
Tur mereka dimulai dengan mengunjungi sebuah museum yang berlokasi tidak jauh dari Istana Kerajaan.
Selain Varka, Maharaja Velandar memerintahkan tiga Anur Arta anggota Velrakis-Aran untuk menjaga iring-iringan mereka. Ketiga Anur Arta tersebut mengenakan seragam yang sama dengan Varka; baju hitam tanpa lengan dengan kerah berhiaskan batu-batuan beraneka warna, dan pedang sederhana yang tergantung di sabuk mereka.
Museum yang mereka kunjungi bernama Museum Agung Velrakis. Dari namanya saja sudah ketahuan bahwa museum tersebut menyimpan sejarah Kapal Induk Velrakis dan semua kebudayaan yang berada di dalamnya. Koleksinya pun sangat lengkap, mulai dari lukisan-lukisan yang menggambarkan kehidupan sehari-hari di dalam Kapal Induk Velrakis, rekaman-rekaman tiga dimensi yang merekam kejadian-kejadian penting, patung-patung hasil karya penghuni Kapal Induk Velrakis, hingga teknologi-teknologi mutakhir ciptaan para insinyur mereka.
“Walaupun planet kami telah hancur, selama kebudayaan kami masih hidup, maka kaum kami dapat hidup dengan lestari”, Avamar berkata saat mereka berjalan melintasi manekin-manekin yang memajang pakaian adat dari semua makhluk yang tinggal di dalam Kapal Induk Velrakis.
“Pelestarian ini pastilah memakan waktu yang sangat lama”, kata Profesor Ratri sambil mengamati salah satu manekin yang memajang baju adat kaum Ursii. Menurut Avamar, tidak seperti makhluk hidup pada umumnya, kaum Ursii hanya memiliki satu jenis kelamin, dan mereka berkembang biak secara aseksual—walaupun belakangan ini mereka menggunakan rekayasa genetik untuk dapat saling kawin silang untuk menambah keanekaragaman spesies mereka.
“Betul sekali”, sahut Avamar. “Seluruh prosesnya memakan waktu berabad-abad lamanya. Itu pun masih belum selesai sepenuhnya karena beberapa kebudayaan telah sepenuhnya punah.”
“Oh, tentunya pelestarian itu memakan banyak tempat, bukan? Bagaimana Anda mengatasi hal itu?” tanya Profesor Ratri lagi.
”Ah, semua yang tersimpan di dalam museum ini hanyalah sebagian kecil dari koleksi keseluruhan yang kami miliki”, jawab Avamar. “Kami menyimpannya di sebuah planetoid, untuk alasan keamanan. Kendatipun, kami masih dapat mengaksesnya melalui koneksi antarbintang di museum ini.”
“Wow”, sahut Tika kagum. “Pasti butuh waktu berhari-hari, kalau bukan bertahun-tahun, untuk bisa mengakses semuanya.”
“Jika Anda mau, Anda bisa datang lagi di lain waktu”, kata Avamar sembari tersenyum.
“Terima kasih”, balas Tika. Ia pun kembali mengamati pakaian adat kaum Anur Arta.
Masing-masing pengunjung diberikan sebuah tablet berisikan informasi tentang semua yang dipajang di dalam museum. Tika tidak terlalu terkejut saat ia mendapati bahwa tablet tersebut sudah diatur menggunakan Bahasa Indonesia, dan ia pun membaca informasi-informasi yang berada di dalamnya dengan lahap.
Rupanya, kaum Anur Arta merupakan kaum amfibi yang dapat hidup di dua alam, sehingga kota-kota besar mereka dulunya kebanyakan berada di daerah pesisir, dimana daratan dan lautan bertemu. Hal ini cukup menjelaskan mengapa Istana Kerajaan didominasi oleh kolam-kolam dengan air yang bergemericik. Mungkin untuk mengingatkan mereka akan planet mereka dulunya.
Karena mereka bernapas dengan kulit mereka, pakaian yang mereka kenakan terbuat dari bahan khusus yang dapat bertransformasi tergantung keadaan lingkungan. Saat berada di bawah air, pakaian yang mereka kenakan lebih banyak menunjukkan kulit agar mereka dapat bernapas dengan bebas; sedangkan saat berada di atas permukaan air, pakaian yang mereka kenakan dapat melindungi kulit mereka yang sensitif dari sinar matahari. Kerah baju mereka rupanya berfungsi untuk mengatur transformasi ini, walaupun modelnya dapat divariasikan sesuai dengan kesukaan pemakainya.
