Best Friend

Best Friend
Menutupi



Hari ini Nesa sudah berangkat ke sekolah. Itu karena Nesa yang memaksa. Sementara orang tua Nesa hanya bisa menurut.


Nesa melangkahkan kakinya yang sudah bisa berjalan lagi dengan riang. Dia berjalan menuju ke kelas nya.


Saat melihat ruang kelas, kelas sudah ramai. Nesa masuk ke dalam kelas, dia mencari seseorang. Anya. Dia melihat Anya sedang duduk dengan Dea.


"Anya!" teriak Nesa. Anya menatap Nesa dengan datar.


"Kenapa kemarin Anya nggak jenguk aku di rumah sakit?" tanya Nesa. Anya melebarkan matanya, tapi di detik selanjutnya, dia kembali meormalkan eskpresinya.


"Dih ngapain? Nggak berguna," sarkas Anya, dia berjalan dengan sedikit menyenggol bahu Nesa.


Tapi, Nesa terjatuh. Dahinya terbentur ujung meja hingga darah mengalir dari dahinya. Semua orang menatap ke arah Nesa. Dalam pikiran mereka 'Kenapa Nesa sangat lemah?'


Arkan dan Daffa yang sedari awal memperhatikan, mereka langsung membantu Nesa berdiri.


"Nes, Nesa? Kamu nggak papa, 'kan?" tanya Arkan. Nesa mengangguk.


"Bawa aja ke UKS," ucap Daffa.


Arkan langsung mengangkat Nesa ala brydal style menuju UKS.


"Kenapa lo bersikap kasar sama sahabat lo sendiri?" tanya Daffa pada Anya. Lalu dia meninggalkan Anya dengan pikirannya sendiri.


*****


Arkan membaringkan Nesa diatas brankar. Dia menatap Nesa dengan wajah sendu.


Nesa terus memegang dahinya yang berdarah dengan tangannya. Dia terus menggeleng, seakan mencoba menghilangkan rasa kantuk di matanya. Matanya ingin terpejam, tapi Nesa ingin agar dia tetap sadar.


Tak lama, bu Winda datang bersama Daffa.


Dengan segera, bu Winda mengobati luka Nesa. Lalu dia menyuruhnya untuk istirahat.


Bu Winda menatap Arkan dan Daffa.


"Kenapa dia bisa sampai seperti itu?" tanya bu Winda.


"Em ... Tadi dia jatuh dan dahinya terbentur sudut meja, bu," ucap Daffa. Bu Winda mengangguk.


Dia duduk di kursi yang telah disediakan di UKS.


"Kemungkinan setelah dia bangun. Kakinya akan lumpuh," ucap bu Winda. Arkan dan Daffa sedikit terkejut.


"Sebenarnya, kenapa Nesa bisa sampai sering mengalami kelumpuhan?" tanya Arkan.


Kemarin, tante Fani atau bunda Nesa tidak mengatakan penyebab kelumpuhan Nesa.


"Sepertinya tulang pungungnya retak karena benturan yang sangat keras," ucap bu Winda.


"Tapi, dia hanya jatuh ringan. Punggungnya hanya terbentur kecil," ucap Daffa. Arkan menyetujui.


"Retakannya sudah cukup lama, dan seperinya Nesa juga sudah pernah melakukan operasi akan masalah punggungnya. Tapi, tulang yang retak akan lama sembuhnya. Jika orang yang mengalami tulang retak dalam keadaan pusing atau pingsan. Ototnya tak bisa berfungsi hingga menyebabkan si penderita mengalami kelumpuhan sementara. Terus akan seperti itu hingga retakan di punggungnya sembuh," ucap bu Winda.


Arkan dan Daffa hanya bisa menghela napasnya. Saat suasana tiba-tiba hening, Nesa terlihat mulai membuka matanya.


Arkan, Daffa, dan bu Winda mendekati Nesa.


"Kenapa aku ada disini? Harusnya kan aku bertemu dengan bu Ani," ucap Nesa sesaat setelah membuka matanya.


"Bu Ani? Nesa, bu Ani sudah pensiun dua tahun yang lalu," ucap bu Winda bingung.


"Nggak bu, baru tadi beliau mau menemui saya," ucap Nesa. Bu Winda menatap bingung ke arah Nesa. Lalu dia menatap ke arah Arkan dan Daffa.


"Ya udah kamu tiduran aja dulu, nanti biar aku yang ngomong ke bu Ani. Tentang masalah nilai ulangan, 'kan?" tanya Arkan. Nesa mengangguk. Sementara bu Winda dan Daffa menatap bingung ke arah Arkan.


"Jadi, kenapa dengan Nesa? Kenapa dia seperti orang pelupa begitu?" tanya bu Winda.


"Jadi, Nesa kayaknya keinget waktu dua tahun yang lalu. Waktu dia mau nemuin bu Ani buat ngambil kertas hasil ulangan. Nah, pas waktu dia naik tangga. Dia terjatuh dan dahinya berdarah persis di tempat yang sama dengan yang sekarang."


