
Ujian berakhir hari ini. Syukurlah hari ini Nesa tidak mengalami mimisan atau sakit kepala. Dia tidak terlalu memaksakan untuk ujian terakhir. Tidak seperti ujian sebelunya, Nesa pasti akan berakhir di UKS.
Nesa pulang ke rumah dengan selamat dan disambut bunda dengan pelukan hangat.
"Bunda, Nesa mau ke taman sebentar aja," ucap Nesa. Bunda menatap Nesa dengan cemas.
"Bunda nggak perlu khawatir, Nesa bisa jaga diri kok," ucap Nesa pada bunda.
Bunda hanya pasrah. Dia mengangguk.
"Baiklah, tapi jangan pulang terlalu sore," ucap bunda.
Nesa mengangguk. Dia berganti pakaian. Lalu berjalan keluar rumah.
Saat Nesa hendak menyeberang jalan, tiba-tiba kepalanya sakit. Nesa duduk sebentar di bangku jalan yang dekat dengannya. Nesa memejamkan matanya sebentar. Lalu kembali berjalan menuju ke taman.
Saat Nesa ingin duduk di bangku taman, dia melihat Anya yang sedang duduk sendiri.
"Hai Nya, kok kamu kesini nggak ajak Nesa sih. Padahal Nesa lagi pengen main banget sama Anya," ucap Nesa.
Anya yang mendengar hal itu menatap Nesa dengan bingung. Kenapa sikap Nesa berubah? Apakah dia tidak tahu kalau dia sedang marah dengannya?
"Lo mau apa?" tanya Anya datar. Nesa tertegun mendengar nada suara Anya yang dingin padanya.
"Anya kok gitu sih? Nesa buat salah yah sama Anya. Kalau ada Nesa minta maaf, Nesa nggak maksud buat nyakitin Anya," ucap Nesa. Anya sekarang benar-benar bingung melihatnya.
Ada apa dengan Nesa? Kenapa dia seperti tidak pernah tau apapun.
"Nesa? Apakah benar kalau kamu pacaran sama Arkan?" tanya Anya.
"Hm... Iya," ucap Nesa sambil tersenyum.
Tangan Anya mengepal dan hatinya menjadi sakit. Dia tak menyangka kalau sahabatnya ini akan mengkhianatinya.
Anya pergi dengan kesal. Dia meninggalkan Nesa sendiri di taman.
Nesa menghedikan bahunya tak mengerti, dia berjalan kembali ke rumahnya.
******
Sekarang Nesa benar-benar seperti memiliki altar ago atau kepribadian ganda. Kadang dia bersikap seperti anak kecil dan kadang dia bersikap seperti wanita kuat.
Nesa menyisir rambutnya setelah mandi. Rontok. Itu sudah sering terjadi dan Nesa sudah tak asing lagi.
Nesa memakai rambut palsunya. Ya, dia memakai rambut palsu.
Nesa yang memakainya sendiri tanpa diketahui siapapun.
Bukankah selama ini Nesa terlalu banyak memendam rahasia? Dia hanya ingin orang-orang yang ada di dekatnya menjadi bahagia.
Ayah dan bunda tersenyum.
"Nesa mau terus berangkat? Nggak mau istirahat di rumah aja?" tanya bunda pada Nesa.
Nesa menggeleng.
"Nesa tetep mau berangkat bun," ucap Nesa pada bunda. Bunda hanya menghela napasnya.
"Ayah anterin yah," ucap ayah. Nesa menatap ayah.
"Kok tumben, emang ayah nggak sibuk?" tanya Nesa pada ayah.
Ayah menggeleng. Dia menatap sayang putrinya itu.
*****
"Nesa, kamu udah tau belum?" tanya Arkan pada Nesa. Nesa menatap Arkan bingung.
"Tau apa?" tanya Nesa.
Mereka berdua sedang berada di kantin mang Ujang. Karena selama minggu ini mereka akan bebas.
"Minggu depan bakal diadain promnight sekalian pengumuman nilai tertinggi ujian tahun ini," ucap Arkan.
Nesa hanya mengangguk.
"Dan, tahun ini sekolah juga ngundang wali murid. Sebagai silaturahim," ucap Arkan yang lagi-lagi hanya diangguki Nesa.
Arkan menghembuskan napasnya dalam. Sedari tadi Nesa hanya mengangguk. Dia tak mengatakan apapun dan pandangan nya juga kosong.
"Nesa, kamu kenapa?" tanya Arkan.
"Kenapa persahabatan aku sama Anya merenggang?" tanya Nesa. Dia menatap Arkan berharap Arkan memiliki jawabannya.
"Aku kurang tahu, coba kamu tanyain aja langsung sama Anya," ucap Arkan.
"Aku udah coba bicara sama dia, tapi Anya seakan nggak perduli dan dia malah pergi gitu aja. Aku nggak tau apa salahku," ucap Nesa sambil menunduk.
Dia benar-benar tidak tau apa salahnya.
"Em... Kita buat rencana biar masalah kalian terselesaikan," ucap Arkan.
Nesa menatap Arkan dengan tanda tanya.
"Apa rencananya?" tanya Nesa.
"Rencananya——"