Baju adat mereka saat sedang berada di atas permukaan air, baik laki-laki maupun perempuan, merupakan pakaian seperti jubah tanpa lengan dengan panjang selutut dan celana seperti celana legging. Saat berada di bawah air, baju adat mereka berubah menjadi rompi terbuka tanpa lengan. Kerah baju mereka berhiaskan manik-manik yang terbuat dari bebatuan koral aneka warna. Kepala mereka pun dihiasi oleh bando manik-manik yang meriah.
Walaupun Tika bukan merupakan seseorang yang mengerti tentang bahan-bahan baju, ia pun paham bahwa bahan baju seperti ini jauh lebih modern dari yang dapat diciptakan oleh umat manusia. Ini membuatnya penasaran bagaimana sebuah baju dapat berubah bentuk sesuai dengan keadaan lingkungan, namun ia tidak tahu harus bertanya kepada siapa.
Setelah lima jam (sekitar dua jam waktu Bumi), Tika dan rekan-rekannya pun beristirahat di sebuah kafetaria di dalam museum. Varka membantu mereka memesan makanan dan minuman; rupanya, tidak semua makanan dan minuman yang tersedia di menu dapat dicerna oleh manusia. Beberapa diantaranya bahkan dapat membahayakan nyawa mereka.
“Seperti misalnya minuman khas kaum Jotnar, grelsaka, yang mengandung etilen glikol”, katanya.
“Kaum Jotnar minum etilen glikol?!” seru Bayu. Sebagai seorang ahli biologi, pantas saja jika ia terkejut. “Tunggu sebentar, bagaimana Anda tahu minuman grelsaka mengandung etilen glikol?”
“Ibunda saya pernah nyaris mati keracunan akibat meminum grelsaka”, jawab Varka, sambil tersenyum pahit. “Akibat insiden itu, saya menciptakan sebuah alat untuk mendeteksi bahan-bahan berbahaya dalam makanan dan minuman beliau. Saat itu saya berusia empat tahun.”
Ia meraih ke dalam saku celananya dan mengambil sebuah bola metalik sebesar kelereng.
“Lihat”, katanya, seraya membuka telapak tangannya. Namun alih-alih terjatuh ke atas makanan yang ada di piring di hadapannya, bola kelereng tersebut melayang sepuluh sentimeter di atasnya dan mengeluarkan cahaya biru. Beberapa detik kemudian, cahaya biru tersebut memudar dan bola kelereng tersebut memancarkan sebuah layar holografik yang berisikan bahan-bahan kimia dalam Bahasa Indonesia.
“Luar biasa”, puji Profesor Arga sembari membetulkan kacamatanya. “Anda membuat ini saat Anda berusia empat tahun?”
“Varka adalah anak yang jenius. Ia telah menciptakan beberapa penemuan sebelum akhirnya bergabung dengan Velrakis-Aran”, sela Avamar seraya membelai rambut Varka dengan lembut. “Sungguh disayangkan, memang. Padahal ia bisa saja diterima oleh Akademi Sains Velrakaris.”
Varka mendengus gusar dan menampik tangan Avamar, namun ia tidak berkata apa-apa alih-alih, ia kembali bergabung dengan Velrakis-Aran lainnya, beberapa langkah di belakang Tika dan rekan-rekannya.
Bagian museum berikutnya adalah bagian sains; dan seketika itu juga, Tika menyadari betapa mustahilnya rencana Avamar tersebut.
Sewaktu Tika kecil, setiap libur sekolah, ia selalu mengunjungi Museum Sains Kota Batu bersama kedua orangtuanya. Museum yang baru didirikan di abad kedua puluh dua tersebut merupakan wisata yang amat menarik bagi Tika. Selalu ada hal baru yang dipelajarinya di sana, yang membuatnya semakin tertarik untuk mendalami ilmu sains. Bisa dibilang, museum tersebut mendorongnya belajar semakin giat untuk mewujudkan cita-citanya menjadi seorang astronot.
Saat ini, sosok Tika kecil di dalam dirinya serasa melonjak-lonjak kegirangan. Kemanapun matanya memandang, alat-alat peraga sains yang tidak pernah terbayangkan olehnya sebelumnya duduk dengan manis di atas podium-podium metalik, siap untuk digunakan.
“Aku mau tinggal di sini”, gumam Bayu yang berdiri di sebelahnya.
“Aku juga”, sahut Indah.
