Best Friend

Best Friend
Promnight



Besoknya Nesa memaksakan untuk berangkat ke sekolah. Dia tak memperdulikan lagi kesehatannya. Dia akan tetap menjalankan rencananya dengan Arkan.


Tapi sayang, realita tak semanis ekspektasi. Anya tidak berangkat, dan tak ada satu orang pun yang tahu akan keadaannya.


"Yang sabar yah Nes. Aku yakin besok Anya udah berangkat lagi kok," ucap Arkan, dia sedang mencoba menghibur Nesa.


Nesa hanya diam. Entah apa yang dipikirkan gadis itu.


"Aku pulang duluan yah Arkan. Bye." Nesa langsung menggendong tasnya. Lebih baik dia berada di rumah.


*****


Saat Nesa sampai di rumah, dia melihat sebuah mobil yang asing baginya. Dia langsung melangkah masuk untuk melihat tamu yang datang.


"Waw, Kak Rendy dan Kak Tia, udah punya nyali ternyata," ucap Nesa. Kak Rendy dan Kak Tia yang sedang berada di ruang tamu hanya terkekeh. Sementara bunda yang sedang menyuguhkan minuman hanya menggelengkan kepalanya.


"Haha, kamu kenapa pulang cepet?" tanya kak Tia.


"Kek nggak tau aja, pasti bolos kan?" ucap Ka Rendy tiba-tiba, dan cara pengucapannya itu lebih mirip tuduhan ketimbang pertanyaan.


"Kalian berdua kek nggak pernah sekolah yah. Habis ujian itu ya tinggal tunggu hasil lah. Ngapain lagi," ucap Nesa sambil memutar bola matanya.


"Hehe, gue kan kalau abis ujian nggak berangkat sekolah. Paling juga berangkat buat promnight sama ambil ijasah, udah gitu doang," ucap ka Rendy.


"Siapa?" tanya Nesa.


"Gue," kata kak Rendy.


"Yang—".


"Nesa udah deh, mending sekarang kamu ke kamar buat istirahat. Mau aku—" Sebelum Tia menyelesaikan kalimatnya. Nesa lebih dulu membekap mulutnya.


"Awas yah kalau bilang, nanti aku aduin ke ayah." Nesa pergi dengan kesal. Sementara Tia hanya terkekeh melihat tingkah adiknya itu.


*****


Obat dan obat. Itu yang Nesa makan tiap hari. Entah sudah berapa ratus pil obat yang ia makan selama ini.


Nesa hanya menelan rasa pahit dari obat itu tanpa merasakan manfaatnya.


Nesa membaringkan tubuhnya diatas kasur.


"Ya tuhan, kapan kau akan mencabut jiwa ini? Kapan kau akan datang untuk menghilangkan rasa sakit dan pahit ini."


Setetes air mata jatuh membasahi pipinya, di ikuti oleh air mata yang lain. Dia tak pernah berhenti menangis, kecuali saat bersama sahabatnya.


Sahabat terbaiknya, dia adalah jantung hidup Nesa. Entah Nesa yang terlalu lebay atau apa. Tapi, Nesa sangat merindukan sahabatnya. Mereka itu seperti saudari kembar. Dan Nesa memang menganggap Anya sebagai saudari kembarnya.


Mata Nesa mulai berkunang-kunang. Nesa seperti merasakan waktu ini, hampir dekat. Waktu yang sangat berharga dan tak ternilai.


Nesa tidak bisa menahan kantuk di matanya. Dia merasakan darah yang mengalir dari hidungnya. Dia melihat bundanya sebelum semuanya menjadi gelap.


****


Nesa membuka matanya perlahan. Satu tempat yang tak pernah absen dalam hidupnya dan satu tempat yang tak pernah bisa dilupakannya. Rumah sakit.


Nesa ingin menggerakkan tangannya. Tapi, tidak bisa. Dia juga hendak menolehkan kepalanya ke samping. Tapi tetap sama. Seakan seluruh tubuhnya mati rasa.


