kaki Tika dan Varka, sebelum akhirnya berdiri dengan kaki belakangnya dan mengeong-ngeong. “Lagi manja tuh”, kata Profesor Ratri sebelum beliau masuk ke dalam dapur.
“Oh ya? Mana sih anak manja? Siapa yang anak manja?” goda Tika sembari menggendong Kumis dan menciumi wajahnya yang bundar.
“Saya tidak tahu apakah saya harus cemburu atau tidak”, goda Varka, membuat Tika tertawa. Varka pun menggaruk dagu Kumis, membuatnya mendengkur keras. Dengkurannya mengingatkan Tika akan suara sebuah mesin.
“Profesor Arga dan Indah belum pulang, Tante?” tanya Tika.
“Belum. Sebentar lagi, mungkin”, jawab Profesor Ratri dari dalam dapur. Aroma masakan yang lezat menguar di dalam kamar apartemen tersebut.
Seakan-akan seperti terpanggil, Bayu pun keluar dari kamarnya. Ia mengenakan kaos berlogo Lembaga Antariksa Bumi dan celana pendek. Rambutnya awut-awutan seperti baru saja bangun tidur. Ia melihat ke arah Tika dan Varka dengan mata yang terlihat seperti masih mengantuk, lalu terkekeh.
“Iya deh, tahu kalo kalian pacaran. Pake baju kembaran segala”, katanya.
Saat itulah, Tika baru menyadari bahwa ia dan Varka kedua-duanya mengenakan baju berwarna putih—Tika mengenakan rok terusan warna putih dengan pola kembang-kembang, dan Varka mengenakan tunik putih dengan bawahan celana putih.
“Kebetulan yang menyenangkan”, balas Varka sembari mengedikkan kepalanya dengan anggun. Ia pun mengeluyur masuk ke dalam dapur, dan Tika dapat mendengarnya bertanya, “Ada yang bisa dibantu?”
Tika tidak bisa mendengar jawaban Profesor Ratri, karena suara beliau tertelan oleh suara memasak yang kian keras. Namun ia dapat melihat Varka membantu Profesor Ratri memotong-motong sayuran. Bagi Varka yang dibesarkan dengan teknologi replikator yang dapat menciptakan makanan dengan memencet tombol, memasak dengan menggunakan tangannya pastilah merupakan pengalaman yang unik. Tika pun tidak bisa tidak memperhatikan Varka bekerja dengan kedua tangannya.
“Ini bau apa, ya?” tanya Bayu tiba-tiba. Tika baru saja akan menjawab, namun Bayu mendahuluinya menjawab sendiri pertanyaannya dan tertawa terbahak-bahak. “Oh ya, ini bau orang yang lagi jatuh cinta. Ew. Pantas kok baunya gak enak.”
Tika mengerlingkan matanya dan bersedekap. “Oh ya? Lihat saja ya kalau nanti kamu punya pacar”, balasnya. “Paling kamu bakal jadi orang terkonyol sedunia.”
“Ew, ogah ya. Enakan jomblo seumur hidup. Di dunia ini, gak ada yang lebih mengerti diriku seperti matematika”, ujar Bayu dramatis.
“Apa perlu saya mengingatkan bahwa kamu memandangi Avamar sampai ternganga, waktu pertama kali bertemu dengannya”, kata Varka sembari berjalan keluar dari dapur. Di tangannya, ia membawa semangkuk oseng-oseng kangkung saus tiram yang baunya menguar kemana-mana.
“Dan ternyata dia sudah menikah! Jadi benar, kan, gak ada yang mengerti diriku selain matematika!” bantah Bayu.
“Tentu saja”, balas Varka kalem. Tika pun terkikik.
“Ih, curang! Dua lawan satu!” seru Bayu. “Coba kalau Indah di sini.”
“Kalau Indah di sini, jadi tiga lawan satu, Bay”, Tika mengingatkan. Ia pun berdiri dan membantu Varka meletakkan mangkuk oseng-oseng yang dipegangnya di meja. Varka masuk kembali ke dapur untuk mengambil makanan lainnya.
Bayu mengerang dan menjatuhkan dirinya kembali ke sofa, sembari menggerutu tidak jelas. Saat itulah, terdengar bunyi kunci pintu yang terbuka. Profesor Arga pun masuk ke dalam kamar apartemen tersebut, diikuti oleh Indah, Maharaja Velandar, dan Avamar.
