
Bel pulang sekolah sudah berbunyi, Andra buru- buru membereskan barang-barangnya dan segera pergi meninggalkan kelas. Karena hari ini ia ada janji dengan mbak Ana, pelayan toko aksesoris langganannya untuk mengambil pesanannya kemarin jam setengah dua siang, dan berarti kurang setengah jam dari sekarang.
Sudah lima belas menit lebih Andra menunggu jemputan yang tak kunjung datang. Akhirnya ia berinisiatif untuk memesan ojek online saja, namun tak kunjung dapat juga, maklum saat ini adalah jam-jam sibuk pulang sekolah dan istirahat kantor. Akhirnya ia kembali memutuskan untuk naik kendaraan umum saja, namun kendaraan yang lewat di depannya selalu penuh. Karna tak ada jalan lain lagi, akhirnya ia memilih jalan kaki. Yah, walaupun jaraknya lumayan jauh, sekitar tiga puluh menit jalan kaki dari sekolahnya.
"Gak apa-apa lah telat dikit." Gumamnya pasrah. Ia mulai melangkah meninggalkan gerbang sekolah.
Sebenarnya sih bisa saja ia minta diantarkan Adam (pacarnya). Tapi Andra tak mau merepotkannya. Lagian sekarang juga sedang ada meeting anak-anak ekskul basket dan kebetulan Adam yang jadi ketuanya.
*****
Tanpa sadar, ternyata Andra sudah melangkah jauh dari sekolah. Sekarang ia sudah hampir sampai di depan SMA Bakti Mulia.
"Udah sampai sini aja." Gumamnya lega. "Berarti bentar lagi sampai." Lanjutnya bersemangat.
Drett...drett...drett...drett... Hp yang ada di saku bajunya bergetar. Segera saja di ambil dan dilihatnya. Ternyata ada dua pesan masuk sekaligus. Ia buka pesan yang pertama. Ternyata pesan dari Adam.
[Yang kamu di mana? Aku cari di kelas kok gak ada? Kata temen-temen kamu, kamu udah pulang duluan??] Tanyanya memberondong.
[Maaf ya sayang aku pulang duluan. Soalnya ada janji sama mbak Ana mau ambil pesanan. Sekali lagi maaf ya sayang.]
[Ya udah gak papa]
[Tapi kenapa kamu gak kasih tau aku dulu sih kalok mau ke sana? Kan kalok kasih tau, pasti aku anterin.]
[Aku cuman gak mau ganggu kamu sayang.]
[Bukannya kamu ada meeting anak-anak basket? Kamu harus ikut kan?]
[Sekali lagi maaf ya sayang.]
[Oh gitu]
[Padahal tadi aku masih bisa antar loh, kan meeting nya dimulai jam setengah dua. Tapi ya udah lah gak papa.]
[Kalok gitu, hati-hati ya sayang.]
[Udah dulu ya. Ini meeting nya mau mulai.]
[Iya sayang. Sekali lagi maaf.] Balas Andra mengakhiri percakapan.
Kini ia membuka pesan yang kedua. Ternyata dari mas Bayu (kakaknya).
[Lo di mana sih? Gue udah dari tadi nunggu di depan sekolah lo tau!!] Chatnya terlihat kesal.
[Maaf-maaf, gue udah otw ke toko aksesoris Jelita. Nih bentar lagi nyampek.]
[ADUH!! Kenapa lo gak telpon gue sih dari tadi? Atau seenggaknya wa kek.]
[Kan kalok gini gue juga yang rugi. Rugi waktu, rugi tenaga pula!!]
[Btw lo kesannya naik apa?]
[Hehehe....]
[Ya maaf kalok ngrepotin lo. Habisnya lo datengnya kelamaan. Gue juga lupa mau hubungin lo, ini aja baru inget setelah lo ingetin.]
[Tadi gue jalan kaki. Kalok lo mau jemput. Tunggu aja di depan toko Jelita.
[Ya...ya.. sorry]
[Ya udah, gue tunggu lo di depan toko. Nih gue otw.]
[Tunggu ya!!]
[Ok...] Balasnya singkat mengakhiri chat-chatannya dengan sang kakak.
Setelah membaca dan membalas semua pesan, buru-buru ia memasukkan ke dalam saku. Namun Hp belum sempat masuk, ia sudah bertabrakan dengan seorang cewek. Hp yang di pegangnya langsung jatuh ke trotoar. Begitu juga dengan Hp cewek yang bertabrakan dengannya.
"Eh maaf-maaf gue gak sengaja." Katanya sambil menghadap Hp yang jatuh dan segera mengambilnya. Sukurlah Hpnya gak rusak.
"Iya gak papa kok." Balas cewek di hadapannya, yang juga membungkuk, mengambil Hpnya yang terjatuh.
