Best Choice

Best Choice
TEKA-TEKI?



Aku dan mama duduk di meja makan untuk menikmati sarapan kami. Namun, aku sama sekali tidak merasa selera dengan sarapanku pagi ini. Bahkan tidurku tadi malam juga tidak nyenyak. Ini semua karena aku tidak mengangkat telpon dari Hedi karena aku tidak ingin berhubunga dengannya. Apakah yang akan dia perbuat? Apakah ancamannya akan terjadi? Berpikirlah waras, karena hal itu tidak mungkin terjadi kan?


"Lisa, itu susu kalau di aduk terus yang ada tumpah entar. Kamu ini kenapa sih? Masih pagi udah bengong ga jelas" tegur mama kepadaku.


"Ga mood ma. Aku balik kamar deh, siap itu mau ke cafe" ucapku pada mama dan berjalan pergi meninggalkan dapur.


Saat aku membuka pintu kamar, aku mendengar suara Hp ku yang berdering.


Hedi


Aku berusaha mengatur nada suaraku agar tidak terdengar kaku dan gemetar. Menarik napas dan keluarkan, aku berusaha menenangkan jantungku karena ketakutanku.


"Halo" ucapku pelan.


"Kalau kamu tidak mengangkat telponku pagi ini, aku berencana ke rumahmu" celetuknya.


"Gak. Ga perlu" ucapku


"Kita harus bertemu hari ini. Di cafemu?"


"Maaf gue sibuk"


"Kalau begitu aku akan langsung kerumahmu" ancamnya.


"Apa maumu? Kenapa terus-terusan ganggu hidupku sih?!"


"Merasa terganggu?"


"Mmm... gak. Gak juga" ucapku terpaksa berbohong daripada aku diapa-apain olehnya.


"Bagus. 1 jam lagi aku ke cafemu"


Aku merasa ingin hilang saja dari bumi agar tidak bertemu dengannya kembali. Tidak ada pilihan, tidak ada pelindung, hanya aku sendiri.


Aku berjalan menuju cafe dari parkiran dan dari luar aku dapat melihat sosoknya dengan tab yang dipegangnya. Aku melambatkan langkahku dan berpura-pura tidak melihatnya.


"Lisa! Disini" dia mengeluarkan suara lantang dan membuat pegawai serta pengunjung melihat ke arahnya. Aku berjalan dengan lesu dan duduk di depannya.


"Jadi apa yang kau inginkan?" tanyaku tidak sabaran karena dia mendiamiku beberapa saat.


"Umur?" dia menanyakan umur dengan mata yang masih menatap tabnya. "hah" itulah kata yang ku keluarkan secara spontan.


"Umurmu Lisa" ucapnya dengan nada yang sedikit lebih tinggi.


"18 tahun" Aku terdiam beberapa saat dan menyadari kenapa dia menanyakan umurku.


"Kenapa kau menanyakan umurku" pertanyaan itu berhasil ku keluarkan dari mulutku.


"Kita berjarak 10 tahun, tidak terlalu buruk" ucapnya.


"Apa maksudmu? Dengar ya, aku sama sekali tidak tertarik denganmu. Kau harus mencari wanita lain untuk kau nikahi" ucapku dengan perasaan yang tidak karuan.


"Aku tidak membahas pernikahan. Apa yang ada di otakmu itu?" ucapnya dengan nada ejekan.


Suasana menjadi canggung dan aku hanya melihat meja dan tidak berani menatapnya.


"Aku sibuk dan kulihat kau juga sibuk dengan tabmu. Jadi lebih baik aku ke kantorku"


"Kau cemburu dengan tabku?"


"Hah? Apa? Kau gila?!" ucapku tidak percaya dengan cara pemikirannya. Cowok aneh.


"Minggu depan pertunangan adikku, aku mau kau menemaniku dan tentu saja aku akan membayar jasamu"


"Maaf aku tidak tertarik"


"Ini yang terakhir. Setelah itu, aku tidak akan mengganggumu" ucapannya membuatku tertarik dengan penawarannya.


"Kau serius? Janji?" tanyaku berharap.


"Iya. Kau harus membaca ini agar kau tidak akan canggung nantinya" dia beranjak dari kursinya dan meninggalkanku dengan beberala lembar kertas yang harus kubaca.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Tanggal Lahir : 23 Januari 1992...


...SMA : Perwira Wicaksana...


...S1 : Univ Indonesia, Fakultas Ekonomi...


...Rumah : Komp. Pribumi No. 12...


...Orang tua : Wadi Arham dan Owi Dwi Mulyani...


...Saudara : Dini Wiyanti Arham...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dini. Seperti pernah dengar namanya.


Aku menyimpan kertas tersebut di kantor agar tidak hilang. Aku menyuruh Kia dan Romi untuk datang ke cafeku karena di otakku seperti mengenali seseorang yang bernama 'Dini'. Aku seperti mengenalnya.


"Kami dibawah" isi chat dari Kia.


Aku berjalan ke bawah dan membawa kertas yang diberikan Hedi tadi. Aku meletakkan kertas tersebut di hadapan mereka.


"Apa?" tanya Kia bingung.


"Siapa nih? Hediwin? Kenalan lo?" tanya Kia lagi.


"Lo kenal sama keluarga Arham?" tanya Romi.


"Lo kenal rom? Ceritain semua yang lo tau" ucapku pada Romi dengan sangat tidam sabar.


"Bulan lalu mereka pernah ke rumah gue, bokap ada bisnis partner gitu keknya. Yang gue tau cuma mereka punya anak laki-laki yang ngurusi perusahaan tekstil mereka"


"Lo ga tau tentang adiknya?" tanyaku pada Romi dan dia menggelangka kepalanya.


"Kenapa lo nanya tentang mereka? Ada urusan apa?" tanya Kia.


"Aku ada urusan dengan Hedi ini dan nama adiknya 'Dini. Dini Wiyanti Arham' Aku seperti kenal nama ini"


"Siapa? Ada sih teman SMA kita, waktu kelas 10, namanya dini juga tapi kayaknya ga ada arhamnya deh" ucap Kia padaku.


Aku masih bingung dan penasaran drngan semua ini, sedangkan Kia dan romi, mereka sibuk dengan dunia mereka sendiri dengan Kia yang sibuk menyuapi Romi begitu juga sebaliknya.


Ting...... Chat masuk.


"Lis. Kamu tolong belikan kado ya buat si Doni, dia mau tunangan minggu depan. Mama baru dapat kabar dari tabte Maya dan sepertinya mama ga bakalan sempat buat shopping"


"Mama ajalah. Aku mana tau mau beli apaan"


"Mama ga sempat. Aduh kamu ini ya!!..... Kamu belikan aja baju couple buat mereka 2 pasang, yang bagus!"


"Iya ma"


Dia tunangan. Minggu depan. Kebetulan? Atau tunangannya adalah Dini?


...****************...


TERIMAKASIH SUDAH MAMPIR


LIKE DAN KOMENNYA KAKA ❤


KRITIK DAN SARANNYA JUGA DEH ❤


SEHAT TERUS YA KAMU ❤


LOVE YOU~