
“Loh, Nesa. Kok pulangnya telat?” tanya ayah Nesa yang sudah stand di teras rumah. Tadi, ayah Nesa juga sempat melihat orang yang mengantar Nesa.
“Nesa abis jenguk Anya, Yah,” jawab Nesa. Ayah Nesa mengangguk. Lalu dia mengelus rambut Nesa dengan sayang.
“Lain kali kalau mau pulang telat bilang sama bunda. Dia khawatirin kamu terus, tuh,” ujar ayah. Nesa mengangguk.
“Yaudah ayah, Nesa mau masuk dulu," ucap Nesa. Dia langsung masuk ke dalam.
“Asalamualaikum, Bunda,” salam Nesa. Dia mencium tangan bundanya.
“Nesa, kamu bikin bunda khawatir aja tau nggak,” ucap Tia. Nesa hanya melirik kakaknya itu.
“Yaudah, lain kali kabarin dulu kalau mau pulang telat. Sekarang Nesa ke kamar dulu gih, bersih-bersih.” Nesa mengangguk. Dia bergegas ke kamarnya.
Setelah Nesa keluar dari kamar mandi, dia merebahkan badannya sebentar di atas kasur empuknya.
“Anya kenapa yah? Kenapa sikapnya berubah?” ujar Nesa pada dirinya sendiri. Dia mengambil ponselnya yang ada di atas meja belajar. Lalu duduk di sofa. Dia mengetikan sesuatu di ponselnya.
Me:
Hai Anya
Udah sehatan belum?
Besok mau berangkat
Atau masih nggak enakan?
Semoga kamu cepet sembuh
yah.
Kamu udah tidur yah?
Ya udah, selamat beristirahat Anya.
Nesa hanya menghela napasnya. Lalu beranjak dari duduknya untuk pergi ke meja makan.
*****
Keheningan melanda di meja makan, tidak biasa-biasanya meja makan itu sepi. Biasanya diisi dengan candaan bila tidak maka akan diisi dengan pertikaian antara Tia, Nesa dan Wulan. Tapi, hari ini sepertinya mereka sedang memikirkan masalah masing-masing.
“Nesa.” Panggilan Ayah membuat seluruh mata kini tertuju Ayah.
“Iya, kenapa yah?” tanya Nesa sambil menatap ayahnya.
“Sebentar lagi kamu akan menghadapi ujian loh. Kamu udah tentuin mau masuk di kampus apa,” ucap ayah. Topik yang berat.
“Hem... Sebenarnya udah lama Nesa tentuin.” Nesa menarik napas dalam-dalam. Mungkin, sekarang adalah waktu yang tepat untuk mengungkapkannya.
“Sebenarnya yah, ujian Nesa itu masih lama. Tapi Nesa udah pikir mateng-mateng dan Nesa juga udah ambil tindakan.” Ucapan Nesa membuat suasana makan malam menjadi tegang.
“Sebenarnya, Nesa...” Nesa ragu untuk mengatakan pada ayahnya. Ini adalah rahasia besar Nesa. Bahkan Anya sama sekali tidak mengetahui hal ini.
Hanya pak Arya selaku kepala sekolah serta Nesa yang tau.
“Nesa, emm... Nesa mau mikir mateng-mateng dulu deh yah,” ucap Nesa berbohong. Ayah hanya mengangguk, walau dia merasakan hal mencurigakan dari putrinya itu.
“Yaudah, Nesa ke kamar dulu ya," ucap Nesa. Lalu dia beranjak dari meja makan menuju kamarnya.
“Bun, Nesa kenapa?” tanya ayah pada bunda.
“Bunda nggak tau yah,” ucap bunda.
“Kak, adek kenapa?” tanya bunda pada Tia.
“Paling juga masalah cowok, Bun,” ucap Tia asal. Bunda menghembuskan napas berat.
"Kakak! Aku masih denger yah! Aku nggak mikirin soal cowok! Jangan pikir aku nggak tau kakak udah punya cowok!"
Tis bungkam, rakasianya terbongkar juga. "Benar kak? Kakak udah punya cowok? Kenalin dong," ujar Wulan meledek kakaknya.
Bunda dan Ayah mengembuskan napasnya dengan berat.