Suara bergerompyangan mengalihkan perhatian Tika. Rupanya Varka menjatuhkan piring yang dipegangnya, dan isinya—tahu dan tempe goreng—pun berceceran ke mana-mana. Wajahnya dipenuhi ketakutan yang luar biasa dan sekujur tubuhnya bergetar, sesuatu yang belum pernah Tika lihat sebelumnya. Tika pun melangkah di antara Varka dan Sang Maharaja.
“Bolehkah saya berbicara dengan anak saya”, kata Sang Maharaja dengan kalem. “Secara pribadi.”
Tika pun membuka mulutnya untuk berargumen. Varka sangat ketakutan sampai-sampai ia gemetaran dari ujung kaki sampai ujung kepala hanya dengan melihat beliau! Bagaimana bisa beliau meminta hal itu?! Namun Varka mendahuluinya.
“Ayahanda…” gumamnya, suaranya bergetar.
“Ayo, ni’amhe”, Sang Maharaja menekan.
“Tidak mau”, jawab Varka.
Sang Maharaja mengerjapkan matanya, bingung. Varka pun melanjutkan.
“Apapun yang ayahanda katakan, akan saya ceritakan kepada Kartika”, katanya. Ia berjalan mendekati Tika dan meletakkan tangannya di bahu Tika. “Dia adalah ah’va saya. Dia berhak tahu semuanya.”
Maharaja Velandar menghela napas panjang, sebelum akhirnya mengalah. Apapun artinya ah’va, sepertinya itu merupakan sesuatu yang sangat penting dalam kebudayaan Anur Arta. Sang Maharaja pun menoleh ke arah Profesor Arga dan keluarganya, yang masih memperhatikan interaksi mereka.
“Bolehkah saya meminjam salah satu ruangan dimana saya dapat berbincang-bincang dengan anak saya dan… ah’va-nya, secara pribadi?” tanya Sang Maharaja.
Mereka pun memasuki ruang kerja beliau, dimana rak-rak buku menghiasi dindingnya, dan sebuah meja holografik berada di tengah-tengah ruangan, dengan empat kursi duduk di sekelilingnya.
“Rumah milik kaum manusia sangat… kecil”, kata Maharaja Velandar sembari duduk di salah satu kursi tersebut. Memang, kursi yang beliau duduki terlihat sangat kecil jika dibandingkan dengan ukuran tubuh beliau yang melebihi dua meter tingginya.
“Tamu-tamu kami biasanya tidak lebih tinggi dari dua meter”, jawab Tika. Ia duduk di sebelah Varka. Sang Maharaja pun terdiam. Beliau terlihat tertarik dengan koleksi buku milik Profesor Arga yang tersimpan rapi di rak-rak buku di sekitar mereka.
“Ayahanda menyebabkan kematian ibunda”, tuduh Varka tiba-tiba.
“Sesuatu yang saya sesali sampai sekarang”, balas Maharaja Velandar, wajahnya dipenuhi oleh duka yang amat mendalam.
“Penyesalan saja tidak cukup” desis Varka keras. “Bagaimana mungkin ayahanda berniat untuk menjajah planet yang ibunda rindukan? Bagaimana mungkin ayahanda berpikir itu adalah sebuah ide yang bagus?!”
“Ni’amhe…” bisik Sang Maharaja. “Saya pikir itu adalah satu-satunya cara kaum kita dapat hidup berdampingan dengan damai dengan kaum manusia. Saya pernah berpikir, kaum manusia sangatlah terbelakang. Kehadiran kaum kita dapat membawa mereka menuju ke sebuah kemakmuran yang tidak ada bandingannya!”
“Maaf, terbelakang?” Tika menyela, tidak dapat menahan kejengkelannya. “Hanya karena kaum kami belum bisa menjelajahi alam semesta seperti kaum anda, bukan berarti kaum kami tidak ada harganya! Kami adalah bangsa yang beradab dengan kebudayaan yang sangat beragam.”
“Apakah ini caranya ayahanda membujuk kaum-kaum primitif seperti kaum Jotnar dan kaum Ndalu untuk bergabung dengan Koalisi Alam Semesta?” tuduh Varka. “Dengan cara mengiming-imingi mereka dengan teknologi yang bahkan belum dapat mereka impikan? Dengan menjadi penyelamat mereka, sehingga mereka bergantung sepenuhnya pada kaum Anur Arta? Dan untuk apa? Supaya kaum kita terlihat hebat, apa betul begitu?”
Maharaja Velandar pun terdiam, matanya terbelalak.