Bunda yang sudah terbangun langsung menatap Nesa dengan khawatir. Dia mencemaskan putrinya itu.


Bunda mendekati brankar yang sedang Nesa tiduri. Dia duduk di kursi yang dekat dengan Nesa.


Bunda memegang tangan Nesa yang dingin.


"Nesa, bunda sayang banget sama Nesa. Jangan pernah tinggalin bunda. Bunda nggak akan pernah rela kalau Nesa pergi jauh dari bunda," ucap bunda.


Nesa mencoba menggerakkan bibirnya. Dia ingin tersenyum untuk menghilangkan kecemasan bundanya, tapi tidak bisa. Seluruh tubuhnya benar-benar mati rasa. Kecuali matanya.


Saat Nesa merasakan sakit pada kepalanya, dokter datang tepat waktu.


"Permisi, bisakah saya memeriksa keadaan pasien?" tanya dokter itu ramah.


Bunda mengangguk, dia menghapus jejak air mata di pipinya.


"Seluruh otot tubuhnya saat ini melemah. Dia tidak bisa melakukan apapun untuk sementara. Keadaannya diperparah dengan tulang punggungnya yang makin parah," ucap dokter itu.


Bunda menatap Nesa dengan sendu.


"Kelumpuhannya akan sembuh dalam beberapa hari kedepan. Dan saya minta, jaga dengan baik pasien. Jangan biarkan dia sedih terlalu lama. Dan kalau boleh saya kasih saran, sebaiknya pasien di rawat di rumah sakit Singapura. Dia akan mendapatlan perawatan yang lebih baik. Apalagi dengan kondisi pasien yang tak suka terapi dan kontrol" saran dokter.


Bunda Nesa mengangguk. Lalu dokter pergi dari ruangan itu.


****


Keadaan Nesa membaik dalam beberapa hari ini. Sudah satu minggu dia berada di rumah sakit. Arkan dan Daffa sudah mengunjungi Nesa setiap hari.


Dan hanya mereka berdua yang berkunjung. Tak ada yang lain kecuali keluarga Nesa.


Arkan mengabari kalau malam ini adalah acara promnight. Dan Nesa akan datang kesana. Apapun caranya.


"Bun, ijinin Nesa. Sekali ajah," ucap Nesa.


Bunda menggeleng. Dan untuk terakhir kali Nesa menawar untuk ke sekian kalinya.


"Kalau bunda ijinin Nesa datang ke acara itu. Nesa janji kalau setelah itu Nesa mau pindah ke Singapur." Ucapan Nesa membuat bundanya yang tadi menggeleng kuat sekarang menatap ke arahnya.


"Kamu yakin?" tanya bunda. Dan diangguki oleh Nesa.


"Okey, sekali ini aja. Dan bunda sama ayah bakal terus liatin kamu," ucap bunda.


Nesa hanya bisa menghembuskan napasnya.


*****


Malamnya, Nesa benar-benar pergi bersama kedua orang tuanya. Dia sudah lengkap menggunakan dress berwarna putih selutut tanpa lengan. Dengan rambut palsu yang tergerai. Dan tak lupakan high hils putih serta tas cantik yang ada di pundaknya.


Satu kata untuknya. Perfect.


"Nesa, kamu sudah siap sayang?" tanya bunda dari luar pintu. Nesa membukakan pintu untuk bundanya.


"Waw, anak bunda cantik banget sih," ucap bunda. Nesa tersenyum.


"Yaudah, ayah udah nungguin di luar. Mending kita berangkat sekarang," ucap Bunda. Nesa hanya mengangguk.


"Waw, anak ayah cantik banget sih," ucap ayah.


Nesa terkekeh mendengar ucapan ayah dan bundanya yang hampir sama.


"Udah ah, mending sekarang kita berangkat deh," ucap Nesa. Bunda dan Ayah mengangguk.


Mereka berangkat menuju ke acara promnight.


