Best Friend

Best Friend
Berkenalan



Sudah hampir satu bulan lamanya Andra dan Mona ikut Bu Ratih mengajar ekskul tari di SMA Bhayangkari. Setiap mereka datang ke sana, mereka pasti melihat cowok yang sama duduk di bangku taman memainkan bidak catur sendirian. Cowok itu selalu tersenyum ketika melihat Mona (namun tak pernah melihat Andra. karena ia menghindari pertemuan dengan cowok itu, agar cowok itu bisa semakin dekat dengan sahabatnya. Entah apa jadinya jika suatu saat cowok yang belum diketahui namanya itu bertemu dengannya dan Mona. Bisa-bisa dikira kembar lagi). Sebetulnya cowok itu juga membuat Andra penasaran.


"Kenapa sih tuh cowok selalu main catur sendirian? Mungkin dia maniak catur?" Gumam Andra dalam hati, ketika lagi-lagi ia mengamati cowok yang ada di taman dari jauh sembari menunggu Mona yang masih ada di parkiran. Tak berapa lama yang ditunggu mulai terlihat berjalan menuju ke arahnya.


Mona terlihat mulai memasuki taman dan berjalan semakin mendekati cowok si maniak catur (julukan yang diberikan Andra). Tampak dari jauh, Mona dan si maniak catur saling berpandangan dan menyapa lewat senyuman sesaat. Jalan menuju tempat Andra menunggu saat ini memang harus melewati taman agar lebih dekat.


"Cie senyum-senyum sendiri!! Ada apa nih?" Tanya Andra menggoda Mona, ketika sahabatnya itu sudah sampai didekatnya.


"Eh... Eng enggak apa-apa kok." Jawab Mona malu-malu. "Apaan sih lo." Lanjutnya, pipinya semakin merona saja. Ia reflek juga mencubit lengan Andra.


"Auw...." Erang Andra kesakitan. "Tih kan bener!! Sahabatku ini lagi jatuh cinta sama si maniak catur itu." Godanya lagi.


"Siapa yang lo maksud si maniak catur?"


"Itu loh, cowok yang bisa ketemu trus senyum-senyum sama lo. Yang biasa duduk di bangku taman."


"Belum tentu dia maniak. Siapa tau dia atlet catur dari sekolah ini." Bela Mona kesal, seperti tak terima julukan Andra untuk cowok yang sudah memikat hatinya.


"Ehm.... Kayaknya ada yang ngambek nih?" Goda Andra lagi.


Mona terlihat kesal, malu, pokoknya campur aduk deh perasaannya. Pipinya semakin merona, membuatnya tak bisa lagi merangkai kata-kata untuk membela dirinya lagi.


Andra yang melihatnya malah merasa lucu dan ingin tertawa. Tapi setelah ia pikir-pikir kasihan juga sahabatnya itu, terus saja ia goda sampai tak bisa lagi menjawab.


"Sorry sorry. Gue kan cuman bercanda. Jangan dimasukin hati ya. Please!!" Ucap Andra akhirnya memelas, minta maaf.


Mona tak membalas permintaan maaf sahabatnya. Ia malah melengos dan mulai berjalan, entah ke arah mana.


"Mon maafin gue dong!! Tadi kan cuman bercanda aja." Pinta Andra lagi memelas, kini ia mulai merasa bersalah.


Tetap saja Mona tak menjawab permintaan maaf sahabatnya. Ia terus saja berjalan tanpa menghiraukan Andra. Tapi bibirnya tak bisa menahan tawa melihat ekspresi sahabat itu. Dak akhirnya meledaklah tawanya. "Satu kosong satu kosong!!" Teriaknya akhirnya, membalikkan badan melihat ekspresi Andra sekarang. Buru-buru ia berlari menghindari Andra. Tanpa sadar ia berlari menuju taman.


"Mona!!" Teriak Andra kesal bercampur lega.


Ia kejar Mona sampai di taman. Sesampainya di sana, mereka malah asyik berkejaran diantara bunga-bunga yang sedang mekar. Tapi sayangnya ia kehilangan jejak Mona. Entah kemana perginya sahabatnya itu.


"Awas ya kalok ketemu. Nanti gue cubit balas lo!!" Gumam Andra.


Ketika menoleh ke belakang, melihat dimana sahabatnya tanpa sengaja Mona menabrak seseorang di depannya.