****
Hari ini adalah hari minggu. Dan Nesa tidak tahu akan melakukan apa hari ini. Dia sedang tidak memiliki rencana untuk kemanapun.
Sebelum sebuah pesan masuk membuat ponselnya bergetar.
Nesa membuka pesan yang entah dari siapa itu.
Nesa, lo lagi sibuk
nggak?
Ini siapa?
Oh iya lupa, Gue
Arkan. Sv kontak gue
Dari mana lo dapet
nomor gue?
Someone. Udahlah itu
nggak penting. Hari ini lo
sibuk atau nggak?
Nggak kok, emangnya
Kenapa?
Gue mau ajak lo ke suatu tempat, sekarang lo siap-siap. Gue tunggu di luar.
Nesa segera keluar dari kamar menuju ke gerbang depan.
Benar saja, dia melihat Arkan yang sedang duduk di atas motornya.
“Ngapain lo ajak gue? Nggak ada orang lain?” tanya Nesa sarkas.
“Nggak, gue cuman pengen ajak lo doang. Udah gih sana siap-siap.” Nesa memutar bola matanya. Dia masuk ke dalam rumah untuk bersiap.
****
“Sebenernya kita mau kemana sih?” tanya Nesa yang penasaran.
“Udah, lo diem aja bentar lagi sampe kok," ucap Arkan.
Nesa tau arah jalan ini. Ini adalah jalan menuju mall.
Tepat seperti yang Nesa pikirkan. Arkan menghentikan motornya di parkiran mall daerah Jakarta. Jaraknya lumayan jauh dari rumah Nesa.
“Ngapain kita kesini?” tanya Nesa. Arkan tidak menjawab. Dia langsung menggenggam tangan Nesa. Nesa yang sedang melamun terkejut mendapati Arkan yang menggenggam tangannya. Nesa merasakan jantungnya yang berdetak lebih cepat.
Nesa hanya mengikuti Arkan yang masih memegang tangannya.
Tiba-tiba Arkan berhenti mendadak yang membuat kepala Nesa membentur bahu Arkan.
“Ish, kenapa berhenti mendadak sih. Kepala gue sakit tau," ucap Nesa sambil mengelus jidatnya.
Tiba-tiba Arkan berbalik ke arah Nesa. Arkan meletakan tangannya di bahu Nesa. Membuat siapapun yang melihat mereka akan mengira mereka sedang bepelukan.
Detak jantung Nesa berdetak makin cepat. Mereka sangat dekat. Hingga Nesa bisa merasakan deru napas Arkan di ujung kepalanya.
Beberap detik mereka masih dalam posisi yang sama. Jantung Nesa seperti hendak copot. Nesa langsung mendorong bahu Arkan.
“Lo kenapa sih?” tanya Nesa heran. Arkan hanya menggeleng. Itu benar-benar membuat Nesa kesal.
“Yaudah yuk, kita jalan lagi.” Kali ini, saat Arkan ingin menggenggam tangan Nesa. Nesa menyentaknya. Dia tidak membiarkan Arkan melakukan hal yang sama padanya.
Arkan menghentikannya di sebuah toko perhiasan. Nesa menatap Arkan bingung.
“Ngapain kita di toko perhiasan?” tanya Nesa.
“em... Gue mau cari gelang buat seseorang yang istimewa di hati gue," ucap Arkan. Nesa mengangguk. Sebenarnya, Nesa merasakan sakit di hatinya. Tapi, dia harus ingat kalau sahabatnya mencintai Arkan.
“Menurut lo mana yang bagus?” tanya Arkan.
Nesa melihat-lihat gelang yang terpajang di dalam sebuah lemari kaca.
“Em... Menurutku yang ini bagus," ucap Nesa sambil menunjuk sebuah gelang rantai dengan gantungan permata berwarna-warni. Gelang yang sangat indah.
“Oke, gue ambil yang ini aja,” ucap Arkan.
“Mba, saya mau gelang yang itu, taruh di dalam kotak beludru warna merah” ucap Arkan pada pelayan toko.
Pelayan itu mengangguk, dia mengambilkan gelang itu dan memasukannya kedalam kotak.
Arkan membayar tagihan untuk gelang itu.
“Abis ini mau kemana?” tanya Nesa.
“Kita ke restaurant aja, aku laper,” ucap Arkan, menunjukan wajah kelaparannya. Nesa mengangguk.
