
Bu Ratih sangat bangga dengan kemenangan yang diraih Andra dan Mona hari kamis kemarin. Dan hari ini mereka diajak Bu Ratih pergi ke SMA Bhayangkari, sekolah tempat Bu Ratih mengajar seni tari untuk membantunya mengajar ekskul tari.
Andra dan Mona merasa bangga, menerima ajakan Bu Ratih. Kebetulan hari ini seluruh guru SMA se-kota akan mengikuti rapat persiapan ujian nasional, jadi mereka di pulangkan lebih awal.
Sebelum pergi Andra sudah menghubungi Mas Bayu untuk tidak menjemputnya dan ia pun mengiyakan. Tak lupa ia berpamitan kepada Adam. Sama seperti Mas Bayu, Adam juga mengiyakan saja walaupun terlihat raut berat hati di wajahnya.
"Hati-hati ya sayang." Ucap Adam lembut, dengan berat hati. Mengantar kepergian Andra yang sudah bersiap membuka pintu mobil Bu Ratih yang menjemputnya.
Andra menoleh ke arah kekasihnya dan tersenyum "Aku pasti hati-hati sayang. Tenang aja, gak bakalan ilang kok." Balas Andra meyakinkan, tak ada yang perlu di khawatirkan. Ia pun segera masuk ke dalam mobil.
Mobil sudah mulai melaju membelah jalanan. Andra menoleh melihat ke belakang, di lihatnya Adam masih berdiri didepan pintu gerbang sekolah dan terus menatap ke arah mobil sampai mobil tak terlihat.
"Siapa dia? Pacar lo?" Tanya Mona sinis, pandangannya fokus kedepan ke arah belakang jok pengemudi. Ketika Andra baru selesai menoleh melihat Adam.
Andar tak langsung menjawab. Ia mengernyitkan dahi, bingung sekaligus heran melihat perubahan sikap sahabatnya itu.
Melihat reaksi Andra, Mona yang tadinya serius kini malah tertawa terbahak bahak. Reflek Andra mencubit lengan sahabatnya.
"Auh...." Erang Mona kesakitan, tetapi masih saja bisa tertawa. "Sakit tau!!" Lanjutnya, mengusap-usap lengannya yg baru kena cubit.
"Habisnya lo juga sih!! Kalok tanya sinis amat. Kan gue jadi bingung." Balas Andra kesal, memonyongkan bibirnya membuat Mona malah tambah tertawa. "Iya-iya. Yang tadi itu pacar gue." Lanjutnya masih kesal.
"Sorry sorry. Habisnya gue tuh pengen ngerjain lo balik gitu. Emang lo aja yang bisa ngerjain gue? Eh gak taunya malah dapat cubitan maut lo!!" Kata Mona sedikit kesal, tapi juga puas. "Ngomong-ngomong, cowok lo ganteng juga ya?" Tanyanya menggoda.
"Iya dong!! Pacar siapa dulu?!" Jawab Andra membanggakan diri, dengan bercanda tentunya.
"Boleh dong kalok pacar lo buat gue?" Tanya Mona lagi, masih terus saja menggoda sahabatnya.
"Boleh-boleh aja. Tapi langkahin dulu gue." Balas Andra sok serius.
Perbincangan mereka semakin asik saja, dengan bercandaan yang semakin sok serius. Bu Ratih yang mendengarkannya dari tadi hanya tersenyum saja tanpa berkomentar.
*****
Tak terasa, mereka sudah sampai di tempat tujuan. Di depan mereka sudah terpasang jelas tulisan SMA BHAYANGKARI. Suasana di sekitarnya terasa sejuk dan asri. Sangat berbeda 180 derajat dengan sekolah mereka yang ada di kota. Tampak taman yang hijau terbentang luas dengan tanaman yang tertata rapi, berbagi jenis tanaman tumbuh disana mulai dari bunga sampai pohon-pohon besar pun ada. Di sebelah taman terbentang luas
lapangan yang alasnya masih tanah, membuat debu berhamburan tak karuhan membuat seragam anak-anak yang sedang bermain sepak bola kotor. Andra dan Mona sangat takjub melihat pemandangan yang ada di depannya saat ini.
"Indah ya suasana sekolahnya. Masih sangat asri, udaranya pun terasa sejuk." Puji Mona takjub. "Beda banget dengan suasana sekolah kita di kota. Iya kan Ndra?" Tanyanya pada sahabat nya. Membuat Andra tersadar dari diamnya menikmati udara sejuk.
"Eh i...iya Mon." Jawab Andra kaget.
"Lo kenapa sih kok kayak orang kaget gitu?"
"Habisnya lo sih ngagetin gue aja. Gue tadi kan lagi asik menikmati udara sejuk di sini. Jarang-jarang kan."
"Nah anak-anak, sekarang kan kita sudah sampai." Kata Bu Ratih yang baru datang dari parkiran. "Kita langsung ke aula saja yuk,
kelihatannya sudah ditunggu." Ajaknya.
