
Nesa pov
Sudah satu bulan berlalu. Aku tak pernah lagi berjalan berdua bersama Anya. Bahkan kami tak saling bicara. Setiap aku hendak bicara padanya, dia selalu pergi atau sengaja menghindar agar aku tak bicara padanya.
"Nesa, ke kantinnya mang Ujang yuk," ajak Arkan padaku. Aku mengangguk. Saat aku berdiri, tak sengaja aku mlihat tatapan kebencian dan sedih sekaligus di mata Anya.
"Cepetan," ucap Arkan. Dia langsung menggenggam tanganku dan membawaku ke kantin mang Ujang. Seluruh pandangan mata sepanjang koridor terus menatapku dan Arkan.
Sekarang aku merutuki para guru yang membuat rapat mendadak. Hingga semua murid kini bebas berkeliaran kemanapun.
Aku mendengar bisikan murid tentang aku dan Arkan, apalagi topiknya selain berita tentang aku yang pacaran dengan Arkan hingga menggemparkan satu sekolah.
'Mereka cocok jadi pasangan teromantis'
'Coba aja liat, gimana Arkan megang tangan Nesa'
'Mereka serasi banget sih, aku dukung banget mereka pacaran'
'Ish, kenapa sih Anesa deket-deket terus sama Arkan'
'Arkan ganteng banget sih, sumpah'
Begitulah bisikan mereka pada ku, lebih tepatnya padaku dan Arkan.
Kita sampai di kantin mang Ujang. Arkan memesankan makanan sementara aku duduk di kursi.
Arkan duduk tepat di hadapanku. Dia terus menatapku, dan aku fokus pada ponselku.
"Kapan kita akan ngelurusin masalah tentang pacaran itu?" tanyaku pada Arkan. Tapi, aku tak berani menatap matanya. Entah kenapa, setelah acara satu bulan itu, setiap aku menatap mata Arkan. Jantungku berdetak lebih cepat dan rasanya pipiku menghangat.
Arkan menatap diriku, dan ku coba agar aku juga bisa menatap matanya. "Emangnya kenapa kalau mereka ngira kita pacaran? Nggak masalah kan?" ucap Arkan. Aku diam.
Memang tidak pernah masalah bagiku. Tapi, apakah perasaan Anya padamu masih sama? Aku takut jika dia marah padaku.
"Lagian satu bulan terakhir bukankah kita emang dekat. Aku pikir mereka mengatakan pacaran karena kita selalu bersama," ucap Arkan.
Aku terdiam. Ucapan Arkan benar. Aku dan dia sudah dekat satu bulan yang lalu dan satu bulan itu juga Anya mulai menjauhiku. Apakah karena Arkan?
Aku hanya melamun, sampai jam istirahat selesai.
Nesa pov end
*****
Author pov
Sama seperti saat berada di kantin. Sekarang Nesa sedang melamun di kelas. Nesa terus memperhatikan Anya.
Hingga guru menegur Nesa.
"Nesa, apa yang sedang kamu perhatikan?" ******. Dia adalah guru Bahasa Inggris. Satu-satunya guru bahasa inggris di Indonesia yang paling killer.
Nesa menggeleng. Dia menatap tatapan gurunya yang sangat tajam.
"Perhatikan dengan baik," ucap guru itu mengingat Nesa adalah salah satu murid yang lancar dalam pelajaran bahasa inggris.
Nesa mengangguk. Guru itu kembali mengajar. Saat Nesa kembali menatap ke arah Anya. Gadis itu juga sedang menatapnya. Kali ini hanya ada pandangan datar.
Saat Nesa tersenyum ke arah Anya, gadis itu membuang mukanya. Nesa hanya bisa mengembuskan napasnya. Hatinya sakit. Tidak pernah sesakit ini.
Nesa kembali memperhatikan ke depan sebelum dia dikeluarkan dari kelas.
*******
Kringgggg
Bel pulang berbunyi nyaring. Saat semua orang sedang bersiap-siap seperti ingin lari maraton, berbeda dengan Nesa yang masih memberekan bukunya.
"Baiklah, terimakasih atas perhatiannya, dan sampai jumpa."
Setelah guru keluar. Semua murid berlomba-lomba keluar kelas.
"Nesa, mau pulang bareng nggak?" ajak Arkan. Nesa menatap Arkan, tanpa sengaja matanya menatap mata Anya. Matanya menunjukan rasa cemburu namun tersembunyi.
