
Lelaki itu menyeringai puas. "Persis seperti yang ada dipikiranmu."
Stefly sepenuh tenaga mencoba melepaskan diri. Lelaki itu mendekati Stefly.
"Namaku Jaden! Benar!" Jaden mendekatkan wajahnya pada wajah Stefly.
"—aku vampir, lebih tepatnya adalah vampir zeronix, sama seperti Bobby dan Nathalie." Jaden memberi informasi yang Stefly ingin tahu.
"Hahahaha.. Benar kata Felix darahmu wangi banget. Tapi sayangnya aku nggak sembarangan hisap darah manusia." Jaden berjalan mengelilingi kursi tempat Stefly duduk.
"Felix hanya penasaran apa benar darah bisa membuatnya jadi manusia. Atau setidaknya bisa membuatnya tahan sinar matahari seperti vampir zeronix. Hahaha.. sebenarnya mustahil sih keinginannya itu, tapi aku tetap ingin membantunya karena………." Jaden berhenti tepat di depan Stefly.
"—aku tidak suka pada Bobby."
BUUUUUUG!
Si-Eun tiba-tiba muncul menggampar Jaden hingga tersungkur.
"Beraninya kamu menyentuhnya." Si-Eun mendekati Jaden yang sedang kesakitan.
Jaden masih bisa menyeringai walau sedang kesakitan.
"Bobby memang tidak pernah bisa hidup mandiri, masalah wanita saja dia melibatkan Bibi, pengecut sekali." Jaden mencoba berdiri.
"Bibi? Siapa kau panggil aku begitu?" Si-Eun berdiri tepat di depan Jaden.
"Seharusnya kamu membela Bobby, kita sejenis. Kenapa malah menurut pada Felix?! Kamu ini memang aneh Jaden!!" Si-Eun terlihat marah.
Jaden menyeringai lagi.
"Bye Stefly!" Jaden tiba-tiba menghilang.
Si-Eun berbalik badan dan melihat Felix sedang menghisap darah Stefly.
Si-Eun menendang Felix hingga tersungkur. "Beraninya kau!"
"Kenapa menghentikanku?! Aku baru menghisap sedikit!" Felix melawan Si-Eun.
Pertengkaran tidak tekelakan antara Si-Eun dan Felix.
Hingga akhirnya Felix menghilang karena lelah berkelahi dengan Si-Eun.
"Stefly?" Si-Eun membuka ikatan tali pada Stefly, dia pingsan.
Si-Eun menghisap darah Stefly untuk menghilangkan rasa sakit pada tubuh Stefly lalu membawanya berteleportasi ke rumahnya.
......................
Nathalie datang pada malam hari setelah pulang bekerja.
"Stefly baik-baik aja Ma?" Tanya Nathalie penuh khawatir.
"Hmm.. baik-baik aja. Kamu nggak tanya keadaan Mama?" Sindir Si-Eun.
"Memang Mama kenapa? Jelas Mama baik-baik aja kan?"
"Hmm.. kita lengah Nath! Felix minta bantuan Jaden untuk menculik Stefly. Jelas jimat itu nggak berguna sama Jaden!"
"Bukannya Jaden dulu pernah suka ya sama kamu?"
Nathalie melirik kesal pada sang ibu yang mengingatkan hal tidak penting itu pada dirinya.
"Huft.." Nathalie berjalan ke meja makan mengambil sebuah apel lalu dimakan.
"Kenapa kamu murung gitu?" Si-Eun membelai rambut Nathalie.
"Nggak apa Ma, capek aja sama kerjaan."
"Tinggalkan aja!"
"Nggak Ma, aku bakal terus berjuang pada pekerjaanku sampai muak!"
"Hidup kok suka dibuat susah Nath.. Nath.." Si-Eun duduk di kursi makan.
"Nggak juga Ma, biasa aja."
Drrrt.. drrrt..
Bobby menelepon Nathalie.
"Gimana keadaan Stefly Nath? Dia pasti ketakutan ya? Aku telepon dia nggak jawab Nath! Please bantu aku hubungkan ke Stefly!" Suara Bobby terdengar sangat panik.
"Tenang Bob tenang! Stefly aman disini, dia tidur." Jawab Nathalie.
"Dirumah Bibi Si-Eun??"
"Hmm.. dirumah Mamaku."
"Aku mau bicara sama Bibi Nath." Pinta Bobby, lalu Nathalie memberikan ponselnya pada Si-Eun.
"Bibi terima kasih." Suara Bobby gemetar.
"Bob, nikahi Stefly bawa dia pergi kemanapun kamu pergi. Pastikan dia aman ada di dekatmu setiap saat." Kata Si-Eun.
"Menikah??" Bobby dan Nathalie sama-sama terkejut.
"Hanya itu jalan satu-satunya kan? Agar Stefly aman. Kamu mencintainya kan?"
"Iya Bi, aku sangat mencintainya."
"Kalau begitu pertimbangkan saran Bibi ini. Atau kalau memang tidak setuju silahkan cari jalan lain."
Si-Eun memutus pembicaraan dengan Bobby.
"Mama yakin Bobby mau menikahi Stefly? Jangan ngawur Ma!"
"Kita lihat aja apa keputusan Bobby."
***Bersambung...
Jangan lupa tinggalkan jejak, terima kasih***..