
Badan dan pikiranku tidak dalam keadaan baik, aku sangat lelah dengan drama yang terjadi di cafe. Untuk selanjutnya, bagaimana aku menghadapi manusia yang bernama Hedi itu?
Aku mencampakkan tasku sembarangan dan menghempaskan badanku ke kasur. Aku sangat LELAH.
tok...tok...
"Lis, kamu lagi ngapain? Bisa bantu mama gak?" ucap mama dari luar kamar.
"Bantu apaan ma. Aku capek nih habis dari cafe" ucapku memgeluh kepada mama.
"Besok temani mama ke pernikahan anak tante Cindy ya. Mama ga mau pergi sendiri nih"
"Iya ma... kalau aku nolak pun gak ada gunanya kan"
"Okedeh... Jangan lupa ya. Selamat istirahat anakku sayang" ucap mama dengan suara bahagia dan terdengar langkah kaki yang menjauhi kamarku.
Aku memejamkan mataku dan berhenti memikirkan apa yang akan terjadi besok. Biarlah aku mengistirahatkan badan dan pikiranku dulu.
tringg.....tringg.....
Suara alarm membangunkanku dari tidurku. Aku bergegas untuk berangkat sekolah untuk terakhir kalinya karena aku telah menyelesaikan studiku di bangku SMA. Akhirnya!!
Aku menuruni tangga dan mendapati tante Maya sedang mengobrol dengan mama.
"Pagi Ma, pagi tan" ucapku sambil mencomot sehelai roti.
"Lulus-lusan kan hari ini?" tanya tante Maya dan aku hanya mengangguk tanda setuju.
"Jangan lama-lama. Soalnya jam 4 kita harus berangkat".
ucap mama mengingatkan.
"Iya ma. Yaudah, aku berangkat ya ma"
Tentu saja acara lulus-lulusan berjalan lancar dan tidak ada murid yang tidak lulus. Semuanya bahagia, menahan rindu, dan bahkan ada yang tidak peduli. Aku mengambil barang-barangku dan mengajak Kia dan Soni ke cafe ku.
Kami memasuki cafe yang masih sepi dan menduduki kursi di ujung ruangan agar tidak mengganggu pelanggan yang lain.
"Bakalan kuliah dimana lo Lis?" tanya Kia sambil meminum teh hangatnya.
"Ga tau. Belum kepikiran. Kalau kalian?" tanyaku
"Hari ini pengumuman, jadi gue belum tau bakalan lulus apa gak" jawab Soni santai.
"Bakalan LDR dong kalian, kalau si Soni kuliah si Singapur?" tanyaku pada Kia.
"Ya gitu deh. Ga masalah sih, zaman udah canggih" jawab Kia putus asa dan langsung memeluk Soni. Aku yang melihatnya hanya bisa menggelengkan kepala.
Tringg... Tringg...
"Halo ma" jawabku.
"Di cafe. Kenapa ma?" tanyaku malas karena aku tau kalau mama nyuruh pulang.
"Baru duduk sebentar udah disuruh pulang aja lo" ucap Kia.
"Mama minta ditemani ke nikahan teman anaknya. Aku cabut luan ya. Kabari kalau lulus ya Son" ucapku sambil melangkah ke luar cafe.
Aku, mama, tante Maya, dan Dodi memasuki gedung pernikahan anak tante Cindy dan tentu saja, mama langsung diserbu oleh teman-temannya.
"Loh. Kok barengan? Jangan bilang kalau kalian udah besanan?" ucap tante Cindy heboh. Inilah yang ku malaskan kalau datang ke acara nikahan.
"Gak lah jeng. Anakku udah punya calon" jawab tante Maya malu-malu.
Aku berjalan mendekati mama dan membisikkan "Ma, aku ambil makanan dulu" dan mama hanya mengangguk kepalanya.
Aku mengubah arahku menjadi ke balkon dan duduk menatapi langit mendung, sesekali aku membalas chat yang masuk dari Kia yang galau karena akan ditinggali Soni. Aku hanya tersenyum geli membalas chat dari Kia.
"Kenapa disini?" tanpa melihat, aku sudah tau siapa yang datang menghampiriku.
"Lo yang kenapa disini?!" ucapku jutek kepadanya.
"Kamu berubah ya" ucapnya pelan dan mengeluarlan rokoknya.
"Lo ngerokok? Kalau mau ngerokok sana lo jauh-jauh. Gue anti rokok" ucapku sambil mengusirnya. Namun, dia malah menyimpan kembali rokoknya.
"Aku akan menikah dengan wanita pilihan papa 5 bulan lagi. Zaman modern seperti inipun masih ada yang namanya perjodohan" ucapnya sedih.
"Ya tinggal di tolak saja"
"Seandainya aku seberani kamu Lisa, mungkin kita akan bersama"
"Apa maksud lo?! Jangan seperti buaya yang memberi harapan palsu. Hentikan omong kosong itu!" bentakku kecewa padanya.
"Kau pantas marah. Aku hanya terlalu bodoh menjalani hidupku"
"Sepertinya saat ini lo butuh rokok. Merokoklah kalau itu bisa buat lo tenang" Aku beranjak dari kursi balkon dan berjalan menjauh darinya.
"Ahh.... dan seperti yang lo bilang 'kalau mau nangis ya nangis aja, jangan ditahan-tahan' dan kalau lo tidak suka tinggal bilang jangan dipendam" sambungku dan pergi meninggalkannya.
Namun, kaki ini tidak bisa melangkah jauh darinya. Perasaanku sedih mendengar ceritanya dan disinilah aku berdiri di depan balkon, melihatnya menamgis dalam diam dan aku hanya bisa menatapnya dari balik dinding. Hatiku sedih dan sakit melihat keadaannya. YA! Sepetinya aku masih menyukainya atau ini hanyalah perasaan kasihan?
...****************...
TERIMAKASIH SUDAH MAMPIR
LIKE DAN KOMENNYA KAKA ❤
KRITIK DAN SARANNYA JUGA DEH ❤
SEHAT TERUS YA KAMU ❤
LOVE YOU~