******


Nesa pov


Aku turun dari mobil saat sudah sampai di tempat acara. Sepertinya tema yang diambil kali ini adalah outdor. Terlihat dari lapangan yang disulap menjadi acara pesta.


Aku, bunda serta ayah berjalan bersama. Kami benar-benar menjadi sorotan. Banyak yang menatap kami, atau lebih tepatnya aku.


"Nesa," pangil seseorang dari arah samping kananku. Aku tahu siapa itu, sudah jelas dari panggilannya yang memanggil tanpa tambahan A.


Aku menoleh ke samping kananku. Ternyata yang memanggilku adalah Arkan, siapa lagi.


Dia sedang bersama orang tuanya dan Daffa beserta orang tuanya juga.


Dia melambaikan tangannya ke arah ku.


"Yah, bun. Kita kesana yuk. Ada temen Nesa soalnya," ucap ku. Ayah dan bunda mengangguk.


Kami berjalan menuju kumpulan orang-orang kaya. Ups, nggak deng. Kumpulan sahabat-sahabatku.


"Hai," sapa Nesa pada Arkan sambil tersenyum.


Arkan, dia tak berkedip menatapku. Begitupun dengan Daffa.


"Hei, kalian baik-baik saja? Kenapa kalian menatapku seperti itu?" tanyaku pada mereka.


Ku lihat mereka kembali sadar lalu menggaruk tengkuk mereka yang kurasa tidak gatal.


Sementara orang tuaku dan orang tua Arkan dan Daffa hanya tertawa.


"Oh iya Nesa. Dia orang tuaku," ucap Arkan. Aku tersenyum ke arah orang tua Arkan.


"Halo om, tante. Saya Nesa," ucap ku sambil tersenyum.


"Hai juga Nesa, kamu tampak sangat cantik. Sama seperti ibumu waktu SMA," ucap Ayah Arkan. Ngomong-ngomong, aku belum mengetahui nama orang tua mereka.


"Sama seperi ibu? Apakah kalian dulu satu SMA?" tanya ku dengan bingung. Ku lihat orang tua ku dan orang tua Arkan dan Daffa tersenyum.


"Kalian tahu? Ini seperti acara reuni bagi kami. Kami dulu adalah sahabat waktu masih SMA," ucap ibu Daffa.


Aku terkejut mendengarnya. Lalu aku hanya mengangguk.


Aku merasakan pusing di kepalaku. Kenapa sekarang aku merasa pusing? Bukankah sebelum berangkat aku sudah minum obat?


Ku lihat orang tuaku dan orang tua Daffa dan Arkan sedang berbicara.


Aku merasakan ada yang mengalir dari hidungku. Aku memegang hidungku. Darah.


Aku bergegas menuju toilet. Darah ini tak mau berhenti dan kepalaku juga semakin sakit.


Saat aku ingin masuk ke dalam. Aku melihat seseorang. Dia, dia Anya. Yah, aku tidak salah lihat. Dia adalah Anya.


Dia sedang meminum sesuatu. Apa itu? Aku tak mengetahuinya. Ku lihat dia hendak keluar dan aku buru-buru bersembunyi.


Setelah dia benar-benar pergi. Aku langsung masuk ke dalam toilet. Aku membersihkan darah dari hidungku, lalu aku tahan dengan tisu.


Aku mendongakan wajahku berharap darah berhenti mengalir.


Saat aku ingin membuang tisu di tong sampah. Aku melihat sebuah botol. Sepertinya itu botol obat.


Aku melihatnya. Sepertinya ini adalah botol untuk penyakit jantung.


Aku membukanya. Di dalamnya sudah tak berisi obat, hanya ada secarik kertas lusuh.


Aku membuka kertas itu, dan betapa terkejutnya aku.


Tanpa sadar aku meneteskan air mataku. Apa-apaan ini. Ini pasti bohong. Dan ini nggak mungkin, dia menutupi hal ini dengan sangat baik.


Apa yang dia lakukan? Kenapa dia tak memberitahuku hal besar seperti ini?