"Hp lo gak pa...." Tanyanya terputus, setelah ia melihat wajah cewek yang ia tabrak. Wajah cewek itu mirip bahkan persis banget dengannya.
Cewek itu pun juga kaget. Mereka sempat heran, bingung, dan diam melongo beberapa detik.
"Eh... Gak papa kok. Tapi wajah lo kok?...." Tanya cewek itu, setelah tersadar dari bengongnya sambil menunjuk wajah Andra.
"Kenapa? Mirip ya?" Tanya balik Andra yang juga heran.
Cewek itu hanya menganggu.
"Gue aja juga gak tau. Mungkin udah takdir kali ya?" Tanyanya dibumbui candaan, untuk mencairkan suasana
"Astaga!! Gue lupa!!" Pekik Andra kaget, melihat jam tangannya yang menunjuk angka dua tepat.
"Gue harus segera sampek nih. Keburu mbak Ana istirahat nih!!" Gumamnya dan segera berlari menuju toko yang memang sudah dekat.
*****
Sesampainya di depan toko, Andra sempat melihat mobil mas Bayu yang sudah terparkir menunggunya. Namun ia menghiraukannya dan segera berlari masuk menuju kasir, tempat mbak Ana biasa menjaga. Syukurlah, masih di lihatnya mbak Ana berdiri di depan mesin kasir.
"Maaf-maaf mbak, gue telat. Soalnya tadi ada insiden di jalan." Katanya yang masih ngos-ngosan gegara lari-lari tadi.
"Ya...ya... Gak papa kok." Balas mbak Ana santai sambil tertawa melihat ekspresi Andra.
"Ya udah mbak mana pesenanku. Soalnya udah di tunggu tuh sama mas Bayu di depan!" Pinta Andra.
Tanpa basa-basi lagi, mbak Ana mengambilkan sebuah kotak kecil di meja titipan. Kotak itu berisikan sepasang kalung berliontin hati yang terbelah berbahan silver pesanannya. Tak lama kemudian mbak Ana kembali dan menyerahkannya.
"Terima kasih atas pesanannya. Jangan kecewa dengan pelayanan kami ya. Di tunggu pesanan selanjutnya." Kata mbak Ana ramah.
"Sama-sama mbak." Balas Andra ramah. Segera ia bayar pesanannya dengan uang pas. "Oh ya mbak. Kalok gitu gue pergi dulu ya." Pamitnya dan segera berjalan menuju mobil, takut mas Bayu makin ngomel-ngomel karna nunggu terlalu lama.
Mbak Ana yang melihat hanya tersenyum dan mengangguk mempersilahkan.
Benar saja, belum juga Andra masuk mobil, mas Bayu sudah menatapnya dan ngedumel gak jelas dari dalam mobil.
"Lo buat gue garing aja!! Gara-gara nungguin lo yang super duper lama!!" Protesnya mas Bayu kesal, ketika Andra baru saja membuka pintu mobil.
"Iya-iya maaf." Balas Andra dengan tidak merasa bersalah dan segera duduk di jok samping Mas Bayu.
"Kalok gue itung-itung sih udah tiga kali dalam sehari ini lo buat gue nunggu lama. Pertama, tadi pas mau berangkat lo dandan lama bener buat gue nunggu sampek gue telat ke kampusnya. Kedua, pas pulang sekolah tadi, lo pergi gak ngabarin gue dulu mana di chat balesnya lama lagi buat gue nunggu lumayan lama. Dan ini nih yang terakhir!!" Cerocos mas Bayu sambil mulai menjalankan mobilnya, mengikuti arahan tukang parkir.
Andra hanya diam mendengarkan. "Tadi kan udah minta maaf." Sahutnya akhirnya, memelas membuat mas Bayu kasihan.
"Iya-iya. Udah ah, capek lama-lama ngomong sama lo. Bisa-bisa darah tinggi gue naik, ngeliat lo yang merasa gak bersalah sama sekali gitu." Kata mas Bayu yang mulai capek ngedumel, dan akhirnya fokus menyetir mobil.
"Yey. Siapa juga yang suruh situ ngomong terus dari tadi. Lagian, kalok bales omongan mas gue pasti kalah. Mas kan cerewet kayak cewek!" Balas Andra.
Mas bayu hanya membalasnya dengan senyum nyengir dan kembali fokus menyetir. Andra yang melihatnya langsung diam, mulai masuk ke dalam dunia lamunannya.
Entah mengapa ia jadi teringat dengan cewek tadi, yang wajahnya mirip banget dengannya. "Dia kan tadi belum sempat kenalan? Ah udah lah, mungkin suatu saat bisa ketemu lagi." Harapnya, masih penasaran.
Lagi enak-enaknya memikirkan kejadian tabrakan tadi, tiba-tiba mas Bayu ngerem mendadak. Mambuat Andra kaget dan keningnya kejedot dashboard.
