Best Choice

Best Choice
MUSIM TUNANGAN



Malam ini aku sangat gelisah, bagaimana tidak?!


Aku menghubungi Hedi beberapa kali namun dia tidak menjawab satupun panggilanku. MENGESALKAN.


Eitsss..... kalian jangan berpikir aku jatuh hati padanya atau apapun itu. Aku menghubunginya karena aku harus menemani mama ke pertunangan Doni jam 10 pagi. Bagaimana ini?


Selang beberapa menit dia meneleponku dan dengan secepat kilat aku mengangkatnya karena aku tidak sabaran.


"Kau merindukanku atau apa? 15 misscall?"


"Jangan mimpi! Aku mau ngabari kalau besok tuh aku ga bisa nemani karna mama minta aku temani ke pertuangan anak temannya" ucapku jutek.


"Jam berapa?"


"Jam 10"


"Kalau begitu, 3 jam cukupkan buatmu datang ke pertunangan orang? Berikan alamatnya, besok aku jemput kamu jam 1 dan kita ke pertunangan adikku" jawabnya seolah-olah menyelesaikan masalah.


"Ga. Aku pergi sendiri aja. Aku ga mau mama ngeliat kamu untuk kedua kalinya"


"Terserah kamu, yang penting besok kamu tidak boleh telat" dia langsung mematikan sambungannya tanpa mendengarkan jawabanku.


Cowok yang sangat arogan, siapa yang mau dekat-dekat dengannya kalau tingkahnya gitu. Ihhhh.... bodo amat ah. Waktunya tidur.


Jam 10.00


Lokasi : Gedung pertunangan Doni


"Mama tau siapa tunangannya Doni?"


"Anak teman tante Maya" jawab mama singkat karena lagi fokus nyetir.


"Dia dijodohin? Ada apa sih dengan dunia pertemanan mama? Kenapa semua anak-anak di jodohin? Astaga"


"Yang pentingkan dia setuju"


"Tau dari mana mama setuju?"


"Ya karena hari ini dia tunangan Lisa! Udah ah ntar kita tabrakan gimana?!"


Ucapan mama salah, dia ga bahagia sama sekali. Kalau dia bahagia, dia ga akan menangis waktu itu. Takdir itu menakutkan, tapi takdir tidaklah mutlak, pasti bisa diubahkan?


Aku melangkahkan kaki masuk ke dalam hall pertunangan dan disanalah aku melihat dia berdiri gagah berusaha tersenyum bahagia dan disampingnya adalah wanitanya. Aku dan mama berjalan ke arah mereka dan aku melihat Kia dan Romi berjalan ke arahku. Kami mengikuti langkah mama menuju pemeran utama siang ini.


"Kalian? Kita satu SMA kan ya?" ucap perempuan yang berdiri di sebelah Doni. Aku dan Kia saling pandang dan kami tidak mengenali siapa dia.


"Maaf mungkin anda salah orang" ucapku sopan dan mengalihkan pandanganku ke tante Maya.


"Kita pernah sekelas loh, masa ga ingat sih?"


"Ohh lo Dini yang itu? Ya ampun, berubah banget ya lo? Itu oplas ya?" ucap Kia sambil menunjuk wajahnya sendiri dan karena ucapannya raut wajah Dini jadi marah namun dia menahannya.


"Becanda Din, jangan masukin hati ya" ucapku kepadanya.


"Ga kok. Aku emang oplas" ucapnya dengan percaya diri.


"Wahh panas ya, yuk cabut cari makanan" ajak Kia kepadaku dan Romi.


Kami berjalan menjauh dan aku merasa punggungku panas seperti ada yang meleser punggungku dengan matanya.


"Sumpah Kia, parah sih. Ini hari tunangannya dan kamu tuh bilang dia oplas... oh my god"


"But that's true kan? Dia udah konfirmasi juga kok" ucapnya acuh.


"Iya deh. Iya"


Acara pertunangannya berjalan lancar dan ucapan Kia tadi tidak menurunkan mood Dini. Kia dan Romi sudah balik karena merka ada urusan lain dan aku masih duduk disini dengan makanan yang tertata rapi di depanku.