"Brakk..." Terdengar suara papan jatuh. Andra langsung mencari letak suara itu berasal. Tampak dari kejauhan ada dua orang jatuh di atas rumput. Setelah ia amati, ternyata salah satunya adalah Mona. Entah siapa satunya, Andra tak memperhatikannya. Karna sekarang yang ia khawatirkan adalah sahabatnya. Segera ia menghambur, menghampiri sahabatnya itu.


*****


"Maaf maaf gue gak sengaja." Kata Mona kalem, berusaha bangkit.


"Eh gak papa kok." Balas cowok yang ditabraknya. Ia fokus mengumpulkan budak-bidak catur yang jatuh berceceran.


"Gak usah." Tolak cowok itu halus.


"Udah gak papa kok. Sini." Kata Mona memaksa dan mulai berjongkok lagi membantu mengumpulkan bidak-bidak yang berceceran.


Akhirnya cowok itu membiarkan saja Mona membantunya. Tanpa saling berpandangan, mereka masukkan dan tata kembali ke tempatnya. Akhirnya selesai juga, dan mereka baru berpandangan. Melihat siapa yang mereka tabrak tadi.


"Loh." Ucap mereka bersamaan, ketika baru sama-sama tau yang mereka tabrak. Setelahnya mereka malah diam saling berpandangan dengan tatapan canggung.


"Mon lo gak papa kan?" Tanya Andra panik yang tiba-tiba saja sudah berdiri di samping Mona, tak menghiraukan cowok yg ada di sebelahnya.


Mona menjawabnya dengan menggelengkan kepala. "Gue gak papa kok." Ucapnya lirih.


"Syukur deh kalok gitu." Ucap Andra lega, mengelus dada.


"Si.... Siapa dia?" Tanya cowok yang ada di sebelahnya bingung bercampur agak kaget, menunjuk ke arah Andra.


Betapa kagetnya Andra setelah tau siapa cowok yang bertabrakan dengan Mona. Ternyata cowok itu si maniak catur.


"Eh... Gue Lisa dan ini Mona, sahabat gue." Jawab Andra reflek dan tiba-tiba mengulurkan tangannya ke cowok itu. Mona yang melihat malah bengong, bingung, masih belum mengerti nama perkenalan Andra barusan.


"Za cepetan!! Latihan udah mau dimulai nih!!" Teriak seorang cowok dari seberang lapangan. Membuat cowok maniak catur itu menoleh dan memberi isyarat dengan anggukan.


"Gue pergi dulu ya." Pamitnya dan segera berlari pergi menghampiri temannya, tanpa menghiraukan uluran tangan Andra.


"Hey, siapa nama lo?!!" Teriak Andra reflek. Namun tak ada respon. Mungkin sudah gak kedengeran.


"Lo kok ngakunya nama lo Lisa sih?" Tanya Mona heran.


"Gak tau deh. Tadi aja gie reflek kenakannya." Jawab Andra santai.


Mona pun tampak berfikir. "Kalok gue pikir-pikir bagus juga sih. Kita kan kayak orang kembar, jadi cocok juga kalok nama lo Lisa. Seperti anak-anak di sanggar manggil kita."


Ucapnya setuju dan tersenyum sendiri. "Tapi, tadi kan dia belum sempet kenalin namanya." Lanjutnya merasa bersedih.


"Tadi lo denger gak pas temennya manggil?" Tanya Andra yang hanya dijawab anggukan oleh Mona. "Kalok gak salah temennya manggil dia Za!! Iya kan bener?" Tanyanya lagi mengingat-ingat.


"Berarti nama cowok itu Za kan?" Balas Mona balik bertanya.


"Iya bener. Tapi......"


Mona melirik jam tangannya. "Udah jamnya latihan nih. Kita harus segera ke aula nih, nanti Bu Ratih nunggunya kelamaan lagi." Ajak Mona memotong pembicaraan. "Soal cowok itu sih..... Kalok emang jodoh pasti ketemu lagi." Lanjutnya tak bersemangat.


"Ya ampun, gaya ngomong lo gitu banget sih!!" Balas Andra yang mulai menggoda sahabatnya lagi.


Mona hanya membalasnya dengan senyuman yang dipaksakan dan langsung menarik tangan Andra berjalan menuju aula.