
Aku duduk disamping mama dan memakan sandiwch yang ku ambil tadi. Aku melihat pengantin sibuk menyalami tamu-tamunya. Suasana sangat meriah dan tamu yang lain sibuk dengan keluarganya sendiri.
"Ma. Liat deh yang cewek. Dia itu pura-pura bahagia. Jangan bilang kalau mereka dijodohin?" bisikku kepada mama agar tante Cindy yang duduk disebrang meja tidak mendengar.
"Kamu ini kalau ngomong gak bisa di kontrol ya. Mereka bahagia kok" bisik mama namun omelannya tepat sasaran di telingaku.
"Ini tuh pelajaran buat mama. Supaya mama gak jodohin aku" bisikku lagi dan bangkin dari tempat dudukku untuk mengambil dessert yang lain.
Saat aku kembali ke meja tadi, sudah ada beberapa orang yang duduk disana. Ada mama, tante Cindy, tante Maya, Dodi, dan satu cowok yang tidak ku kenali.
"Ini ma makan" ucapku pada mama dan duduk dalam diam. Namun, mama memilhatku dengan tatapan yang mencurigakan.
"Lisa. Kenalin nih anak tante Cindy, namamya Ruvi. Dia lagi kuliah di Bandung loh. Kamu nanti kuliahnya di bandung juga kan?" tanya mama dengan senyuman termanisnya.
"Belum tau ma. Nanti Lisa pikirin" jawabku seadanya dan memakan agar-agat yang ku ambil tadi.
"Kalau kamu kuliah di bandung nanti Ruvi bisa jagain kamu disana" ucap tante Cindy yang ku hadiahi anggukan tipis.
"Ruvi, adik kamu mana sih? Coba panggil kesini sebentar" tante Cindy menyuruh Ruvi untuk mencari anaknya yang lain.
Saat tante Cindy melihat ke sekeliling, dia berkata 'kenapa anak itu selalu bersama Romi seperti lintah' mendengar ucapannya itu aku langsung melihat ke arah pandangan tante Cindy. Benar saja itu temanku dan apakah tante Cindy menyebut Kia sebagai lintah?
Mereka datang ke meja kami setelah Ruvi memanggil Romi. Disinilah mereka berdiri canggung di hadapan kami.
Aku memberikan isyarat untuk tidak memanggilku kepada mereka.
"Kamu. Kenapa kamu ada disini?" tanya tante Cindy kepada Kia.
"Saya di ajak Romi tan" jawab Kia seadanya.
"Ada apa sih ma. Mama butuh apa?" tanya Romi malas.
"Ini kenalin. Namanya Lisa, Lisa ini...." aku memotong perkataan tante Cindy "Tan. Kami saling kenal kok. Aku, Romi, dan Kia itu sahabatan" tante Cindy menutup mulutnya dan memasang wajah muram.
"Ma. Kenapa teman-teman mama gak ada yang benar sih!! Masa si Kia di bilang lintah sama tuh tante. Jahat banget dia" bisikku kepada mama dan mama hanya mengangggukkan kepalanya dan terdengar tawa halus dari tante Maya yang mungkin mendengar ucapanku.
"Romi, Kia, pindah yuk. Kita makan disana" ajakku kepada mereka untuk keluar dari lingakaran berbahaya ini.
Aku berjalan sambil menggandeng Kia dan turut prihatin dengan keadaan mama Romi yang ternyata tidak menyukainya. Kami duduk dan baru kusadari bahwa di meja ini bukan hanya kami bertiga saja melainkan ada Dodi dan Ruvi.
"Kenapa kalian berdua duduk disini juga?!"
"Gue malas duduk sama tante-tante" jawab Ruvi seadanya.
"Lis. Jangan bilang kalo lo mau dijodohin sama nih orang" ucap Kia menebak apa yang terjadi dan memandang Ruvi dengan pandangan aneh.
"Kalaupun di jodohin, aku gak mau lah. Maaf bukan karena lo Ruvi, tapi mama lo gak banget. Ehh dengar ya Kia, tau gak kalo nyokap si Romi gak suka sama lo?" Kia hanya mengangguk sedih.
"Dan parahnya, masa Kiaku yang cantik ini di bilang lintah!! Aku gak senang sama perlakuan mama lo Rom. Kacau" ucapku terbakar-bakar.