Daffa mengangguk sementara bu Winda menatap mereka bingung.


"Jadi sebenernya Nesa itu terkena penyakit apa?" tanya bu Winda. Arkan dan Daffa saling tatap. Mereka berdua bingung harus mengatakan yang Sebenarnya atau tidak.


"Em ... Maaf bu, tapi ini privasi," ucap Daffa. Bu Winda memutar bola matanya.


"Baiklah." Setelah itu bu Winda pergi.


"Haruskah kita membawanya ke rumah sakit?" tanya Daffa.


Arkan menggeleng. Dia beranjak masuk melihat keadaan Nesa. Gadis itu masih berbaring diatas brankar dengan wajah damai nya.


Arkan mengusap wajah Nesa. Jari tangannya terasa halus dan sedikit berwarna cokelat saat digesekan.


Arkan menatap bingung ke arah Nesa. Apakah Nesa memakai make up? Tidak, bukan make up biasa yang akan membuat orang yang mengenakannya menjadi lebih putih, bedaknya membuat wajah pucat Nesa menjadi berwarna putih langsat. Apa yang dilakukan Nesa?


Nesa mulai membuka matanya. Dia menatap Arkan dengan raut wajah bingung.


"Kenapa disini? Kamu sengaja yah biar bisa bolos?" ucapan Nesa menyadarkan Arkan dari lamunannya.


Arkan menggeleng, tapi dia tetap membenarkan ucapan Nesa. Artinya, setengah benar dan setengah tidak.


"Em ... Kamu laper nggak? Aku ke kantin dulu beliin kamu bubur," ucap Arkan. Dia langsung pergi tanpa meminta persetujuan Nesa.


*****


Arkan sampai di kantin. Sedari tadi, dia terus memikirkan tentang Nesa yang memakai make up. Arkan belum pernah melihat wajahnya yang asli. Dia akan membuat Nesa membersihkan make up nya.


Arkan sengaja membeli satu botol air putih. Dia kembali ke UKS. Disana sudah ada Daffa yang sedang menemani.


Nesa menerima bubur itu. Dia melahapnya hingga tandas. Saat Arkan ingin memberikan botol berisikan air. Dis sengaja menjatuhkan dirinya dan dengan sengaja menyiram wajah Nesa. Nesa yang terkejut refleks memejamkan matanya.


Daffa terkejut melihatnya. Dia mendekati Nesa yang masih memejamkan matanya.


"Arkan, lo hati-hati dong kalau jalan," ucap Nesa. Arkan berdiri. Dia menatap Nesa yang masih memejamkan matanya.


Arkan menatap Daffa agar anak itu mau melihat ke arah Nesa. Daffa menurut, dia menatap ke arah Nesa. Dan betapa terkejutnya ia. Wajah Nesa sangat pucat bibirnya yang tadi berwarna pink kini berubah menjadi biru keunguan.


"Kenapa?" tanya Nesa sambil membuka matanya. Dia jelas tahu kalau Arkan dan Daffa terkejut melihat wajahnya.


"Sejak kapan kamu menutupi hal ini?" tanya Arkan. Dia sudah tahu hal ini, karena itu dia tidak terlalu terkejut seperti Daffa.


"Boleh aku jujur?" tanya Nesa. Pertanyaan Nesa tidak jelas, membuat Arkan dan Daffa hanya mengangguk.


"Aku tidak sekuat yang kalian pikir. Setiap malam, aku merasakan sakit yang luar biasa.  Bunda tidak memberi tau apa penyakitku. Tapi, aku yakin kalian tahu." Nesa berhenti sejenak. Lalu menatap wajah Arkan dan Daffa.


"Ayo lah, aku merahasiakan ini juga demi kalian. Aku nggak mau orang yang di deket aku sedih terus karena melihat mayat berjalan, heh ...." Dalam keadaan seperti ini pun  Nesa masih sempat sempatnya bercanda.


"Oke, aku langsung keintinya aja. Kalau aku udah rahasiain ini dari lima tahun yang lalu. Kalian tahu lima tahun yang lalu? Hem... Aku sedikit merasa pusing bila banyak berpikir. Tolong pikirkan itu untukku." Arkan dan Daffa membelalakan matanya. Hanya untuk menghitung lima tahun yang lalu Nesa tidak bisa?


"Itu artinya, kau sudah menutupi nya sejak kelas tujuh?" ucap Daffa memastikan.


"Akh, apakah iya. Aku cukup menderita menutupinya," ucap Nesa sambil menggelengkan kepalanya. Sementara Arkan dan Daffa saling tatap.


Dia seperti bukan Nesa. Nesa memegang kepalanya yang terasa sangat sakit.


"Akh, apakah kakiku nggak bisa digerakan lagi?" tanya Nesa.


"Iya, lebih baik sekarang kamu tidur lebih du----" Sebelum Arkan menyelesaikan ucapannya, dia terkejut melihat hidung Nesa yang mengeluarkan banyak darah.