Ku lihat lagi sekilas secarik kertas itu.


Tertera nama Anya Areina Siyara, dinyatakan mengidap kebocoran jantung dan sudah di alami selama 17 tahun.


Selama itu kah dia mengidap penyakit itu? Sekarang aku tak heran kenapa dia tak kuat menjalani jam olahraga. Tapi, kenapa dia menyembunyikan hal sebesar ini dariku?


Aku mengusap jejak air mata di pipiku. Aku harus menemui Anya untuk meminta penjelasan darinya.


Aku berkeliling mencari Anya. Tapi, aku tak menemukannya hingga sekarang. Dan acara akan segera dimulai.


Aku berdiri tak jauh dari panggung. Mataku tak lepas untuk mencari Anya.


"Ekhem, permisi. Mohon perhatiannya," ucap seseorang dari atas panggung. Aku menatapnya, tapi sesekali aku mencari-cari Anya.


"Kami dari para guru karyawan serta staf yang lain mengucapkan banya terima kasih atas kehadirannya malam ini dalam acara promnight tahunan yang di selenggarakan oleh sekolah. Kami disini bukan hanya sekedar ingin merayakan keberhasilan para murid yang akan lulus. Tapi kami disini juga akan memberi tahu nilai terbaik hasil ujian yang di lakukan kemarin. Jadi, mari bertepuk tangan atas leberhasilan kalian semua. Kalian akan mendapat info hasil ujian kalian besok," ucap kepala sekolah.


Semua orang bertepuk tangan.


Aku masih melakukan hal yang sama, menatap sekeliling, mencari Anya.


"Baiklah, saya akan mengumumkan murid dengan nilai hasil ujian tertinggi." suasana acara menjadi hening.


"Murid dengan nilai tertinggi di raih oleh--" Semua orang masih dalam keadaan yang sama. Hening. Aku hanya menatap kepala sekolah itu penasaran. Aku hanya berharap akulah orangnya.


"Dewi Anandira Anesa dari kelas XI ipa 2." Semua orang bertepuk tangan. Aku bernapas lega. Semua orang memuji diriku.


"Kepada Dewi Nadira Anesa dipersilahkan untuk maju ke depan," ucap kepala sekolah. Aku tersenyum.


Berjalan menaiki tangga dan berdiri di atas panggung.


Kepala sekolah tersenyum ke arah ku.


Lalu seseorang datang ke atas panggung dengan membawa sebuah piala yang indah dan sebuah mahkota.


Kepala sekolah memberikan piala itu padaku dan memakaikan mahkota nya diatas kepalaku.


"Selamat Anesa. Kamu berhasil. Dan sekarang kamu benar-benar mendapatkan beasiswa penuh di universitas oxford Inggris," ucap kepala sekolah padaku.


Aku diam mematung. Apakah aku akan pergi kesana? Apakah waktu nya tepat?


Aku diam. Apa yang harus aku pilih.


"Sekali lagi selamat." Aku tersenyum, lalu bersalaman dengan kelapa sekolah.


"Terima kasih bu," ucap ku. Kepala sekolah mengangguk, lalu dia turun dari panggung.


"Selamat untuk kalian semua yang telah lulus dan selamat untuk Anesa atas prestasinya. Apakah ada hal yang ingin kau sampaikan pada sahabat atau keluargamu?" ucap pembawa acara.


Aku menggeleng. Lalu aku turun untuk menemui keluargaku.


Nesa pov end


Nesa berjalan menuju keluarganya berada.


"Selamat Nesa. Tante nggak nyangka. Kamu itu sempurna, udah baik, cantik pinter lagi. Mantu idaman tante banget." ucap ibu Arkan. Nesa hanya tersenyum. Sementara orang d sekitarnya hanya terkekeh. Lalu dia menatap kedua orang tuanya. Dia memeluk orang tuanya.


"Ayah bangga sama kamu. Kamu anak ayah yang paling cantik," ucap Ayah Nesa. Nesa terkekeh.


