
Semua pemain dan staf kembali ke villa. Mereka diberi waktu istirahat hingga pukul enam sore, nanti malam akan dilakukan pemilihan pasangan lagi untuk melakukan date ketiga.
Nathalie baru saja sampai di villa, dia ingin melihat bagaimana keadaan Lovely.
Tok.. tok.. tok..
“Lovely ini Nathalie, tolong dibuka ada yang harus aku bicarakan.” Nathalie mengetuk pintu kamar Lovely, tak lama sang pemilik kamar muncul. Wajahnya pucat.
‘Ada yang nggak beres nih sama Lovely.’ Batin Nathalie.
“Boleh masuk sebentar?” Tanya Nathalie.
“Emm.. iya.” Lovely benar-benar terlihat tidak ceria seperti biasa. Wajahnya pucat dan tampak tidak berdaya.
“Badan kamu gimana? Pucat gitu? Apa perlu ke rumah sakit?” Tanya Nathalie.
“Eh.. nggak kok, nggak usah. Ini cuman terlalu lelah aja.” Lovely membawa jaket menutupi perutnya.
Nathalie semakin penasaran, dia menawarkan diri memijat badan Lovely. Tapi Lovely menolaknya, tapi Nathalie tetap saja memaksa, hingga akhirnya dia berhasil menghipnotis Lovely.
Nathalie mengendus bau badan Lovely, dia kaget karena sesuatu. Nathalie pergi keluar mencari Bobby di kamarnya.
Tok.. tok.. tok.. tok..
“Bobby buka! Gawat! Aku butuh bantuanmu!” Nathalie terburu-buru mengetuk pintu kamar Bobby.
“Apa lagi sih Nath? Aku capek bangetnih, mau santai-santai dulu.” Bobby tampak lesu, tapi Nathalie tetap saja menariknya hingga sampai di kamar Lovely.
“Eh? Kamu mau menghisap darahnya Nath? Tapi kenapa dia? Bukannya kamu nggak suka darah cewek ya?” Tanya Bobby.
“Coba cium baunya, aku mencium bau yang aneh. Tapi siapa tahu aku salah.” Nathalie mendorong Bobby mendekati Lovely yang masih tidak sadar tergeletak dia kasurnya.
“Apa sih?” Bobby menuruti Nathalie dia mengendus bau badan Lovely.
“Hahhh..” Bobby menutup mulutnya karena terkejut. “Bau bayi?” Bobby memandang Nathalie.
Nathalie menepuk jidatnya, dia terlihat frustasi, mondar-mandir.
“Kenapa sih Nath? Yang hamil dia kenapa kamu yang gelisah? Kan bukan kamu yang menghamili.”
Nathalie menepuk lengan Bobby hingga kesakitan.
“Kalau sampai media tahu dia hamil bakal ramai jadi pembicaraan nih.” Kata Nathalie.
“Bagus dong? Jadi acara ini bakal banyak yang nonton.” Kata Bobby sambil sekali lagi mengendus bau badan Lovely.
“Iya sih, tapi nanti netizen pasti bakal mengkritik ku karena tidak becus mencari pemain, huft..” Nathalie berkacak pinggang.
“Eh.. hisap dulu darah dia.” Nathalie menahan tangan Bobby.
“Nggak!” Bobby menghindar.
“Buruan Bob, biar syuting berjalan lancar.”
“Kalau minta tolong yang manis sedikit kenapa Nath? Masa minta tolong kayak mau mengajak tawuran.” Bobby ingin mengerjai Nathalie.
“Heh.. nggak usah sok gitu! Aku kan bakal bantu kamu menjaga Stefly Bob, kamu harus jadi partner yang baik dong. Kita simbiosis mutualisme.” Nathalie tidak akan dikalahkan oleh Bobby.
“Hahhh..” Bobby menghela nafas kasar. Dia berjongkok lalu menghisap darah Lovely dari langan.
“Kalau hisap darah Lovely dari tangan juga Bob?” Nathalie ingin tahu.
“Nggak.”
“Hmm.. pasti dar leher ya? Biar terkesan sensual, uww..” Nathalie mencolek bahu Bobby.
“Apa sih?” Bobby menghindar. “Udah kan? Aku balik ke kamar ya.” Bobby keluar dari kamar Lovely, sedangkan Nathalie masih menunggu Lovely beberapa menit untuk observasi, memastikan zat zeronix milik Bobby bekerja di tubuh Lovely.
...----------------...
Bobby berjalan menuju kamarnya, Stefly dari arah dapur.
"Kamu habis dari kamar Lovely? Emm.. ngapain Bob?" Tanya Stefly.
Bobby tersenyum, dia tahu Stefly sedang cemburu. "Kamu juga kenapa berduaan sama Razer begitu?"
"Nggak sengaja ketemu aku mau ambil minum, Razer juga. Udah jangan mengalihkan pertanyaan deh. Ngapain kamu dari kamar Lovely?"
"Ada Nathalie juga kok, tuh." Bobby menunjuk Nathalie yang keluar dari kamar Lovely. Stefly merasa malu telah menunjukan kecemburuannya pada Bobby.
"Ada hal yang kurang baik terjadi." Kata Bobby.
"Eh.. ada apa Bob?"
"Besok aku cerita kalau udah nggak disini ya. Emm.. Stef, kamu bakal pilih siapa nanti?" Tanya Bobby.
"Rahasia dong, bye." Stefly sengaja ingin membuat Bobby penasaran, dia pergi begitu saja menuju kamarnya.
"Awas aja kalau nggak pilih aku." Gumam Bobby.
Bersambung...