"Mau gimana lagi Lis. Gitu-gitu juga masih nyokap gue" jawab Romi dan mendapat persetujuan dari Ruvi.
"Parahnya lagi, kenapa mamaku mau berteman sama orang lancip yang begituan, sorry Rom. Aku hanya bicara faktanya" Aku mengeluarkan unek-unekku dan mereka hanya diam mendengar ucapanku.
"Jangan marah-marah Lis, mereka bisa kok menyelesaikan masalah ini" ucap Dodi sambil menepuk-nepuk kepalaku dan membuatku terdiam.
"Ehh lo. Jangan sentuh-sentuh gue" marahku pada Dodi karena aku bakalan baper kalau dia baik padaku.
"Kia! Jangan dibahas deh!" ucapku pada Kia untuk menghentikan ucapannya.
"Ada orangnya lo gak berani ngomong. Kemarin-kemarin kami yang kena imbasnya" ucap Romi mengejekku dan sibuk menggandeng Kia yang ada disampingnya.
"Idih. Apaan sih. Aku ke toilet dulu"
Aku berjalan ke arah toilet dan saat aku melihat ke kananku aku merasa ada yang memperhatikanku, namun aku tidak melihatnya karena aku sudah kebelet pipis.
"Ini sudah pertemuan ke berapa kita ya? Ketiga atau keempat?" ucap seseorang saat aku baru keluar dari toilet.
Aku melihat ke arah sampingku dan mendapati Hedi yang berbicara kepadaku. Aku mengabaikannya dan berjalan lurus ke arah mejaku. Tentu saja aku tidak bisa pergi begitu saja. Dia menarikku dan menahanku agar tidak kemana-mana.
"Semakin hari kau semakin nakal ya Lisa. Sekarang kau mau mengabaikanku?"
"Menurutmu apakah aku harus bahagia bertemu orang yang sudah menyakitiku?!" ucapku pelan namun terkesan marah menahan emosi.
"Kau tidak akan bisa pergi kemana-mana karena kau adalah calon istriku!"
"Mimpi saja kau! Aku tidak akan pernah menjadi istrimu dan kau pergilah dari hadapanku"
Namun, dia menyeretku dan baru ku sadari kalau dia menyeretku ke meja mama.
"Loh, kenapa kalian? Lisa kamu kenapa?"
"Sore tante, begini Lisa memaksa saya untuk memperkenalkan diri kepada tante saya Hedi pa....." aku memotong ucapannya "Gak ma. Dia mantan aku. Mumpung dia disini, aku kenalkan saja dengan mama supaya mama gak ngecap aku jomblo ngenes" ucapku dengan santai namun menahan sakit di pergelangan tanganku.
"Kalau begitu kami permisi tan, maaf sudah mengganggu" dia berjalan di depanku dengan tangannga yang masih memegang pergelangan tanganku.
Di balkon ini, dia menatapku dan itu cukup membuatku takut. Dia melepaskan pergelanganku dan kulihat bekas memar merah disana.
"Kau menyakitiku lagi. Untuk kesekian kalinya" ucapku menahan tangisku.
"Aku tidak bermaksud. Kalau kau jadi anak baik, mungkin memar itu tidak akan pernah ada"
Aku berjalan pergi meninggalkannya, namun dia menarikku kembali dan menyudutkanku.
"Kenapa kau selalu kabur dari ku? Apa aku semenakutkan itu?" aku hanya menganggukkan kepalaku tanpa mengeluarkan sepatahkatapun.
"Berikan Hp mu" aku memberikannya dan dia terlihat kesal.
"Setiap aku telpon, kau harus langsung cepat menjawab telponku. Kalau telat, aku akan langsung menikahimu" aku hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalaku. Dia berjalan peegi meninggalkanku, namun baru beberapa langkah dia kembali berjalan ke arahku dan menepuk-nepuk kepalaku 'Anak baik' dan pergi meninggalkanku.
...****************...
TERIMAKASIH SUDAH MAMPIR
LIKE DAN KOMENNYA KAKA ❤
KRITIK DAN SARANNYA JUGA DEH ❤
SEHAT TERUS YA KAMU ❤
LOVE YOU~