"Nesa, Bunda sayang banget, bunda juga bangga sama kamu," ucap bunda sambil terisak. Aku memeluk bunda lagi.


Saat aku mengurai peluka dari bunda, kepala sekolah datang.


"Selamat Nesa," ucap nya. Aku mengangguk.


"Ini adalah data yang harus kamu tanda tangani," ucap kepala sekolah sambil memberikan sebuah map berwarna biru.


"Berkas apa?" tanya bunda. Nesa menghembuskan napasnya.


Lalu menerima berkas itu.


"Makasih bu, nanti saya akan tanda tangan kalau saya di izinkan," ucap Nesa. Kepala sekolah hanya mengangguk.


"Jangan lewatkan kesempatan besar ini Nesa. Karena kesempatan tak datang dua kali." Setelah mengatakan itu kepala sekolah pergi dari sana.


"Kesempatan apa yang kau bicarakan Nesa?" tanya bunda.


"Nesa di rekrut universitas Oxford di Inggris dengan beasiswa penuh bun. Tapi, Nesa belum tahu apakah Nesa mau menerimanya atau tidak," ucap Nesa. Semua yang berada di dekat Nesa terkejut.


"Waw, bukankah itu sebuah kesempatan besar? Kamu bisa kuliah di universitas ternama. Kalau om jadi kamu, nggak bakal om sia-siain" ucap ayah Daffa. Yang diangguki oleh orang tua Arkan.


"Apakah ayah sama bunda setuju?" tanya Nesa. Ayah hanya menatap pada bunda, sementara bunda hanya terdiam.


"Tapi, bagaimana dengan pengobatan kamu di Singapur?" tanya bunda.


"Nesa bakal pindah pengobatan Nesa di Inggris," ucap Nesa.


"Tapi, bunda takut nggak ada yang jaga kamu," ucap bunda.


"Bunda lupa sama Lucy?" tanya Nesa sambil tersenyum. Lucy adalah saudari Nesa yang sekarang tinggal di Inggris.


"Okey, bunda izinin," ucap bunda lalu memeluk Nesa.


Arkan maju mendekati Nesa saat bunda telah mengurai pelulannya.


"Kita lanjutin rencana?" tanya Arkan. Nesa mengangguk. Dia pergi ke taman, sementara Arkan pergi untuk menemui seseorang.


*****


Nesa menunggu cukup lama, dia berjalan mondar-mandir. Hingga seseorang datang.


"Kenapa? Sekarang lo pengen pamer sama gue, kalau lo dapet juara pertama ples kuliah di luar negri?" sindir Anya.


Nesa tersenyum sambil menggeleng.


"Nggak Nya, aku cuman pengen hubungan kita bisa balik kayak dulu," ucap Nesa sambil menggapai tangan Anya. Tapi Anya buru-buru menarik tangannya.


"Kayak dulu? Sayang, nasi sudah jadi bubur. Aku udah terlanjur kecewa sama kamu Nes," ucap Anya.


"Oke, kalau aku salah aku minta maaf. Aku bakal tinggalin Arkan kalau itu yang kamu mau," ucap Nesa.


"Segampang itu kah kamu minta maaf Nesa? Kamu nggak tau kalau aku sakit saat kamu mengacuhkan aku. Apa salah aku sama kamu, apakah karena aku menyukai Arkan? Aku nggak bakal lepasin dia semudah itu Anesa," ucap Anya. Dia menampar lalu mendorong Nesa.


Nesa terjatuh. Dia menatap Anya sedih.


"Yang aku mau cuman maaf dari kamu? Sekarang apa yang kamu mau? Aku akan memberikannya," ucap Nesa.


"Baiklah, aku minta Arkan. Kamu bisa memberikannya?" tanya Anya.


Nesa terdiam. Kemudian mengangguk.


"Apapun aku akan berikan cuman buat kamu," ucap Nesa.


Anya merasakan dadanya yang terasa sesak. Dia langsung jatuh di depan Nesa.