“Kamu memang betul-betul anak ibumu…” bisiknya perlahan. “Pernahkah terbesit di pikiranmu bahwa kaum kita sebetulnya tidak punya apa-apa?”
“Setelah sebulan hidup di Bumi? Ya, hal itu sempat terbesit di pikiran saya”, jawab Varka ketus. “Kaum kita mengalami kemunduran yang sungguh signifikan. Orang-orang Bawah ada benarnya, utopia tanpa memperdulikan kesejahteraan hidup kaum lain bukanlah utopia yang sebenarnya. Kapan terakhir kali perwakilan kaum lain selain Anur Arta memimpin Kapal Induk Velrakis? Tujuh ratus tahun? Delapan ratus?”
Tika pun teringat akan percakapan Varka dengan orang-orang Bawah, lebih dari sebulan yang lalu, yang tidak dapat ia mengerti. Apakah itu yang dibicarakan oleh orang-orang Bawah? Kesempatan untuk kesejahteraan hidup? Tika merasa tidak enak karena telah menyakiti mereka, sebelum ia teringat bahwa orang-orang Bawah berniat mencelakai dirinya dan Varka.
“Saya tahu saya salah”, kata Sang Maharaja. “Saya tahu saya bersikap rasialis terhadap kaum-kaum lain. Saya juga tahu sistem yang berlaku sudah bobrok. Karena itu saya datang ke sini, untuk meminta maaf pada umat manusia. Untuk memperbaiki semuanya.”
Tika memandangi Sang Maharaja dengan tidak percaya. Apakah mungkin seseorang dapat berubah secepat itu? Sebulan baru berlalu sejak Tika meninggalkan Kapal Induk Velrakis. Di sebelahnya, Varka pun terlihat tidak percaya.
“Velrakis-Aran telah dialihfungsikan”, kata Maharaja Velandar. “Sekarang mereka bertugas untuk mencari planet-planet yang dapat kita huni, satu planet untuk satu kaum. Kau adalah salah satu anggota Velrakis-Aran. Maukah kau… membantu mereka?”
Kali ini giliran Varka yang terdiam.
“… Varka?” tanya Tika. Apakah Varka akan pergi meninggalkannya? Apakah itu berarti ia tidak bisa menemui Varka lagi?
“Ini terlalu mendadak”, jawab Varka. “Saya… menyukai kehidupan di Bumi.”
Maharaja Velandar pun menghela napas. “Saya mengerti”, katanya, seraya berdiri dari kursinya. Saat ini, beliau terlihat tua dan kelelahan. “Saya sudah dapat menduga keputusanmu ini, jadi saya… sudah membereskan kamarmu di Velrakis, untuk dibawa ke sini.”
“Oh”, gumam Varka. Matanya berkaca-kaca. Sepintas Tika mengira ia akan menangis.
“Ini”, Sang Maharaja menyerahkan sesuatu ke arah Varka. “Alat komunikasi jarak jauh. Saya ingin mendengar kehidupanmu sehari-hari di Bumi. Lalu… saya juga membawakan sebuah pesawat kecil untukmu. Jika kau berubah pikiran.”
“Saya akan membawanya ke Lembaga Antariksa Bumi untuk dibongkar”, tukas Varka. “Mereka berhak mempelajari teknologi kita, setelah semua yang mereka lalui.”
Maharaja Velandar pun tersenyum, seperti sudah bisa menduga keputusan Varka.
“Saya senang melihatmu bahagia, ni’amhe. Kehidupan di Bumi cocok untukmu”, katanya bangga, sebelum berjalan meninggalkan ruangan. Varka pun jatuh terduduk di kursi di sebelah Tika.
“Pertemuannya berjalan dengan baik”, kata Tika. “Setidaknya, tidak ada adu teriak.”
“Oh, tidak. Kami Anur Arta adalah bangsa yang terlalu beradab untuk saling adu teriak”, balas Varka sinis. “Dulu saya bangga menjadi seorang Anur Arta. Saya percaya segala hal yang saya lakukan adalah untuk kebaikan kaum Anur Arta. Tapi sekarang… saya rasa, itu tidaklah cukup.”
“Butuh waktu bertahun-tahun untuk belajar meninggalkan semua hal buruk yang secara tidak sengaja kita pelajari”, kata Tika. “Tapi tidak ada kata terlambat, Varka. Aku percaya padamu.”
“Terima kasih, Kartika”, balas Varka sembari tersenyum.
Tika pun membalas senyumannya.