
Author pov
Arkan dan Nesa masih menjalankan hukumannya itu. Tapi, suara bising itu membuat Nesa tak betah.
“Ish, gini nih kalau bareng sama most wanted. Banyak gangguan,” gerutu Nesa. Tapi, Arkan tetap mendengarnya. "Lo juga famous kale," ujar Arkan mengingatkan.
Nesa menurunkan tangannya, lalu terjatuh. Ia benar-benar sangat lemas.
“Lo kenapa?” tanya Arkan yang masih berdiri.
“Aku udah nggak kuat, capek banget. Lagian lima menit lagi kan bel,” ucap Nesa. Dia sudah berdiri. Sekarang Arkan pun menurunkan tangannya.
“Gue ke kelas duluan yah,” ucap Nesa lalu berjalan ke kelas mendahului Arkan. Sebelumnya dia mengambil tasnya yang terletak di bawah tiang bendera.
Arkan pun melakukan hal yang sama. Dia berjalan dengan santai menuju kelas tanpa menghiraukan teriakan fans- nya itu.
Arkan sampai di kelas, dan dia tidak melihat siapa pun kecuali Nesa yang sedang meletakan kepalanya di atas meja.
Arkan meletakan tasnya di atas mejanya. Lalu mendekati meja Nesa. “Nesa, lo nggak papa kan?” tanya Arkan yang melihat Nesa tak bergerak sedari tadi.
Nesa menegakan kepalanya.
“Gue nggak apa-apa kok. Kita jadi ke warung mang Ujang, 'kan?” jawab dan tanya Nesa. Arkan mengangguk.
Nesa berdiri dari duduknya. Lalu berjalan bersama Arkan menuju kantin.
Mereka sampai di warung mang Ujang. Hanya sedikit murid yang makan di sana. Tempat yang nyaman bagi Nesa karena tempat ini sepi.
Arkan dan Nesa duduk di kursi paling depan dari warung mang Ujang.
“Mang Ujang, Nesa mau pesen,” ucap Nesa agak berteriak. Arkan yang duduk di depannya hanya melihat.
“Eh, non Nesa. Non kembaran nya mana?” tanya mang Ujang yang merasa heran karena tidak melihat Anya bersama Nesa. Nesa hanya terkekeh mendengar ucapan mang Ujang yang menganggapnya dan Anya adalah anak kembar.
“Nggak tau mang,” ucap Nesa sambil mengangkat bahunya.
“Oh iya, non mau pesen apa?” tanya mang Ujang. Nesa berpikir sejenak.
“Mi ayam spesial nya dua, sama minumnya...” Nesa menatap Arkan yang sedang bermain ponselnya.
“Arkan, lo mau minum apa?” tanya Nesa. Arkan menegakan kepalanya.
“Jeruk,” ucap Arkan. Nesa mengangguk.
Mang Ujang mengangguk. Dia segera pergi ke belakang untuk menyiapkan pesanan.
“Jadi, lo itu saking deketnya sama Anya, semua orang anggep kalian kembar?” tanya Arkan. Nesa menatap Arkan.
“Kayaknya iya deh, kecuali mereka yang udah deket sama kita pasti tau,” ucap Nesa yang diakhiri kekehan di akhir kalimatnya.
"Padahal kalian itu beda banget, lho."
Arkan tersenyum ke arah Nesa. Dia hanya menggelengkan kepalanya menghadapi sikap Nesa.
Pesanan mereka sampai, Nesa mulai menambahkan bumbu ke dalam mangkuk mi ayamnya. Dia menambahkan saus, kecap, cuka, bahkan tak tanggung-tanggung, dia menambahkan sambal hingga lima sendok.
“Ya ampun Sa, kalau lo nanti sakit perut gimana?” tanya Arkan yang melihat bagaiman Nesa meletakan bumbu itu di mangkuknya.
Tapi, Nesa tidak perduli, dia tetap melanjutkan makannya. Arkan hanya menggeleng kan kepalanya. Kelakuan Nesa tidak seperti gadis lainnya yang akan benar-benar menjaga image nya.
Dari balik tembok yang tak jauh dari kantin, terlihat seseorang yang sedang menatap ke arah Nesa dengan jengkel. Tapi dia tetap mencoba sabar. Walau dia melihat sahabatnya yang sedang tertawa bahagia bersama dengan seseorang yang istimewa. Dia berbalik kembali ke kelasnya.
*******
Nesa kembali ke kelas sendirian. Tadi, saat akan kembali ke kelas bersama Arkan. Arkan di panggil oleh pak Jaya.
Nesa memasuki kelasnya yang sangat ramai. Sepertinya sedang jam kosong.
Saat Nesa sampai, dia melihat Anya yang ternyata sedang duduk di sebelah Dea. Nesa tak mempermasalahkan. Dia tetap positif thinking.
Anya yang melihat Nesa duduk di kursinya hendak menghampirinya untuk menanyakan keberadaannya tadi pagi. Dia sudah berjalan menuju meja Nesa, tetapi dia berhenti mendadak.
Di depannya, Luna sudah berdiri di depan Nesa. Anya mengurungkan niatnya untuk mendekati Nesa.
Anya sangatlah membenci Luna. Entah kenapa dia sangat membenci Luna. Sedangkan Nesa merasa bahagia bersama Luna. Menurutnya Luna adalah gadis baik, dia tidak sejalan dengan pemikiran sahabatnya itu.
“Anesa, anterin gue ke toilet, yuk,” ucap Luna. Nesa mengangguk, sebenarnya dia tidak ingin ke toilet, ia hanya ingin pergi ke luar.
Mereka berdua berjalan di koridor yang sepi. Sedari tadi Luna berbicara tentang keluarga dan pacarnya yang posesive. Apa dia tidak tau ada orang jomblo disini. Sementara Nesa hanya mengangguk saat Anya meminta pendapatnya.
Saat Luna telah keluar dari toilet. Dia mengajak Nesa ke kantin. Nesa mengangguk. Mereka berdua berjalan ke kantin.
Saat duduk setelah memesan makanan, Nesa melihat Anya yang sedang bersama Dea. Nesa menatap dan menyapa Anya, tapi Anya tidak menjawab sapaan Nesa, bahkan dia tidak menatap Nesa sedikit pun.
Nesa hanya menghembuskan napasnya berat. Ada apa dengan Anya?