Tanpa banyak bicara lagi, Andra dan Mona mengikuti apa yang dikatakan Bu Ratih, mereka berjalan mengekori guru tarinya itu. Ternyata benar, sudah banyak anak yang menunggu kedatangan mereka di aula. Mereka menyambut kedatangan Andra dan Mona dengan rasa gembira. Ada beberapa anak yang memuji-muji mereka atas kemenangan lomba kemarin. Setelah acara berkenalan usai, akhirnya latihan dimulai. Dengan Andra dan Mona yang membantu Bu Ratih menjadi instruktur.
Di tengah-tengah latihan, tiba-tiba Andra ingin ke kamar mandi. "Mon temenin gue yuk?" Bisiknya kepada Mona yang sedang fokus menggerakkan tangannya dengan luwes.
"Ke kamar mandi. Udah kebelet banget nih!!" Jawab Andra. "Please....." Memelas.
"Ya udah deh." Akhirnya Mona mengalah, mau mengantarkan sahabatnya.
Mereka pun meminta izin kepada Bu Ratih, beliau pun mengizinkan dan menggantikan posisi kedua muritnya itu menjadi instruktur tari. Tak lupa Bu Ratih memberikan arahan dimana letak kamar mandi terdekat. Setelah menerima arahan mereka segera berlari meninggalkan aula.
Sesampainya di pertengahan perjalanan mereka lupa kemana harus berbelok. Hingga akhirnya Mona melihat seorang cowok sedang duduk di bangku taman yang fokus memperhatikan bidak catur di hadapannya.
"Eh lihat tuh!! Ada cowok di taman!!" Seru Mona bersemangat, menjawil-jawil Andra yang celingukan mencari letak toilet sambil menahan pipis.
"Yang mana sih?"
"Yang itu tuh!!" Jawab Mona memperjelas dan menunjuk ke arah cowok yang dimaksud.
"Oh yang itu."
"Kenapa kita gak nyoba tanya aja sama dia?" Usul Mona.
"Lo aja yang nanya ya. Gue udah kebelet banget nih susah buat jalan."
"Ya udah gue tanyain dulu deh. Lo tunggu disini!!" Pesan Mona sebelum berlari menghampiri cowok di taman itu.
Dari jauh Andra melihat cowok itu memberi arahan, tak lupa Mona mengucapkan terima kasih yang di balas anggukan dan senyuman.
Setelah kembali dengan arahan yang ia dapat, Mona langsung mengantarkan sahabatnya ke toilet tanpa berkata lagi. Sesampainya di toilet, Andra langsung menghambur masuk.
Setelah Andra keluar dari bilik, Mona langsung menyambutnya dengan cerita. Barusan dia ketemu lagi sama cowok yang ada di taman lagi dan cowok itu tersenyum ke arahnya. Mona terus saja menceritakan cowok itu sampai mereka tiba kembali di aula dan melanjutkan latihan tari.
Akhirnya latihan selesai juga. Mereka pun bersiap-siap untuk pulang.
"Ndra cepetan dong beresinnya!" Suruh Mona manja.
"Iya-iya sabar. Bentar lagi selesai nih." Jawab Andra yang sibuk melipat selendang tarinya. Memunggungi Mona.
Setelah mendengar jawaban Andra, Mona memalingkan pandangan ke arah pintu. Dilihatnya cowok yang ditemuinya tadi berdiri di depan aula yang ternya cowok itu juga sedang melihat ke arahnya. Cowok itu tersenyum menyapa ke arah Mona, yang langsung ia balas dengan senyuman malu-malu. Setelah mendapat balasan senyum dari Mona, cowok itu segera berlalu pergi.
Akhirnya beres-beres selesai sudah. Andra dan Mona segera berlalu meninggalkan aula dan segera menuju gerbang, menunggu Bu Ratih mengambil mobil di parkiran. Lagi-lagi Mona melihat cowok yang sama. Kali ini Andra juga melihatnya. Cowok itu berdiri memegang papan catur menyandarakan tubuhnya di tembok pagar sekolah. Matanya terpejam, tak melihat kehadiran dua sahabat itu.
Mobil pin datang, mereka segera masuk. Andra yang masuk pertama, disusul oleh Mona. Sebelum masuk, Mona sempat menoleh kembali ke arah cowok tadi dan tersenyum simpul.
"Cie cie ada yang lagi jatuh cinta pada pandangan pertama nih ya." Goda Andra, ketika Mona baru saja menutup pintu mobil.
"Eh ah enggak kok." Sahut Mona malu-malu. "Apaan sih lo." Manjanya. Berlagak marah.
"Yang bener?" Tanya Andra lagi, menggoda.
Sepanjang perjalanan Andra terus saja menggoda sahabatnya. Karena ia tau, Mona orangnya paling gak bisa nutupin perasaan. Bu Ratih yang mendengar hanya ikut tersenyum dan geleng-geleng kepala, Seolah tak mau ikut campur urusan percintaan kedua muridnya itu.
Mobil Bu Ratih melaju membelah jalanan sampai ke kota. Ia segera mengantarkan kedua muridnya ke rumah masing-masing.