
"Lo masi mau diam? Ini udah 1 jam lo merenung, diam, kalau gini gimana gue bisa tau masalah lo lisa?" marah Kia kepadaku dan menyeruput jusnya dengan kesal karena aku hanya diam saja.
"Liat mata lo. Lo habis nangis, tapi kenapa? Kenapa sih lisa?" lanjut Kia dengan nada frustasinya.
"Babe. Biarin si Lisa tenang dulu" Ucap Soni menenangkan Kia.
"Dijodohin lagi" ucapku pelan dengan suara serak.
"Kali ini sama siapa? Tapi bukannya biasanya lo bisa ngatasi ini? Kenapa lo sampe nangis?" tanya Kia dengan nada yang sangat tenang.
"Gatau. Aku cuma ngerasa udah cukup, udah muak sama semua ini. Aku gatau kenapa aku gini. Aku ......" suaraku bergetar dan air mataku kembali menetes namun berusaha ku tahan "Aku cuma mau berteriak, nangis, mengekspresikan apa yang ku mau sama mereka semua" ucapku menjelaskan kepada mereka.
"Tunggu. Tunggu. Mereka? Lo pergi arisan sama mama lo kan? Ahh.... ibu-ibu arisan?" ucap Kia dengan nada seperti detektif dan aku hanya mengangguk mendengar ucapannya.
"Tapi bukannya ini gak separah dulu? Waktu lo dijodohin sama si Weli? Disitukan banyak cabe-cabe yang panas-panasin lo?" sambung Soni bingung.
"Ini ga ada apa-apanya. Kalian tau kan kalu aku bisa tahan ini semua. Aku bisa tahan. Tapi....." Aku ragu untuk mengucapkan masalah Dodi.
"Tapi apa? Apa? Kenapa?" tanya Kia dengan tidak sabaran.
"Dodi" jawabku pelan.
Mereka terdiam dan saling menatap satu sama lain. Mereka tidak yakin apakah yang nereka oikirkan adalah orang yang sama.
"Dia bilang kalau mau nangis, ya nangis aja. Jangan ditahan-tahan. Dan...... Saat itu juga aku nangis" sambungku lagi.
"Gila?! Setelah sekian lama, tapi efeknya sebesar ini? Gila!" ucap Kia dengan takjub dan bertepuk tangan karna tindakan Dodi kepadaku.
"Lo masih ada rasa sama Dodi" tanya Soni tidak percaya dengan semua ini.
"3 tahun Lis" sambung Soni. Aku hanya terdiam, aku juga tidak mengerti dengan perasaanku sendiri. Tapi aku yakin, tidak ada perasaan lagi untuknya di hatiku.
9 panggilan tidak terjawab dari mama
Jam menunjukkan pukul 21.00
Aku berjalan dengan ragu-ragu untuk masuk ke rumah. Aku berhenti di depan pintu rumah. Kaki ini tidak mau melangkah masuk. Aku terdiam beberapa saat, hingga pintu terbuka dan mereka menatapku terkejut.
"Kamu dari mana saja! Kenapa telpon mama tidak diangkat! Kamu ini bikin mama khawatir! Sekali lagi kamu begini, jangan harap pintu ini terbuka untukmu!" teriak mama dengan nada frustasinya dan berjalan masuk ke dalam diikuti oleh tante Maya.
"Kalau ada masalah itu diselesaikan baik-baik. Jangan main kucing-kucingan" ucapnya dengan nada rendah. Aku hanya terdiam dan menatapnya dalam.
"Kemana aja kamu selama ini?!" teriakku kepadanya sebelum dia menghilang di balik pintu. Dia terdiam dan berbalik badan. Berjalan mendekatiku dan memelukku.
"Lepas!!" ucapku namun badanku tidak ingin melepaskannya.
"Aku akan menikah Lisa. Jadi mungkin ini terakhir kalinya kita bertemu" Deg! Sialan!
Aku melangkah masuk ke dalam dan meninggalkannya. Aku melihat di ruang tamu tante Maya masih menenangkan mama dan menyuruhku masuk ke kamar.
Ting.... Chat masuk*
"Baik-baik ajakan di rumah?" Kia mengechatku untuk menanyakan kabarku.
"Iya. Aku bisa kok menghadapi ini. Makasih Kia"
Aku mendengar suara langkah kaki dari luar kamarku. Pintu terbuka. Disanalah mama berdiri dengan mata sembabnya. Mama hanya berdiri dan diam disana.
"Aku gak mau di jodohin" ucapku dengan nada pelan.
"Mama tau. Tapi kan mama gak nyuruh cepat-cepat nikah"
"Ma. Please"
"Mama cuma mau yang terbaik buat kamu Lisa. Mama gak mau kamu nanti sama pasangan yang salah"
"Terus mama kira tante Zizi itu orang baik? Aku masih gak ngerti kenapa mama masih temanan sama tante Zizi. Tante Zizi hanya mau manfaatin mama buat bisnis dia. Ayolah ma"
"Kenapa kamu berfikir seperti itu Lisa? Tante Zizi bukan orang seperti itu"
"Ma. Mama terlalu baik. Karena itu tante Zizi semakin memanfaatkan mamakan? Liat aja pinjaman uangnya. Bahkan 50% utangnya belum dikembalikan ke mama" ucapku sarkas.
"Lisa. Hentikan!" Mama masih saja bersikap baik meskipun sudah tau kenyataannya. Mama terlalu baik.
"Aku akan buktikan ke mama. Liat aja"
Mama hanya terdiam dan menatapku was-was. Mama berjalan mendekatiku dan memelukku dengan hangat. Aku tau hari ini aku berbuat dosa. Maafin aku ma.
"Tapi Lisa. Apakah kamu pernah berhubungan dengan Dodi sebelumnya?" deg! apakah suaraku tadi terlalu besar sehingga mama mendengar.
"Ma. Aku capek. Mau istirahat" ucapanku membuat mama melepaskan pelukannya dan berjalan keluar kamar.
...****************...
TERIMAKASIH SUDAH MAMPIR
LIKE DAN KOMENNYA KAKA ❤
KRITIK DAN SARANNYA JUGA DEH ❤
SEHAT TERUS YA KAMU ❤
LOVE YOU~