"Aduh.... Sakit nih!! Mas Bayu kenapa sih ngerem mendadak?" Tanya Andra kesal, menggosok keningnya.
Mas Bayu malah ketawa ngakak melihat adiknya kesakitan. "Iya-iya maaf. Gue gak sengaja." Katanya sambil mengacak-acak rambut Andra. Lagian lo sih ngelamun aja. Gak liat apa kalok kita udah sampek rumah!!" Lanjutnya.
"Hah?!! Udah sampek rumah?" Tanya Andra bingung. Ia lihat ke arah luar mobil. Ternyata benar, sudah sampai rumah. Ia tengok lagi ke arah mas Bayu sambil nyengir menyembunyikan malu. Mas Bayu membalasnya dengan tersenyum kecil dan mengisyaratkan agar Andra segera turun.
Andra langsung membuka pintu mobil dan segera turun. Sementara mas Bayu melajukan mobilnya kembali, menuju kampus.
*****
Sore ini ada jadwal latihan tari. Andra pergi bareng mamah yang kebetulan akan datang ke arisan tak jauh dari sanggar tempatnya latihan, karena mas Bayu ada jadwal melatih basket.
Sesampainya di tempat les, Andra langsung bergabung dengan teman-temannya untuk melakukan pemanasan. Tak lama, bu Ratih, pemilik sekaligus guru tarinya datang bersama seorang cewek. Betapa terkejutnya ia, ketika ia tau siapa cewek di belakang bu Ratih.
"Astaga!! Dia kan cewek yang tadi." Gumam Andra kaget.
Tampak teman-temannya memandang bergantian ke arahnya dan cewek yang bersama bu Ratih bergantian. Pandangan mereka menyiraykan kaget, heran dan kekaguman antara dua wajah yang persis di hadapan mereka.
"Selamat sore anak-anak." Sapa bu Ratih, membuka pembicaraan.
"Selamat sore bu." Balas anak-anak serempak, yang di balas balik dengan senyuman oleh bu Ratih.
"Oke anak-anak. Hari ini kita kedatangan teman baru. Namanya Mona, dia berasal dari Bandung. Dan bla...bla...bla...." Bu Ratih memperkenalkan.
"Oh cewek itu bernama Mona toh." Gumam Andra, setelah tau siapa namanya.
Bu Ratih tampak berbincang-bincang sebentar dengan Mona, setelah itu menyuruhnya masuk barisan agar latihan bisa segera di mulai. Mona memilih tempat persis di samping Andra. Ia tampak melemparkan senyuman salam perkenalan kepada Andra sebelum akhirnya berdiri di sampingnya.
Andra mencoba untuk memperkenalkan diri dan berbincang-bincang dengannya. Ternyata Mona anak yang asyik di ajak ngobrol, ramah dan sopan lagi.
Setelah selesai latihan Andra dan Mona melanjutkan obrolan. Andra baru tau bahwa, meskipun Mona orang sunda tapi ia mahir menari tarian dari tanah jawa. Ia juga baru tau bahwa Mona pindah ke ibu kota karna ikut papahnya yang di pindah tugaskan oleh perusahaannya untuk naik jabatan dan sewaktu-waktu dapat berpindah lagi.Tak lupa mereka juga bertukar nomer telpon.
*****
Semenjak pertemuan pertama yang tak terduga itu, pertemanan antara Andra dan Mona semakin erat. Bahkan kata teman-temannya di sanghar, hubungan mereka sudah bak saudara kembar yang tak terpisahkan. Banyak yang menyebut mereka berdua sebagai si kembar Mona dan Lisa (julukan baru untuk Andra yang entah siapa penciptanya).
Kemana-mana mereka memang selalu bersama. Entah di tempat latihan tari, jalan-jalan bareng berdua, bahkan saat belajar mereka juga bersama (walaupun Andra dan Mona sekolah di tempat berbeda, namun mereka sama-sama duduk di bangku kelas sebelas.) Mereka sudah saling tahu sisi baik dan buruk masing-masing. Sering curhat, mencurahkan isi hati (namun Andra sedikit menutupi kisah hubungannya dengan Adam karna ia merasa malu). Saling mendukung dan menyemangati satu sama lain. Bahkan mereka juga sudah dekat dengan keluarga satu sama lain.
Saking seringnya mereka jalan bersama, membuat Andra sering lupa jika ia juga memiliki pacar yang selalu perhatian padanya. Sehingga ia sering membuat Adam marah, karena lamanya membalas chat dan melupakan janji. Soalnya Andra sendiri juga belum mau cerita jika ia memiliki sahabat yang wajahnya mirip banget sama dia. Ia menunggu moment yang tepat untuk mengenalkan Adam pada Mona, agar seperti surprise. Namun Andra sendiri belum tau kapan waktu yang tepat itu. Biarlah sekarang berjalan seperti apa adanya dahulu, pikirnya.