Best Choice

Best Choice
CAFE



Hujan


Aku tak akan bosan mengganggumu


Apakah hari ini kau sibuk?


Jika tidak, apakah kau akan bersenang-senang?


Atau kau hanya akan menatap orang berlalu lalang?


Aku terus menerus mengganti siaran TV untuk mencari siaran yang menarik. Tapi hasilnya nihil. Tidak ada siaran yang bisa menghilangkan kejenuhanku. Berdiam diri saat weekend adalah hal yang sangat menyebalkan. Jam masih menunjukkan pukul 11.00 siang dan tak ada satu chat masuk dari Kia ataupun Soni.


Tring.... Chat masuk


"Lisa, kamu datang ke cafe tante Zizi sekarang. Jangan lama-lama. Mama tunggu" aku membaca chat dari mama dan hanya 1 kata yang terucap dari mulutku '******'. Terkesan kasar. Tapi adakah kata lain yang bisa kuucapakan kalau kondisinya seperti ini?


Aku bergegas pergi dan menuju cafe tante Zizi. Jantungku berdebar layaknya pidana yang akan ditembak mati. Bukannya apa-apa, aku hanya takut mama tidak menyukai perbuatanku terhadap tante Zizi.


Aku sampai di depan cafe tante Zizi dengan selamat dan betusaha berjalan tenang agar tidak dicurigai mama. Aku berjalan mendekati mama dan baru kusadari tidak ada tante Zizi, namun ada tante Maya yang duduk disamping mama.


"Ma. Ada apa nyuruh aku ke sini?" tanyaku pura-pura polos.


"Kamu tuh ya lis. Aduh mama pusing deh" aku hanya diam dan menantikan kelanjutan ucapan mama.


"Kamu taukan kalo mama sibuk banget di kantor? Tau kan?" aku hanya mengangguk-angguk. "Terus mama gak mungkinkan ngurusin cafe ini?" tanya mama namun aku sama sekali tidak mengerti. Kenapa mama mau mengurus cafe tante Zizi.


"Maksud mama? Tante Zizi nyuruh mama? Ngapai sih mama mau-maunya ngurus cafe tante Zizi?!" protesku.


"Tante Zizi membayar hutangnya dengan cafe ini. Sekarang kamu ngerti Lisa? Jadi karena ini perbuatan kamu, kamu yang urus cafe ini. Mama gak mau ikutan!" protes mama.


"Ihhh kok mama nuduh aku sih.... Aku gak ada hubungannya" Protesku sok polos.


Mama memanggil mbak kasir dan menanyakan apakah minggu lalu aku datang kesini dan menjumpai tante Zizi. Dengan polosnya mbak kasir menjawab jujur.


"Pokoknya mama udah punya bukti dan mama yakin kalau kamu pasti ngancam tante Zizi kan? Kamu tuh ya?!" ucap mama garam dan menjewer telingaku.


"Pokoknya cafe ini urusan kamu! Mama gak mau ikutan! Jadi selamat bekerja anakku sayang" ucap mama dan beranjak dari kursinya. Tak lupa mama mengajak tante Maya untuk pergi juga.


Aku disini meratapu nasibku. Kerja di hari libur? What a perfect nightmare. Aku merenungkan perbuatanku terhadap tante Zizi dan tentu saja semua karyawan menatapku. Apa yang harus ku lakukan?


"Maaf. Apakah mulai sekarang kami memanggil anda boss? Kami tidak dipecatkan?" tanya mbak kasir dengan ragu-ragu.


Aku menatap mbak kasir dalam diam dan juga menatap karyawan lain. Aku memberi mereka arahan untuk duduk dan kembali diam.


"Begini. Ini semua sangat mendadak. Saya bahkan belum pernah menjadi pemimpin atau semacamnya. Kalian semua tidak akan dipecat dan saya membutuhkan bantuan kalian semua untuk menjalankan cafe ini. Kalian cukup memanggil saya Lisa dan jangan bersikap berlebihan, seperti membungkuk atau apapun itu" ucapku dengan hati-hati.


"Jadi, jika ada hal yang perlu saya ketahui bisa langsung memberitahu saya. Hmmm..... Mungkin beberapa orang mengenal saya dan mengetahui bahwa saya masih sekolah. Ya, itu adakah infornasi dasar yang perlu kalian ketahui. Saya akan berusaha untuk memantau cafe setiap harinya. Jika ada masalah bisa langsung memberitahu saya. Ada pertanyaan?"


"Saya ingin bertanya. Untuk daftar stok barang, biasanya manager yang melakukannya. Tapi sekarang manager sudah resign mengikuti Bu Zizi. Jadi siapakah yang akan menggantikan pekerjaan manager?" aku sama sekali tidak memikirkan ini.


"Siapa yang bekerja disini paling lama?" tanyaku dan melihat mvak kasir mengangkat tangan.


"Sudah berapa lama kalu saya boleh tau?"


"2 tahun boss" jawab mbak kasir.


"Cukup panggil Lisa. Kamu. Jika saya menunjuk kamu sebagai manager, apakah kamu akan menyanggupinya?" tanyaku serius.


"Saya akan berusaha" ucapnya percaya diri.


"Baiklah... Jadi Caca akan menjadi manager di cafe ini. Jika ada masalah bisa melalui Caca saja" ucapku setelah memastikan nama dari mbak kasir.


Mereka kembali bekerja dan cafe sudah dibuka setelah rapat dadakan. Aku masih duduk di tempat yang sama meratapi kebodohanku. Semoga ini bisa kujalani.


Cling... Suara pintu masuk. Tanda sudah ada pelanggan yang datang dan sepertinya aku harus pergi dari sini dan berharap Caca bisa menghandle cafe dengan baik.


"Hai" ucap suara berat dari sampingku. Aku hanya terdiam dan menatapnya.


"Kamu tidak ingat aku? Kamu pernah menumpahkan kopiku dan mengenai bajuku" ucapnya santai.


"Emm... Ah... Maaf atas kejadian itu" aku teringat kejadian itu. Sudah sangat lama.


"Ahh tidak apa-apa. Kamu sendirian?"


"Ya begitulah" jawabku pelan.


"Apa aku mengganggumu? Sepertinya kamu sudah mau pergi?" tanyanya ragu-ragu.


" Sebenarnya aku ada urusan. Jika tidak keberatan, aku akan pamit sekarang" Bohongku agar bisa pergi dari situasi canggung ini.


"Baiklah kalau bagitu. Sampai ketemu lagi" ucapnya dan berjalan ke kursi di pojok cafe. Aku berjalan keluar cafe dan pulang dengan menaiki Taxi.


...****************...


TERIMAKASIH SUDAH MAMPIR


LIKE DAN KOMENNYA KAKA ❤


KRITIK DAN SARANNYA JUGA DEH ❤


SEHAT TERUS YA KAMU ❤


LOVE YOU~