
Bobby menuangkan wine di gelas, ia menghirup bau khas wine, menikmatinya.
"Wine mahal ini Nath." kata Bobby sambil memberikan segelas wine pada Nathalie
"Masa? Tumben kamu mau bagi barang mahal sama aku? Ingat nggak waktu kita umur lima belas tahun? Waktu itu papa kamu datang ke rumahku bawa coklat dari Swiss, aku udah ngiler banget kamu nggak bagi aku secuil aja, ckck.. dasar pelit!" Nathalie mengingat masa lalu mereka.
Bobby tertawa dia ingat dengan pasti kejadian yang Nathalie ceritakan barusan.
"Itu kan waktu kita masih belia Nath, sekarang aku udah banyak uang. Kamu mau aku kirimin wine ini selusin juga aku mampu Nath." Bobby menyombongkan diri.
"Aku yakin kamu mampu Bob, tapi masalahnya memang kamu bakal ikhlas habisin uang banyak buat aku?" sindir Nathalie.
Bobby tertawa.
"Cheers." Bobby mengajak Nathalie bersulang.
"Hmm.. bau wine-nya memang wangi banget Bob. Lumayan bisa bikin stres sedikit hilang."
"Nggak usah stres, jalani aja. Kalau dipecat cari kerja lain." Bobby dengan mudahnya berkata seperti itu.
PLAK!
Satu pukulan mendarat di bahu Bobby."Aw.. sakit Nath!"
"Bukan masalah dipecat atau nggak sih Bob. Uang aku banyak, kalau kurang harta mama juga banyak tinggal dijual aja. Tapi ini masalah kepuasan batin Bob. Aku senang kalau bisa membuat suatu program yang sukses dan diterima banyak orang." jelas Nathalie.
"Kalau begitu aku bakal bantu kamu bikin episode terakhir 'Dare to Date?' jadi sukses besar!"
"Bagaimana caranya?"
"Aku akan melamar Stefly saat syuting makan malam."
"Uhuk.. uhuk.." Nathalie tersedak.
"Pelan-pelan Nath."
"Bob, aku memang senang sih kalau acaraku sukses tapi itu berlebihan. Kamu sama aja membohongi publik, terutama Stefly."
"Bohong gimana? Aku serius mau melamar Stefly. Aku bakal bawa dia ke New York."
"Hah.." Nathalie menutup mulutnya karena kaget. "—kamu yakin Bob? Nggak terlalu cepat?"
"Nggak, aku yakin Nath ini yang terbaik buat Stefly. Aku nggak bisa membiarkan Stefly dalam bahaya terus."
Nathalie tersenyum bangga, Bobby sudah banyak berubah, dia menjadi lebih dewasa dalam menghadapi masalah.
...----------------...
Hari Ini adalah hari terakhir syuting 'Dare to Date?'.
Pagi hari syuting dilakukan di apartemen Bobby.
Stefly memasak makan pagi untuk dirinya dan Bobby.
Lalu mereka makan berdua.
"Enak nggak Bob masakannya?" tanya Stefly.
"Enak, udah cocok jadi ibu rumah tangga." ujar Bobby.
Pipi Stefly merona.
Siang hari syuting berlangsung di mall, Stefly dan Bobby pergi berbelanja, bermain di wahana permainan dan tak lupa berfoto di foto box.
"Kapan-kapan kita foto box lagi ya Bob, lucu banget sih ada stiker-stiker imut gini." Stefly mengomentari hasil cetak foto mereka berdua.
"Iya." jawab Bobby.
Setelah syuting di mall selesai, tempat terakhir adalah makan malam di kapal pesiar.
Dekorasi romantis dengan lampu temaram. Stefly dan Bobby sudah berganti baju.
Stefly tampak cantik dengan dres warna pink pastel dan rambut digerai, riasan wajah yang tidak menor membuat kecantikannya berlipat ganda.
Keduanya menikmati makan malam dan suasana romantis itu.
Selesai makan, pelayan membawa wine. Stefly dan Bobby bersulang menikmati wine.
"Stef ada yang mau aku sampaikan ke kamu." Bobby membuka omongan.
"Apa Bob?"
Bobby mengeluarkan sebuah kotak cincin berwarna merah marun berbentuk hati.
"Will you marry me?" Dengan suara rendah nan sexy Bobby melamar Stefly.
Stefly tidak bisa berkata apa-apa, matanya berkaca-kaca, tangannya bahkan sedikit gemetar.
"Stef aku tau ini terbilang mendadak tapi aku sungguh serius mengatakannya. Aku nggak akan membiarkanmu kesepian, aku mau kita berdua hidup bahagia selamanya." Bobby menatap mata Stefly dengan penuh kasih sayang.
"Stefly maukah kamu jadi pendamping hidupku selamanya?"
Stefly hanya mengangguk, dia mulai meneteskan air mata terharu.
Duar.. duar.. duar..
Dentuman petasan dan kembang ali membuat suasana meriah, ditambah tepuk tangan, soraka dan confetti dari semua staf produksi.
...----------------...
Tiga bulan kemudian.
New York.
"Sayang udah dong jangan ngambek, kan itu urusan pekerjaan. Lagian aku nggak ada minat sama sekali sama cewek bule." Bobby merayu Stefly yang sedang ngambek karena Bobby baru saja syuting video musik dengan wanita-wanita bule yang aduhai.
"Huft.. sabar.. sabar.. susah memang punya suami seorang rapper internasional." Stefly memanyunkan bibirnya.
CUP!
Bobby mengecup bibir Stefly.
"Buat aku kamu yang paling cantik, paling bikin aku nggak mau jauh-jauh. Kamu segalanya Stef, I Love You." Bobby mencium bibir Stefly.
...- E N D -...
...- N A L A D H I P A -...
Terima kasih yang sudah menyempatkan membaca novel ini, panjang umur dan sehat selalu.