
Bobby pintar ya cari pacar, kamu bisa ketemu wanita dengan darah super wangi ini." Si-Eun membelai rambut Stefly.
"Bibi, ada yang mau aku tanyain." Tanya Bobby.
"Soal apa?"
"Apa benar darah Stefly bisa membuat seorang vampir berubah jadi manusia?" Tanya Bobby, Si-Eun tertawa mendengar pertanyaan konyol itu.
"Ckckck.. hal seperti itu kamu percaya?"
BRAK!
Tiba-tiba pintu rumah terbuka, tiga orang vampir datang karena mencium bau darah Stefly.
"Rupanya kamu baru ada tamu ya Si-Eun?" Tanya salah satu vampir sambil berjalan mendekat. Mereka bertiga adalah vampir murni yang snagat haus akan darah manusia.
"Bobby kamu jagain Stefly, awas!" Teriakan Si-Eun sambil terbang, dia melawan dua vampir sekaligus.
Satu vampir mendekat ke Bobby dan Stefly yang mulai ketakutan. "Baunya wangi banget, ijinkan aku menikmati darahmu cantik." Kata vampir lelaki itu sambil menyeringai memperlihatkan gigi taringnya.
"Tidak akan!" Teriak Bobby.
SET
Sekejab Bobby berhasil mencekik vampir itu, menghimpitnya di tembok, emosinya meluap-luap. Bobby tidak akan membiarkan vampir lain menyentuh wanitanya.
“Ka.. kamu pintar ya cari pa..car, haha.” Ejek vampir itu sambil menyeringai.
BAM!
Bobby menggunakan kekuatan supernya membanting vampir itu ke lantai, ketika vampir itu pergi ketakutan. Bobby lalu membantu Si-Eun membantai kedua vampir itu hingga mereka juga lari ketakutan.
“Bobby berhenti!” Bentak Si-Eun.
Bobby mengatur nafas dan energinya.
“Kalau kamu terus mengeluarkan energi super mu kamu bisa cepat mati!” Si-Eun mengingatkan Bobby.
Stefly berlari lalu memeluk Bobby sambil menangis. Bobby kembali seperti semula.
“Vampir murni dan halfonix sangat suka menghisap darah manusia apalagi darah Stefly sekarang sangat wangi karena sudah tercampur zat zeronix pada darahnya.” Jelas Si-Eun.
“Betul, tapi karena rutin kamu hisap ada endapan zat zeronix yang tercampur pada darah Stefly yang membuat darahnya semakin manis. Itu yang memikat vampir mendatanginya.”
“Hah.. kalau gitu aku pulang dulu bibi.”
“Bukannya kamu beli jimat ya?” Tanya Si-Eun.
“Belum datang bibi.”
“Ch.. makanya pakai jasa kirim yang mahal biar cepat datang, kan uang kamu banyak.” Sindir Si-Eun.
“Udah bibi, harusnya hari ini datang kok.”
“Oke, semoga kalian baik-baik aja ya. Stefly kamu harus kuat menghadapi ini, demi cinta kalian.” Si-Eun mengelus lembut rambut Stefly.
“Kami pamit bibi.” Bobby membawa Stefly masuk ke mobil.
“Bob, apa aku bakal mati di tangan vampir?” Tanya Stefly tiba-tiba.
“Hush.. jangan ngomong ngawur. Aku nggak bakal biarkan mereka menyentuh kamu, jadi kamu jangan khawatir ya Stef.” Bobby memeluk Stefly.
“Tapi aku takut banget Bob, hidupku berubah genre jadi horor.”
“Kalau kita jalan sekarang ke pantai masih bakal dapat sunset, berangkat yuk.” Ajak Bobby.
Akhirnya mereka berangkat menuju pantai. Sesampainya di pantai mereka berjalan-jalan di tepi pantai, menikmati hembusan angin dan matahari yang mulai tenggelam perlahan.
“Bob, kamu suka sama aku gara-gara darah aku manis ya?” Stefly menyandarkan kepalanya di lengan Bobby.
“Nggak Stef, aku memang suka sama kamu karena kamu itu Stefly.”
Stefly tersenyum. “Walau genre hidupku jadi horor tapi ada romancenya juga sih, hehe.”
Bobby berhenti di depan Stefly, menatap dalam mata Stefly. “Genre romance action lebih seru Stef daripada romance menye-menye, ya kan?”
Stefly tertawa, Bobby selalu saja bisa membuatnya merasa senang dengan candaannya.
Bersambung...