
“Aku bikin teh hangat dulu ya Stef?” Bobby melepaskan pelukannya dari badan Stefly yang terasa dingin. Stefly menarik tangan Bobby, menggelengkan kepala, memberi isyarat tidak ingin ditinggal sendiri.
“Oke.” Bobby duduk di hadapan Stefly, menyelimuti kaki Stefly. Bobby menghubungi Nathalie.
“Nath aku mau cerita serius, kamu baru apa?” Bobby berjalan sedikit menjauh dari Stefly.
“Apa sih Bob? Kayaknya serius gitu? Cerita aja buruan.”
“Stefly baru ada di apartemenku.”
“Wow!”
“Diam dulu! Dengar dulu.”
“Oke, iya.”
“Tiba-tiba ada vampir murni datang dan ingin memangsa Stefly.”
“What?? Vampir murni?? Terus sekarang Stefly gimana?” Suara Nathalie terdengar khawatir.
“Dia masih syok, dia masih di kamarku.”
“Hmm.. jangan biarkan dia sendirian, bisa jadi vampir itu bakal datang lagi. Aku baru sibuk banget editing, maaf aku nggak bisa kesitu sekarang.”
“Huft.. oke deh Nath.”
“Ingat jangan tinggalkan Stefly sampai besok pagi.”
“Iya Nath.” Bobby mengakhiri pembicaraan jarak jauh dengan Nathalie.
Stefly hanya diam, dia duduk sambil memeluk kedua kakinya. Otaknya terasa tidak berfungsi karena kejadian yang baru saja terjadi terasa seperti mimpi.
“Kamu tidur saja Stef aku nggak akan kemana-mana.” Bobby mengelus rambut Stefly.
“Janji ya Bob jangan tinggalin aku.” Suara Stefly terdengar sangat lemah.
Bobby memeluk Stefly sebentar lalu membiarkan Stefly berbaring dan setia menemaninya hingga tertidur pulas.
...----------------...
Stefly mulai membuka mata, dia melihat Bobby tertidur di sebelahnya. Stefly memiringkan badannya dia menatap Bobby yang masih tertidur pulas. Stefly membelai poni rambut Bobby yang terjatuh menutupi wajah tampannya.
Bobby mulai tersadar, dahinya mengerut, Stefly menarik tangannya. Bobby membuka mata dan melihat wajah Stefly dengan jarak yang sangat dekat. Jantung Bobby mulai tidak beraturan, dia semakin yakin bahwa hatinya menginginkan Stefly.
Stefly akhirnya bangun, dia duduk lalu merapikan rambutnya. “Tidur kamu nyenyak Stef?”
“Iya, anehnya setelah kejadian ekstrim seperti di film pun aku masih bisa tidur dengan nyenyak. Hmm.. kalau bukan karena kamu aku mungkin bisa langsung gila.” Stefly memeluk kakinya.
“Kamu nggak perlu khawatir Stef, vampir itu nggak akan datang saat siang hari. Dia vampir murni yang nggak kuat dengan sinar matahari.” Jelas Bobby.
“Berarti kalau malam bisa jadi dia bakal mendatangiku lagi dong?” Stefly panik lagi.
“Tenang saja aku bakal jagain kamu. Tapi siang ini aku ada jadwal meeting untuk konser aku Stef. Kamu jangan khawatir dan takut.”
Stefly masih tidak bisa move on dari kejadian semalam, jantungnya masih berdetak kencang dan keringat dingin keluar saat mengingat kejadian itu.
“Aku antar pulang Stef.”
“Nggak usah Bob, aku nggak apa kok. Nanti siang kak Vreya datang kok.” Stefly turun dari tempat tidur Bobby namun terjatuh karena kakinya masih terasa lemas.
“Kamu nggak apa Stef?” Bobby membantu Stefly berdiri.
“Nggak apa Bob, ini karena aku terlalu lama tidur mungkin.” Stefly menutupi ketakutannya dari Bobby.
“Nggak apa.” Bobby menggendong Stefly, berjalan keluar apartemennya lalu masuk ke lift. Mereka tidak bicara apa-apa, suasana sedikit canggung.