"Lo suka masakan apa?" tanya Arkan yang melihat restaurant berjajar di hadapan mereka.
"Gimana kalau kita ke restaurant jepang?" tanya Nesa. Arkan mengangguk. Akhirnya mereka memilih datang ke restaurant jepang.
****
Saat mereka sudah keluar dari restaurant. Tiba-tiba, Arkan menarik tangan Nesa menuju timezone.
"Ngapain kita kesini?" tanya Nesa. "Ya main lah, emang nya mau ngapain lagi?" jawab Arkan. Nesa mengangguk.
"Em... Nes, kamu mau main apa aja?" tanya Arkan pada Nesa.
"Terserah lo," ucap Nesa.
****
"Eh, Nes. Di sana ada apaan tuh," kata Arkan sambil menunjuk kerumunan orang yang sedang berkumpul. Tanpa aba-aba, Arkan langsung menarik tangan Nesa ke arah kumpulan orang itu.
Ada sebuah perlombaa tahunan yang diadakan di mall, dan kali ini diadakan di timezone dengan tema sepasang kekasih.
"Nes, kamu mau ikut nggak?" tanya Arkan. Nesa menatap Arkan bingung. Buat apa mereka ikut.
"Tapi kan itu lomba buat pasangan, dan lagi aku juga nggak tau lombanya." Entah sejak kapan, Arkan dan Nesa berbicara dengan kata aku-kamu.
Arkan langsung menarik tangan Nesa menuju acara perlombaan.
"Apakah anda ingin mendaftar bersama pacar anda," ucap panitia lomba yang melihat Arkan memegang tangan Nesa. Arkan langsung mengangguk.
"Baiklah, siapa nama anda?" tanya pendaftar itu.
"Arkan dan Anesa," ucap Arkan, setelah itu pendaftar itu mencatatnya.
"Baiklah, kalian tunggu disini sampai acaranya di mulai." Setelah itu pendaftar itu pergi meninggalkan Arkan dan Nesa.
"Kenapa harus ikut acara ginian juga sih?" tanya Nesa. Tapi, Arkan tidak menjawab.
Dia langsung menarik tangan Nesa menuju lantai dansa.
"What! Jadi lombanya dansa?" tanya Nesa terkejut.
"Iya, emang kenapa?" tanya Arkan sambil tersenyum. Nesa hanya menggeleng.
"Baiklah, kita telah mendapatkan sepuluh pasangan serasi. Tugas peserta hanyalah berdansa diatas lantai dansa terbatas dengan warna. Semakin lama, lantai itu akan semakin mengecil dan kalian tidak boleh menyentuh lantai putih. Jika kalian menyentuhnya, kalian dianggap gugur. Jadi, selamat berdansa," ucap pembawa acara. Lalu dia beralih keluar dari lantai dansa.
Lantai dansa kini berwarna merah. Alunan musik mulai berirama. Para pasangan yang berada di lantai dansa mulai berdansa dengan pasangan masing-masing.
Berbeda dengan Arkan dan Nesa. Mereka masih merasa canggung.
"Em... Boleh kah?" tanya Arkan sambil mengulurkan tangan kanannya. Nesa menerimanya dengan ragu.
Arkan memegang pinggang Nesa sementara Nesa memegang bahu Arkan. Mereka benar-benar terlihat serasi dan sangat romantis.
Alunan musik mulai berubah, lantai dansa yang harus dipijak kini mulai mengecil. Pergerakan yang dilakukan pun semakin sempit.
Jantung Nesa bedegub kencang. Nesa merasakan pipinya yang mulai menghangat. Entah kenapa, tapi Nesa mulai nyaman saat di dekat Arkan.
Alunan musik berubah lagi. Tapi tetap musik yang sama, musik yang mengalun dengan lembut dan romantis.
Nesa dan Arkan saling mengikis jarak diantara mereka. Sudah tiga pasang peserta yang gugur.
Setelah lima menit alunan musik mengiringi dansa, kini kotak lantai dansa itu semakin mengecil, Nesa harus berbagi pijakan dengan Arkan.
Mereka sangat-sangatlah romantis hingga membuat kaum hawa yang melihatnya merasa iri. Sama dengan gadis yang berdansa di pojok sana, wajahnya menunjukan amarah.
