
Bobby bangun pukul lima pagi, sebenarnya dia tidak bisa tidur dengan tenang. Setiap di tertidur bayangan Felix merasuki pikirannya membuatnya terbangun.
“Hahh.. gara-gara vampir sialan itu aku seperti paranoid. Hoam..” Bobby meregangkan badannya, dia menengok Stefly di kamarnya, masih tertidur pulas.
“Syukurlah kalau dia bisa tidur dengan nyenyak.” Bobby melakukan olahraga sebentar lalu dia pergi ke dapur untuk melihat bahan masakan. Bobby memutuskan membuat pasta karena bahan mentah di lemari persediaan Stefly tidak begitu banyak.
Bobby memasak dengan sedikit suara, seperti sedang melakukan syuting ASMR.
“Selamat pagi.” Sapa Stefly sambil memeluk Bobby dari belakang.
“Ya ampun Stef, ngagetin aja sih.” Bobby berpura-pura kaget padahal dia tahu karena bau darah Stefly selalu aja menarik.
“Masak pasta? Heum.. enak banget sih baunya jadi lapar.” Stefly mengambil air mineral.
“Tidurnya nyenyak Stef?”
Stefly mengangguk, “Kamu Bob?”
“Hmm..” Bobby berbohong.
“Tara.” Bobby menghidangkan hasil masakannya di meja makan.
“Keren banget sih kamu Bob. Pantesan banyak wanita yang mengidolakan kamu. Ganteng, jago ngerap, suka umbar aurat kalau waktu manggung, senyum manis, jago masak pula.”
Bobby tertawa mendengar gombalan Stefly. “Itu memuji atau mengejek sih?”
“Menurut kamu?” Stefly tertawa.
Bobby merasa lega Stefly tidak murung, yang Bobby takutkan Stefy akan trauma dengan kejadian semalam.
“Makan yuk.” Ajak Bobby. Stefly menikmati pasta buatan Bobby, dia tampak senang.
Drrrrt.. drrrt..
Stefly mencari ponselnya, karena berdering. “Halo kak? Ada apa?” Sapa Stefly.
“Baguslah kalau udah bangun.” Suara Vreya diujung ponsel.
“Udah dong, baru makan pagi pula.”
“Wah.. keren banget Stefly sepagi ini udah masak, perkembangan bagus.” Sindir Vreya.
“Jangan salah kak, bukan aku yang masak.”
“Terus siapa dong?”
“Pacarku yang ganteng lah.”
“Uhuk.. uhuk..” Bobby tersedak.
“Ckckc.. pasangan kasmaran, sepagi ini udah berduaan aja.”
“Hehe.. makanya cepat punya pacar kak.”
“Udah ah,, kenapa jadi ngomongin pacar sih. Mau ingetin kamu Stef, sebelum jam dua belas kamu harus posting tiga produk endorse ya. Terus stok video kita tinggal tiga, kalau nggak kencan atau kalau habis pulang kencan bikin video satu ya neng.”
“Hehe.. iya kak, foto endorse kan udah siap tinggal posting aja kak. Janji deh hari ini bikin video kak.”
“Eh.. manajer kamu tuh belum punya pacar?” Tanya Bobby.
“Kak Vreya? Hehe.. iya, jomblo dia. Makanya dia iri sekarang aku punya pacar ganteng.” Stefly meneruskan makannya.
“David juga belum punya pacar lho, itu lho manajerku.”
“Oya? Padahal ganteng lho.”
“Gimana kalau kita jodohin mereka?”
“Ide bagus tuh Bob, jadi kita bisa double date gitu.” Stefly terdengar senang dengan ide Bobby untuk menjodohkan manajer mereka.
“Oiya Stef, kita mau pergi kemana hari ini?” Tanya Bobby.
“Emm… sebenarnya aku nggak tahu mau kemana sih Bob, aku cuman mau pergi aja sama kamu, berdua.”
“Emm.. boleh, kemana aja aku nggak masalah. Tapi nanti kita mampir ke rumah bibi aku dulu ya Stef.”
“Bibi?”
“Iya, mamanya Nathalie.”
“Vampir??” Stefy melotot.
“Emm.. iya Stef. Dia mungkin bisa melindungi kamu lebih dari Nathalie. Aku pikir mungkin Nathalie akan sibuk bekerja, jadi gimana kalau kamu tinggal di rumah mamanya Nathalie dulu selama aku di L.A?” Bobby menawarkan ide yang sebenarnya Stefly tidak suka tapi dia tidak ada pilihan setelah dirinya sudah resmi menjadi buron vampir.
“Emm.. oke Bob.”
Selesai makan, Bobby kembali ke apartemennya untuk mandi dan bersiap pergi, begitu pula dengan Stefly.
Mereka pergi ke rumah ibu Nathalie yang bernama Hwang Si-Eun. Butuh dua jam untuk menuju rumahnya di ujung kota ini. Si-Eun tinggal di sebuah bukit yang asri.
Mobil Bobby berhenti di depan gerbang sebuah rumah, Bobby turun untuk membuka gerang itu. Stefly merasakan hawa aneh di rumah itu, rumah berbentuk kastil dengan pohon-pohon besar mengelilingi rumah itu, membuat cahaya matahari minim menembus rumah dengan gaya eropa kuno itu.
“Ini rumah mamanya Nathalie Stef.” Bobby mengajak Stefly masuk ke rumah itu. Nathalie semakin merasa merinding, rumah itu asri dan remang-remang.
Ting.. tong..
Bobby menekan bel, tak lama sang empunya rumah membuka. Sosok wanita dengan warna kulit putih mendekati pucat, tatapannya tajam dan namun senyumnya menawan.
“Wow.. keponakan bibi datang bersama tamu spesial sepertinya?” Si-Eun sudah bisa mengendus darah wangi Stefly. ‘Wangi’
“Apa kabar bibi?” Tanya Bobby.
“Baik, masuk.” Si-Eun mengajak Bobby dan Stefly ke rumah. Stefly mengedarkan pandangannya, rumah itu penuh dengan porselen kuno dengan gaya elegan nan mewah. Lukisan-lukisan yunani, dan patung-patung berbagai macam, rumah ini bisa dikatakan seperti museum barang kuno.
“Apa ini wanita yang dibicarakan Nathalie?” Tanya Si-Eun.
“Salam kenal bibi, saya Stefly.” Stefly mengulurkan tangan mengajak bersalaman, tapi Si-Eun malah mengendus tangannya.
“Kamu benar-benar wangi Stefly.”
Jika dilihat dari dekat Si-Eun dan Nathalie memang mirip apalagi tatapan mata dan senyuman, terlihat licik namun memikat. Hanya saja Si-Eun terlihat lebih dingin dari pada Nathalie.
Bersambung...