TING!
“Bob, turunin, aku sudah bisa jalan kok.”
Bobby menurunkan Stefly “Bye Bob!” Stefly salah tingkah, dia langsung lari saat pintu lift terbuka.
“Eh? Anak itu benar nggak apa-apa?” Bobby bingung.
...----------------...
“Hah… huft…” Stefly memegang dadanya yang berdetak begitu kencang karena salah tingkah. “Stefly please deh! Kamu ini baru masuk ke film thriller atau horor tapi kenapa jantung kamu malah jadi romance gini?” Stefly menghentak-hentakan kakinya, dia merasa kesal, takut, senang, salah tingkah di saat yang bersamaan.
Hari itu Stefly mencoba melakukan segala hal seperti biasa tanpa memikirkan kejadian semalam, tapi.. tetap saja kadang-kangan adegan itu muncul di otaknya.
...----------------...
Sore hari Bobby pergi ke apartemen Nathalie dia ingin berdiskusi ke Nathalie mengenai vampir yang menginginkan Stefly.
“Darah Stefly semakin manis dan harum karena rutin kamu hisap Bob. Jadi ya wajar a kalau vampir mulai mendeteksi keberadaan Stefly.” Nathalie berkacak pinggang.
“Hah.. aku jadi merasa bersalah, karena aku Stefly jadi dalam bahaya.”
“Tujuan kamu memang bagus sih, tapi ya begitu resikonya.”
Bobby mondar-mandir, dia sedang berpikir bagaimana bisa mengamankan Stefly dari vampir-vampir yang mungkin akan semakin banyak menginginkan Stefly.
“Ada solusi nggak Nath? Otakku buntu nih.” Bobby tidak dapat menemukan ide apapun.
“Aku pernah dengan dari mama kalau ada yang menjual jimat anti vampir di Rusia. Aku sudah tanya mama, nanti aku kirim kontaknya ke kamu.”
“Jimat anti vampir? Eh.. nggak bisa pakai itu dong Nath!”
Nathalie bingung kenapa Bobby memprotes ide briliannya. “Memang kenapa? Kamu kan belum mencoba jimat itu, mana kamu tahu manfaatnya. Coba dulu saja.”
“Bukan gitu! Kalau Stefly pakai jimat anti vampir artinya aku juga nggak akan bisa dekat-dekat dengannya!” Bobby tidak suka dengan ide Nathalie karena merugikannya.
“Jimat itu hanya bekerja untuk vampir yang memiliki darah diatas tujuh puluh persen Bob. Vampir zeronix seperti kita kan kebal jimat? Memangnya kamu lupa soal pelajaran kevampiran yang kita pelajari selama lima belas tahun itu?” Nathalie sedikit kesal karena Bobby seperti orang bodoh belakangan ini.
“Oh.. iya sih.”
“Ternyata kamu kalau jatuh cinta jadi bloon ya Bob.”
“Eh.. enak saja kamu ngomong Nath! Nggak bloon ya, aku baru panik saja makanya nggak bisa berpikir dengan jernih!”
Nathaliee semakin yakin bahwa Bobby memang menyukai Stefly karena dia tidak menyangkut waktu dirinya menyinggung soal jatuh cinta.
“Sudah aku kirim ya kontaknya, buruan dipesan jimatnya, jangan sampai kehabisan atau harga naik hari senin!” Nathalie mengejek Bobby.
“Kamu nih ya suska banget kalau aku sengsara.” Bobby berjalan mendekati pintu keluar.
“Eh.. mau pulang?”
“Iyalah, ngapain aku lama-lama disini.” Bobby pergi dari apartemen Nathalie.
“Dasar vampir nggak punya perasaan! Nggak ada otak! Seenaknya pergi tanpa pamit tanpa terima kasih padahal aku sudah membantunya mencari solusi buat orang yang dia suka, Awas ya kamu Bob!” Nathalie dan Bobby memang seperti tom dan jerry yang sering tidak akur namun saling membutuhkan dan menolong satu sama lain, begitulah ikatan persepupuan mereka.
Bersambung...