Satu persatu peserta mulai gugur. Kini, hanya tinggal tiga pasangan peserta. Termasuk Arkan Nesa dan orang yang melihat mereka dengan amarah yang memuncak.
Alunan musik berganti. Dan sekarang, lantai dansa itu semakin mengecil. Hanya akan bisa dipijak oleh satu orang.
Semua peserta dan penonton mulai bingung. Bagaimana cara mereka untuk berdansa?
Satu pasangan menyerah, mereka keluar dari lantai dansa. Sekarang, hanya terlihat dua pasang peserta saja yang masih bertahan.
Arkan sedang memikirkan bagaimana caranya agar mereka bisa tetap berdansa tanpa menyentuh lantai putih. Dia menatap ke bawah, lebih tepat dia menatap sepatu yang dikenakan Nesa. Untungnya Nesa tidak sedag memakai high hils. Dia memakai sepatu sport berwarna putih.
Wajah Arkan menunduk, dia membisikan sesuatu tepat di telinga Nesa.
"Nes, sekarang lo injek kaki gue," ucap Arkan. Hembusan nafas Arkan membuat tengkuk Nesa menjadi geli.
"Tapi untuk apa?" tanya Nesa. Arkan tidak menjawab, membuat Nesa mau tak mau melakukan apa yang Arkan minta.
Nesa melangkahkan kakinya tepat di atas kaki Arkan.
"Nggak sakit kan?" tanya Nesa memastikan. Arkan hanya terkekeh. Melihat kegelisahan Nesa.
"Nggak. Sekarang kamu peluk aku," ucap Arkan. Nesa membelalakan matanya.
Nesa hampir saja mendorong bahu Arkan, tapi Arkan lebih dulu memeluk Nesa. Posisi mereka sekarang benar-benar membuat kaum hawa iri.
Peserta di sebelah sana pun melakukan hal yang sama. Tapi sayang, si gadis sedang mengenakan high hils yang cukup tinggi.
Hingga mereka harus menyentuh garis putih.
"Ah... Kakak gimana sih!" marah gadis itu pada seseorang yang di panggil kakak.
Si kakak hanya memutar bola matanya. "Kamu yang salah. Ngapain coba kamu pakai high hils? Coba aja kalau kamu pakai sepatu biasa aja kayak gadis itu," ucap sang kakak sambil melihat Nesa.
Arkan dan Nesa masih dalam posisi berpelukan. Tanpa mereka sadari, mereka menjadi sorotan publik.
Arkan masih di posisi yang sama, memeluk Nesa dengan wajah yang ia tenggelamkan di bahu Nesa. Dan Nesa melakukan hal yang sama, tanpa sadar dia pun membalas pelukan Arkan. Mereka sama-sama menikmati pelukan mereka, mereka memejamkan matanya hingga tak sadar kalau mereka sedang menjadi tontonan.
Si pembawa acara hendak mengumumkan pemanang, tapi terhenti karena protesan dari penonton yang masih menikmati pemandangan di hadapannya ini.
Hingga alunan musik berhenti mengalun. Arkan dan Nesa sama-sama sadar dari alam nyaman mereka. Mereka melepas pelukannya, saling pandang sesaat sebelum keduanya membuang muka ke arah lain.
Semua orang yang tadi menonton bertepuk tangan. Lalu, entah datang dari mana, kelopak bunga mawar merah berjatuhan dari langit ruangan.
Arkan dan Nesa bertatapan heran. Si pembawa acara yang mengerti arti tatapan mereka, dia langsung menuju ke arah mereka.
"Selamat, kalian telah memenangkan kompetisi menjadi pasangan paling romantis tahun ini. Kalian di nobatkan sebagai king and queen pasangan paling romantis dan serasi," ucap si pembawa acara. Penonton yang melihatnya kembali bertepuk tangan.
Lalu, datanglah seseorang dengan membawa mahkota king and queen yang sangat indah.
Si pembawa acara memasangkan mahkota king di atas kepala Arkan dan memasangkan mahkota queen diatas kepala Nesa. Nesa juga mendapatkan seikat bunga yang indah.
Semua orang lagi-lagi merasa terpukau dan bertepuk tangan.
Arakn dan Nesa hanya saling tatap tanpa tahu harus melakuka apa.