
Latihan sudah selesai. Bu Ratih pamit ke ruang guru untuk menyelesaikan suatu hal dan menyuruh kedua anak muridnya itu menunggu sebentar. Andra dan Mona memilih menunggu di taman. Berharap bisa bertemu lagi dengan cowok maniak catur lagi.
Benar saja. Saat mereka baru memasuki taman, dari jauh sudah terlihat cowok maniak catur di bangku tempat biasa ia duduki dengan membawa bidak catur tentunya. Andra dan Mona yang melihatnya dari kejauhan langsung menghentikan langkah.
"Lo lihat tuh!!" Tunjuk Andra ke arqh si maniak catur. "Dia balik lagi kan. Lagi nungguin lo paling?" Tanyanya, memberi semangat pada sahabatnya.
Mona malah tersenyum malu dengan pipi yang mulai ini bersemu merah. "Ada-ada aja lo." Balasnya menyenggol sikut sahabatnya.
"Samperin yuk." Ajak Andra bersemangat. Ia sudah melangkahkan kakikanya ketika tangan mona tiba-tiba menarik lengannya. "Kanapa Mon?" Tanya Andra heran.
"Gak usah deh." Jawab Mona malu-malu, dengan tangan yang mulai berkeringat dingin masih memegang lengan Andra. "Balik aja yuk. Kita tunggu Bu Ratih di parkiran aja." Lanjutnya dengan pandangan memelas.
"Kenapa?" Tanya Andra mulai bingung. "Lo tadi kan yang bilang sendiri kalok jodoh pasti ketemu lagi, dan sekarang kita ketemu lagi kan sama si maniak catur itu!! Berarti berjodoh kan?"
"Iya sih. Tapi......"
"Udal lah ayo......" Potong Andra. "Jangan kelamaan. Nanti dia keburu pergi lagi loh." Lanjutnya dan segera berbalik menarik tangan Mona untuk menghampiri si maniak catur. Mona yang ditarik pasrah saja dengan senyum malu-malu.
"Hai...." Sapa Andra ramah, ketika sudah sampai di depan si maniak catur.
Si maniak catur yang tadinya menunduk memainkan tangannya langsung mendongak ke arah suara dengan tersenyum manis. "Hai juga." Balasnya ramah.
"Kita boleh ikut duduk di sini gak?" Tanya Andra basa-basi.
"Tentu aja boleh dong. Silahkan." Balas si maniak catur mempersilahkan kedua sahabat itu duduk di sampingnya.
Dengan senang hati Andra langsung duduk, disusul Mona yang duduk di tengah tepat di samping si maniak catur.
"Oh ya. Tadi kan lo belum sempet ngenalin diri lo sama kita? Lo malah ngeloyor pergi gitu aja." Tanya Andra to the point, membuka percakapan setelah ia memprediksi bakal canggung kalok gak dia ngomong dulu.
"Maaf-maaf, kalok tadi gue pergi gitu aja. Habisnya kan tadi gue buru-buru dipanggil sama teman." Jawab si maniak catur menjelaskan.
"Gak papa kok." Balas Andra santai.
Diliriknya Mona yang ada di sampingnya. Dari tadi mona hanya diam menunduk dan sesekali tersenyum malu-malu ke arah si maniak catur. Akhirnya Andra senggol pundak Mona sampai ia kaget.
"Apaan sih?" Bisik Mona kesal.
"Daripada lo diem aja, Mending lo tanyaain gih siapa namanya. Masak dari tadi gue mulu yang ngomong." Balas Andra berbisik menyarankan.
Mona menatap ke arah Andra dengan tatapan ragu. Namun Andra hanya membalasnya dengan anggukan menyemangati. Dan akhirnya Mona mau menuruti saean Andra.
"Na....nama lo siapa?" Tanya Mona gugup dan malu-malu.
Si maniak catur malah tersenyum melihat tingkah Mona. Ia mengulurkan tangannya di depan Mona. "Kenalin, nama gue Zain." Jawabnya ramah, dengan senyum manis tentunya.
"Gu....gue Mona." Balas Mona, menyambut uluran tangan si maniak catur yang ternyata bernama Zain itu.