"Anya, kamu kenapa?" khawatir Nesa. Anya masih memegang dadanya.


Nafas Anya semakin tak beraturan. Kak Tiko datang bersama dengan bunda Anya.


"Anya, kamu nggak apa-apakan? Bertahan oke? Kita ke rumah sakit sekarang," ucap kak Tiko. Dia langsung menggendong Anya menuju parkiran.


"Nesa, kamu mau ikut?" tanya mamah Anya. Nesa mengangguk. Dia masuk ke dalam mobil ka Tiko.


Dalam perjalanan, Nesa merasa bersalah pada sahabatnya ini. Dia berjanji akan melakukan apapun demi sahabatnya.


Anya di bawa ke ruang UGD. Kak Tiko dan ibu Anya duduk di depan ruangan. Sementara Nesa, dia sedang mondar-mandir. Dia sangat khawatir akan kondisi sahabatnya.


Tak lama, Arkan, Daffa dan orang tua Nesa datang.


"Nesa, gimana keadaan Anya?" tanya bunda Fany.


Nesa hanya menggeleng. Dia memeluk bundanya, dia sangat sedih akan keadaan sahabatnya.


"Udah Nes, jangan sedih terus. Aku takut keadaan kamu makin drop," ucap Arkan dan Daffa mengangguk.


"Tapi Anya, dia sahabatku satu-satunya. Aku nggak bakal biarin dia kenapa-napa," ucap Nesa.


Dia mengurai pelukannya dari bundanya. Wajahnya sekarang sangat pucat.


"Nesa, mending sekarang kamu pulang. Biar tante yang jaga Anya," ucap Ibu Anya. Nesa menggeleng.


"Nggak tante, Nesa bakal nungguin si sini sampai Anya sadar," ucap Nesa. Tapi, setelah dia mengatakan itu, keadaannya benar-benar drop sekarang. Dia pingsan. Bunda Nesa terkejut melihatnya.


Arkan yang dekat dengan Nesa, dia langsung membantunya.


"Nesa," teriak bunda.


Seorang suster yang melihatnya langsung menyuruh Arkan untuk membawanya ke ruang UGD.


Darah keluar dari hidung Nesa, dan tubuh Nesa yang sedingin es.


Keadaan Nesa sangat parah. Kondisinya kritis. Dia sudah tak bisa bertahan lagi.


"B-bu-n-da," ucap Nesa. Dokter mengangguk. Dia menyuruh bunda Nesa untuk masuk.


Tak lama, bunda Nesa masuk. Dia menangis melihat keadaan putrinya. Saat dia memegang tangan Nesa, dia seakan memegang es. Sangat dingin.


"B-bu-n-da, N-n-esa ud-da-h ng-ga-k k-ku-a-t." Nesa menitihkan air matanya.


Bunda Nesa menggeleng.


"Nggak Nesa, sayang kamu harus kuat. Bunda nggak rela kalau Nesa pergi," ucap bunda Nesa sambil terisak.


"N-ng-gak, bu-n- da ng-ga-k b-oleh s-se-dih. Bu-nda ha-r-us r-ela-in N-e-sa," ucap Nesa. Bunda tetap menggeleng.


"Bu-nd-a," panggil Nesa. Bunda menatap Nesa.


"Pe-n-uhi pe-r-min-ta-an Nesa. B-e-ri-kan- j-a-ntung Nesa bu-at A-nya," ucap Nesa. Bunda masih sama, dia menggeleng.


"Bunda, pless. K-kali ini aja, p-penuh-i permintaan Nesa," ucap Nesa sambil menangis.


Bunda mengangguk. Tiba-tiba kondisi Nesa makin drop. Nafasnya mulai tersengal. Sebelum tuhan mengambil jiwanya. Dokter melakukan operasi jantung.


Ibu Anya yang mendengarnya meneteskan air mata. Sebegitu sayangkah Nesa pada Anya? Hingga dia rela memberikan nyawanya demi Anya?