
3 tahun lalu.
Besok adalah hari dimana kami akan berpisah. Jarak yang jauh akan memisahkan kami. LDR.
"Apa gue gak usah pergi ya?" Ucapnya spontan sambil melihat langit. Sekarang kami ada di rooftop cafe dan untungnya malam ini cuaca lagi indah-indahnya. Mungkin langit tau kalau ini adalah malam terakhir kami akan bersama.
"Jangan gila ya! Kamu itu di sana buat menuntut ilmu. Biar cari pekerjaan yang layak. Kalo gak pergi gimana nasib aku entar? Aku gak mau hidup susah. Ingat itu!" Cerocosku tanpa jeda dan tertawa dengan ucapanku sendiri.
"Jadi kita bakalan nikah? Kapan?" tanyanya kepadaku.
"Hah?? Ya.... mana tau. Maaf om aku masih kecil" ejekku kepadanya.
Jarak kami cukup jauh dan kenapa aku bisa tertarik kepadanya? Sekarang lagi zamannya pacaran sama abang kelas, jadi Kia lah yang memperkenalkan Dodi kepadaku karena Dodi adalah teman tim basket Soni.
"Kamu gak mau ikut? Nyusul?" tanyanya kepadaku sambil mengelus-ngelus kepalaku.
"Aku? Ke sana? Ngapain? Gak bakalan dapat beasiswa juga. Mama juga gak bakalan biarin aku pergi. Lagian bentar lagi mau ujian naik kelas"
"Nanti jangan macam-macam ya disini. Biar kamu bisa nikah" ucapnya ngelantur.
"Sama siapa?"
"Sama aku la. Jadi mau sama siapa?"
"Dih..... nikah itu emang mudah diucap. Dilaksanakan yang susah. Ini masalah prinsip" ucapku sok bijak.
"Jadi kamu gak mau bangun prinsip pernikahan itu sama aku"
"Aku.... ya belum yakin la. Umur juga masih segini. Badan aja belum terurus. Apa lagi ngurusin kamu nanti"
"Yaudah. Mulai sekarang kamu belajar pelan-pelan. Kalau udah ready kita langsung nikah"
"Hahhh.... topik yang berat"
Dia mendekatiku dan merangkulku. Aku bakalan rindu momen ini. Aku bakalan rindu pelukannya. Aku bakalan rindu semua tentangnya.
Selamat datang LDR.
Sudah 7 bulan kepergiannya ke London. Hubungan kami masih baik-baik saja. Jarang bertengkar dan tidak ada masalah sama sekali.
Drrtt.....
Hpku berdering dan melihat ada pesan masuk dari Dodi. Saat aku membukanya, mataku hanya tertuju pada kalimat yang tertera di layar hp ku. Dahiku mengernyit dan bertanya-tanya heran.
"Kita PUTUS"
Aku mencoba menelponnya dan yang terdengar hanyalah suara operator. Dia meminta berpisah, dia minta putus? Mempermainkanku?
Otakku terus memikirkan kalimat itu dan tentu saja merusak hari-hariku yang seharusnya indah. Aku mencoba untuk melupakan kalimat itu dan mempersiapkan kata-kata makian untukknya nanti.
Aku berjalan memasuki kafe dan disana teman-temanku tertawa ria. Aku berjalan mendekati mereka dan duduk di bangku kosong. Mereka melihatku dengan tatapan yang bertanya-tanya heran karena mukaku yang jutek.
"Kenapa lo?" Tanya Kia.
"Ditilang?" Sambung kia lagi.
"Gak mood aku buat bahas dia. Mana menu? Aku mau pesan" ucapku mencari kebaradaan buku menu.
"Nih... tapi bukannya lo lagi diet?" Tanya Kia.
"Daripada mati. Mending makan" ucapku sambil membolak-balikkan menu di hadapanku.
Kami membahas mengenai liburan kami di thailand untuk bulan depan. Dan mencari spot-spot menarik untuk foto. Kami memilih beberapa kota untuk dikunjungi dan liburan kali ini bakalan menarik.
Tringg....
Suara deringan telpon itu merusak mood ku karena nama yang tertera di sana.
"Angkat tuh, dari Dodi" ucap Kia.
"Malas banget" ucapku.
"Ntar nyesel lo" ucapnya lagi.
Aku pergi ke luar kafe dan mengangkat telpon darinya.
"Halo!" Ucapku kasar, ketus, tak berperikemanusiaan.
"Kenapa kamu tiba-tiba minta putus!! Kalo mau putus ya putus. Jangan telpon aku lagi. Ngeselin tau gak!!" sambungku dengan ucapan ketus.
"Maafin aku. Mungkin ini terdengar gak masuk akal. Tapi aku ngerasa kalau kamu udah gak cocok lagi sama aku. Pembicaraan kita gak nyambung lagi....."
"Kamu mau bilang kalo aku masih bicara seperti bocah?!" ucapku ceoat dan menotong kata-katanya.
"Jadi lebih baik kita sampai disini aja"
"Bodo!" Ucapku kesal dan mematikan panggilan itu secara sepihak.
Dia meninggalkanku. Bocah? Apa aku seburuk itu dalam hubungan? Aku terus mencari kesalahanku yang kulakukan. Tapi semuanya tidak berdampak fatal. Apakah ada alasan lain? Wanita lain?
Aku kembali masuk ke dalam cafe dan tidak sengaja menabrak seorang lelaki dan menumpahkan kopinya.
"Ahh.. maaf. Aduh gimana ini? Bajunya jadi kotor" cerocosku sambil mengambil beberapa tissue di meja dan membersihkan sisa kopi di bajunya.
Lelaki itu tidak bersuara dan hanya diam. Tiba-tiba dia menyentuh tanganku dan menghentikan gerakanku. Aku melihatnya. Mata Abu-Abu.
"Tidak apa-apa. Lain kali kamu hati-hati ya" ucapnya pelan dan lembut. Kemudian dia menepuk kepalaku pelan dan berjalan pergi keluar cafe. Aku masih terdiam melihat kepergiannya. PRIA MISTERIUS.
...****************...
TERIMAKASIH SUDAH MAMPIR
LIKE DAN KOMENNYA KAKA ❤
KRITIK DAN SARANNYA JUGA DEH ❤
SEHAT TERUS YA KAMU ❤
LOVE YOU~