Best Friend

Best Friend
Sang Penari



Malam ini Andra benar-benar tidak bisa tidur. Setiap memejamkan mata selalu membayangkan bagaimana penampilannya besok dalam lomba tari. Rasa takut akan kekalahan terus terngiang di kepalanya.


Karna tak kunjung bisa tidur. Akhirnya ia inisiatif mengajak Mona chatingan. "Siapa tau Mona belum tidur." Gumamnya mulai membuka aplikasi berwarna hijau.


[Malem Mon]


[Udah tidur belum?]


[Belum nih]


[Gak bisa tidur]


[Bayangin gimana lomba besok] Balas chat Mona cepat. Ternyata ia juga sama. Belum bisa tidur karna memikirkan lomba.


[Sama dong kalok gitu]


[Gue juga lagi ngebayangin gimana penampilan kita besok]


[Gue takut Mon!!]


[Takut?]


[Lo takut kenapa Ndra?]


[Gue takut kalok besok penampilan kita gak maksimal]


[Gue takut besok kita kalah Mon]


[Jangan berpikiran kayak gitu dong Ndra!!]


[Sebelum kita berusaha kan belum kelihatan hasilnya]


[Pokoknya kita berusaha tampil semaksimal mungkin besok]


[Jadi, jangan berpikiran kayak gitu ya. PLEASE!!]


[Iya-iya]


[Gue gak berpikiran kayak gitu lagi]


[Gue janji besok bakal tampil maksimal]


[Thanks ya Ndra. Udah mau dengerin saran gue]


[Ngomong-ngomong gue udah mulai ngantuk nih]


[Gue tidur dulu ya]


[Ok Mon]


[Gue juga udah mulai ngantuk]


[Nice dream ya my best friend]


[Nice dream too best friend nya aku]


Setelah chat terakhir, mata Andra mulai berat dan tertidur.


*****


Hari ini Andra dan Mona mengikuti lomba tari. Karena masih hari kamis, akhirnya mereka meminta izin ke sekolah masing-masing (Andra ke SMA Pancasila dan Mona ke SMA Bakti Mulia). Tak lupa Andra juga berpamitan kepada Adam. Karena hanya mereka yang terpilih mewakili sanggar tari Kencono Ayu milik Bu Ratih, untuk mengikuti lomba tari se-Provinsi di Balai kota.


Mereka berangkat dari sanggar tari bersama Bu Ratih. Dengan mengendarai mobil sedan merah milik Bu Ratih, mereka melaju menuju tempat acara lomba.


*****


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih lima belas menit, akhirnya mereka sampai juga di balai kota.


Jantung Andra berdebar, dan keringat dingi mulai muncul di tangannya, ketika baru saja menginjakkan kaki di pintu masuk gedung. Ia pegang tangan Mona, dan sepertinya Mona juga merasakan hal yang sama.


"Mon, gue nervous nih." Bisik Andra.


"Sama. Gue juga." Jawab Mona pelan. Tangganya terlihat gemetaran.


Bu Ratih yang melihat kedua muridnya nervous langsung menghampiri. "Sudah-sudah. Jangan gugup gitu dong." Ucapnya menebangkan. "Ibu yakin semua akan berjalan lancar. Dan ibu yakin kailan pasti bisa tampil maksimal dan membawa nama sanggar tari kita." Lanjutnya menyemangati.


Andra dan Mona hanya membalasnya dengan anggukan, meyakinkan. Dan akhirnya Bu Ratih menggandeng tangan mereka ke ruang rias untuk di make up.


Setelah usai di make up mereka duduk di kursi khusus yang sudah disediakan, melihat penampilan peserta lain. Kebetulan mereka mendapat nomor urut 15 dari seluruh peserta yang berjumlah 25 kelompok peserta.


Rasa nervous Andra kembali muncul. Malah semakin parah, ketika melihat penampilan peserta lain yang tampil lebih dulu. Menurutnya, penampilan mereka bagus dan menakjubkan. Ia di buat kaget, ketika ada tangan yang menyentuh lengannya. Rupanya tangan Mona.


