Best Friend

Best Friend
Daffa



Jam pulang sekolah sudah berbunyi, tapi Nesa tak sekalipun berbicara pada Anya.


Nesa sedang berjalan menuju halte saat sebuah motor yang tadi pagi datang bersamanya merapat di sebelahnya.


“Anesa, mau bareng?” tawar Arkan. Nesa menggeleng.


“Yaudah kalau gitu hati-hati,” ucap Arkan sambil mengacak-acak rambut Nesa. Nesa cemberut. Di balik helm fulface nya, Arkan tersenyum manis melihat ekspresi cemberut Nesa.


Dia melajukan motornya meninggalkan area sekolah. Nesa duduk di kursi halte. Seperti nya hujan akan turun. Nesa mengeluarkan jaket dari dalam tasnya. Angin kencanga meniup-niup menyebabkan rambut Nesa beterbangan.


Saat gerimis mulai turun. Awan menjadi gelap, angin bertiup semakin kencang. Nesa semakin merapatkan jaketnya.


Tak ada kendaraan yang lewat. Sepi. Saat Nesa sedang melamunkan tentang Anya, sebuah mobil merapat di tepi halte. Sesorang membuka pintu mobilnya lalu menghampiri Nesa.


“Hai Anesa, kenapa disini?” tanya orang itu. Nesa menatapnya datar. Ternyata Daffa.


“Nunggu angkutan umum,” ucap Nesa. Terbesit rasa tidak suka di sana.


“Kamu belum baca berita hari ini?” tanya Daffa. Nesa mengerutkan dahinya.


“Emangnya ada apa?” tanya Nesa yang mulai kepo.


“Hari ini seluruh sopir angkot lagi pada mogok kerja. Demo mereka karena kenaikan bbm,” ucap Daffa sambil duduk di samping Nesa.


Wajah Nesa sedikit khawatir. Bagaimana caranya agar Nesa bisa sampai rumah.


“Mau aku anterin?” tawar Daffa.


Nesa berpikir sejenak. Apakah dia akan menerima tawaran Daffa atau menolaknya. Kalau Nesa tolak, dia tidak akan bisa pulang. Mau tak mau Nesa menyetujui tawaran Daffa.


Nesa mengangguk. Sementara Daffa tersenyum manis. Dia berdiri dan membukakan pintu untuk Nesa.


Dia duduk disamping kursi kemudi. Daffa berjalan memutar lalu masuk ke dalam mobilnya.


Dia mulai melajukan mobilnya.


“Oh iya, btw dimana rumah lo?” tanya Daffa. Nesa menatap Daffa. Dia kira cowok itu sudah tahu karena itu dia menawarkan mengantar Nesa.


“Gue kira lo udah tau. Nanti gue tunjukin arahnya,” ucap Nesa. Daffa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


“Oh iya, tadi gue liat lo ke kantin bareng anak baru. Tumben nggak bareng kembaran lo,” ujar Daffa, sambil menatap Nesa beberapa detik.


“Kalau boleh gue kritik ya Sa, Anya sama lo itu bagaikan batu sama berlian loh. Lo tau kan gimana Anya, gue akuin dia emang lumayan cantik, tapi tenang lebih cantik lo kok. Hehe ... ” tawa Daffa garing. Nesa hanya tersenyum.


“Iya, Anya emang cantik, tapi menurut gue dia itu tipe cewek pemales. Lo liat aja, dia bahkan nggak pernah ngerjain pr nya sendiri dan lo liat setiap nilai ulangannya? Gue jamin semuanya di bawah KKM. Dan gue pikir, dia itu cuman manfaatin lo doang,” ucap Daffa. Nesa terdiam sesaat.


“Iya kayak lo,” ucapan Nesa membuat wajah Daffa yang tadinya serius berubah menjadi cemberut.


“Tapi Anesa, menurut gue kalau lo berteman sama Anya dan Luna. Dua-duanya sama-sama buruk. Itu bagaikan lo berdiri di tebing antara jurang yang dalem, gelap, kosong dan antara sungai yang banjir,” ucap Daffa. Nesa benar-benar mendengarkan dengan baik setiap ucapan Daffa.


“Tumben otak lo encar Daf, abis kepentok pohon toge ya,” canda Nesa. Daffa hanya tersenyum kecut.


“Lo ga tau, gue itu sebenernya emang pinter, tapi gue pendem biar nggak jadi sorotan publik,” ucap Daffa. Nesa hanya terkekeh sambil menggeleng kan kepalanya.


“Oh iya Daf, minta nomor ponsel lo dong,” ucap Nesa. Daffa tersenyum manis.


“Boleh,” Daffa mengambil ponsel yang di pegang Nesa dengan satu tangan kemudian mengetikan nomor ponselnya di kontak.


“Udah,” ujar Daffa sambil memberikan kembali ponsel Nesa.


Mobil Daffa merapat di depan rumah Nesa. “Jadi ini rumah lo Anesa?” tanya Daffa sambil melihat rumah Nesa yang besar dan minimalis.


“Iya, mau mampir dulu nggak?” tawar Nesa saat dia sudah ada di depan gerbang rumahnya.


Daffa menggeleng. “Gue pamit pulang yah, udah sore,” ucap Daffa. Nesa mengangguk.


Nesa memasuki rumahnya yang sudah terang karena lampu.


“Assala’mualaikum, Bun,” salam Nesa saat sudah masuk ke dalam rumah.


“Wa’alaikumsalam,” balas bunda.


“Eh Nesa, udah pulang? Mandi dulu gih! abis itu makan," ucap bunda. Nesa hanya mengangguk.


Dia melangkah menuju kamarnya, lalu membersihkan badannya.


Lalu dia membaringkan tubuhnya sebentar. Ucapan Daffa masih terngiang di kepala Nesa.


“Apa iya Nya, lo cuman manfaatin gue doang? Aku harap enggak karena aku nggak mau persahabatan kita berakhir.” Setelah itu, Nesa keluar untuk makan. Perutnya sedari tadi terus berbunyi.