
Tiga hari Nesa tidak berangkat ke sekolah. Dia sangat merindukan sahabatnya, saat Nesa mengingat tentang sahabat, dia kembali bersedih.
"Nesa, udah siapkan. Yuk, karena hari ini hari pertama ujian, jadi kakak yang bakalan anter kamu ke sekolah, " ucap Tia.
Nesa mengangguk, mereka berjalan menuju garasi mobil. Nesa duduk dengan diam. Dia hanya terus menatap lurus dengan pandangan kosong.
Nesa berjalan menuju ke ruang ujian. Dia sudah belajar, Nesa hanya berharap kalau dia tidak melupakan apapun saat ujian nanti.
Arkan menatap sedih ke arah Nesa yang sedang membaca bukunya. Dia benar-benar memaksakan dirinya.
Tak bisa dibayangkan jika dialah yang berada di posisi Nesa sekarang.
Sementara Anya? Dia hanya menatap Nesa dari jauh, walau terbesit untuk datang dan memeluknya. Dia terlihat lebih kurus. Anta menatapnya sedih. Tapi, dia mencoba menguatkan dirinya agar terus acuh pada Nesa.
******
Nesa memaksakan dirinya untuk berpikir keras. Dia sudah menyelesaikan semua soalnya sebelum bel. Dia sangat memaksakan nya. Hingga alhasil, dia memegang kepalanya yang sakit dan hidungnya yang mimisan.
Pengawas yang melihat itu langsung mendatangi meja Nesa. Darah dari hidung Nesa menetes hingga lantai yang berwarna putih kini terdapat banyak tumpahan darah.
Arkan yang sudah selesai, melihat ke arah Nesa. Dia langsung mendekat ke meja Nesa.
"Pak, biar saya saja yang membawa Nesa ke UKS," ucap Arkan. Pengawas itu hanya mengangguk.
Arkan menggendong Nesa yang masih kesakitan. Arkan menatap Nesa yang membenamkan wajahnya di dada bidang Arkan. Itu membuat baju yang dikenakan Arkan kotor oleh darah.
Arkan benar-benar menatap khawatir Nesa. Nesa sangat-sangatlah ringan. Dia kurus dan dingin.
Arkan membuka pintu UKS dengan sedikit mendobraknya. Dia langsung membaringkan Nesa diatas brankar lalu memberikan Nesa tisu. Nesa terus fokus pada hidungnya. Tisu yang ia pegang sudah basah. Dan Nesa mengganti dengan tisu yang lain. Hal itu terus dilakukan hingga berulang-ulang.
Bu Winda datang dengan tergesa-gesa. Dia menatap iba ke arah Nesa.
"Nesa, dimana obat kamu?" tanya bu Winda.
"Loker," ucap Nesa dengan lemas.
Arkan langsung berlari ke luar UKS. Dia langsung menuju ke loker milik Nesa. Arkan melihat kunci loker Nesa yang masih menggantung.
Akhirnya, dia memutuskan untuk mengambil ketiganya. Saat Arkan hendak pergi, dia melihat sebuah buku diary. Sepertinya milik Nesa.
Tapi, Arkan sudah menutup lokernya dan tidak ada waktu sekarang.
Arkan langsung mengambilnya dan berlari menuju UKS.
Saat Arkan sudah berada di UKS. Dia memberikan obatnya pada bu Winda.
Bu Winda bingung, karena Arkan membawa tiga botol obat sekaligus.
"Kenapa banyak sekali?" tanya bu Winda sambil membuka isi obatnya.
"Saya juga tidak tahu bu. Di loker Nesa banyak obat dengan ketiga jenis yang sama seperti itu." Bu Winda menatap Nesa yang masih sadar.
"Nesa, kamu masih sadar? Mana obat yang biasa kamu minum. Di botol biru, hijau atau kuning?," ucap bu Winda. Nesa menatap ketiga botol itu.
"Ti-tiga tiganya," ucap Nesa. Bu Winda tanpa pikir panjang langsung memberikan ketiga obatnya.
Sementara Arkan menatap Nesa dengan bingung. Sebenarnya apa penyakit Nesa dan kenapa Nesa harus memakan obat sebanyak itu. Itu yang ada di pikiran Arkan.
Setelah Nesa minum obat, dia langsung memejamkan matanya.
Darah yang ada di hidung Nesa sudah hilang dan bersih. Nesa bisa bernapas dengan teratur.
"Sebenarnya apa yang terjadi sama Nesa?" tanya bu Winda.
Arkan menggeleng.
"Arkan? Apakah kamu membawa mobil?" tanya bu Winda pada Arkan. Arkan mengangguk. Ya, hari ini dia membawa mobil karena musim hujan sudah datang dari minggu yang lalu.
"Bagus, ujian juga sudah hampir selesai. Sekarang kamu tunggu disini sampai Nesa siuman. Terus nanti kamu ajak pulang yah," pesan bu Winda. Arkan mengangguk.
Bu Winda pergi dari UKS. Sementara Arkan menunggu Nesa siuman.