"Lo lihat kan, penampilan mereka yang lumayan bagus-bagus?" Tanyanya lirih. Tangannya terasa dingin oleh keringat.


"Iy... Iya. Gue tau." Jawab Andra gugup saking nervousnya. "Menurut gue penampilan mereka gak cuman bagus, tapi juga menakjubkan."


Andra langsung mencubit paha sahabatnya itu.


"Auh...." Erang Mona kesakitan. "Jahat banget sih lo! Nyubit gue. Sakit tau." Protesnya manja, mengusap-usap pahanya yang sakit.


Andra malah tertawa melihat ekspresinya. "Lagian lo sih ngomong gitu." Jawabnya dengan nada dibuat ceria. "Apa lo lupa sama kata-kata lo tadi malam?" Tanyanya mulai serius.


"Yang mana?" Tanya balik Mona. Bingung dan mencoba mengingat-ingat. Maklum saja, kemarin kan chat-chatannya kan sudah malam, mungkin ia mengatakannya setengah sadar.


"Kata-kata lo di chat tadi malam itu loh." Jawab Andra mencoba mengingatkan. "Kalok gak salah isinya, kita gak bakal tau hasilnya kalok kita belum berusaha. Dan hari ini kita harus tampil semaksimal mungkin." Lanjutnya. "Dan setelah mengingat kata-kata penyemangat lo, sekarang mervous dan pikiram negatif gue mulai menghilang.


"Oh iya iya. Gue inget sekarang." Kata Mona, setelah mengingatnya.


Andra membalasnya dengan senyuman dan kemudian diam, kembali fokus melihat penampilan di atas panggung dan menenangkan dirinya. Begitu juga dengan Mona. Setelah diam beberapa saat, akhirnya terdengar sanggar tari mereka di panggil.


"Peserta berikutnya, dengan nomor urut 15. Kita sambut penari dari sanggar Kencono Ayu.... Yang akan menampilkan tarian putri keraton." Kata pembawa acara bersemangat.


Andra dan Mona terkejut, tersadar dari diamnya barusan. Buru-buru mereka menuju ke arah panggung.


"Sebelum tampil. Kita berdoa dulu Ndra." Ajak Mona serius.


"Iya Mon." Jawab Andra. Dan mereka pun menangkupkan tangan berdoa.


Andra benar-benar tak percaya. "Sekarang gue di atas panggung!! Bersama Mona sahabat terbaik ku." Teriaknya bangga dalam hati.


Pandangan matanya ia tujukan ke arah penonton. Para penonton terlihat terpukau menatap mereka berdua. Mungkin karena wahnya yang mirip, penonton mengira mereka kembar. Di sudut utara, di depan ruang make up, Bu Ratih tampak tersenyum ke arah kedua anak muridnya. Tersenyum bangga dan mengacungkan kedua jempolnya menyemangati dan memberikan dukungan.


Andra kembali memalingkan pandangan ke arah penonton. Memastikan mama datang dan melihat penampilannya hari ini. Benar saja, ia melihat mamanya tersenyum bangga dan menyemangati bersama Tante Rosa (mama Mona). Mereka duduk di bangku paling depan.


"Gue janji gak bakal ngecewai mama dan buat mama bangga. Gue bakal berusaha keras untuk itu." Tekatnya dalam hati. Diliriknya Mona yang ada di sampingnya. Sepertinya mereka berfikiran yang sama.


Terdengar suara musik sudah mulai di putar. Mereka mulai melenggak lenggok mengokuti irama. Andra tak menyangka, bahwa ia bisa menari dengan cukup baik dan sempurna. Nervous yang menghantuinya dari tadi hilang seketika.


Setelah penampilan usai. Mereka turun panggung dan segera menuju ruang make up. Di sana sudah menunggu Bu Ratih dengan raut wajah bangga. Bu Ratih menyambutnya dengan tepuk tangan bersemangat.


"Penampilan yang hebat anak-anak!!" Ucapnya memuji.