"Ma. Nanti jam 1 aku balik luan ya, ada urusan"


"Ih kok gitu sih?! Kamu kok ninggalin mama, ga mau ah"


"Ih ma, apaan sih. Kan ada teman mama disini, aku cuma jadi nyamuk disini"


"Gak. Pokoknya kamu temani mama" duhhh mama nyusahin nih namanya.


Aku mengirimkan pesan kepada Hedi "Aku ditahan mama, ga boleh kemana-mana"


Harusnya aku udah cabut dari sini, parahnya si Hedi malah gak ngerespon pesanku sama sekali. Awas aja kalau nanti dia marah-marah.


"Lisa nih kenalin tante Wiwi sama anaknya Wira mereka tinggal di Surabaya nih"


"Halo tante" ucapku seadanya.


"Wiranya juga disapa dong Lis" ucap mama gemas.


"Ohh halo Wira"


"Lisa kamu temani dulu deh si Wira ambil makanan, dia baru sampai loh"


"Ihh... apaan sih ma" bisikku pada mama namun tidak dihiraukan oleh mama. Akupun dengan terpaksa bangkit dari kursiku.


"A......" ucapanku terhenti. Dia datang? "Maaf tante, Lisanya bisa saya bawa pergi dulu tan?" Pandangan mama menatapnya intens.


"Hemm... Kamu itu yang kemarinkan?" tanya mama meyakinkan ingatannya.


"Iya tan. Jadi boleh ga saya sama Lisa pergi dulu?"


"Jadi tadi kamu mau pergi itu buat pergi sama dia Lis?"tanya mama dan aku hanya mengangguk.


"Ya udah, jangan pulang larut malam ya" sambung mama dan aku bisa meihat senyum lebarnya, yang ntah apa maksudnya.


Aku berjalan di belakang Hedi menuju parkiran dengan perasaan aneh. Bagaimana dia tau kalau aku disini?


"Cepetan jalannya, kita udah telat" perintahnya kepadaku.


Selama diperjalanan tidak ada suara yang terdengar kecuali suara di jalanan dan suara mesin mobil. Aku hanya menatap jalanan dalam diam dan sesekali membalas chat.


"Kau tidak mau tanya aku tau dari mana lokasimu?" ucapnya dengan suara seraknya. Aku melihat ke arahnya sepersekian detik dan kembali melihat jalanan.


"Kau kan stalkerku" jawabku singkat.


"Apa jalanan itu lebih enak diliat daripada wajahku?"


"Iya"


"Dasar"


Kami sampai di hall pertunangan adiknga Hedi dan aku disini tidak mengenali siapapun. Hedi menggenggam tanganku dan menarikku untuk berjalan disampingnya.


"Jangan terlalu jauh dariku, nanti mereka curiga" bisiknya pelan dan membuatku deg-degan sesaat.


Dia menyapa beberapa orang dan aku hanya tersenyum tanpa kata disebelahnya, beberapa orang memujiku karena telah mendampinginya sebagai pacarnya selama ini.


Namun, setelah beberapa kali menyapa rekan kerjanya, hawa nyaman berubah menjadi mengecam. Kami dihadapkan dengan seorang wanita yang sangat kurus dan tinggi. Apakah dia model?


"Jadi ini penggantiku? Kok gak sebanding sih?! Kamu tuh malu-maluin aku deh" ucapnya sarkas dan aku tidak menyukainya.


"Lo yang gak sebanding dengan gue, jangan mendekati kami lagi" ucap Hedi mengancamnya dan wanita itupun berjalan jauh.


"Seleramu rendah juga ya?" bisikku kepadanya.


"Gak. Kali ini seleraku udah di atas rata-rata" bisiknya balik dan manrikku untuk berjalan ke arah kerumunan di depan.


"Ma, Pa, Aku pergi ngantar Lisa balik dulu ya" ucap Hedi kepada orang tuanya.


"Loh, mama aja belum kenalan, ini siapa? pacar atau calon mantu mama?" ucap mama Hedi sambil memelukku hangat.


"Pacar ma. Jangan nyebari gosip ya ma"


"Iya deh. Lisa lain kali kita jumpa ya" ucap mamanya Hedi sambil tersenyum kepadaku.


...****************...


TERIMAKASIH SUDAH MAMPIR


LIKE DAN KOMENNYA KAKA ❤


KRITIK DAN SARANNYA JUGA DEH ❤


SEHAT TERUS YA KAMU ❤


LOVE YOU~