"Oh ya udah, aku pulang duluan yah." Nesa mengangguk. Sekarang, di dalam kelas hanya ada Nesa sendirian.
Nesa keluar dari kelas dengan tatapan kosong, begitu terus hingga sampai di rumah.
"Assala'mualaikum, Bunda," salam Nesa. Bunda mendekati putrinya itu.
"Wa'alaikumsalam, eh anak Bunda udah pulang. Sekarang kamu bersih-bersih dulu terus istirahat. Nanti bunda nyamperin kalau udah waktunya makan malam," ucap bunda. Nesa hanya mengangguk. Dia beranjak menuju kamarnya.
Entah kenapa, Nesa merasa hari-harinya berjalan sepi tanpa kehadiran Anya. Dia merindukan gadis itu. Gadis itu, sahabat pertamamya, sahabat terbaiknya.
******
Flashback on
Seorang gadis duduk sendirian di pojok kelas. Dia hanya menatap ke luar jendela. Dia sama sekali tak memperhatikan penjelasan dari gurunya itu.
Hingga, jam istirahat berbunyi. Gadis itu keluar dan menuju kantin, sendirian. Dia sama sekali belum memiliki sahabat.
Yang ia tahu, sahabat hanya akan menikamnya dari belakang. Memang dia berkata manis di depan, tapi saat di belakang, dia akan berkata buruk tentang sahabatnya itu. Karena itu, gadis itu tak ingin bersahabat sama sekali.
Dia seperti itu terus hingga kenaikan kelas. Sebelum—dia bertemu dengan seseorang yang amat baik di mata gadis itu.
"Hai," sapa seorang gadis.
Gadis yang disapa mendongak menatap gadis di hadapannya.
"Hai," balas gadis itu.
"Boleh tau nama lo?" tanya gadis itu. Gadis yang sedang duduk sambil mendengarkan musiknya menatap gadis di hadapannya.
"Hmm..." Gadis itu duduk disamping si gadis.
"Nama gue Anya, siapa nama lo?" intro Anya.
"Gue Anesa," jawab Nesa.
"Oh iya, btw lo laper nggak? Kantin mang Ujang yuk," ajak Anya. Nesa menatap Anya bingung.
"Kantin mang Ujang?" tanya Nesa, mengerutkan keningnya.
"Iya, lo belum pernah ke sana yah." Nesa mengangguk.
"Yaudah yuk ikut, biar gue tunjukin kantinnya," ucap Anya. Nesa berdiri, mereka berjalan bersama menuju kantin mang Ujang.
Nesa menatap bingung jalan ke arah kantin mang Ujang. Koridornya sepi.
Saat mereka sampai di kantin. Nesa benar-benar terperangah. Tempatnya begitu damai dan sejuk, karena ada pohon besar dekat warung yang ada di sana.
Mereka duduk di dekat pohon yang rindang. "Mang Ujang, mie ayam spesialnya dua, sama minumnya..." ucapan Anya terhenti karena tak tau apa minuman yang diinginkan Nesa.
"Jus jeruk," ucap Nesa.
"Minumnya jus jeruk satu sama es teh nya satu," ucap Anya yang bisa dikatakan sedikit berteriak.
Mang Ujang yang sedang berada di belakang mengangguk.
"Kamu tau dari mana tempat ini?" tanya Nesa. Anya menatap Nesa.
"Aku tau pas nggak sengaja dulu kesasar waktu pertama kali masuk," ucap Anya. Nesa mengangguk.
Mulai saat itu, Nesa mulai menyukai pertemanannya dengan Anya, hingga mereka menjadi sangat dekat. Anya benar-benar sahabat yang setia. Dia tak pernah sekali pun mengacuhkan Nesa atau membicarakannya di belakang. Anya berbicara terus terang pada Nesa. Hingga tak ada rahasia satupun diantara mereka berdua.
Selama Nesa bersahabat dengan Anya, mereka selalu tertawa. Tak pernah menertawakan satu sama lain. Mereka terkadang menertawakan teman sekelas mereka yang kadang bertingkah konyol. Dan kadang juga mereka sengaja menyindir seseorang yang menurut Nesa dan Anya aneh. Lalu mereka tertawa berdua.
Merek tak sekalipun bersedih, jika salah satunya sedang sedih, maka yang lain akan menghibur. Begitu seterusnya.
Flashback off
Tanpa sadar, Nesa meneteskan air matanya. Dia merindukan sahabatnya, dia sangat menyayangi sahabatnya dan dia akan melakukan apapun untuk sahabatnya.