"Terimakasih Bu." Ucap Andra dan Mona berbarengan.


"Ibu rasa, kalian nanti yang pasti menjadi juaranya!!"


"Sudah pasti itu bu!!" Seru Andra bersemangat.


"Amin...." Sahut Bu Ratih dan Mona berbarengan.


Setelah asyik berbincang, Andra dan Mona beranjak ganti baju dan membersihkan make up. Setelah itu, mereka kembali duduk di kursi yang sudah di sediakan. Sambil melihat penampilan peserta yang tersisa, dengan perasaan lega sekaligus bangga pastinya.


Setelah sekian lama menunggu. Acar yang di tunggu-tunggu pun tiba. Acara pengumuman pemenang tentunya.


"Setelah melihat penampilan seluruh peserta. Tiba saatnya dewan juri mengumumkan pemenangnya. Dan bla....bla...bla..." Pembawa acara menjelaskan panjang lebar dengan ceria dan bersemangat. "Juara ke tiga dimenangkan oleh peserta dengan nomor urut....... 02!! Dari sanggar tari Sekar Arum..." Lanjutnya dengan suara lantang, yang langsung di sambut tepuk tangan oleh penonton.


"Dan berikutnya, yang menempati posisi sebagai juara ke dua adalah.... Peserta dengan nomor urut 23!! Dari sanggar tari Pelangi!!" Katanya dengan suara lantang dan bersemangat. "Dan inilah yang di tunggu-tunggu. Sebagai pemenang dari lomba ini. Yaitu, peserta dengan nomor urut........ 15!! Dari sanggar tari Kencono ayu!!" Lanjutnya lebih lantang lagi. "Kepada para pemenang di harap naik ke atas panggung."


Betapa kaget dan bangganya Mereka, ketika disebut menjadi juara pertama. Saat itu, jengan bangga Andra dan Mona naik ke atas panggung untuk menerima hadiah, piagam, dan piala. Sebelum turun panggung mereka juga menyampaikan ucapan terimakasih.


Ternyata di bawah sudah ada mama mama yang langsung menghambur memeluk putri putri mereka mengungkapkan kebanggaannya, dan mengucapkan selamat. Begitu juga mama Andra, mama Mona, dan tak ketinggalan Bu Ratih. Betapa senangnya hati mereka berdua.


*****


Siangnya, setelah pulang dari balaikota, dan melihat sudah waktunya jam pulang sekolah. Andra segera menelepon Adam, untuk mengabarkan berita kemenangannya.


"Hallo." Jawab cepat di ujung telepon.


"Hallo sayang..." Balas Andra antusias. "Aku mau nyampein kabar gembira!!" Serunya.


"Oh ya? Kabar apa sayang?" Tanya Adam mulai antusias.


"Aku....."


"Kamu kenapa sayang?" Tanya Adam panik sekaligus penasaran di ujung sana.


"Aku menang dalam lomba tadi!! Berhasil meraih juara satu loh." Jawab Andra bersemangat.


"Oh ya? Serius?!" Tanya Adam bangga, sedikit tak percaya.


"Iya sayang. Aku serius."


Andra pun menceritakan semua yang terjadi di perlombaan tadi. Dan Adam pun mendengarkan dengan antusias. Akhirnya Adam mengucapkan selamat pada pacarnya. Sebagai hadiahnya, Adam mengajak Andra untul diner di Quin Caffe, tempat favorit mereka. Andra mau saja, dengan senang hati ia menyetujuinya.


Malamnya, Adam benar-benar datang menjemputnya tepat ketia ai baru selesai dandan. Andra mengenalan mini dress berwarna putih dan Adam mengenakan kemeja dan celana jeans berwarna gelap dan slip on yang senada. Dengan menaiki minicoper milik Adam mereka melaju menuju caffe. Akhirnya kesampaian juga diner romantis, setelah beberapa kali gagal.


Hari ini. Tadi pagi, tadi siang, dan malam ini adalah hari terindah dalam hidup Andra.