Zain kembali tersenyum melihat gelagat Mona, melepaskan jabat tangan. "Gue udah tau kok nama kalian berdua. Kan tadi udah kenalan." Jelasnya, membuat Mona malu. "Cuman gue bingung aja, gimana cara bedain kalian berdua? Secara kalian berdua kan mirip banget." Tanyanya, berfikir.
"Oh... " Kata Andra dan Mona berbarengan.
"Gampang kok cara bedainnya. Mona kan ramburnya hitam lurus, trus Lisa rambutnya agak pirang dan berombak." Jawab Andra menjelaskan.
"Berarti lo Lisa?" Tanya menunjuk ke arah Andra dan di jawabnya dengan anggukan meyakinkan. "Dan, yang cantik di sampingku ini Mona." Lanjutnya memuji kecantikan Mona yang membuat Mona tambah tersipu malu.
"Iya-iya. Lo cantik juga kok." Jawab Zain akhirnya. "Tapi masih tetep cantikan Mona." Gombalnya lagi. Membuat Mona tambah tersipu malu dan Andra manyun.
Baru sebentar berkenalan, mereka sudah bisa akrab. Mereka sudah saling nyaman ngobrol dan memperkenalkan diri masing-masing. Dari situlah Andra dan Mona tau jika Zain berusia dua tahun lebih tua dari mereka. Sekarang dia sudah kelas tiga SMA, sama seperti Adam. Ternyata dia juga seorang atlet catur kebanggaan sekolah.
Sedang asyik-asyiknya mereka mengobrol, HP Mona bergetar. Rupanya ada chat masuk dari Bu Ratih.
[Mon, kalian dimana?]
[Ibu udah selesai nih urusannya. Sekarang kira pulang ya]
[Ibu tunggu kalian di parkiran]
[Siap Bu]
[Kami segera datang] balas Mona cepat.
"Ndra....." Mona langsung menghentikan kata-katanya dan menutup mulutnya. Hampir aja ia keceplosan memanggil nama Andra. Untung Zain lagi fokus sama HP nya. "Lis cabut yuk. Udah ditunggu Bu Ratih di parkiran nih." Ajak Mona akhirnya.
"Oh ya udah. Ayo!!" Sahut Andra cepat.
"Kak Za, kami pulang dulu ya." Pamit Mona, sekarang ia sudah tak malu-malu lagi.
Zain membalasnya dengan senyum manis lagi. "Okey." Jawabnya, mempersilahkan kedua cewek itu pergi. "Hati-hati di jalan ya!!" Teriaknya lagi, ketika Andra dan Mona sampai di luar taman.
"Siap!!" Teriak mereka berbarengan, tak lupa melambaikan tangan ke arah Zain.
*_ _ _ _ _*
Mereka sudah sampai di dalam mobil dan sudah siap tancap gas meninggalkan parkiran sekolah. Bu Ratih hanya diam dan fokus menyetir. Guru mereka ini memang gak banyak bicara dan gak suka ngurusin masalah pribadi orang lain (apalagi masalah cinta muridnya). Tapi kalok udah berlebihan baru dia ikut bicara.
"Sekarang lega deh gue." Kata Mona membuka pembicaraan, bahagia dan senyum-senyum sendiri. Membuat Bu Ratih heran.
"Lega kenapa?" Tanya Bu Ratih tiba-tiba.
"Lega karna udah kenalan sama cowok yang biasa ketemu di sekolah itu loh Bu." Timpal Andra segera, membuat Mona tersipu malu.
"Ooo.... Cowok yang suka main catur itu toh?"
Iy...iya Bu." Jawab Mona malu-malu. Andra hanya tertawa saja melihatnya.
"Sepertinya anak ibu ada yang lagi jatuh cinta nih?" Canda Bu Ratih. "Jatuh cinta boleh saja, asal tidak terlalu berlebihan. Nanti yang ada malah kebablasan." Lanjutnya menasehati.
"Iya Bu." Jawab Andra dan Mona serentak.
"Oh ya. Siapa nama cowok itu?"
"Namanya Zain Bu." Jawab Mona lirih.
"Nama yang bagus." Kata Bu Ratih singkat, kemudian fokus kembali menyetir. Sementara dua murid yang duduk di jok belakang melanjutkan perbincangannya sampai mereka turun di rumah masing-masing.
Hari ini lega banget rasanya buat Andra. udah tau nama cowok yang ditaksir apa yang naksir Mona itu. Cowok itu bernama Zain.