
Sebelum berangkat ke bandara Bobby memberikan jimat ke Stefly.
"Ini Stef."
Stefly menerima sebuah gantungan kunci berbentuk boneka.
"Ini jimatnya Bob?" Stefly tidak menyangka jimat anti vampir berbentuk barang yang sangat imut.
"Iya, kenapa memang Stef?"
"Imut banget. Aku pikir bakal berbentuk kalung salib atau sejenisnya."
"Jimatnya berbentuk kelereng kecil di salam gantungan kunci ini. Kamu harus bawa ini kemanapun kamu pergi ya?"
Stefly mengangguk paham, kemudian dia memeluk Bobby.
Sebenarnya Stefly merasa takut dan cemas berjauhan dengan Bobby, tapi dia tidak memperlihatkannya pada Bobby, dia tidak ingin membuat Bobby khawatir.
"Cuman empat hari aja kok Stef, sabar ya sayang." Bobby memeluk erat Stefly.
"Ehmm.. berasa dunia milik berdua ya kalian? Lupa kalau disini ada orang lain? Atau aku udah kalian anggap sebagai obat nyamuk belaka?" Sindir David sambil berkacak pinggang.
"Ups.. maaf ya manusia jomblo lupa kalau ada kamu, haha.." Bobby puas mengejek David.
“Ayo buruan Bob nanti ketinggalan pesawat.” David memasang wajah garang.
“Iya iya, bawel banget sih.”
“Stef aku berangkat dulu ya, nanti Nathalie datang kalau kerjaan dia udah selesai.” Kata Bobby.
“Hmm.. sana berangkat.” Stefly melambaikan tangan pada Bobby, melepas kekasihnya pergi bekerja jauh di luar negeri.
“Hmm.. bakal kangen nih sama Bobby.” Stefly masih basement melihat mobil Bobby hingga benar-benar tidak terlihat.
Hari ini Stefly akan melakukan kegiatannya seperti biasa.
...----------------...
Vreya sudah datang di apartemen Stefly sejak pukul sepuluh pagi, dia sudah tahu apa yang melanda Stefly, meski dia tidak bisa melindungi Stefly seperti Nathalie, dia ingin menemani Stefly.
“Padahal aku nggak apa lho kak kalau kak Vreya nggak menemani. Toh.. nanti malam Nathalie bakal menemani aku.” Stefly sedang berdandan untuk keperluan foto endorse.
“Aku nggak tenang Stef jadinya, pokoknya aku juga bakal tidur disini selama Bobby di LA.” Vreya sedang mengedit video di laptopnya.
Stefly merasa terharu dengan ketulusan Vreya padanya, mereka sudah lebih dari enam tahun kenal dan menjalin kerja sama.
“Emm.. Stef, kam Bobby di negara ini cuman sementara, kalau dia balik lagi ke tempat New York kamu gimana dong?”
“Itu kak yang belum kami bahas.”
“Kalau cuman LDR seperti pasangan lain mungkin masih oke Stef, tapi kasus kamu dan Bobby kan berbeda. Kamu bakal amna kalau dekat dengan Bobby. Apa kamu mau ikut dia ke New York?” Tanya Vreya.
“Nggak tau kak, aku nggak begitu mikir soal itu kok.” Stefly berbohong, padahal hal itu sangat mengganggunya belakangan ini, karena Bobby memang tidak akan lama di negara ini. Stefly berharap Bobby akan tinggal pindah tinggal di negara ini.
...----------------...
Ting.. tong.. ting.. tong..
“Ayo makan, aku lapar dan stres.” Nathalie masuk ke apartemen Stefly.
“Malam kak produser Nathalie.” Sapa Vreya.
Nathalie berbisik pada Stefly, “Dia nginap disini?”
“Kak Vreya udah tau semuanya Nath, sama seperti manajer Bobby , David.”
“Dia tau juga kalau aku vampir?”
Stefly mengangguk.
“Hah..” Nathalie duduk di lantai, dia membuka kotak pizza yang ditaruh di meja.
“Ada bir?” Tanya Nathalie.
“Ada, wine dan soju juga ada.” Kata Stefly.
“Keluarin semuanya.” Nathalie menyantap pizza.
“Kak, memang semua vampir tuh punya wajah yang ganteng dan cantik ya?” Tanya Vreya.
“Nggak semua sih, tapi sebagian besar begitu.” Jawab Nathalie santai.
Stefly mengeluarkan tiga kaleng bir, satu botol soju dan satu botol wine.
“Kamu mau minum ini semua Nath?” Tanya Stefly.
“Hmm.. bir dulu deh.” Nathalie membuka kaleng bir, “Aaaah.. segar banget.”
“Aku mau keluar dulu ya, ada urusan dengan anak buah lainnya.” Vreya pergi untuk menemui artisnya yang lain.
“Suka banget Nath? Atau kelaparan? Hehe..”
“Ada cerita lucu soal pizza.”
“Lucu?”
“Hmm.. dulu waktu kecil aku dan Bobby tinggal bersama di rumah mamaku. Karena kami masih nggak kuat di bawah sinar matahari jadi kami cuman bisa keluar rumah waktu malam. Dulu belum ada layanan pengantar makanan seperti sekarang, dan rumah mama ke kota lumayan jauh. Papaku membawa aku sama Bobby ke kota untuk makan pizza setiap akhir minggu, tapi suatu hari karena hujan dan macet, sesampainya di kota semua toko udah tutup. Aku dan Bobby menangis hampir satu jam cuamn gara-gara nggak jadi makan pizza.” Nathalie tersenyum saat ingat masa-masa kecilnya dan Bobby.
“Iri deh bisa lihat Bobby waktu kecil.” Stefly meneguk bir.
“Dia tuh anak yang cengeng waktu kecil, tapi dia baik banget sih. Dia selalu mengalah dari aku, kami banyak menghabiskan waktu bersama. Tapi setelah kami bisa menikmati kehidupan layaknya manusia biasa kami malah jarang bertemu.”
“Karena kalian sibuk, kalian sukses dengan karir yang kalian pilih.” Stefly terus menikmati birnya.
“Walau sekarang kelihatannya aku sama Bobby nggak akur, tapi sebenarnya kami saling menyayangi. Tentunya sebagai saudara.” Nathalie terlihat tulus menceritakan hal itu.
“Cerita lagi dong Nath soal Bobby.” Stefly ingin tahu lebih banyak tentang Bobby.
Malam itu Nathalie seperti bernostalgia tentang kehidupan masa kecilnya saat menceritakan tentang Bobby pada Stefly.
Bersambung...