“Antri dulu, anak-anak”, Profesor Arga berkata.
Untungnya, bukan Tika saja yang kagum. Setelah berdebat cukup panjang, Avamar pun akhirnya mengizinkan Tika dan rekan-rekannya untuk berkeliling di bagian sains sampai tur mereka hari itu berakhir dalam sepuluh jam (sekitar empat jam waktu Bumi). Mereka berdalih bahwa untuk dapat mempelajari teknologi di dalam Kapal Induk Velrakis, mereka harus paham dasar-dasarnya terlebih dahulu. Apalagi yang dapat mengajari mereka dengan efektif, selain museum yang dilengkapi dengan panduan tertulis berbahasa Indonesia dan seorang pemandu jenius sains seperti Varka?
Setelah berdiskusi sesaat, akhirnya mereka setuju untuk memulai tur di bagian astronautika terlebih dahulu.
Sesampainya di sana, beraneka macam model pesawat luar angkasa berbentuk unik yang dipajang di ruangan yang luas tersebut menyambut mereka semua. Di tengah-tengahnya, tentu saja, terpajang model Kapal Induk Velrakis yang dikelilingi oleh miniatur asteroid.
“Kapal Induk Velrakis. Merupakan pesawat luar angkasa tipe eksodus berkapasitas sangat besar” Tika membaca layar holografik petunjuk yang ada di sebelah model Kapal Induk Velrakis. “Kendati dibangun lebih dari sepuluh ribu tahun yang lalu, bagian-bagian kapal induk ini diperbaharui secara berkala, sehingga teknologi aslinya telah sepenuhnya diganti dengan teknologi termutakhir. Wow.”
“Gimana caranya mereka mengganti bagian-bagian vital dari pesawat luar angkasa yang sedang terbang?!” seru Indah.
“Tidak ada penjelasannya di sini”, sahut Tika sembari menggulir ke bawah artikel.
“Wow, lihat ini!” Bayu berseru. Seketika, Indah dan Tika melesat ke arah sebuah model pesawat luar angkasa aneh berbentuk seperti gurita bertangan seribu.
“Kapal Induk Kekaisaran Axocarium”, baca Tika. “Terkenal sebagai satu-satunya makhluk hidup sapien berbasis silikon yang pernah ditemui oleh Kapal Induk Velrakis, kaum Axocaria adalah kaum yang agresif. Mereka menjajah lebih dari separuh Galaksi Andromeda, sebelum akhirnya melepaskan kekuasaan mereka setelah Perang Bintang Keempat Puluh Tujuh berakhir.”
“Perangnya banyak sekali…” kata Indah sambil meringis.
“Mereka tidak benar-benar melepaskan kekuasaan mereka”, Varka berkata tiba-tiba. “Menurut kabar angin, mereka masih menguasai semua birokrasi di sektor tersebut.”
“Koalisi Alam Semesta tidak punya masalah dengan itu?” tanya Tika.
Varka mengangkat bahunya. “Yang penting mereka sudah tidak menyerang siapapun lagi.”
Tika merengut mendengar jawaban Varka, namun memutuskan untuk tidak berkata apa-apa lagi. Indah dan Bayu pun menyebar untuk melihat-lihat model-model kapal yang lain.
“Mungkin kedengarannya tidak berperasaan”, kata Varka sembari menghela napas. “Tapi Perang Bintang Keempat Puluh Tujuh merupakan perang yang sangat… destruktif. Lebih dari separuh Galaksi Andromeda dan beberapa bagian Galaksi Bimasakti tumbang di bawah kekuasaan Kekaisaran Axocarium. Bahkan mereka nyaris menghancurkan Tata Surya ini, tiga puluh tahun yang lalu.”
Tiga puluh tahun yang lalu, sewaktu mereka menyelamatkan Indira Candrakirana dari ‘musuh asing’, demikian kata Varka malam sebelumnya. Tiga puluh tahun lalu, Bumi nyaris saja jatuh ke tangan musuh asing tersebut, jika bukan karena Kapal Induk Velrakis. Tika bergidik ngeri—sebegitu dekatnya kah mereka dengan maut, tiga puluh tahun yang lalu?
“Terima kasih sudah menyelamatkan tata surya kami, walaupun kami tidak mengetahuinya”, Tika berkata pelan.
Varka pun tersenyum lebar. “Sebagai salah satu perwakilan Velrakis-Aran, saya mengucapkan ‘sama-sama.’”