
Hujan
Apakah karena ini bulan oktober makannya kau datang?
Apakah kau menurunkan air ke bumi tanpa adanya paksaan?
Apakah aku bisa hiduo sepertimu? Hidup bebas tanpa paksaan dari pihak manapun
Bolehkah aku mengatakan ini? Aku iri padamu untuk pertama kalinya
Tante Maya berjalan mendekati mama dan bergabung dengan obrolan kami. Dia hanya tersenyum, mengangguk, dan memperhatikan orang lain saat berbicara.
"Gini lo jeng, si Lisa kan udah ada pasangan nih, alangkah lebih baik jangan dijodohin dulu nanti banyak yang tersakiti. Gimana dengan Excel? kamu mau dijodohin? Soalnya kamu diam aja nih" ucap tante Maya dan menanyakan Excel mengenai pendapatnya yang aku juga penasaran dari tadi.
Tidak setuju!! Tolonglah teriakkan kata-kata itu. Aku menatapnya memohon dan aku berharap dia membanting meja atau semacamnya dan menbuat masalah. Tapi.....
"Aku setuju sama mama aja tan" jawab excel. Disini aku sunggu ingin memakinya.
"Anak mama" ejekku pelan, namun aku yakin mereka mendengar ucapanku, terutama Excel yang berada disampingku.
"Tapi jeng, aku yakin kalau si Lisa ini bohong. Aku sih ga percaya kalau dia punya pacar. Buktinya aja dia gak pernah keluar rumah kecuali sama temannya, si Kia sama Soni" ucap mama sambil menatapku tajam.
"Saya juga yakin Lisa ga punya pacar. Yakan Lisa? Yaudah deh jujur aja kalau kamu bohong. kita gak marah kok" ucap tante Zizi sinis terhadapku. Aku tidak menyukainya sama sekali.
Bagaimana mereka semua tidak dapat melihat wajah tante Zizi yang sinis kepadaku dan masih memihaknya. Lihat lah tante Zizi dengan bangganya mengolokku.
"Lisa kamu bohongkan? Ngaku aja deh" ucap mama.
"Jeng. Jangan di desak-desak. Lihat si Lisa dia gak nyaman jadinya" ucap tante Maya.
Aku hanya terdiam di kerumunan ini begitu juga dengan si 'anak mama'. Mereka para ibu-ibu masih membahas masalah perhodohan kami dengan antusias dan aku mulai muak dengan semua ini. Aku ingin marah, tapi sepertinya aku tidak ada hak disini. Aku ingin berteriak kepada mereka semua kalau aku gak mau dijodohin, tapi mulut dengan hatiku tidak sinkronis. SESAK. Itulah yang kurasakan sekarang.
"Ehh jeng, gak terasa udah 2 jam. Anakku udah nunggu di luar" ucap tante Maya sambil melihat Hpnya yang berdering.
"Bentar aku suruh masuk dulu" ucap tante Maya dan bangkit dari kursinya.
"Gak usah jeng. Duduk aja. Lisa kamu suruh masuk Dodi!" perintah mama dengan nada menyebalkannya dan mau tak mau aku harus menurutinya.
Aku bangkit dari dudukku dan melangkah keluar. Melangkah menuju mobil biru yang berhenti di depan pagar. Aku mengetuk kaca mobilnya dan disanalah dia duduk dibelakang kemudi.
"Kamu disuruh masuk" ucapku singkat dan dia hanya terdiam melihatku. Berjalan keluar dari mobil dan mendekatiku. Mendekatiku?!
"Kalau kamu mau nangis, ya nangis aja. Jangan ditahan-tahan" ucapnya pelan.
"Ga baik loh kalau ditahan terus" sambungnya dan dia menepuk kepalaku dengan halus 'itulah yang kurasakan'. Kemudian dia berjalan menjauhiku dan aku yakin dia langsung masuk ke dalam.
Air mata. Ya. Air mataku menetes dan lolos begitu saja dari mataku. Hanya butuh sepenggal ucapan hangat dan air mata itu keluar. Ekspresi yang seharusnya ku tahan tapi lolos begitu saja. Kenapa harus dia sih?! Kenapa hati ini masih gak move on!!
Aku tidak mengerti, aku masih merasa sesak dan semakin sesak. Air mataku semakin deras turun, namun aku harus mengontrolnya untuk saat ini. Aku tidak mau sampai orang lain melihat aku menangis dan menganggapku lemah.
Aku mengeluarkan Hpku dan mencoba menghubungi Kia.
"Kia. Bisa jemput gue? Ahh gak kok. Lagi gak enak badan aja. Iya aku baik-baik aja kok. Udah aku kirim alamatnya tadi. Cepetan ya" ucapku di telpon dengan nada memohon. Kia telah diperjalanan untuk menjemputku dan aku masih berdiri di depan pagar menunggunya dan mengontrol air mataku.
...****************...
TERIMAKASIH SUDAH MAMPIR
LIKE DAN KOMENNYA KAKA ❤
KRITIK DAN SARANNYA JUGA DEH ❤
SEHAT TERUS YA KAMU ❤
LOVE YOU~